
Ki Ageng tak bisa menutupi rasa kagetnya. Dia hampir tak percaya apa yang dikatakan Wulan sari. Sudah beberapa hari ini dia selalu berdiskusi bersama Wulan sari tetapi kali ini perkataan Wulan sari tak dapat diterima akal sehatnya.
"Jadi maksud tetua kemungkinan keberadaan Kitab Energi Bumi ada di Tanah para Dewa?". Wulan sari mengangguk pelan. Itu informasi yang dia dapatkan dari beberapa anggota Teratai Merah yang disebarnya.
"Bukan kah Tanah para Dewa hanya sebuah legenda? Sebuah dongeng yang di ciptakan oleh orang orang tidak bertanggung jawab. Bahkan belum pernah ada orang yang benar benar pernah kesana" Ki Ageng masih tidak percaya bahwa Tanah Para Dewa benar benar ada di dunia ini.
Wulan sari tersenyum kecil "Apakah kau tau dari mana kami mendapatkan Jurus Segel Kegelapan abadi?". Ki Ageng menggeleng pelan. Dia hanya mengetahui jika jurus itu berasal dari Kelompok Teratai Merah.
"Guruku pernah berkata jika leluhur kami dulu bukanlah Pendekar. Kami hanya kelompok pedagang yang hidup selalu berpindah pindah. Kemudian tanpa sengaja leluhur kami menemukan jalan menuju Tanah Para Dewa. Di tempat itulah mereka mendapatkan Kekuatan dan ilmu kanuragan. Hingga akhirnya mereka membentuk sebuah kelompok yang diberi Nama Teratai Merah". Ki Ageng mengernyitkan dahinya.
"Walaupun aku tidak mengetahui cerita itu benar atau tidak tapi kami Kelompok Teratai Merah sangat mempercayai bahwa Tanah Para Dewa benar benar ada didunia ini. Kami menyebutnya Dataran Tinggi Dieng. Tempat yang digambarkan leluhur kami sebagai tempat yang selalu diselimuti kabut tebal. Sayangnya Leluhur kami tak pernah memberitahukan letak pasti Dataran tinggi Dieng berada".
Ki Ageng terlihat berpikir sejenak, dia memang pernah mendengar tentang Dataran Tinggi Dieng. Tempat yang selalu menjadi tujuan para pendekar. Tetapi sepengetahuannya belum pernah ada yg menemukan tempat tersebut.
"Guru mu ingin anak ini mencari keberadaan Dieng dan mempelajari Kitab Energi Bumi. Bagaimanapun sudah menjadi takdirnya untuk menanggung beban berat di pundaknya. Suka tidak suka dia harus menanggung beban baik sebagai Pendekar maupun Pewaris tahta Malwageni".
"Jadi anda sudah mengetahui jati diri anak ini?". Wulan sari mengangguk sambil tersenyum. "Tidak ada informasi yang tidak bisa di dapatkan Teratai Merah. Dia mempunyai tanggung jawab terhadap seluruh rakyat Malwageni yang selama ini di tindas Majasari". Ki Ageng terdiam, dia pun setuju dengan apa yang dikatakan Wulan sari. Hanya dia tidak mengira bahwa Sabrang harus menanggung beban ini saat usianya begitu muda.
Ki ageng menatap Sabrang yang terbaring dihadapannya "Semua keputusan ada di tangannya. Aku hanyalah gurunya walaupun anak ini sudah ku anggap cucuku sendiri. Dari awal aku sudah sangat menyadari beban yang di tanggungnya sebagai pewaris tahta Malwageni. Aku akan mendukung semua keputusannya".
__ADS_1
Wulan sari mengangguk "Setelah dia sadar aku meminta ijinmu untuk membawanya ke Lembah Sukma Ilang. Aku akan mengajarinya ilmu milik Teratai merah. Aku harap bisa membantunya selama kita belum menemukan solusi menyatukan Pedang Naga Api dan Kitab Api Abadi".
