Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kematian Sabrang Damar


__ADS_3

"Mengendalikan waktu? jadi yang dikatakan ibu dulu benar tentang jurus terlarang itu... tapi bukankah efeknya sangat mengerikan." Jaya Setra tampak terkejut setelah mendengar ucapan Ken Panca.


Setra kembali mengingat pesan ibunya saat pertama kali menguasai jurus dasar yang ada di kitab Sabdo Loji.


"Kau benar benar berbakat seperti ayahmu nak, ibu sangat terkejut kau bisa menguasai dasar ilmu kanuragan Sabdo Loji dalam waktu singkat," ucap Purwati bangga.


"Apa itu bisa di sebut ilmu kanuragan? Ibu hanya memintaku berlatih pernapasan dan beberapa gerakan dasar mengayunkan pedang? Sepertinya kitab yang kalian bangga banggakan itu hanya berisi ilmu rendah," jawab Arya Setra merengek.


Purwati tersenyum kecil melihat tingkah anaknya itu, dia seperti melihat dirinya sendiri dalam tubuh Setra. Keras kepala dan tidak sabaran.


"Ilmu rendah? lalu bagaimana dengan kemampuan ayah dan Layang Yuda kakakmu? apa menurutmu mereka berilmu rendah?"


"Aku tau ilmu kakang sangat tinggi, ibu harusnya mengajari aku ilmu seperti itu," Setra terus merengek pada Purwati.


"Apa kau pikir kakakmu tidak berlatih seperti ini?" Purwati mengajak Setra duduk di bawah pohon rindang yang tumbuh di dekat tempat latihan.


"Dengarkan ibu, untuk menguasai Ilmu kanuragan seperti kakakmu kau membutuhkan tubuh yang kuat dan itu tidak bisa didapatkan jika tidak melatih dasar dari ilmu itu sendiri. Kau tau berapa lama kakakmu belajar dasar kitab Sabdo Loji? hampir dua tahun, jauh lebih lama darimu," ucap Purwati menjelaskan.


Jaya Setra kecil tampak mengangguk mengerti dan wajahnya mulai bersemangat kembali.


"Apa aku bisa sekuat kakang jika sudah menguasai seluruh dasar Sabdo Loji?"


"Dengan bakat yang kau miliki, ibu yakin kau akan jauh lebih kuat dari Layang Yuda," jawab Purwati lembut.


"Jadi kitab Sabdo Loji berisi ilmu kanuragan terkuat ya..." balas Jaya Setra bersemangat.


"Kau salah nak, ajaran Sabdo Loji bukan hanya tentang Ilmu kanuragan tapi bagaimana kita bersahabat dengan alam dan memaksimalkan semua yang ada disekitar kita menjadi kekuatan di jalan kebaikan. Ingat, di jalan kebaikan," nada suara Purwati sedikit menekan, dia tidak ingin anaknya tersesat andai suatu saat berhasil menguasai seluruh ajaran Sabdo Loji.


"Di jalan yang benar? apa ibu pikir aku akan menjadi jahat dan menyakiti ibu?" Setra memalingkan wajahnya kesal.


"Ibu tau anak kesayangan ibu tak akan melakukan itu tapi kau juga harus ingat bahwa semakin tinggi ilmu kanuragan seseorang biasanya akan diiringi dengan ambisi yang juga semakin besar dan Kitab Sabdo Loji seolah memberi jalan itu jika kau salah memahami setiap kata dari kitab leluhur kita itu," jawab Purwati.


"Leluhur kita? bukankah ayah yang membuat kitab itu?" tanya Setra bingung.


Purwati menggeleng pelan sebelum mengambil kitab Sabdo Loji dari balik pakaiannya, dia merasa sudah saatnya Setra mengetahui rahasia besar kitab itu agar suatu saat tidak tersesat.


"Suku pengendali waktu atau lebih dikenal dengan nama Latimojong adalah peradaban pertama yang ada di Nuswantoro. Merekalah pusat dari semua ilmu yang ada saat ini baik Ilmu pengetahuan maupun kanuragan. Salah satu ketuanya yang berjuluk Dewa waktu itulah yang menciptakan kitab Sabdo Loji.


"Awalnya Latimojong hidup dengan damai, mereka bahkan membangun peradaban yang sangat maju di suatu tempat namun seperti yang ibu katakan tadi bahwa semakin tinggi ilmu kanuragan seseorang biasanya akan diiringi dengan ambisi yang juga semakin besar dan itu terjadi pada Latimojong. Mereka mulai terbelah menjadi dua kelompok, Lemuria dan Atlantis setelah kematian tetua Dewa Waktu tewas.


