Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan terakhir di Dieng


__ADS_3

Ajisaka tersentak kaget ketika aura biru meledak dari tubuh Sabrang. Dia sangat hafal aura itu, segel 4 Unsur yang selalu dibanggakannya, segel yang dikatakan sebagai segel terkuat di dunia persilatan kini hancur oleh seorang anak.


"Anak ini? dia menghancurkan segel 4 unsur dalam sekejap?". Ajisaka masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Anom, anak ini menyerap Energi banaspati". Naga api terlihat sangat terkejut, perlahan namun pasti energi Banaspati menyatu dengan energi Naga api.


Naga api merasakan kekuatannya berlipat, kobaran api merahnya perlahan berubah pekat.


"Cukup nak, tubuhmu akan hancur jika terus menyerap energi Banaspati". Anom memperingatkan Sabrang. Anom terlihat khawatir melihat Sabrang terus menyerap energi Banaspati.


Kekhawatiran Anom cukup beralasan, bukan hanya khawatir tubuh Sabang hancur akibat energi itu namun juga semakin bertambah kuatnya Naga api yang menjadi kekhawatiran Anom. Dia takut Naga api makin liar dan tak terkendali akibat energi Banaspati.


"Banaspati?". Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Kau tidak sadar sedang menarik Energi banaspati?".


Sabrang menggeleng pelan "Aku hanya melakukan yang biasa kulakukan dengan Cakra Manggilingan". Ucap Sabrang bingung.


"Jadi Cakra manggilingan yang menyerap habis energi pendekar Iblis petarung tadi". Gumam Anom dalam hati. "Cukup Nak, berhentilah. Energi Banaspati sangat liar, tak mudah berurusan dengannya".


"Aku sudah berusaha menghentikannya Anom namun Cakra manggilingan tak mau berhenti menyerap".


Raut wajah anom makin khawatir setelah melihat perubahan pada diri Naga api. Kobaran apinya menjadi berwarna merah darah, kedua bola matanya menjadi merah pekat.


Perlahan tubuh Sabrang melayang diudara diikuti ledakan ledakan Magma dibeberapa tempat. Tanah para dewa itu kini tak mampu lagi menahan tekanan magma yang sudah jutaan tahun mereka redam dengan ilmu pengetahuan paraton.


Entah karena rencana Wardhana berhasil menutup semua celah resapan Dieng atau karena lepasnya energi banaspati perlahan namun pasti lahar lahar panas mulai menggenangi tanah Dieng. Dimulai dari gerbang ketiga yang letaknya paling rendah.


Melihat aura dalam diri Sabrang semakin pekat, Ajisaka menjadi khawatir. Dia memutuskan menyerang saat Sabrang belum sadarkan diri. Ajisaka tak mau ambil resiko jika Sabrang telah sadarkan diri.


"Aku akan mencari tubuh lainnya, tubuhmu memang menarik namun kau terlalu berbahaya". Ajisaka bergerak cepat dan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Saat pedang pusaran angin hampir mengenai sasarannya tiba tiba sebuah energi meledak dari dalam tubuh Sabrang.


Tubuh Ajisaka terdorong mundur dengan luka bakar dibeberapa tempat.


"Ini bukan energi Naga api?". Ajisaka mengernyitkan dahinya. Sebagai pengguna Naga api terdahulu, Ajisaka mengenal betul energi Naga api.


***


Wijaya terlihat melesat cepat sambil menggendong Kertasura yang terluka parah. Ciha dan Suliwa mengikutinya dari belakang. Sementara lahar panas seolah mengejar mereka dibelakang, Gerbang ketiga Dieng sudah hampir tertutup lahar.


"Bertahanlah tuan, kita sudah hampir sampai digerbang ketiga". Ciha melompat lebih dulu dan menyambar lempengan batu tulis kecil yang tergeletak tak jauh dari gerbang ketiga. Ciha memanfaatkan pijakan batu untuk naik kegerbang kedua.