"Anda yakin akan mengajarkan ilmu Teratai Merah pada orang luar?" Ki Ageng bertanya pelan.
"Si tua itu dengan seenaknya mengajak aku ikut bertaruh pada anak ini". Wulan sari terkekeh bersamaan dengan senyum yang menghiasi bibir ki Ageng. Ki Ageng berdiri kemudain membungkuk pada Wulan sari "Terima kasih tetua sudah peduli pada pangeran".
.....................................................
Wijaya melangkah pergi meninggalkan Padepokan Elang Putih. Sesekali dia menoleh menatap padepokan tempat dia berlatih ilmu kanuragan selama hampir 9 tahun. Tak pernah terbayangkan dalam pikirannya meninggalkan tempat yang telah dia anggap rumahnya. Tetapi dia harus pergi menunaikan janjinya pada Arya dwipa. Wijaya menyusuri hutan menuju keraton Malwageni dengan pikiran melayang.
"Sudah 9 tahun berlalu sejak saat itu, harusnya Pangeran sudah tumbuh dewasa. Apakah yang mulia ratu dan pangeran baik baik saja? Aku harus bergegas" Wijaya mempercepat langkah kakinya, dia ingin segera memastikan keadaan Ratu dan Pangeran Sabrang.
"Hei kau!! Lepaskan penutup kepala dan topengmu kemudian letakan barang bawaanmu di atas meja". Salah satu prajurit penjaga menegur Wijaya. Wijaya menoleh kebelakang kemudian membuka topeng dan topinya. Semua barang bawaannya diperiksa satu persatu. Wijaya menatap sekeliling, suasana ibukota Malwageni sudah jauh berbeda dari saat sebelum penyerangan Majasari.
"Ada apa dengan wajahmu?" Salah satu penjaga bertanya.
"Aku terjatuh saat sedang berburu" Wijaya menunduk, dia tak ingin mengambil resiko dikenali oleh para penjaga.
"Masuklah, kau sudah selesai pemeriksaan" Wijaya mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan pos pemeriksaan.
__ADS_1
" Aku harus segera mencari Penginapan Jati agung untuk beristirahat dan menyusun rencana".
Langkah Wijaya terhenti disebuah penginapan, dia memandang papan nama penginapan yang ada dihadapannya. Suasana penginapan sore itu sangat ramai.
"Tuan ada yang bisa kami bantu? apakah tuan memburuhkan kamar untuk menginap?" Seorang pelayan perempuan menyapa Wijaya.
"Ah benar nona aku membutuhkan sebuah kamar untuk menginap malam ini". Pelayan tersebut mengangguk dan mengajak Wijaya masuk ke dalam penginapan.
"Tuan ingin langsung beristirahat atau makan terlebih dahulu?" tanya pelayan itu sopan. "Sepertinya aku butuh segera bersitirahat, tolong antarkan saja makanan dan arak terbaik ke kamarku".
"Baik tuan, silahkan ikuti aku" Pelayan itu menunjukan letak kamar Wijaya.
"Nona aku ingin meminta bantuan mu, apakah aku dapat bertemu dengan tuan Sastra wijaya?". tiba tiba langkah pelayan tersebut terhenti. Dia menoleh ke arah Gundala.
"Tuan Sastra sedang tidak ada di tempat. Apakah ada yang bisa aku bantu?".
Wijaya menggeleng pelan "Tolong sampaikan pada tuan Sastra jika seseorang dari Sekte Elang putih mencarinya. Aku akan menunggunya di kamar".
"Baik tuan akan aku sampaikan kepada tuan sastra". Langkah kaki gadis tersebut terhenti disebuah kamar yang cukup besar. "Kita sudah sampai tuan, selamat beristirahat". Pelayan tersebut menyerahkan kunci kamar pada Wijaya kemudian melangkah pergi.
__ADS_1