
"Tuan tak kusangka kita bertemu di sini". Seorang gadis menyapa Sabrang ramah ketika Sabrang hendak menaiki kapal menuju Pulau tengkorak.
"Ah nona Arkadewi", Sabrang menundukan kepalanya memberi hormat.
Arkadewi menoleh ke arah Wardhana dan tersenyum ramah.
"Tuan Wardhana, sudah sering aku mendengar kehebatan anda sungguh beruntung hari ini dapat bertemu langsung" Arkadewi menundukan kepalanya.
"Nona terlalu berlebihan, namaku tidak sehebat ketua Mata elang" Wardhana tersenyum dipaksakan.
"Maaf tuan anda tidak diijinkan ikut kapal ini" Seorang penjaga menghadang Sabrang.
"Maaf tuan kami hanya ingin menjenguk teman kami" Wardhana mencoba meyakinkan penjaga itu.
"Hari ini pulau tengkorak di tutup untuk kunjungan, datanglah lagi beberapa hari kedepan" Penjaga itu mengusir Sabrang dengan wajah tidak bersahabat.
"Maaf tuan mereka adalah kenalanku, ijinkan meraka ikut rombonganku" Arkadewi berjalan mendekati penjaga itu dan memberikan beberapa keping perak pada penjaga tersebut.
Raut wajahnya seketika berubah ramah, "Jika nona yang meminta aku tidak akan menghalangi, silahkan masuk tuan".
Sabrang mengangguk dan berjalan masuk kedalam kapal diikuti Wardhana dibelakangnya.
"Anda mengenalnya Pangeran?" Wardhana berbisik pada Sabrang.
"Ah iya paman aku pernah bertemu dengannya beberapa saat lalu".
"Anda harus berhati hati dengannya, dia adalah Pemimpin kelompok Mata elang yang terkenal licik".
Sabrang mengernyitkan dahinya "Maksud paman?".
"Mata elang adalah sebuah kelompok yang selalu bergerak di belakang layar. Mereka tidak peduli informasi yang mereka dapatkan untuk kebaikan atau sebaliknya, siapapun yang sanggup membayar dalam jumlah besar akan mereka ikuti".
Sabrang mengangguk pelan mendengarkan penjelasan Wardhana.
"Sebaiknya anda tidak terlalu dekat dengan mereka Pangeran".
Tak berapa lama seseorang menghampiri Sabrang "Maaf tuan ketua kami mengundang anda untuk makan bersama".
Wardhana mengernyitkan dahinya lalu menoleh kearah Sabrang.
Sabrang memberi tanda untuk menerima undangan Arkadewi.
"Baik tuan mohon tunjukan jalannnya".
Pendekar itu mengangguk dan mempersilakan Sabrang dan Wardhana untuk mengikutinya.
***
"Selamat datang tuan, silahkan duduk" Arkadewi menyambut Sabrang dan Wardhana yang melangkah ke mejanya.
__ADS_1
"Terima kasih nona" Wardhana menundukkan kepalanya.
Terlihat pendekar tua ikut menyambut kedatangan Sabrang.
"Ku dengar teman seperjalanan tuan terluka, aku sungguh menyesal mendengarnya tuan" Arkadewi menatap Sabrang lembut.
"Ah nona tak perlu khawatir tetua Bahadur yang merawatnya, dia hanya perlu beristirahat beberapa waktu untuk menghilangkan efek racunnya".
"Syukurlah, aku turut senang mendengarnya" Arkadewi tersenyum manis.
Wardhana lebih banyak diam dan sesekali memperhatikan gerak gerik Arkadewi. Dia paling memahami resiko berhubungan dengan Mata elang, di satu sisi akan mendapatkan keuntungan yang besar karena informasi yang didapatkan Mata elang sangat akurat namun di sisi lain mereka akan mencengkram seperti elang mencengkram mangsanya jika merasa tidak menguntungkan lagi.
"Lalu ada keperluan apa anda di Pulau tengkorak?" Pertanyaan Arkadewi kali ini membuat Wardhana bereaksi.
"Mungkin keperluan kami sama seperti apa yang nona cari" Wardhana tersenyum penuh makna.
"Tuan Wardhana memang pintar, aku tidak dapat menyembunyikan rencanaku di depan anda".
"Apakah ini berhubungan dengan penarikan Pasukan dari kadipaten Rogo geni?" Arkadewi menatap Wardhana.
Wardhana tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Arkadewi.
"Jika melihat fasilitas yang anda dapatkan di kapal ini dan harga yang harus dibayar untuk mendapatkan bantuan dari Mata elang sepertinya yang membayar anda bukan bangsawan biasa".
Arkadewi sedikit terkejut mendengar perkataan Wardhana, walaupun dia berusaha menutupi raut wajah terkejutnya namun Wardhana bisa menangkap kegelisahan Arkadewi akibat pernyataannya.
