Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Umbara


__ADS_3

"Persiapkan segel udaramu dan deteksi dimana kemungkinan keberadaan manusia. Akan membutuhkan waktu cukup lama jika kita harus mengelilingi daratan ini" ucap Wardhana setelah melihat sebuah daratan yang mulai terlihat dari atas kapal walau masih sangat kecil.


"Anda yakin ingin aku menyelimuti seluruh daratan ini dengan segel udara? apa tidak titik yang anda tentukan saja? aku butuh persiapan agak lama jika harus menyelimuti seluruh daratan".


"Aku akan sabar menunggu, aku ingin kita segera menemukan rumah para dewa itu dan memastikan semua pergerakan didalam daratan itu terpantau olehku". Wardhana melangkah masuk ruangannya.


"Baik tuan" Ciha mengikuti dibelakangnya.


Langkah mereka terhenti saat Sabrang memanggilnya dan menyerahkan gulungan kecil yang baru saja ditulisnya.


(Semua yang kau lihat belum tentu kenyataan dan semua yang semu mungkin kenyataan yang tersembunyi). Wardhana mengernyitkan dahinya setelah membaca tulisan itu.


"Aku bingung menjelaskannya paman namun seseorang yang mengaku bernama Naraya Dwipa memberiku pesan itu dalam mimpiku, dia mengatakan itu akan berguna untuk menghadapi Masalembo".


"Masalembo?" Wardhana tampak terkejut mendengar nama itu, dia kemudian mengeluarkan gulungan yang tadi dibawa Ciha dan membukanya.


Tampak tumpahan sari buah masih terlihat, dia kemudian membaca tulisan kecil yang ada didalam gambar daratan tersembunyi itu yang bertuliskan Masalembo.


"Jadi tempat itu namanya Masalebo" gumamnya.


"Maaf yang mulia bisakah anda menceritakan apa saja yang dia katakan?" ucap Wardhana pelan.


Sabrang menceritakan hampir semua yang dikatakan Naraya kecuali bagian perjodohannya dengan Tungga dewi.


Wajah Wardhana kini tampak sedikit cerah setelah mendengar cerita Sabrang.


"Terima kasih Yang mulia, ini sangat membantu. Hamba mohon diri" ucap Wardhana sambil memberi tanda pada Ciha untuk mengikutinya.


Tak lama kemudian Arung tampak menyandarkan kapalnya didekat hutan rimbun disisi kiri Balidwipa.


Setelah Ciha menyelesaikan persiapannya dan memasang segel udara dihampir seluruh daratan, mereka mulai melangkah keluar kapal. Arung tampak melempar jangkar dan mengaitkannya dibeberapa tempat untuk menahan kapal.


"Apa kau merasakan kehadiran mereka?" tanya Wardhana sambil membuka gulungan yang dibawanya.


Ciha menunjuk satu titik dibagian tengah daratan Balidwipa. "Aku merasakan pergerakan disini tuan, walau samar namun kemungkinan terbesar adanya pemukiman hanya didaerah ini".


Wardhana mengangguk pelan, setelah dia mengingat arah yang ditunjukkan Ciha dan meminta izin pada Sabrang mereka mulai melangkah masuk kedalam hutan belantara.

__ADS_1


Berbeda dengan daratan lainnya yang telah mereka singgahi, Balidwipa tampak sangat indah namun seperti menyimpan sesuatu yang menakutkan.


Hutan khas Nuswantoro yang seperti belum pernah terjamah membuat bulu kuduk siapapun berdiri merasakan aura mistis dari daratan itu.


Wardhana berjalan paling belakang sambil sesekali menatap pemandangan indah disekelilingnya. Dia kali ini tampak lebih banyak diam sambil memikirkan arti petunjuk yang diberikan Sabrang.


Wardhana merasa masalah kali ini lebih berbahaya dari yang selama ini dia hadapi. Belum selesai misteri keberadaan para pendekar Langit merah muncul pemuda misterius yang sepertinya jauh lebih berbahaya dari Langit merah.


Setelah berjalan hampir seharian dan belum menemukan tanda tanda kehidupan mereka memutuskan beristirahat karena hari mulai gelap.


"Beristirahatlah paman, aku akan berjaga malam ini" ucap Sabrang pelan.


"Tapi yang mulia..".


"Tidak apa apa paman, aku sudah terlalu banyak tidur selama diatas kapal". Sabrang kemudian duduk diatas sebuah batu dan bermeditasi.


***


Jatmiko tampak berlumuran darah sambil berlutut dihadapan Umbara. Wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar hebat, dia masih tidak habis pikir pemuda itu tiba tiba muncul dan membantai pendekar sekte Kerta putih tanpa sisa.


