
"Nak kau hampir saja membunuh banyak orang dengan tanganmu" Pria tua tiba tiba muncul dihadapan Sabrang.
"Siapa sebenarnya anda?".
"Dia hanya serangga tidak berguna" Suara naga api terdengar keras di kepala Sabrang.
Sabrang menoleh kearah suara berasal, terlihat kobaran api berbentuk sesosok tubuh sedang terikat oleh aura biru yang membentuk tali.
"Naga api?" Sabrang bangkit dan mencoba mendekat untuk membuka tali yang mengikat Naga Api namun tiba tiba kakek tua itu sudah muncul dihadapannya.
"Ku harap kau tidak melakukannya nak".
"Tapi kek.....".
"Kau belum bisa mengendalikannya nak, jika kau memaksa membuka segelnya maka kau akan dikuasai olehnya".
"Kau jangan ikut campur tua bangka, atau aku akan membakar.....".
"Membakar roh ku? Coba saja dengan tubuh terikat Segel itu" Kakek tua itu tertawa mengejek.
"Kau!!" Naga api berusaha melepaskan ikatannya namun semakin dia berusaha melepaskan ikatannya semakin kuat segel itu mengikatnya.
"Aku akan menceritakan sesuatu padamu tunggulah aku di sana, aku akan mengurus Naga api terlebih dahulu".
Kakek tua itu melangkah mendekati Naga api dan menempelkan tangannya. Cahaya kuning mengalir dari tangannya dan menekan Naga api.
"Segel 4 unsur? Bagaimana kau menguasainya?" Suara Naga api meninggi.
Kakek itu tersenyum kecil "Kau lupa kita berasal dari tempat yang sama".
"Kini aku telah menyegelmu dengan segel 4 unsur, aku rasa kau yang paling mengerti kekuatan segel itu. Jika kau mencoba merasuki anak ini lagi maka segel itu akan aktif dan menelan seluruh kekuatanmu".
"Kau pikir segel itu mampu menahanku selamanya?" Naga api terkekeh.
"Aku tau tidak ada segel apapun yang dapat menahan kekuatanmu selamanya tapi jika kau membuat segel itu aktif minimal kau akan tertidur ratusan tahun, aku rasa sudah cukup bagi anak ini".
"Kau!!!".
"Mungkin kekuatanmu jauh di atas semua benda pusaka di dunia ini namun kau lupa satu hal jika akulah pusaka tertua di dunia ini. Pengalamanku selama ribuan tahun membuatku bertambah kuat dan mengenal bermacam jurus penggunaku".
"Kau selalu membanggakan sebagai pusaka tertua Anom karena memang hanya itu yang bisa kau banggakan".
"Dan aku mengandalkan kepintaranku untuk selalu lebih unggul darimu".
Terlihat cahaya kuning menekan Naga api membuatnya berusaha melepaskan diri.
"Kurang ajar kau Anom!" Perlahan kobaran api menghilang.
"Tak kan kubiarkan kau merasuki tuanku Naga api, ku harap suatu saat kau dapat mengerti apa arti kesetiaan".
__ADS_1
Anom melangkah mendekati Sabrang.
"Nak ayahmu adalah raja yang hebat, dia gugur demi melindungi Malwageni. Prinsipnya untuk tidak akan tunduk pada siapapun bahkan jika harus dibayar dengan nyawanya harus menjadi contoh bagi keturunannya kelak termasuk dirimu.
Naga api akan selalu mencoba merasuki penggunanya jika diberi kesempatan, jika itu terjadi kau tidak akan berhenti membunuh sampai tubuhmu hancur. Ku harap kau mengikuti jejak ayahmu untuk berdiri di atas kekuatanmu sendiri.
Pusaka hanyalah media untuk menyalurkan kekuatanmu, jika pusaka itu mempunyai kekuatan maka sang pemilik lah yang harus mengontrol kekuatannya bukan pusaka itu yang mengontrol mu. Kau harus bisa mengendalikannya".
"Siapa kakek sebenarnya?" Sabrang mengernyitkan dahinya, beberapa kali kakek dihadapannya menyelamatkan nya dari cengkraman Naga api namun sampai saat ini dia belum mengenalnya.
"Kau boleh memanggiku Anom, akulah Penjaga Tanah Malwageni" Anom tersenyum lembut pada Sabrang.
"Penjaga Malwageni?" Sabrang terkejut mendengar perkataan anom.
"Suatu saat kau akan mengerti nak, Kini ulurkan tanganmu" Anom meminta Sabrang mengulurkan tangannya.
Aura kuning emas masuk dengan cepat ke tubuh Sabrang, mengalir keseluruh urat nadinya membuat tubuhnya terasa ringan.
"Energi ku akan menekan Naga api jika dia kembali berusaha merasukimu namun itu hanya sementara karena semua tergantung padamu, kau yang memiliki kontrol penuh atas tubuhmu.