"Sepertinya aku sedikit lelah hari ini, aku permisi dulu tuan tuan dan maaf jika pelayanan kami kurang berkenan". Arkadewi menundukkan kepalanya kemudian pergi tanpa menunggu jawaban dari Sabrang maupun Wardhana.
"Paman...." Sabrang berusaha meminta penjelasan pada Wardhana atas apa yang terjadi.
"Apakah anda memperhatikan jika mereka mendapatkan pelayanan terbaik di kapal ini pangeran? bahkan dengan satu perkataan nona Arkadewi penjaga kapal tadi mengijinkan kita ikut.
Melihat gelagat mereka ditambah nona Arkadewi turun langsung jelas bukan orang sembarangan yang kali ini menyewa mereka namun aku belum mengerti apa yang mereka cari di sini".
"Apakah mereka sehebat itu paman? bahkan mereka kemarin meminta bantuanku untuk menyelamatkan ketua Sekte kelelawar hijau". Sabrang merasa kemampuan beberapa pendekar Mata elang tidak terlalu tinggi.
"Seperti yang hamba katakan tadi mereka selalu bergerak di belakang layar, mereka tidak akan pernah mau bersinggungan dengan Sekte manapun. Jika mereka bermasalah dengan sekte lainnya maka mereka akan menggunakan tangan orang lain untuk membereskannya seperti yang di lakukan terhadap pangeran kemarin".
"Jadi mereka memanfaatku?" Sabrang tertawa kecil.
Wardhana mengangguk pelan tanpa berani menatap Sabrang.
"Pangeran, kapal ini akan bersandar di Pulau tengkorak besok pagi. Kita harus bergegas mencari tuan mada kemudian pergi dari sini. Berurusan dengan Mata elang selalu merepotkan, firasatku mengatakan siapapun orang yang menyewa mereka akan membahayakan kita". Wardhana menarik nafas panjang.
***
"Anda mengenalnya kan paman?" Arkadewi menoleh kearah pendekar tua yang selalu setia berada disampingnya.
"Hampir semua pendekar yang pernah berhubungan dengan kerajaan Malwageni pasti mengenalnya. Seorang ahli siasat yang dijuluki Naga yang tertidur dari Malwageni.
__ADS_1
Sepertinya pekerjaan kali ini tidak mudah ketua, Wardhana adalah orang yang paling ingin aku hindari selama ini. Wawasan dan siasat perangnya sangat mengerikan".
Arkadewi mengangguk pelan dia sangat mengerti pengalaman yang dimiliki Brojoseno, pengawal pribadinya yang telah mengabdi bersama ayahnya puluhan tahun. jika Brojoseno mengatakan lebih baik menghindari Wardhana maka itulah pilihan terbaik saat ini.
"Aku tidak tau apa yang mereka cari di pulau Tengkorak namun aku berharap semoga kita tidak berurusan dengan mereka paman".
"Lalu siapa yang kita cari ketua?".
"Seorang pemuda paman, anak dari mantan Adipati di Kadipaten Joyo geni bermana Ronggo. Orang yang membayar kita menginginkan dia hidup atau mati. Awalnya aku menganggap ini perkerjaan yang mudah dengan bayaran besar karena orang yang sudah diasingkan di pulau tengkorak sudah dianggap mati, namun semua menjadi rumit dengan kehadiran Wardhana. Berhati hatilah paman, Pangeran itu memiliki ilmu yang sangat tinggi bahkan tanpa Naga api ditangannya".
"Aku mengerti ketua" Brojoseno menundukan kepalanya memberi hormat.
***
Saat malam sudah larut dan hampir semua orang sedang beristirahat terlihat dua orang berlari mengendap endap di tengah hutan.
Mereka berjalan cepat namun tetap dengan hati hati sambil sesekali berhenti melihat keadaan sekitar.
"Seberapa jauh lagi tuan?". Ronggo bertanya sambil mengatur nafasnya.
"Jika perkiraanku tidak salah setelah melewati bukit itu lah letak dermaganya. Semoga perkiraanku benar".
"Ayo tuan" Saat Ronggo hendak melangkah tiba tiba Mada menahannya.
"Tunggu nak, dari sini penjagaan mereka mulai sedikit ketat kita liat dulu situasinya".
Ronggo kembali menunduk menuruti perintah Mada.
"Nak, jika kau ingin membantu ku sepertinya cukup sampai disini, aku tidak ingin kau terkena masalah. pulanglah, aku akan pergi sendiri" Mada berbisik pada Ronggo.
Ronggo terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu "Aku akan mengantar tuan sampai naik keatas kapal".
Mada tersenyum memandang Ronggo yang terus memperhatikan keadaan disekitarnya.
"Aku tau jauh di dalam hatimu kau pun mencintai tanah kelahiranmu nak" Mada bergumam dalam hati.
"Ayo kita lanjutkan" Mada bangkit dan mulai berjalan perlahan diikuti Ronggo dibelakangnya.
"Berhenti di sana!!!" Suara seseorang mengagetkan Mada dan Ronggo.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
***Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
Dukung juga penulis di
**********. com /RickypakeC
dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***