Hanya separuh pendekar yang dibiarkan hidup karena ikut denganya kedalam ruang hampa keabadian.


Umbara menarik nafasnya panjang sebelum memutar pedangnya dan mengarahkannya pada Jatmiko.


"Ada perubahan rencana, setelah kalian berhasil membangun tiruan ruang rahasia itu aku merasa akan lebih aman tidak ada saksi mata sama sekali. Aku tidak memiliki dendam apapun pada kalian namun kebangkitannya mutlak diperlukan agar dunia bisa berubah dan kalian hanya bagian kecil yang harus berkorban demi dunia baru". ucap Umbara sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Jatmiko roboh ketanah dengan kepala yang sudah terpisah dari tubuhnya.


"Teruslah mendekat kau keturuan Dwipa, aku akan menunggumu di ruang waktu, ruang terakhir yang kalian cari. Kali ini kupastikan trah Dwipa musnah tanpa sisa" Umbara terlihat memutar pedangnya perlahan sebelum menyarungkannya kembali.


Umbara kemudia berjalan diantara mayat yang bergelimpangan sambil memainkan pisau ditangannya.


Wajahnya tampak sangat terkejut saat sesosok tubuh tiba tiba muncul didepan dan menyerangnya.


Umbara mencoba melompat mundur sambil melempar pisau ditangannya namun tiba tiba Sabrang muncul dibelakanganya dan menghujamkan pedang naga api ditubuhnya sampai tembus kedadanya.


"Bagaimana dia bisa berpindah tempat dalam sekejap?" Umbara semakin terkejut saat dia melihat tubuhnya mulai diselimuti bongkahan es yang sangat tebal.

__ADS_1


"Aku memasang suatu segel untuk mendeteksi keberadaan manusia disekitar sini namun tak kusangka aku mendapatkanmu. Sekarang kita lihat siapa dirimu sebenarnya". Wardhana melangkah mendekati Sabrang yang masih mencengkram Umbara.


Wardhana kembali mengingat saat Ciha membangunkannya dimalam itu. Dia sangat terkejut ketika Ciha mengatakan dia merasakan kehadiran seseorang melalui segel udaranya.


Umbara tampak tersenyum kecut sambil menatap ujung pedang Naga api yang bersarang didadanya.


"Kehadiranmu diluar rencanaku namun tak akan mengubah apapun. Kalian semua hanya akan menjadi butiran kecil dalam rencanaku".


Lingga dan Arung tampak bersiap dengan pedangnya.


"Kekuatan Banaspati memang sangat mengerikan walau tak sebanding dengan kekuatannya. Aku anggap ini salam perkenalan dari kalian sebelum aku membumihanguskan trah Dwipa" ucap Umbara pelan sebelum dia tiba tiba menghilang.


Mata bulan Sabrang sempat menangkap gerakan aneh Umbara sebelum menghilang dan saat Sabrang berusaha mencegahnya dia hanya mendapati cengkramannya menyentuh udara.


"Dia menghilang" Sabrang terus memaksa mata bulan sampai batasnya sambil menatap kesekelilingnya namun dia tidak menemukan jejak atau gerakan apapun. Umbara benar benar bagai menghilang diudara.


"Paman?" ucap Sabrang bergetar, dia benar benar yakin Pedangnya tepat mengenai Umbara bahkan percikan darahnya masih tertinggal dipedangnya.


"Ciha" teriak Wardhana panik.


Ciha hanya menggeleng pelan dengan wajah lesu. "Sama seperti kejadian di gua kegelapan, dia menghilang tanpa jejak. Sensor segel udaraku hanya mendeteksi sebelum dia menghilang tuan".


Semua terdiam saat itu, mereka tak habis pikir bagaimana manusia bisa menghilang tiba tiba bahkan Mata bulan milik Sabrang tak mampu mendeteksinya.


"Beberapa detik lalu kami sudah sangat dekat namun kini harus memulai kembali dari awal" gumam Wardhana lemas.


Tak ada satu manusiapun yang tersisa di sana, itu artinya mereka akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencari di mana ruang rahasia itu berada.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Permintaan Maaf saya sampaikan pada akun Ayah Dhika yang sudah membayar saya hingga Miliaran rupiah demi membaca PNA, kemarin dia marah karena PNA hanya update 1 kali. Sebagai permintaan maaf, nanti saya kirimkan link link pemersatu bangsa buat anda.


Saya menulis novel sambil nyambi kerja karena uang Miliaran rupiah yang dikirim Ayah Dhika sudah habis buat godain janda sebelah rumah, mohon dimaklumi.


Bagi yang ingin mendukung Author bisa mengunjungi


https://karyakarsa.com/ Rickypakec

__ADS_1


hapus spasi didepan huruf R


Terima kasih.....


__ADS_2