Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kesalahan Wardhana


__ADS_3

"Kau yakin akan menghadapinya?" tanya Sabrang pelan.


"Anda tidak perlu khawatir Yang mulia, aku tidak akan mati sebelum melampaui anda," balas Lingga sambil melepaskan aura dari tubuhnya.


"Kau terlalu yakin dengan kemampuanmu, harusnya aku membunuhmu saat di Gunung Padang," balas Naradipta sinis.


"Membunuhku? coba saja jika kau mampu," Lingga bergerak lebih dulu dan langsung menyerang.


"Sebaiknya kau pergi mengurus yang lain, aku merasakan aura besar sedang bertarung di sekitar sini. Energi Kemamang telah menyatu dengan tubuh pendekar itu menandakan dia telah memilihnya, tak ada yang pelu di khawatirkan," ucap Naga Api.


"Jadi itu energi Kemamang?" balas Sabrang takjub saat melihat bola api mengelilingi tubuh Lingga.


"Walau kekuatannya jauh di bawahku tapi cukup sulit mencari lawan jika tubuhnya mampu menerima energi Kemamang," jawab Naga Api.


"Sebaiknya kita cepat, ada suara pertarungan tak jauh dari tempat ini dan aku yakin itu Ibu ratu," ucap Rubah Putih sebelum melesat pergi.


"Ibu?" Sabrang bergerak meninggalkan Lingga yang sedang bertarung dengan Naradipta diikuti Wardhana dan yang lainnya.


"Kalian pikir bisa pergi begitu saja?" empat pendekar kuil suci langsung menghadang Sabrang, mereka membentuk formasi serangan dengan cepat untuk menahan pergerakan Sabrang.


"Kalian benar benar merepotkan," Sabrang dan Hanghareksa langsung menarik pedangnya namun tiba tiba puluhan pisau melesat kearah para pendekar Kuil suci yang membuat mereka melompat menghindar.


"Pisau tumbuk Lada?" Sabrang menoleh kearah pisau muncul dan menemukan sepuluh pendekar bergerak kearahnya.


"Maaf aku sedikit terlambat tuan," ucap salah satu pendekar itu pelan.


"Tuan Arsenio, anda?" ucap Sabrang terkejut.


"Tetua Darin saat ini sedang menuju keraton bersama nona Wulan, anda sebaiknya cepat kembali tuan karena saat ini Agam sedang memimpin pasukan Saung Galah menyerang Malwageni," jawab Arsenio pelan.


"Menyerang keraton? bagaimana mungkin, bukankah Arina sudah membuat kesepakatan dengan mereka?" balas Sabrang tak percaya.


"Aku tidak tau cerita pastinya namun itu kabar yang tadi kudengar dari utusan tuan Arung, masalah semakin rumit karana kabarnya Saragi dan pasukan Arkantara dalam jumlah besar sedang berlayar kearah Jawata," ucap Arsenio.


"Mereka sepertinya merubah rencana untuk memecah kekuatan kita dengan memanfaatkan pendekar Kalang Yang mulia, Hamba benar benar masuk perangkap mereka," balas Wardhana dengan nada khawatir, wajahnya tampak panik setelah sadar masuk kedalam perangkap yang dibuat Agam.


"Pergilah tuan, aku akan mengurus sisanya," ucap Arsenio sebelum bergerak menyerang.


"Ksatria pisau tumbuk lada? suatu kehormatan bisa berhadapan langsung dengan kalian," para pendekar Kuil Suci menyambut serangan dengan formasi kebanggan mereka.


"Paman?" Sabrang tampak bingung dengan situasi yang dihadapinya. Saat ini keraton mungkin sangat membutuhkan bantuannya mengingat lawan yang dihadapinya adalah Agam dan pasukan Arkantara namun di sisi lain situasi kuil Khayangan tak kalah rumit.


"Maafkan atas kelalaian hamba Yang mulia, sejak awal Agam memanfaatkan pendekar Kalang untuk menjauhkan kita dari keraton, dengan terpecahnya kekuatan di dua tempat akan memudahkan mereka menguasai Malwageni dan Kuil suci bersamaan, dia lebih pintar dari dugaan hamba.


Anda harus kembali ke keraton tanpa hamba yang mulia. Saat ini guru Paksi ada di keraton dan tidak akan tinggal diam, hamba akan kembali secepatnya setelah memecahkan semua misteri peradaban Lemuria atau mereka akan menemukannya lebih dulu," Wardhana berlutut dihadapan Sabrang sambil menundukkan kepalanya.


