
"Bagaimana keadaannya?" Kumbara bertanya pelan pada Bahadur yang sedang memeriksa Mentari.
"Racunnya sudah menyebar sepertinya akan butuh waktu yang tidak sebentar untuk membuat dia pulih kembali".
"Jadi nona ini yang telah memicu anak itu membangkitkan Naga api?. Jika terjadi apa apa pada nona ini aku khawatir segel kegelapan abadiku tak mampu menahannya membangkitkan Naga api" Kumbara menggeleng pelan.
"Aku akan berusaha semampuku tuan" Bahadur menatap Mentari.
"Singa emas ada yang harus kita bicarakan" Brajamusti muncul dari balik pintu.
"Kalau begitu aku permisi dulu" Bahadur menundukan kepalanya.
"Tidak, kau juga harus ada disini". Brajamusti menahan Bahadur yang hendak meninggalkan ruangan tempat Mentari di rawat.
Bahadur mengangguk dan kembali duduk di kursinya.
"Bagaimana keadaan anak itu tetua?" Kumbara menoleh kearah Brajamusti.
"Beberapa nadinya terputus namun dia akan pulih seperti semula setelah berlatih beberapa kali. namun ada yang tidak beres dengan tubuh anak itu".
"Maksud anda?" Bahadur mengernyitkan dahinya.
"Aliran tenaga dalam di tubuhnya sangat kacau dan saling bertumburan, seharusnya tubuhnya telah hancur sejak lama. ada tiga jenis tenaga dalam di tubuhnya yang membuat mereka saling bertumburan."
"Tiga Jenis?".
Brajamusti mengangguk pelan "Energi Naga api, Tenaga dalamnya sendiri dan satu lagi tenaga dalam yang belum ku tau dari mana asalnya namun yang pasti itu sangat kuat".
"Mungkin ini tidak masuk diakal namun menurutku Naga api tadi hanya dapat menggunakan sekitar 30% saja kekuatannya".
"Anda bercanda? api merah yang menyelimuti dirinya itu pertanda jika naga api menggunakan hampir seluruh kekuatannya. Anda tadi merasakan sendiri kekuatannya". Kumbara masih tidak percaya dengan penjelasan Brajamusti.
"Bagaimana jika kekuatan itu hasil dari tumburan tiga jenis tenaga dalamnya? Anda pasti paham seberapa besar kekuatan Naga api? jika dia sudah melepaskan hampir separuh kekuatannya apa segel Kegelapan abadi mampu menahannya?".
"Maksud anda?"
Brajamusti mengangguk pelan "Hanya ada satu jurus di dunia ini yang mempunyai pola tenaga dalam seperti itu yaitu Kitab Energi Bumi".
Kumbara dan Bahadur tersentak kaget mendengar penjelasan Brajamusti.
__ADS_1
"Kitab itu hanya legenda yang diceritaka turun temurun tetua, belum ada yang benar benar menemukan kitab itu dan bisa mempelajarinya, lagipula tidak ada yang mau segila itu menghancurkan tubuhnya dengan menubrukan tenaga dalamnya".
"Apakah kau yakin kitab itu benar benar tidak ada? bukankah kini mulai bermunculan ilmu ilmu aneh yang selama ini kita sebut legenda?".
Kumbara diam sesaat dia tidak bisa menjawab pertanyaan Brajamusti.
"Lalu dari mana anak ini mempelajari jurus energi bumi?".
"Aku belum mengetahui sampai sejauh itu namun jika benar kitab energi bumi benar benar ada hanya anak ini yang dapat mempelajarinya". Brajamusti memejamkan matanya sesaat.
"Siapapun anak ini latar belakang keluarganya bukanlah pendekar sembarangan, dia memiliki tubuh istimewa yang dapat menahan kekuatan dalam jumlah yang sangat besar. Perjalanannya masih jauh dan dia masih akan terus berkembang, Semoga kelak ambisi dan nafsunya tidak akan membutakan mata hatinya atau tidak akan ada yang bisa menghentikannya kelak".
"Lalu mengenai muridmu, aku yakin ada campur tangan Lembah siluman dibelakangnya. Jurus aneh yang kau ceritakan mempunyai kemiripan yang tinggi dengan jurus Lembah siluman". Brajamusti memandang Bahadur.
"Jadi Lembah siluman benar benar mencoba bangkit kembali? Bagaimana mereka mampu bertahan selama ratusan tahun?". Bahadur mengernyitkan dahinya.
"Air kehidupan" Kumbara tiba tiba menjawab pertanyaan Bahadur.
Brajamusti dan Bahadur menatap Kumbara serentak.
