
Sabrang merapatkan giginya menahan sakit setelah tubuhnya membentur dinding gua. Darah ditubuhnya mulai menetes melewati celah celah pakaiannya.
"Dia cepat sekali". Gumam Sabrang dalam hati. Mereka telah bertukar puluhan jurus namun serangan Sabrang belum pernah mengenai sasarannya sedangkan Madrim sudah melukai tubuh Sabrang berkali kali.
"Sebenarnya kecepatannya sedikit dibawahmu nak namun pengalaman bertarungnya dan penguasaan jurus api abadinya jauh diatasmu, itulah yang membuat dia bisa memprediksi gerakanmu. Kau harus lebih dulu membaca gerakannya". Ucap Anom tiba tiba.
"Terima kasih anom tapi apa yang kau katakan sudah kulakukan dari tadi". Sabrang tersenyum kecut mendengar saran Anom. Dia sudah berkali kali mencoba membaca gerakan Madrim dengan mata bulannya namun Madrim selalu selangkah didepan dan perubahan gerakan tubuhnya benar benar tidak bisa ditebak.
Sabrang bergerak lebih cepat dan serangan kali ini mengandung tenaga dalam yang lebih besar. Keduanya kembali bertukar serangan menggunakan jurus yang sama. Walaupun sepintas jurus apu abadi mereka terlihat memiliki kecepatan yang sama namun sebenarnya serangan serangan Madrim jauh lebih efektif.
"Jurus mereka sama, dia benar benar pendekar dalam legenda. Jurus api abadi benar benar mengerikan". Ucap Linga saat melihat pertarungan mereka.
Sabrang dan Madrim terus saling menyerang, mereka terlihat ingin saling mengalahkan. Mereka tidak perduli efek benturan dan serangan mereka membakar semua yang berada disekitarnya. Puluhan pendekar yang kerasukan ikut terbakar saat berada didekat mereka.
Madrim melompat diudara dan memutar pedangnya kedepan, dia terlihat merapal sebuah jurus sebelum melesat cepat kearah Sabrang.
Sabrang yang mengenali kuda kuda jurus yang digunakan Madrim tersenyum dingin. Dia yakin kali ini bisa membaca gerakan Madrim.
"Kau pikir bisa menyerangku lagi dengan jurus api abadi tingkat V?. Kali ini kau akan kuhancurkan". Sabrang menyambut serangan dengan penuh percaya diri.
"Jurus api abadi tingkat 14 : Energi Naga api". Sabrang memutar tubuhnya saat sudah berada didekat Madrim. Ketika Sabrang mulai mengayunkan pedangnya dia menyadari sesuatu yang salah. Madrim merubah gerakannya didetik terakhir, tubuhnya sedikit menunduk dengan pedang terayun zigzag.
"Sial! Jurus ini". Sabrang berusaha menghindar namun sudah terlambat. Empat tebasan cepat menghantam tubuhnya bertubi tubi tak sampai satu detik.
Tubuh Sabrang menghantam tanah dengan keras menimbulkan suara ledakan.
"Bagaimana jurus pedang pemusnah raganya lebih mematikan dari pemusnah raga milikku?". Ucap Sabrang sesaat sebelum tubuhnya membentur tanah.
"Gawat, dia dalam bahaya". Lingga berusaha membantu Sabrang namun musuh dihadapannya tidak membiarkannya. Mereka terus menyerang Lingga tanpa henti.
"Tuan muda". Mentari melesat cepat menyerang Madrim yang terlihat mendekati tubuh Sabrang yang tidak bergerak.
Madrim terlihat mengibaskan pedangnya kearah Mentari, saat Mentari berusaha menahan serangan itu tiba tiba Madrim sudah berada di dekat Mentari dan melepaskan jurus api abadinya. Mentari terpental membentur dinding gua.
Lingga dan Wulan sari hanya bisa menatap cemas karena mereka juga disibukkan dengan lawan yang tak kalah kuat.
"Apa sekarang kau tau kesalahanmu?". Naga api membentak Sabrang.
"Kesalahanku?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kau pikir kemampuanmu berada diatasnya? Walaupun aku membantumu namun saat ini dia unggul jauh diatasmu. Pengalaman bertarungnya selama ratusan tahun, penguasaan ilmu api abadi dan pemusnah raganya jauh diatasmu. Itulah yang membuat dia dengan mudah membaca gerakanmu walau mata bulan membantumu. Jika kau terus memaksakan menggunakan jurus yang sama dengannya kau hanya akan mengantar nyawa. Dia adalah pendekar paling jenius dimasanya, ingat itu!".