Ada rasa bersalah di wajah Wardhana karena terlalu percaya diri dengan semua rencananya dan tanpa sadar masuk perangkap Agam. Dia tidak menyadari jika lawan yang kali ini dihadapi jauh lebih pintar dari semua lawan yang pernah dihadapi sebelumnya.


Sabrang menarik nafas panjang sambil mengepalkan kedua tangannya, tekanan aura yang meluap dari tubuhnya langsung menekan sekitarnya tak terkecuali Wardhana yang berusaha tidak kehilangan kesadaran akibat tekanan itu.

__ADS_1


"Aku tidak menyalahkan paman, semua sudah terjadi. Jaga diri dan kembalilah dalam keadaan hidup," ucap Sabrang dingin sesaat sebelum melesat pergi.


"Paman, jangan terlalu dipikirkan, cepatlah kembali setelah semua masalah disini selesai," ucap Emmy memberi semangat.


"Nyonya, mungkin ini adalah permintaan terakhir hamba sebagai seorang patih, tolong jaga Yang mulia," ucap Wardhana pelan.


"Paman?" Emmy terlihat khawatir, belum pernah dia melihat wajah Wardhana begitu buruk.


Mata yang biasanya di penuhi rasa percaya diri itu kini hilang entah kemana, Wardhana bahkan tak berani menatap Emmy.


Wardhana tampak benar benar terpukul kali ini, untuk pertama kalinya sejak runtuhnya Malwageni dia merasa tidak berkutik dan bingung harus berbuat apa.


Saat ini Malwageni sedang dalam masalah dan mungkin akan hancur kembali tapi dia tidak bisa meninggalkan kuil Khayangan karena jika sampai jatuh ke tangan Agam maka bukan hanya kerajaannya yang hancur tapi mungkin Nuswantoro.


"Hamba telah melakukan kesalahan yang sama seperti dulu, rasa percaya diri yang terlalu berlebihan membuat semua hancur, harusnya hamba sadar sedang dipermainkan saat tuan Hanggareksa menyerang air terjun Lembah pelangi.


Guru Paksi bahkan telah berulang kali mengingatkan untuk tidak menganggap remeh lawan selemah apapun tapi hamba mengabaikannya karena terlalu percaya dengan diri, kini Malwageni harus menanggung kebodohan hamba," balas Wardhana lirih.


"Apa paman merasa putus asa?" tanya Emmy pelan.


"Hamba..." Wardhana menghentikan ucapannya dan terus menunduk.


"Paman lihat para pendekar pisau tumbuk lada itu? mereka datang dan bertarung demi Malwageni, kerajaan yang bahkan mungkin baru mereka kenal dan paman sebagai pemimpin tertinggi pasukan Angin selatan hanya duduk menyesali kesalahan?


Kejadian ini mungkin akan membuat kehilangan yang besar bagi kita tapi selalu ada hal positif dari sebuah kekalahan, paman akan belajar jika Wardhana hanya manusia biasa yang suatu saat pasti melakukan kesalahan. Bangkitlah kembali dan tebus kesalahan paman.


"Nyonya..." ucapnya lirih.


"Apa yang dikatakan nona itu benar, jika kau marah maka lepaskan semua amarahmu pada mereka. Mengamati semua pergerakan yang kau lakukan selama berada di kuil khayangan membuatku yakin Sukma telah hidup di dalam tubuhmu dan itu artinya semangat suku Kalang juga mengalir dalam darahmu. Pikirkan ucapan nona itu baik baik dan kau tau dimana harus mencari kami," Hanggareksa melangkah pergi bersama Cokro yang terus menatap Wardhana iba.


"Tuan, apa dia akan baik baik saja?" ucap Cokro khawatir.


"Semua tergantung pada dirinya sendiri, jika dia tidak bisa melewati masalah kali ini berarti kemampuannya hanya sampai di situ kemampuannya dan kita tidak boleh berharap pada orang yang sudah putus asa," balas Hanggareksa pelan.


***


Paksi terlihat berlari kearah paviliun ratu dengan wajah tegang, dia sesekali berteriak pada pasukan angin selatan yang ditemuinya dalam perjalanan.


"Periksa kembali setiap gerbang keraton dan bunuh siapa saja yang berusaha mendekat."


Wajah Paksi sedikit tenang saat melihat Arung dan puluhan pasukan berjaga di depan paviliun ratu, dia mempercepat langkahnya.


"Apa gusti ratu sudah dibawa keluar istana?" tanya Paksi sambil mengatur nafas.