"Aku pernah hampir berhasil memasuki Dieng, sebuah tempat yang menjadi pusat kekuatan itu mempunyai danau berisi air kehidupan. Namun danau tersembunyi itu dilindungi oleh Segel Empat unsur yang hanya bisa dinetralkan dengan pengguna segel empat unsur juga.
Kita hanya akan melihat hamparan bunga Mawar hitam jika segel itu tidak dibuka. Air kehidupan itu yang mungkin membuat mereka abadi".
"Aku tidak tau namun itu adalah salah satu kemungkinan mengapa mereka bisa bertahan ratusan tahun".
"Anda pernah ke dieng?" Bahadur menatap Kumbara penasaran.
Kumbara mengangguk "Lebih tepatnya hampir masuk. Aku menemukan gerbang ke Dieng secara tidak sengaja, saat itu perasaanku begitu gembira. Gambaran akan menjadi pendekar terkuat melintas dipikiranku.
Namun Dieng bukan tempat yang indah, bukan tempat yang bisa didatangi manusia. Dieng bagaikan tempat para Dewa untuk menyegel semua kekuatan Iblis. Saat kau mulai melangkah memasuki Gerbang Dieng Hawa nafsu dan ambisimu menjadi tidak terkontrol seakan ada segel yang menarik semua sifat jahat mu keluar.
Kau bisa dengan mudah mendapatkan kekuatan disana namun kau pun akan dengan mudah kehilangan sifat belas kasihanmu. itulah kenapa banyak cerita pendekar yang berhasik masuk kesana akan berakhir gila dan menjadi Iblis pembunuh.
"Akupun mengalaminya, teman baikku mati di ujung pedangku karena aku merasa dia bisa menjadi penggangguku. Kepalaku sakit memikirkan jika dia bisa lebih hebat dariku, ambisiku untuk menguasai seluruh isi Dieng membuatku gelap mata dan berakhir dengan membunuhnya.
Kurasa Kabut yang menutupi hampir seluruh Dieng adalah sebuau Segel kuno yang dapat membuat semua orang kehilangan kendali atas tubuhnya, mirip dengan anak itu saat Naga api merasukinya. Kau tidak akan berhenti sampai tubuhmu hancur.
Dengarlah kurasa Dieng diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar namun bukan untuk kita manusia. Biarkan alam mencari keseimbangannya sendiri, semua ada batasnya. Sejak saat itu aku bersumpah untuk menyimpan rapat letak Dieng berada".
__ADS_1
"Jadi tempat iti benar benar ada?".
***
"Jadi Naga api telah bangkit?" Seorang kakek tua dengan janggut panjang duduk di kursi yang hampir mirip dengan singgasana raja.
"Be...benar ketua aku melihatnya sendiri" Batara berbicara terbata bata, tubuhnya terasa hancur menerima tekanan aura pria tua tersebut.
"Menarik, tak kusangka aku akan bertemu dengan Naga api yang hampir membunuhku ratusan tahun lalu" Pria itu menyeringai pada Batara.
"Ke..Ketua bolehkah aku undur diri?" Batara merasa nyawanya dalam bahaya saat melihat pria tersebut tersenyum licik padanya.
Pria tersebut mengarahkan tangan kanannya kearah Batara. Tiba tiba tubuh batara melayang dan bergerak cepat kearah pria tersebut seperti terhisap sesuatu.
Beberapa saat kemudian tangan pria tersebut telah mencengkram lehernya.
"Ketua maafkan aku...." Batara bernafas tersenggal senggal.
"Lembah siluman tidak pernah sudi menerima sampah sepertimu, Ku beri waktu satu purnama jika kakuatanmu tidak mengalami kemajuan pesat aku akan membunuhmu" Pria itu menatap tajam Batara.
"Ba...baik ketua".
Tubuh Batara terlempat jauh seperti terdorong sesuatu.
"Pergilah atau aku berubah pikiran".
"Baik ketua" Batara pergi dengan tergesa gesa.
"Masuklah Maruta". Pria tersebut memanggil pria yang menyelamatkan Batara tadi.
"Selidiki siapa anak pengguna Pedang api itu, aku ingin tau seberapa kuat Naga api kini, aku tidak akan kalah kali ini".
"Baik ketua".
Sepeninggal Maruta pria tersebut tersenyum kecil.
"Tidak kusangka akan secepat ini Naga api dan Pedang langit muncul di dunia persilatan namun tidak akan mengubah apapun aku akan menguasai dunia persilatan".
***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote.
__ADS_1
Ranking PNA kembali merosot mohon bantuan teman teman jika memang dirasa Novel ini menarik untuk dibaca.
Terima kasih dan semoga sukses untuk kita semua***