"Dan apa yang ditakutkan tetua Dewa Waktu akhirnya terjadi, dua kelompok besar itu saling bunuh demi mendapatkan kitab Sabdo Loji. Semua tewas dalam pertempuran itu, hanya anak anak dan beberapa orang dewasa yang sejak awal sudah diungsikan yang selamat dan kitab Sabdo Loji pada akhirnya jatuh ke tangan Lemuria.


"Sejak saat itu kami memang tidak lagi bertempur tapi kedua kelompok ini hidup selama bertahun tahun dengan memendam kebencian, sampai akhirnya ayah dan Ibu saling mencintai. Ayahmu yang merupakan keturunan Lemuria dan Ibu Atlantis seolah ditakdirkan untuk menghapus semua kebencian itu. Kami mulai belajar hidup berdampingan dan mengubur semua masa lalu kelam itu," jawab Purwati pelan.


"Apa sebegitu hebat kah kitab Sabdo Loji bu, sampai mereka harus saling bunuh?" tanya Setra bingung.


"Bukan hanya hebat tapi apa yang terkandung dalam kitab itu sangat mengerikan dan bisa menghancurkan dunia ini dalam sekejap karena inti tertinggi dari makna Sabdo Loji adalah mengendalikan waktu. Itulah alasan tetua Dewa Waktu memutuskan moksa dari dunia ini dan menutup rapat rahasia yang terkandung dalam kitab itu."


"Mengendalikan waktu?"


"Tak ada yang tau makna dari mengendalikan waktu kecuali Dewa waktu dan ibu ingin kau berjanji untuk tidak mencari tau karena konon kekuatan mengendalikan waktu adalah mutlak, tak akan ada yang bisa menghentikan pengguna jurus itu, jadi mari biarlah semua berjalan sesuai dengan kehendak alam," Purwati mengelus rambut anaknya itu.


"Baik bu... Aku akan berjanji," jawab Setra cepat sambil memeluk ibunya erat.


"Jadi Li Yu Fei berhasil mengetahui inti dari ilmu mengendalikan waktu," Setra menelan ludahnya saat melihat Sabrang menjadi bulan bulanan Ken Panca.

__ADS_1


Dan seperti ucapan Purwati, kekuatan jurus mengendalikan waktu adalah mutlak. Gabungan kekuatan Naga Api dan energi murni seolah tak berguna dihadapan Ken Panca.


Saat Sabrang menyerang, dia bisa leluasa memperlambat waktu, mempercepat bahkan memundurkan waktu puluhan detik kebelakang sebelum menyerang balik.


Gerakan Sabrang menjadi kacau, terkadang sangat lambat namun bisa terlalu cepat sehingga serangannya jauh dari sasaran dan yang paling menyulitkannya adalah saat waktu mundur beberapa detik. Pertahanan yang telah dibuatnya hilang seketika karena Ken Panca sudah mengetahui dimana celah pertahanannya.


Wajah Setra semakin buruk ketika tubuh Sabrang kembali terlempar dan membentur reruntuhan bangunan yang membuat luka di tubuhnya semakin parah.


"Naga Api, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu? aku bisa mati jika terus seperti ini," ucap Sabrang pelan sebelum muntah darah.


"Apa kau pikir aku tidak berusaha? semua kekuatanku seolah tak berarti dihadapan Sabda Waktu, bukan hanya aku tapi kita semua!" balas Naga Api kesal.


"Gawat, jurus ini diluar perkiraan paman," ucap Sabrang sambil menoleh kearah keris penguasa kegelapan di tangannya yang sudah patah menjadi dua.


"Kau sudah sadar seberapa besar perbedaan kekuatan kita? Mendekat lah dan berikan tubuhmu secara sukarela, aku berjanji tidak akan menyakitimu," ucap Ken Panca sambil melangkah mendekati Sabrang.


"Anom, apa kau punya rencana lain?" tanya Sabrang cepat.


"Tidak ada yang bisa melawan Waktu nak, kita sudah habis, rencana Wardhana sudah hancur sejak dia menggunakan jurus itu. Sebaiknya kita pergi sambil memikirkan rencana baru untuk mengalahkannya," ucap Anom pelan.