"Beliau sedang bersiap siap tuan," jawab Arung yang tampak gagah dengan jubah perang khas Malwageni.


"Siapa yang akan melindungi gusti ratu dan pangeran selama dalam pelarian?" tanya Paksi kembali.


"Kertapati tuan, hanya dia yang tersisa karena tuan Sora dan Wijaya akan memimpin pasukan di garis depan," balas Arung yang terus menoleh kearah pintu paviliun, wajahnya kembali khawatir karena Tungga Dewi tak kunjung keluar.

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi dari para telik sandi bahwa Pancaka dan Agam sedang bergerak kearah Malwageni, Arung bersama Paksi dan Arina melakukan pertemuan darurat dan memutuskan untuk mengungsikan Tungga Dewi dan pangeran ke sekte Pedang Naga Api seperti Sabrang dulu demi keselamatan mereka karena lawan kali ini jauh lebih kuat dari Majasari.


"Apa semua akan baik baik saja tuan?" tanya Arung khawatir.


"Dalam perang tak ada yang pasti walau kau memiliki pasukan sebesar apapun, hal hal kecil kadang menjadi penentu kemenangan dan kita akan mencoba memanfaatkan itu. Saat ini Yang mulia mungkin sedang dalam perjalanan jadi pertahankan keraton apapun caranya sampai bantuan datang," jawab Paksi cepat.


"Aku sudah siap," ucap Tungga Dewi tiba tiba, dia berjalan kearah Arung sambil menggendong pangeran bersama Lasmini.


"Gusti ratu, anda?" ucap Paksi terkejut saat melihat Tungga Dewi sudah mengenakan jubah perang.


"Arung, perintahkan paman Kertapati untuk membawa pangeran ke Sekte Pedang Naga Api dan katakan pada kakek Agung untuk menyembunyikan keberadaan Pangeran sampai aku menjemputnya," perintah Tungga Dewi pelan.


"Ampun Gusti ratu, anda harus ikut dengan pangeran, situasi kali ini akan lebih sulit," jawab Arung cepat.


"Harus? apa kau sedang memberi perintah padaku?" Tungga Dewi menarik pedangnya dan mengarahkannya pada Arung.


"Hamba tidak berani Gusti ratu, tapi tugas hamba adalah memastikan keselamatan anda dan pangeran," balas Arung terkejut, dia tidak menyangka Tungga Dewi akan mencabut pedangnya.


"Gusti ratu, mohon bersabar, tuan Arung hanya menjalankan tugasnya," Lasmini mencoba menenangkan Tungga Dewi yang tersulut emosinya.


"Berikan panji kebesaran itu padaku," perintah Tungga Dewi pada salah satu prajurit yang memegang bendera Malwageni.


Prajurit itu mengangguk takut sambil menyerahkan kain besar bertuliskan Malwageni pada Tungga Dewi.


"Aku adalah ratu Malwageni yang diangkat dengan sumpah untuk setia pada tanah leluhur ini dan tak akan kubiarkan siapapun menginjak injaknya walau nyawa taruhannya.


Aku akan mengambil alih komando perang kali ini, sampai Yang mulia kembali jika ada yang mundur satu langkah pun, aku akan langsung membunuhnya," Tungga Dewi mengikat panji kebesaran itu di tubuhnya.


Arung menjadi bingung, dia tidak mungkin membantah perintah Tungga Dewi tapi disisi lain itu akan membahayakan nyawa Tungga Dewi sendiri.


Dia menoleh kearah Lasmini untuk meminta persetujuan yang dibalas anggukan terpaksa.


Lasmini sadar, sifat keras kepala Tungga Dewi tidak akan bisa dilawan, dia hanya berharap semua akan baik baik saja.


"Hamba menerima perintah," Arung, Paksi dan seluruh pasukan Angin selatan berlutut bersamaan.


Tungga Dewi kemudian menyerahkan pangeran pada Kertapati dengan wajah sedih, dia berharap ini bukan pertemuan yang terakhir dengan anaknya itu.


"Jaga pangeran dengan nyawamu dan pastikan dia selamat sampai di sekte Pedang Naga Api," ucap Tungga Dewi.


"Hamba menerima perintah," balas Kertapati cepat.


"Ayo pergi," ucap Tungga Dewi sambil melangkah pergi.


"Gusti ratu," Mentari tampak berlari bersama Ciha kearah mereka.


"Kalian sudah siap?"


"Semua pasukan sudah berada di posisi," jawab Mentari cepat.

__ADS_1


__ADS_2