Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ajian Kalimahosha


__ADS_3

Sabrang kembali merasakan sakit setelah melepaskan jurus Energi Keris Penghancur, dia terlihat mengatur nafasnya sambil memperhatikan ledakan yang dihasilkan oleh jurusnya.


"Jangan langsung menggunakan kekuatanku dalam jumlah besar, tubuhmu kali ini perlu beradaptasi kembali," ucap Naga Api.


"Aku tau, bukankah aku hanya menggunakan sedikit kekuatanmu?" balas Sabrang pelan.


"Kau benar benar bodoh, entah bagaimana aku bisa memilihmu sebagai tuan," umpat Naga Api.


"Kau akhir akhir ini terlalu pemarah Naga Api," balas Sabrang.


"Dengar bodoh, saat ini aku telah memiliki seluruh kekuatan yang selama ini tersegel, akan sangat berbeda dengan kekuatanku sebelumnya jadi gunakan perlahan sampai tubuhmu mampu beradaptasi atau kau akan hancur seketika," ucap Naga Api kesal.


Walau tampak kesal pada Sabrang yang tidak mengukur kekuatan tubuhnya namun diam diam Naga api sangat kagum pada tuannya itu.


Seharusnya setelah melakukan perjanjian darah di gua kabut, butuh waktu hampir satu purnama untuk menarik masuk seluruh energi Naga Api yang tersegel di sisi gelap alam semesta karena energi Dewa Api tidak bisa ditarik sekaligus.


Namun Sabrang mampu menariknya hanya hitungan jam, hal inilah yang membuat Naga Api kagum sekaligus takut.


Wajah Sabrang berubah seketika saat kepulan debu mulai menghilang dari sumber ledakan energi keris penghancur.


Lakeswara tampak berdiri dengan luka di beberapa tempat, dia menyilangkan pedangnya ke depan dan menatap Sabrang penuh amarah.


"Kau benar benar membuatku marah!" Aura hitam meluap dari tubuh Lakeswara bersamaan dengan melayangnya bebatuan di sekitarnya.


Sabrang tampak mengernyitkan dahinya, dia hampir tidak percaya jika Lakeswara memiliki tenaga dalam sebesar itu. Energi yang meluap dari tubuh Lakeswara bahkan mampu menghancurkan apapun yang ada disekitarnya.


"Ini tidak baik, walau energinya masih di bawahku namun baru kali ini aku melihat manusia memiliki kekuatan sebenar itu," ucap Naga Api memperingatkan.


"Tenaga dalamnya meningkat cepat, apa yang sebenarnya terjadi saat ledakan tadi?" Rubah Putih pun terlihat takjub melihat Lakeswara.


Ken Panca terlihat melesat ke arah Rubah Putih sambil menggendong tubuh Mentari yang tidak sadarkan diri.


"Tuan, kita harus cepat bertindak, Sabrang tak akan mampu menghadapinya," ucap Ken Panca khawatir.


"Tak akan nampu? bukankah dia sudah berhasil menarik dewa api?" tanya Rubah Putih.


"Dewa api mungkin bisa mengalahkan ajian Kalimahosha milik Lakeswara tapi untuk saat ini tubuh Sabrang masih butuh adaptasi dengan kekuatan barunya, tanpa kekuatan penuh Dewa Api, Sabrang hanya akan menjadi bulan bulanan lawannya," jawab Ken Panca cepat.


"Ajian Kalimasada?" wajah Rubah Putih berubah seketika.


"Aku juga sama terkejutnya denganmu. Aku pernah meneliti kebenaran mengenai ajian tingkat tinggi yang konon dimiliki oleh dewa Batara untuk menundukkan seluruh iblis yang ada di dunia.


Beberapa kitab kuno yang pernah kutemukan mengatakan jika ajian itu musnah bersama pemiliknya saat melawan Dewa api atau yang lebih dikenal dengan Banaspati.


Aku tidak ingin mempercayainya namun aura berwarna hitam pekat yang meluap dari tubuh Laeswara sama dengan ciri ciri yang ada di kitab kuno.


Aku tidak tau dari mana Lakeswara mempelajari ajian itu namun yang pasti, saat ini Sabrang belum mampu menghadapinya, kita harus membantunya," jawab Ken Panca.


Rubah Putih terdiam sesaat dengan wajah khawatir, dia benar benar tak percaya jika Ajian Kalimahosha masih ada.


Wajar jika Rubah Putih mulai khawatir, kekuatan Ajian tingkat tinggi itu konon bisa menghancurkan sebuah keraton dalam sekejap.


Hampir sama dengan Ajian Cakra manggilingan yang menyerap energi alam, Kalimahosha menyerap seluruh energi jahat yang ada di alam, itulah kenapa sang Dewa memutuskan mati bersama ajian ciptaannya karena takut jurus itu disalahgunakan.