"Jadi kau sudah putus asa? apa ayah mengajarimu seperti itu?" jawab Sabrang sinis, dia mencoba bangkit dengan sisa sisa tenaganya.


"Ini bukan tentang putus asa tapi menjaga sebuah harapan. Mundur adalah satu satunya cara terbaik saat ini untuk menyusun kembali kekuatan kita karena jika kau sampai mati, saat itulah semua harapan sirna," jawab Anom sedikit meninggi.


Sabrang tersenyum sambil menatap sekitarnya, dia melihat semua pendekar aliansi termasuk Lingga dan Wijaya sedang bertarung mempertaruhkan nyawa tanpa perduli apakah pada akhirnya akan menang atau justru mati sia sia, kemenangan seolah tidak lagi penting, yang terpikir saat ini hanya berjuang sampai mati demi kebenaran yang diyakini.


Lingga yang masih terlihat tenang bukan tidak tau jika Sabrang sudah sangat terdesak, dia bisa saja mengalahkan Gara, sang pemimpin Lembayung Merah namun dia juga sadar kemenangan itu akan menjadi sia sia saat terbunuh ditangan Ken Panca.


Tapi Lingga sudah tidak perduli lagi dengan semua itu, dia hanya ingin mati dengan membawa semua kebanggaannya. Ya, mengenal dan berjuang bersama Sabrang adalah kebanggaan terbesarnya!


"Semua tidak sesuai rencana, Yang mulia? terkadang alam memang memiliki rencana sendiri, tapi tidak perlu menyesal. Bertarung lah sampai akhir dan tunjukkan padaku kenapa aku begitu mengagumimu," ucap Lingga dalam hati.


"Aku tidak tau apakah kalian telah salah memilihku tapi satu hal yang harus kalian tau, walau semua harapan di dunia ini sudah sirna bahkan jika dua pusaka yang aku anggap sahabatku sendiri mengatakannya, aku tak akan menyerah sampai tubuh ini hancur sekalipun," ucap Sabrang pelan sebelum bergerak menyerang.


"Jadi kau begitu menginginkan tubuhku ya? ambillah sendiri jika kau mampu."


"Kau menarik semua kekuatan kami menggunakan Inti Lebur Saketi tingkat akhir? apa kau sudah gila? tubuhmu bisa..."


"Apa aku terlihat memiliki pilihan lain? Dengar Naga Api, bertarung bersama kalian adalah hal paling menyenangkan dalam hidupku," Ledakan tenaga dalam yang berasal dari dalam tubuh Sabrang melempar semua yang berada disekitarnya kecuali Ken Panca yang masih sangat tenang menyambut serangan itu.


Ledakan tenaga dalam Sabrang yang begitu besar membuat Wijaya langsung menoleh, terlihat goresan goresan luka di tubuhnya terus mengeluarkan darah.


"Yang mulia..." ucap Wijaya pelan sambil melepaskan ledakan tenaga dalam iblis. "Izinkan hamba yang tidak berguna ini menemani anda."


Wijaya terus bergerak dengan sisa sisa tenaganya, dia bahkan tidak perduli saat lengan kirinya putus oleh serangan lawan.


"Setidaknya aku memiliki kebanggaan sebelum menghadap Yang mulia Arya Dwipa," tubuh Wijaya roboh ketanah saat kepalanya tiba tiba terlepas dari tubuhnya.


Sabrang masih berusaha menyerang, kedua matanya sudah mengeluarkan darah segar menandakan mata bulan sudah mencapai batasnya.


"Baik jika kau begitu ingin mati, aku akan menemanimu," ucap Anom dan Naga Api bersamaan. Mereka saling menoleh sebelum melepaskan kekuatan terakhir.


"Jurus Pedang Sabdo Palon tingkat enam : Energi penghancur Sukma," Sabrang mengayunkan pedangnya ketika berhasil mendekat. Kecepatannya kini bahkan tidak lagi mampu dilihat oleh mata bulan Setra.


Namun sama seperti sebelumnya, kecepatan Sabrang menjadi sangat lambat saat Ken Panca menggunakan jurus mengendalikan waktu.

__ADS_1


Dia memperlambat waktu sebelum memutar beberapa detik kebelakang dan menyerang dengan sekuat tenaga.


Ken Panca sempat merasakan sakit yang luar biasa saat berhasil mematahkan kedua tangan Sabrang, efek ledakan yang keluar dari tubuh lawannya itu benar benar membuat seluruh tubuh Ken Panca seperti hancur.


