
"Tarian Iblis pedang," Lingga bergerak cepat saat tubuh Naradipta terbentur dinding gua, percikan api terlihat saat pedangnya beradu dengan pusaka lawannya.
"Sial! aku harus memancingnya keluar," umpat Naradipta sambil berlari menghindar namun Lingga tampak tak memberinya kesempatan mengatur nafas, dia terus menekan walau serangannya banyak mengenai dinding gua.
Debu yang beterbangan akibat sabetan pedang milik Lingga mulai memenuhi gua dan mengganggu jarak pandang Naradipta, sedangkan Lingga terlihat tidak terlalu terpengaruh karena terbiasa berlatih di dalam gua bersama Kertasura saat masih di sekte Iblis Hitam.
Saat Naradipta sibuk melindungi matanya dari debu yang beterbangan, Lingga bergerak cepat sambil membenturkan pedangnya di dinding gua untuk mengacaukan pergerakan lawannya sebelum melepaskan merubah gerakannya tiba tiba dan melepaskan tapak peregang sukma.
Tubuh Naradipta bergetar hebat dan terlempar membentur dinding gua.
"Dia memanfaatkan gua sempit ini untuk mengimbangi kecepatan lawannya," ucap Emmy takjub.
Lingga kembali bergerak menyerang, dia terus berusaha menyudutkan Naradipta dan menjauhkannya dari pintu keluar gua.
Lingga sadar kecepatan Naradipta berada di atasnya dan satu satunya cara mengalahkan musuhnya itu adalah bertarung di tempat sempit.
"Aku harus secepatnya keluar dari tempat ini atau nyawaku dalam bahaya," Naradipta terus menghindari serangan Lingga dan sesekali berusaha menyerang balik.
"Kau mungkin unggul dalam hal kecepatan tapi di tempat ini akulah yang berkuasa," serangan serangan Lingga terus menyudutkan Naradipta.
Pengalaman berlatih di gua bersama Kertasura membuatnya terbiasa bertarung jarak dekat, dia terlihat mampu memanfaatkan kelemahan lawannya yang mengandalkan kecepatan.
Lingga kembali merubah gerakannya dan menggunakan dinding gua sebagai pijakan saat Nadadipta berusaha menyerangnya, tubuhnya berputar di udara menghindari serangan pedang lawannya sebelum melepaskan jurus Tarian iblis pedang.
"Sialan kau!" Naradipta mengalirkan tenaga dalamnya dan menangkis serangan itu namun dia kembali terkejut ketika gerakan Lingga semakin cepat.
"Dia bukan pendekar biasa, kecepatan dan ketepatan bergeraknya menyesuaikan seranganku," ucap Naradipta takjub, dia menangkis serangan Lingga dan berusaha mencengkram lengannya.
"Tapak peregang sukma," Lingga merendahkan tubuhnya dan sedikit memutar sebelum menyentuh punggung Naradipta.
Ketika Lingga yakin serangannya kali ini mampu melumpuhkan Naradipta, tiba tiba energi tapak peregang sukma miliknya kembali masuk ke tubuhnya dengan cepat seolah ada yang mendorongnya kembali.
"Apa?" Lingga tersentak kaget dan berusaha menarik tangannya dengan cepat namun terlambat, dia terpental beberapa langkah sebelum terjatuh dan muntah darah.
Belum sempat Lingga mengatur nafasnya, Naradipta sudah berada di dekatnya dan langsung menyerang.
"Mati kau!" sabetan pedang Naradipta hampir memotong tubuhnya andai Lingga terlambat bereaksi, dia menggunakan pijakan dinding gua untuk melompat menghindar.
Gua kecil itu kembali bergetar akibat efek serangan Naradipta, retakan retakan kecil mulai tampak di dinding gua.
"Kau pikir aku pendekar yang hanya mengandalkan kecepatan?" ejek Naradipta sambil bersiap menyerang.
"Tuan!" teriak Emmy khawatir.