"Sial, ajian itu tidak masuk perhitunganku, apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Rubah Putih dalam hati.


Wardhana tampak memperhatikan sekitarnya, dia masih mempelajari keadaan karena semua rencana awalnya berantakan, kekuatan yang dimiliki Lakeswara jauh dari perkiraannya.


"Aku tidak melihat Ciha dan Paksi?" tanya Wardhana tiba tiba.

__ADS_1


"Paksi dan Candrakurama membawa Ciha menjauh, dia terluka terkena efek serangan Lakeswara. Saat ini hanya kita yang tersisa," jawab Ken Panca pelan.


"Dia terluka?" tanya Wardhana khawatir.


"Anda tenang saja, saat ini Candrakurama sedang berusaha mengobatinya," balas Ken Panca.


"Syukurlah, semoga dia cepat kembali karena hanya dia yang mampu menyegel lorong dimensi," ucap Wardhana pelan sambil terus berfikir.


"Bisa anda jelaskan apa yang direncanakan Paksi tuan?" tanya Wardhana kembali.


Ken Panca kemudian menceritakan kembali garis besar dari rencana Paksi untuk menyegel Lakeswara namun karena tak ada yang menyangka jika kekuatan pemimpin dunia itu sangat besar, rencana yang sudah disusun rapih menjadi berantakan.


Belum selesai Ken Panca bercerita, Rubah Putih tiba tiba berteriak kencang.


"Mundur!" Rubah Putih menyambar tubuh Wardhana sedangkan Ken Panca langsung menarik tubuh Mentari menjauh saat Sabrang dan Lakeswara kembali bertarung.


Ledakan besar terus terjadi saat kedua pusaka mereka berbenturan.


"Jurus pedang pemusnah raga," Sabrang mengayunkan pedangnya sekuat tenaga saat melihat celah, namun Lakeswara dengan cepat mampu menghindarinya sebelum menyerang balik.


"Gerakannya semakin cepat," Sabrang melompat mundur saat sebuah pedang mengarah padanya.


Dia merendahkan sedikit tubuhnya dan menyerang kembali dengan jurus yang sama.


Sabrang terlihat berhasil menyarangkan beberapa serangannya namun dia pun tak luput dari serangan Lakeswara.


Kekuatan mereka yang terlihat seimbang membuat semua orang sulit menebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang.


"Kau sudah menggunakan separuh kekuatanku nak, akan sangat berbahaya jika kau terus menarik energiku," ucap Naga Api dalam pikiran Sabrang.


"Apa kau memiliki cara lain? jika terus seperti ini hanya masalah waktu sampai dia berhasil membunuhku," balas Sabrang sinis.


Apa yang dikatakan Sabrang memang benar, walau saat ini mereka bertarung secara seimbang namun kecepatan Lakeswara terus meningkat seiring dengan semakin banyak energi jahat yang diserapnya.


Rasa sakit yang luar biasa muncul setiap kali bergerak, saat ini Sabrang bertarung dengan menahan rasa sakitnya.


"Dia hampir mencapai batasnya, kita harus membantunya," Rubah Putih hampir bergerak andai Wardhana tidak menghentikannya.


"Tunggu! aku memiliki rencana yang bisa sedikit membantu, menyerangnya saat ini hanya akan membunuh kalian sendiri," ucap Wardhana tiba tiba.


"Rencana?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


"Aku sudah mendengar sedikit rencana Paksi dari tuan Panca, kita akan tetap menjalankan rencana seperti semula namun dengan sedikit perubahan," ucap Wardhana pelan.


Wardhana kemudian menjelaskan rencananya secara singkat dan peran apa saja yang harus dilakukan oleh mereka.


"Ini akan sedikit berbahaya tapi mungkin satu satunya cara untuk menyegelnya sementara waktu," ucapnya pelan.


"Akan selalu berbahaya jika berurusan dengannya," balas Rubah Putih pelan.


Wardhana mengangguk pelan sambil memperhatikan sekitarnya untuk memastikan kembali rencananya berhasil.


"Tapi kita memerlukan Ciha sebagai kepingan terakhir dari rencanaku," jawab Wardhana pelan.


"Seharusnya dengan tenaga dalam yang dimiliki Candrakurama, mereka sudah kembali," ucap Rubah Putih sedikit gelisah.


Suara ledakan kembali mengangetkan mereka saat pedang Sabrang dan Lakeswara kembali beradu. Sabrang terlihat terlempar beberapa langkah sebelum memutar tubuhnya dan kembali menyerang.


Setiap serangan Sabrang sebenarnya semakin cepat dan mematikan namun Lakeswara terlihat mampu mengimbanginya.