Langkah mereka terhenti ketika melihat Ajisaka dan Sabrang ada dihadapan mereka. Raut wajah Suliwa berubah saat melihat tubuh Sabrang melayang diudara dengan kondisi tak sadarkan diri.


"Aku akan mengalihkan perhatiannya, bawa Sabrang keluar dari tempat ini". Bisik Suliwa pada Ciha.

__ADS_1


"Tak kusangka kau selama ini bersembunyi ditubuh tetua Sudarta". Suliwa maju perlahan sambil menggenggam pedang.


Ajisaka hanya menoleh sebentar sebelum kembali menatap Sabrang. Di tidak tertarik sama sekali dengan Suliwa dan yang lainnya. Suasana hatinya sedang buruk, dia masih bingung dengan energi yang menyerangnya tadi.


Suliwa tersenyum kecut setelah melihat reaksi Ajisaka. Sikap Ajisaka memperlihatkan jika dia tidak menganggap Suliwa sama sekali.


"Bersiaplah". Suliwa bergerak menyerang Ajisaka yang masih mematung dihadapannya.


Ajisaka hanya memutar sedikit tubuhnya dan menagkis serangan Suliwa dengan mudah. Dalam beberapa tarikan nafas Suliwa sudah mulai terdesak.


"Kau benar benar pengganggu". Ajisaka melepaskan beberapa tinju penakluk naga dan menyerang beberapa titik vital Suliwa.


Ciha tiba tiba berlari mendekati Sabrang saat Ajisaka sedang bertarung dengan Suliwa namun langkahnya terhenti saat beberapa pisau menghujam tubuhnya.


"Jangan pernah sentuh tubuh baruku". Ajisaka menatap tajam Ciha yang tergeletak ketanah.


"Ciha". Suliwa mencoba bangkit dan bersiap kembali menyerang.


Suliwa menatap jurang pintu ketiga dan menemukan Lahar sudah hampir menutup gerbang itu. Suasana Dieng saat ini dipenuhi asap belerang dan lahar panas.


"Gawat lahar itu hampir naik keatas sini, aku harus cepat menolong Sabrang". Suliwa kembali merapal jurusnya.


Ketika Suliwa mulai bergerak maju tiba tiba bebatuan disekitar mereka melayang diudara, disusul dengan ledakan ledakan kecil yang menyemburkan lahar panas.


Saat perhatian mereka semua teralihkan oleh semburan semburan lahar panas disekitarnya, tak ada yang menyadari jika Sabrang telah membuka matanya.


"Kau baik baik saja nak?". Tanya Anom pelan.


Sabrang memperhatikan sekitarnya untuk mempelajari situasi. Dia melihat Ciha tergeletak ditanah sambil memegangi perutnya yang tertusuk pisau.


"Tempat ini sepertinya akan segera hancur, kita harus cepat membawa semua keluar dari sini". Selesai bicara demikian Sabrang melepaskan aura yang sangat besar dari tubuhnya.


Semua terkejut ketika merasakan aura yang sangat besar menekan mereka. Saat Ajisaka menoleh kearah aura yang menekannya, dia mendapati Sabrang sudah berada didekatnya. Ajisaka melompat mundur untuk mejaga jarak namun tebasan pedang Sabang mengenainya lebih dulu. Dia terpental mundur dan hampir terperosok kedalam lahar panas gerbang ketiga andai dia tidak menancapkan pedang pusaran angin ketanah.


"Sabrang". Suliwa hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kakek, tolong bawa semua pergi dari sini. Aku akan menyusul setelah membereskannya". Sabrang menatap tajam Ajisaka. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat luka ditubuh ajisaka menutup dengan cepat.


"Bagaimana luka ditubuhnya bisa menutup dengan cepat". Sabrang menggeleng pelan.


"Kecepatanmu sangat mengagumkan namun itu tidak akan cukup dihadapanku". Ajisaka melompat dan menyerang Sabrang bertubi tubi.


"Ayo kita pergi". Suliwa berlari dan menyambar tubuh Ciha.