Andai tidak menguasai jurus mengendalikan waktu mungkin Ken Panca sudah mati oleh serangan cepat Sabrang itu.


Kecepatan Ken Panca yang tidak wajar membuat Sabrang tidak bisa berbuat apapun, yang dia rasakan selanjutnya hanya rasa sakit saat kedua tangannya patah.


"Kekuatan Sabdo waktu adalah Mutlak!" Ken Panca memutar tubuhnya dan mencengkram leher Sabrang.


"Sial! tidak berhasil ya..." Sabrang menjerit kesakitan bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar hebat saat energinya terhisap dengan sangat cepat. Perlahan namun pasti kesadarannya mulai menghilang.


"Saatnya mengambil semua kekuatanmu sebagai langkah awal merebut tubuhmu," Ken Panca mulai menghisap energi Naga Api dan Anom kedalam tubuhnya.


"Dia bisa terbunuh jika ruh Naga Api di ambil paksa," Jaya Setra langsung bergerak cepat kearah Ken Panca.


"Kau tidak pernah belajar dari kesalahan orang tuamu, seharusnya kau melarikan diri seperti dulu saat masih ada kesempatan," Ken Panca memunculkan energi keris di udara bersamaan dengan terhentinya gerakan Jaya Setra.


"Gawat, dia menggunakan jurus itu lagi," umpat Setra sebelum pandangannya menjadi gelap.


"Energi keris penghancur," belasan keris penguasa kegelapan menghantam tubuh Setra dan meledak membuat tubuhnya hancur berkeping keping.


Ken Panca kemudian melempar tubuh Sabrang saat seluruh energinya sudah habis terhisap.


Lingga yang melihat Sabrang tewas dengan mata kepalanya sendiri mengamuk, dia bergerak kearah Ken Panca dan tidak memperdulikan Gara yang mengejar dari belakang.


"Pada akhirnya kekuatan iblis api kembali lagi padaku," ucapnya sambil menoleh kearah Lingga.


"Kita terlambat..." ucap seorang pria yang muncul tiba tiba saat melihat ratusan pendekar terbunuh.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kemarin, tepatnya tanggal 5 Februari 2020 atau satu tahun lalu Pedang Naga Api untuk pertama kalinya terbit di Mangatoon. Jadi bisa dikatakan kemarin adalah hari ulang tahun Sabrang dan semua pendekar di Pedang Naga Api universe.


Dari hati yang paling dalam dan sering disakiti mantan, saya ingin mengucapkan ribuan terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Tanpa kalian Pedang Naga Api tidak akan seperti sekarang.


Sebagai tanda terima kasih, saya akan memilih 15 orang reader setia yang akan saya kirimi 5 chapter awal Geger di Tanah Nusantara.


Aturan mainnya...


- Naskah akan dikirim tanggal 10 Februari 2021


- Setelah selesai membaca, tolong berikan pujian (Jika menurut kalian menarik), tanggapan dan masukan yang membangun tentang Alur, Tokoh dan Misteri pembuka Geger di Tanah Nusantara.


- Semua komentar kalian akan saya posting di Akhir bab cerita Pedang Naga Api, Api di Bumi Majapahit dan Instagram saya.


- 15 Reader yang saya pilih akan di umumkan di akhir Bab Pedang Naga Api tanggal 9 Februari 2021


- Jumlah Reader terpilih bisa bertambah jika Antusias yang mau ikut tinggi.


Selanjutnya, untuk nasib Api di Bumi Majapahit setelah munculnya Geger di Tanah Nusantara.


Geger di Tanah Nusantara atau saya menyingkatnya GTN akan terbit setelah Pedang Naga Api tamat, jadi tidak akan mengganggu PNA.


Sedangkan ABM tetap akan menjadi prioritas utama dan pasti akan saya lanjutkan sampai tamat sebagai bagian dari tanggung jawab saya. Itu janji saya sebagai satu satunya manusia yang udah laku diantara tumpukan Jomblo berkarat.

__ADS_1


Terakhir, sekali lagi saya ucapkan terima kasih pada semua reader Pedang Naga Api yang setia dari awal sampai akhir.


Besok Pedang Naga Api akan Update sedikit terlambat, kemungkinan pukul 21.00 karena saya ada sedikit keperluan, jadi mohon di tunggu.


__ADS_2