__ADS_1


Mata bulan mereka berdua saling berhadapan dan membaca setiap pergerakan lawan, serangan balasan yang mereka lakukan seolah sudah saling mengetahui kemana lawan akan bergerak.


Wajah Sabrang mulai berubah, rasa sakit yang dirasakan dari setiap gerakannya tak mampu lagi disembunyikan, mata bulannya memerah seolah ikut merasakan sakit di sekujur tubuh.


"Naga api!" teriak Sabrang saat Naga Api menahan energinya.


"Tidak! kau sudah menggunakan separuh kekuatanku, jika diteruskan kau bisa tewas," balas Naga Api.


"Ikuti saja perintahku!" umpat Sabrang kesal.


Lakeswara tiba tiba menggunakan jurus pedang cahaya merah dan mendaratkan sebuah serangan di tubuh Sabrang.


Sabrang tidak tinggal diam, dia melepaskan serangan balasan yang mengenai Lakeswara sebelum tubuhnya kembali terpental.


Setelah saling mengamati untuk beberapa saat mereka berdua kembali saling menyerang.


Sabrang bersiap dengan jurus api abadi, dia memaksa Naga Api mengalirkan energinya yang membuat Naga Api menggeleng pelan, dia sadar jika itu akan merusak tubuh Sabrang namun dia juga sadar hanya dengan energinya lah Sabrang mampu mengimbangi ajian Kalimahosha


"Andai ada waktu satu purnama saja dia berlatih menggunakan kekuatanku mungkin hasilnya akan berbeda," ucap Naga Api yang terpaksa mengalirkan energinya.


"Satu serangan, hentikan dia dengan satu serangan karena tubuhmu mulai menolak energiku sebagai reaksi jika kau sudah mencapai batasnya.


"Kau terlalu cerewet Naga Api," Sabrang merubah gerakannya, dia memutuskan menggunakan jurus pedang jiwa. Mata bulannya menatap tajam Lakeswara yang bergerak kearahnya.


Terlihat beberapa kemungkinan kemana Lakeswara akan bergerak, saat dia merasa melihat arah gerakan Lakeswara, Sabrang menarik pedangnya sambil merapal jurus ciptaan Naraya itu.


"Jurus pedang jiwa tingkat VIII : Cahaya penghancur kegelapan."


Lakeswara tersenyum kecil saat melihat mata Sabrang menatapnya.


"Kau tau, mata bulan akan terus berevolusi sesuai dengan kekuatan pemiliknya," Lakeswara mengalirkan tenaga dalamnya ke matanya sebelum mengeluarkan cahaya putih kehitaman.


Sabrang tersentak kaget saat tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan, dia semakin terkejut ketika mengetahui jika bukan hanya dia yang berhenti bergerak tapi semua yang ada di sekitarnya termasuk beberapa batu yang melayang akibat tenaga dalamnya.


"Waktu berhenti? bagaimana bisa?" ucap Sabrang dalam hati.


"Mata itu, mata itu yang menghentikan waktu," balas Naga Api yang tak kalah terkejut.


"Pedang Cahaya merah : Api Masalembo," Sabetan pedang Lakeswara menghantam tubuh Sabrang.


Sabrang terpental bersamaan dengan bergeraknya kembali bebatuan di sekitarnya.


"Apa yang terjadi tuan? untuk sesaat aku seperti merasakan waktu di sekitarku berhenti," ucap Wardhana bingung.


"Aku pernah mendengar jika mata bulan dapat menghentikan waktu untuk beberapa detik jika sudah mencapai evolusi tingkat akhir, apa mungkin Lakeswara berhasil membangkitkan nya?" balas Ken Panca.


"Wardhana, ini akan semakin sulit, sebaiknya rencanamu kali ini berhasil," Rubah Putih memberi tanda pada Ken Panca untuk bersiap menyerang.


Mereka berdua bergerak bersamaan untuk memberi waktu Sabrang beristirahat sejenak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jamus Kalimasada adalah nama sebuah pusaka atau ilmu kanuragan dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa  (alias Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.


PNA mengadopsi dunia pewayangan dalam ceritanya kali ini sebagai ajian terkuat yang dimiliki Lakeswara....


Catatan penting


Istilah Kalimahosada sudah muncul di serat kakawin batarayudha jauh pada tahun 1157 atau abab 12 saat masa pemerintahan prabu Jayabaya tidak ada kaitannya dengan agama atau apapun... apalagi pewayangan rata rata berasal dari India..

__ADS_1


Tapi oke...makasih atas masukannya walau saya tidak merasa MENYINGGUNG siapapun saya lebih memilih mengganti menjadi Kalimahosha yang artinya Obat mujarap dewi Khali untuk menghindari keributan... terima kasih


ada banyak versi mengenai ilmu ini jadi jangan melihat hanya dari satu sisi....


__ADS_2