Jangan biarkan Naga api mengendalikanmu, semua pusaka sehebat apapun hanya akan menjadi besi tua jika tidak ada perantara untuk menyalurkan kekuatannya".
Perlahan tubuh anom mulai menghilang dari pandangan Sabrang, tak lama kemudian Sabrang mulai sadarkan diri.
Sabrang mencoba duduk dan memandang sekitarnya. tiba tiba wajahnya berubah, dia berjalan buru buru seperti mencari sesuatu.
"Di mana Mentari?".
"Nona ada diruang perawatan tetua Bahadur sedang mengobatinya" Sulis memberikan pil kepada Sabrang.
"Antarkan aku ke sana, aku ingin melihat keadaannya".
"Baik tuan silahkan ikut denganku" Sulis melangkah keluar.
***
"Nona" Sabrang masuk keruangan dengan tergesa gesa, dia terkejut melihat Bahadur, Kumbara dan Brajamusti ada di ruangan itu.
"Ah kakek terima kasih telah menjaganya" Sabrang menundukkan kepalanya memberi hormat.
Kumbara mengernyitkan dahinya menatap Sabrang.
"Kau sudah sadar nak?" Brajamusti mempersilahkan Sabrang duduk.
"Temanmu tidak apa apa, aku sudah berusaha mengeluarkan racunnya namun butuh waktu agak lama untuk benar benar menghilangkan racun yang sudah menyebar" Bahadur berkata pelan.
Sabrang bernafas lega, dia sempat berfikir akan kehilangan Mentari selamanya.
"Tinggallah disini beberapa waktu sampai temanmu pulih, akan sangat berbahaya jika temanmu melanjutkan perjalanan dalam keadaan keracunan".
__ADS_1
Sabrang menganggukkan kepalanya.
"Kau... Bagaimana bisa menggunakan Segel 4 unsur?" Tiba tiba Kumbara yang dari tadi diam dan memperhatikan mentari mulai berbicara.
Raut wajah Brajamusti berubah mendengar perkataan Kumbara.
Sabrang menatap Kumbara dengan bingung.
"Maksud kakek?".
"Pedangmu telah ku segel kembali dengan Segel kegelapan Abadi namun di dipedangmu terpancar energi lain yang jauh lebih kuat. Hanya segel 4 unsur yang mempunyai Energi sebesar ini".
"Segel 4 unsur?" Sabrang masih bingung dengan arah pembicaraan Kumbara.
"Kau tidak tau Segel 4 unsur?" Kumbara menangkap kebingungan di wajah Sabrang.
"Lalu Energi bumi di tubuhmu?" Brajamusti menatap tajam Sabrang.
Sabrang kembali menggelengkan kepalanya membuat Kumbara dan Brajamusti saling berpandangan.
"Jika anak ini tidak menyadarinya lalu bagaimana jurus itu bisa ada ditubuhnya?" Kumbara bergumam dalam hati.
***
Lingga Maheswara terlihat mengalirkan tenaga dalam kedalam pedangnya, ada beberapa luka di beberapa bagian tubuhnya.
Seorang pendekar berdiri dihadapannya dengan luka yang sedikit lebih parah darinya.
"Tak kusangka ada pendekar yang begitu muda bisa mendesak ku dalam pertarungan, seharusnya dengan kemampuan yang dimilikinya namanya sudah melambung di dunia persilatan. Siapa dia sebenarnya?".
Tubuh Lingga menghilang dari pandangan membuat pendekar tersebut mundur beberapa langkah namun tiba tiba Lingga muncul tepat di belakangnya.
"Tapak peregang Sukma" Tubuh Pendekar itu tersungkur ke tanah namun tiba tiba dia kembali bangkit dengan aura hitam menyelimuti tubuhnya.
Perlahan luka ditubuhnya mulai menutup "Ilmu aneh itu menyembuhkan lukanya dengan cepat" Lingga melompat di udara dan merapal sebuah jurus.
"Pedang Iblis Angin Neraka" Serangan cepat Lingga menghancurkan tubuh pendekar tersebut.
Tubuh Lingga terjatuh, darah mengalir dari hidungnya.
"Tak kusangka jurusnya bisa menembus perisai tenaga dalamku. Jurus aneh apa yang dia gunakan?".
Lingga mengatur nafasnya perlahan, dia mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya untuk meringankan rasa sakit di tubuhnya.
"Dilihat dari jurusnya dia bukan pendekar aliran putih, kenapa dia tiba tiba menyerangku? ada yang tidak beres dengan dunia persilatan kini, banyak jurus aneh dan kuat mulai bermunculan aku harus melaporkan pada ketua" Lingga melesat cepat dan menghilang diantara rimbunan pohon.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca
__ADS_1