"Lalu apa yang harus aku lakukan? bahkan menggerakka tubuhku pun aku tak sanggup". Sabrang tersenyum kecut.
"Kau memang bodoh, Apa kau sudah lupa bakat anehmu?". Tanya Naga api mengejek.
"Bakat aneh?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Bukankah selama ini kau lebih sering meniru jurus milik orang lain? saat ini bakat anehmu itu mungkin kunci mengalahkannya. Selama kau tidak menggunakan jurus yang sama dengannya kau memiliki kesempatan untuk menang". Ucap Naga api.
__ADS_1
Sabrang terkekeh mendengar ejekan Naga api "Hei kau boleh mengejekku namun saat ini tubuhku benar benar tidak dapat digerakkan".
"Kau tau kenapa tubuh 7 bintang disebut tubuh keabadian?".
Sabrang menggeleng pelan membuat Naga api makin emosi.
"Sepertinya aku salah memilih sibodoh ini sebagai tuanku". Gumam Naga api geram.
***
"Bantulah dia, aku akan menahan mereka semampuku". Lingga bicara pada Wulan sari.
"Apa aku terlihat sedang santai?". Wulan sari bersingut.
"Jika kita tidak membantunya dia bisa mati". Ucap Lingga sambil menatap Madrim yang mendekati Sabrang.
"Kau yakin bisa mengatasi mereka semua?". Tanya Wulan sari.
"Aku usahakan". Lingga tersenyum kecut.
***
"Tubuh 7 Bintang akan bereaksi terhadap lawan yang lebih kuat?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Tubuh 7 bintang adalah tubuh khusus untuk pendekar, itulah kenapa banyak yang mencoba mencari rahasia tubuh itu namun tubuh 7 bintang adalah anugrah dari yang memberi hidup. Tubuh itu tidak bisa didapat melalui latihan apapun.
Keistimewaan tubuh 7 bintang selain dapat membangkitkan mata bulan, juga akan bertambah kuat ketika menemukan musuh yang kuat. Semakin kuat musuh yang kau hadapi kau akan semakin berkembang tanpa batas. Energiku akan mengurangi sedikit rasa sakit ditubuhmu, sekarang bangunlah dan tunjukan jika kau pantas menjadi tuanku!".
Madrim menghentikan langkahnya ketika Sabrang terlihat bergerak dan mulai berdiri. Madrim terlihat tersenyum dingin saat melihat lawannya kembali percaya diri.
"Sepertinya kita terlalu mengkhawatirkannya, saat ini aku lebih khawatir pada diri sendiri. Mereka seperti tidak pernah ada habisnya". Ucap Wulan sari pelan.
Raut wajah Sabrang berubah saat melihat Mentari tergeletak tak sadarkan diri ditanah. Dia melesat kearah Mentari dan menggendong tubuhnya.
"Ciha kemarilah, tolong jaga dia". Sabrang meletakkan tubuh Mentari di celah kecil gua. Setelah Ciha masuk kedalam celah itu bersama Mentari Sabrang mengeluarkan hawa dingin dan membekukan celah itu.
"Kalian akan aman sementara disitu". Ucap Sabrang pelan.
Madrim hanya terdiam sambil memandang tajam Sabrang. Dia seolah ingin lawannya fokus pada pertarungan dan membiarkan Sabrang mengurus hal lain terlebih dahulu.
"Nek Bisakah nenek peragakan beberapa jurus milik teratai merah". Ucap Sabrang tiba tiba.
Wulan sari mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan Sabrang. Walaupun banyak pertanyaan didalam kepalanya namun Wulan sari memutuskan mengikuti permintaan Sabrang.
Dia melompat sedikit keudara untuk menyiapkan kuda kuda. "Pisau angin peremuk tulang tingkat IV". Wulan sari memutar pedangnya diudara. Tak lama hembusan angin dingin menghantam para pendekar yang terus menyerangnya. Puluhan pendekar tumbang dengan lubang disekujur tubuhnya. Tak sampai disitu, Wulan sari kembali menggunakan beberapa jurus hebat lainnya.
"Terima kasih nek". Sabrang tersenyum puas memandang Madrim yang masih belum bergerak. Dia seolah menunggu Sabrang menyerang terlebih dahulu.
"Sepertinya memang tidak akan mudah". Sabrang mengepalkan tangannya diudara. Tak lama sebuah pedang terbentuk ditangannya.
__ADS_1
Mata bulan Sabrang bersinar terang sesaat sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan.
Madrim memutar pedangnya dan siap menyambut serangan tiba tiba Sabrang.