"Tetap di tempat nyonya, tugasku adalah melindungi anda, jangan buat aku malu dihadapan Yang mulia," teriak Lingga.
"Dasar bodoh, kau ingin menjadi pahlawan bagi rajamu? sebaiknya lupakan, aku dapat merasakan pendekar itu memiliki ilmu kanuragan jauh di atasmu," ejek Kemamang.
"Pahlawan, kau pikir aku peduli dengan hal membosankan seperti itu?" balas Lingga sinis.
__ADS_1
"Lalu apa yang membuatmu terus melawan walau kau tau akan kalah?" tanya Kemamang.
"Kau tak akan pernah mengerti walau aku menjelaskannya ratusan kali, diam dan lihat saja jika tidak ingin membantuku," balas Lingga sambil bergerak menyerang.
"Dasar bodoh! kau akan mati hari ini," ucap Kemamang sambil menggeleng pelan.
"Aku sudah mati sejak orang tuaku di bunuh, lalu apa bedanya jika harus mati sekali lagi."
Ledakan demi ledakan terus terdengar saat dua pusaka beradu, Emmy bahkan harus melompat mundur saat bebatuan mulai berjatuhan dari langit langit gua.
"Apa yang sebenarnya mereka pikirkan, jika gua ini runtuh maka kita akan mati," umpat Emmy kesal.
"Jurus pedang Gelombang," sebuah Ledakan besar yang meruntuhkan sebagian dinding gua mengejutkan Emmy, wajahnya tampak pucat saat melihat Lingga terkubur diantara reruntuhan itu.
"Tuan Lingga," ucapnya khawatir.
Emmy tampak bingung dengan serangan terakhir Naradipta, dia masih mengingat jelas bagaimana Lingga masih mampu mengimbangi serangan lawannya sebelum jurus pedang aneh itu menghantam tubuhnya.
Emmy bahkan tidak mampu mengikuti serangan Naradipta, yang terlihat dimatanya hanya tubuh Lingga yang tiba tiba terlempar membentur dinding gua.
"Gerakan pedangnya bahkan lebih cepat dari Yang mulia," ucap Emmy dalam hati sambil melesat kearah Lingga terkubur.
"Apa kau juga ingin mengantarkan nyawamu nona cantik?" ejek Naradipta.
"Kau tak akan tau jika tidak dicoba," balas Emmy sambil menarik pedangnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri, kau sudah terluka, sebaiknya beristirahatlah sejenak, aku akan berusaha mengulur waktu," balas Emmy pelan.
"Tidak nyonya, ini bukan lagi tentang melindungi anda tapi harga diri seorang pendekar, izinkan aku bertarung sekali lagi," ucap Lingga sambil mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk menekan rasa sakitnya.
"Harga diri dan mati konyol? kau benar benar membuatku tertawa," ucap Kemamang pelan.
"Kau tak akan mengerti tentang harga diri seorang pendekar, sepertinya ucapan Naga Api benar, kau hanya bisa bisa membanggakan masa lalu," ejek Lingga.
"Apa kau berusaha memancing amarahku?" Emosi Kemamang mulai tersulut, terlebih Lingga selalu membandingkannya dengan Naga Api, Iblis yang sebenarnya sangat dikaguminya.
"Memancing amarahmu? apa itu akan berguna? jika Naga api yang bersemayam di dalam pedangku, mungkin aku akan melakukannya," Lingga kembali bergerak tanpa menunggu jawaban Emmy, dia sudah bertekad untuk menggunakan sisa tenaga dalamnya.
"Ku pikir kau masih memiliki jurus lain, ternyata hanya sebuah serangan dari orang yang sudah putus asa," Luapan energi berwarna merah tiba tiba menyelimuti pedang pusaka Naradipta, dia sudah bertekad untuk menghabisi Lingga dalam satu serangan.
"Tak ada rasa takut di wajahnya, apa yang sebenarnya dipikirkan si bodoh ini?" umpat Kemamang sambil memejamkan matanya.