"Tapi tetua.....". Wijaya masih bingung dengan situasinya, dia tidak mungkin meninggalkan Sabrang sendirian.


"Tuan, percayalah padaku kita hanya akan menjadi bebannya. Lagipula sesuatu yang ada ditubuhnya tidak akan membiarkan dia mati".

__ADS_1


Sebuah ledakan besar kembali terdengar ketika Wijaya masih bimbang dengan keputusanmu. Lahar dari gerbang ketiga mulai mengalir di tanah.


Ayo cepat". Ucap Suliwa setengah berteriak pada Wijaya. Tubuhnya mulai bergerak lincah menghindari semburan semburan lahar yang semakin banyak muncul.


"Yang mulia, berhati hatilah". Wijaya menundukan kepalanya sebelum bergerak mengikuti Suliwa.


Sabrang sesekali memperhatikan kepergian mereka sambil terus menyerang Ajisaka. Senyum lega terbentuk saat mereka menghilang dikejauhan.


"Sepertinya aku sudah bisa berkonsentrasi, maaf menunggu terlalu lama". Mata bulannya bersinar terang sebelum serangan cepatnya memaksa Ajisaka terdorong mundur.


"Dia membaca gerakanku?". Ajisaka terkejut gerakannya tiba tiba dapat dipatahkan.


"Pada akhirnya kau pun akan ikut terkubur disini selamanya". Ajisaka mengejek Sabrang.


"Itu jauh lebih baik daripada membiarkan iblis sepertimu keluar dari tempat ini". Sabrang tersenyum dingin.


***


Lembu sora terlihat berlari mendekati Wardhana yang berdiri di pinggir sungai sambil menatap air sungai yang mulai mendidih. Suasana malam Dieng kali ini sangat mecekam. Selain ledakan yang terus menerus terdengar hampir diseluruh penjuru Dieng, jalan keluar mereka satu satunya kini hampir tak bisa dilewati karena air sungai mulai mendidih.


"Tuan Adipati". Lembu sora menundukan kepalanya memberi hormat.


Wardhana terlihat menarik nafas panjang, pilihannya kali ini benar benar berat.


"Bawa mereka semua keluar dari sini sekarang, jika kita menundalagi jalan ini tak akan bisa dilewati". Wardhana menunjuk air sungai yang mulai menguarlkan uap menandakan air mulai panas.


"Lalu anda?". Lembu Sora terlihat khawatir.


"Aku akan menunggu Yang mulia, beliau membutuhkan penunjuk jalan untuk keluar dari sini". Ucap Wardhana datar. Ledakan ledakan makin sering terdengar, bahkan dibeberapa titik disekitar mereka mulai terlihat semburan semburan lahar panas.


"Tapi tuan".


"Sekarang Sora! kita tidak punya banyak waktu". Wardhana membentak Lembu sora.


"Ba...baik tuan". Sora melangkah pergi dan mulai menjelaskan pada yang lainnya jika sekarang mereka harus pergi. Air sungai gerbang kedua sebentar lagi akan sama panasnya dengan lahar api.


"Lalu tuan muda". Mentari terlihat khawatir.


"Tuan Adipati akan menunggu disini sampai Yang mulia datang". Jawab Lembu sora.


Mentari menggeleng cepat "Aku juga akan menunggunya".


"Nona, biarkan tuan Adipati yang mela....". Belum selesai Lembu sora bicara tiba tiba dua pendekar Iblis petarung yang tersisa muncul dihadapannya.


"Bentuk Formasi". Teriak Wardhana dari dekat sungai saat melihat para pendekar Iblis petarung. Dia bergerak cepat dan menyambar pedang yang tadi ditancapkannya.


"Sora, tuntun yang lain masuk gerbang. Aku akan mencoba menahannya". Perintah Wardhana.

__ADS_1


"Kalian pikir bisa pergi dari sini?". Salah satu Pendekar Iblis petarung tertawa mengejek.


"Sepertinya inilah saatnya mempertahankan wilayah kekuasan yang kutandai tadi". Wardhana mencabut pedangnya.


__ADS_2