Sabrang muncul di hadapan Madrim dengan serangan cepatnya. Beberapa kali dia melepaskan pukulan dan tendangan pada Madrim. Benturan benturan logam memekakkan telinga, Lingga bahkan harus menajamkan penglihatannya untuk melihat pertarungan itu. Kecepatan mereka benar benar sulit dilihat mata biasa.
Sabrang memutar tubuhnya ketika Madrim melompat diudara. Mereka berdua terlihat merapal jurus yang sama, Api abadi tingkat 4. Tubuh mereka kembali melesat saling mendekat dengan kekuatan penuh namun Sabrang sedikit merubah langkahnya ketika mereka hampir berbenturan. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya dan melempar pedangnya diudara.
Madrim sedikit terkejut dengan gerakan aneh Sabrang itu dan mencoba mengayunkan pedangnya sekuat tenaga. Sabrang menghindar diudara dan berusaha menyentuh tubuh Mandrim.
"Tapak peregang sukma". Sabrang menggunakan jurus milik Lingga ketika telapak tangannya berhasil menyentuh Madrim.
Madrim yang terlihat tidak siap menerima serangan itu terdorong mundur dengan darah keluar dari mulutnya. Belum sempat Madrim memperbaiki kuda kudanya, Sabrang sudah muncul dibelakangnya. Dia mengayunkan tangannya sekuat tenaga saat pedang Naga api muncul ditangannya.
"Pisau angin peremuk tulang tingkat IV". Hembusan angin dingin tiba tiba menghantam Madrim dan membuatnya terpental. Sabrang tidak menyianyikan kesempatan itu, dia mengejar Madrim dan kembali menggunakan Tapak peregang Sukma. Madrim yang sudah melihat gerakan jurus Sabrang terlihat menggunakan jurus yang sama.
"Jadi kau juga mempunyai bakat meniru sepertiku ya?". Ucap Sabrang sambil tersenyum dingin. Saat kedua tangan mereka hampir beradu Sabrang kembali merubah gerakannya.
"Hembusan dewa es abadi". Seketika tubuh Madrim diselimuti bongkahan es tebal. Tubuhnya menjadi kaku tak bisa digerakan, Madrim menatap tajam Sabrang dari balik bongkahan es.
Lingga dan Wulan sari terlihat menatap kagum.
"Dia bisa meniru jurusku hanya dalam satu kali melihatnya? apakah itu mungkin". Ucap Wulan sari pelan.
"Kau liat gerakannya Naga api?". Anom terlihat kagum pada gerakan Sabrang.
"Apa aku harus bangga pada jurus tiruan seperti itu?". Ucap Naga api.
Anom terkekeh mendengar ucapan Naga api "Setidaknya anak ini bisa mengalahkan pendekar paling berbakat yang dimiliki dunia persilatan. Dan kau harus ingat jika anak ini belum bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terpendamnya. Dia akan terus berkembang setiap hari tanpa ada yang bisa menghentikannya".
"Apakah efek air kehidupan bisa dihilangkan dengan segel kehidupan?". Sabrang bertanya pada Ciha saat dia memecahkan es yang melindungi Ciha dan Mentari.
Ciha mengangguk bingung.
"Aku ingin kau menyadarkan pendekar itu, ada yang ingin aku tanyakan". Ucap Sabrang pelan.
"Tapi...". Ciha menoleh kearah puluhan pendekar yang berlari kearahnya.
Sabrang menggeleng pelan "Baiklah, beri aku waktu 5 menit. Lama lama aku muak berurusan dengan mereka". Sabrang melompat menyambut mereka.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Catatan Author :
*Agak sedikit berbeda saat Author menulis Chapter ini. Ini pertama kalinya Sabrang menghadapi sesama pengguna Naga api. Madrim yang dijuluki Pendekar dalam legenda adalah pengguna Naga api terhebat.
Butuh waktu berhari hari bagi author untuk menyampaikan pesan melalui tulisan ini bahwa Sabrang adalah yang terhebat namun tidak "Melemahkan" sang pendekar dalam legenda itu.
Sepuluh kali Author menghapus naskah Chapter ini karena saya merasa pesannya tidak sampai pada kalian. Sahur kedua kemarin Author kembali menulis chapter ini. Dan kali ini ada sedikit getaran dihati saya saat membaca chapter ini. Lebay? mungkin. Tapi bagi Author chapter ini benar benar bisa menggambarkan jika Sabrang adalah calon pendekar terbesar di Nusantara tanpa mengecilkan pengguna naga api sebelumnya. Saya benar benar puas dengan Chapter ini.
__ADS_1
Dan bagi kalian yang merasakan hal yang sama, bantu dengan Vote kalian ya 😁
Terima kasih... Salam Nusantara! Tempatnya para pendekar terhebat di dunia*!