"Aku hanya memiliki satu kesempatan, tak boleh meleset," Lingga mengayunkan pedangnya sekuat tenaga namun jurus aneh yang melukainya tadi kembali muncul dan mengacaukan gerakannya.
"Jurus ini lagi?" Lingga berusaha menghindar sekuat tenaga namun tak berhasil, serangan Naradipta yang semakin cepat membuatnya tak leluasa bergerak.
Lingga menarik pedangnya dan menangkis energi pedang yang terarah padanya. Walau dia sadar tak akan mampu menangkis energi besar itu tapi setidaknya bisa menghindari luka dalam yang parah.
Saat pedang langit beradu dengan energi milik Naradipta, tiba tiba tubuh Lingga diselimuti energi berwarna emas.
__ADS_1
"Ini?" Lingga merasakan energi besar memenuhi tubuhnya, dan yang paling membuatnya terkejut adalah kecepatannya yang terus meningkat sehingga mampu menghindari serangan serangan Naradipta.
"Kau akan membayar semua penghinaan padaku setelah mengalahkan pendekar itu," ucap Kemamang tiba tiba.
"Jadi ini kekuatanmu? tidak buruk," Lingga bergerak mendekat dengan cepat sambil menghindari serangan serangan Naradipta yang kini terlihat lambat dimatanya.
"Kekuatannya meningkat cepat, apa yang terjadi padanya?" ucap Naradipta terkejut.
***
"Sepertinya kita harus memaksa masuk ke ruang rahasia di teras pertama Yang mulia," ucap Wardhana pelan saat melaporkan hasil pertemuannya dengan Hanggareksa.
"Apa dia menolak?" tanya Sabrang.
Wardhana mengangguk pelan, "Walau Hanggareksa tidak mengatakan secara langsung tapi jelas dia menolak semua rencana hamba," balas Wardhana.
Sabrang menarik nafas panjang, ada sedikit kekecewaan di wajahnya.
"Apa semua masalah di dunia persilatan harus diselesaikan dengan pertarungan?" ucap Sabrang.
"Hamba mohon maaf Yang mulia," balas Wardhana sambil menundukkan kepalanya.
"Paman tidak perlu meminta maaf, sepertinya pertarunganku dengan kakek Hanggareksa memang harus di lanjutkan. Apa paman sudah siap?" tanya Sabrang pelan.
"Kita tidak akan menunggu tuan Rubah Putih Yang mulia?" balas Wardhana cepat.
"Mereka mungkin masih dalam perjalanan, kita tidak bisa menundanya lagi paman," ucap Sabrang sambil melangkah keluar kamar.
"Hamba menerima perintah," jawab Wardhana cepat.
"Kalian masih ingin memaksa masuk ruang rahasia itu?" ucap Hanggareksa yang telah menunggu mereka di tangga penghubung menuju lantai dasar.
"Aku tak akan mengubah pendirian ku walau harus berhadapan dengan suku Kalang sekalipun, Ajidarma harus dihentikan," ucap Wardhana tegas.
"Kau benar benar keras kepala seperti Sukma," Hanggareksa menggeleng pelan sambil mencabut pedangnya.
"Paman mundur lah," ucap Sabrang pelan.
"Sebagian pendekar kalang sudah berpihak pada tuan Agung, aku akan mengawal kalian ke ruang rahasia itu," ucap Hanggareksa tiba tiba.
"Tuan?" Wardhana tampak terkejut dengan keputusan yang diambil Hanggareksa.
"Dulu aku tak pernah mempercayai adikku sehingga dia pergi membawa kitab itu, semoga semua yang kau katakan benar Wardhana," balas Hanggareksa.
"Terima kasih tuan, aku tidak akan mengecewakan anda," Wardhana menundukkan kepalanya memberi hormat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hari ini, PNA udpate sedikit terlambat karena pekerjaan saya mulai padat merayap jadi mohon dimaklumi, besok akan update seperti semula.... Terima kasih.....
__ADS_1