
Sabrang masih dalam posisi duduk dan memejamkan matanya saat empat orang pendekar muncul tiba tiba dan langsung menyerangnya.
Bongkahan es tiba tiba muncul mengelilingi tubuh Sabrang sebelum berubah menjadi puluhan pisau es dan menyerang para pendekar itu.
Mendapat serangan yang tiba tiba, tiga pendekar misterius itu terpaksa menarik serangannya untuk menangkis pisau es yang mengandung tenaga dalam besar itu.
Satu pendekar tersisa terlihat menghindari serangan pisau es dengan mudah, dia mengayunkan pedangnya saat sudah berada di dekat Sabrang.
Suara ledakan yang sangat besar terdengar saat dua pusaka berbenturan. Sabrang tersentak kaget ketika tubuhnya dengan mudah terpental beberapa langkah sebelum dia menancapkan pedangnya di tanah untuk menghentikan efek serangan lawannya.
"Tenaga dalamnya besar sekali," ucap Sabrang terkejut.
Suara ledakan besar itu juga mengejutkan Wulan, dia berlari keluar gua untuk melihat apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi nak?" teriak Wulan saat melihat Sabrang sedang berdiri dikelilingi empat pendekar misterius.
"Jangan mendekat guru, tolong jaga paman Wardhana," balas Sabrang cepat, dia benar benar khawatir pada Wardhana setelah merasakan kekuatan mereka.
Jika para pendekar dihadapannya adalah benar pasukan Kuil suci, dia yakin yang diincar pertama adalah Wardhana untuk melumpuhkan Malwageni.
"Dewa api, kekuatannya selalu membuatku kagum," ucap Hanggareksa sambil tersenyum.
"Siapa kalian? aku tidak pernah ingat pernah memiliki masalah apapun dengan kalian," balas Sabrang tanpa menurunkan kewaspadaannya sedikitpun.
"Kembalikan kitab itu padaku, aku akan pergi baik baik dari tempat ini nak," jawab Hanggareksa pelan.
"Kitab? aku tidak tau apa yang kalian bicarakan," ucap Sabrang pelan.
Hanggareksa tertawa mengejek setelah mendengar jawaban Sabrang.
"Kau sama saja dengan Mandala, kalian terlalu dikuasai hawa nafsu tanpa memperdulikan kehancuran dunia ini," Hanggareksa memberi tanda pada tiga pendekar lainnya untuk tidak ikut campur pertarungannya dengan Sabrang sebelum bergerak menyerang.
"Mandala?" ucap Sabrang dalam hati, dia memunculkan pedang di kedua tangannya dan menyambut serangan Hanggareksa.
"Berani sekali kalian mencari masalah di wilayahku," Wulan menarik pedangnya dan bergerak maju.
Tiga pendekar yang memperhatikan pertarungan Sabrang dan Hanggareksa langsung menghadang Wulan.
"Anda sebaiknya mundur nona," ucap salah satu pendekar.
"Mundur? aku tak akan mundur sebelum membunuh kalian semua," Wulan bergerak menyerang, kecepatan ayunan pedangnya membuat pendekar Kalang sedikit terkejut. Mereka tidak menyangka Wulan memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.
***
Sabrang kembali terpental saat serangan Hanggareksa lagi lagi mengenai tubuhnya. Serangan cepat dan sulit di tebak bahkan oleh mata bulannya benar benar menyulitkan.
Sabrang bukan tidak berusaha menekan balik, dia bahkan menggunakan ajian inti lebur saketi tingkat tiga untuk memaksimalkan mata bulannya namun gerakan Hanggareksa benar benar sangat cepat.
Mata bulannya memang sesekali mampu mengikuti gerakan lawan tapi tidak dengan tubuhnya karena reflek tubuh Sabrang tidak secepat matanya.
Sabrang akhirnya sadar jika Hanggareksa adalah lawan terkuat yang pernah dihadapinya.
__ADS_1
"Mataku bahkan sangat sulit mengimbangi gerakannya," ucap Sabrang dalam hati.
"Mata bulan? aku hampir saja melupakan mata lemah itu. Aku pernah bertarung dengan pendekar yang memiliki mata seperti dirimu dan kau tau apa yang terjadi dengannya? tubuhnya terbelah oleh pedangku," ucap Hanggareksa mengejek.
"Pemilik mata bulan sepertiku?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Kembalikan kitab itu nak, semua masih belum terlambat. Aku memang cukup terkejut saat menyadari kau memiliki tubuh istimewa tapi itu tak akan mengubah apapun, kau akan mati di tanganku jika terus seperti ini," ucap Hanggareksa.
"Aku benar benar tidak tau kitab apa yang kau maksud. Kau datang seenaknya menyerang dan kini mengancam membunuhku? Seorang pendekar akan selalu dekat dengan kematian dan aku sudah terbiasa diancam seperti itu. Jika hari ini harus mati, aku akan membawamu mati bersamaku," Sabrang bergerak menyerang, dia menarik hampir separuh energi Naga Api.
"Benar yang dikatakan Agam, kekuatan Dewa api seolah tak terbatas. Anak ini akan sangat berbahaya kelak," Hanggareksa mengayunkan pedangnya menyambut serangan Sabrang.
Sabrang bertarung dengan konsentrasi yang sedikit terpecah karena Wulan terlihat mulai terdesak. Serangan kombinasi tiga pendekar Kalang tak mampu diimbangi Wulan, dia terus terpojok tanpa bisa menyerang balik.
"Jurus pedang Kalang penghancur," seorang pendekar menyerang cepat, dan di saat bersamaan dua pendekar lainnya bergerak dari dua sisi untuk mengacaukan gerakan Wulan.
Saat Wulan berusaha menghindar, sebuah pukulan tenaga dalam menghantam tubuhnya.
Wulan terlempar sebelum menghantam dinding tebing air terjun keras.
"Guru!" teriak Sabrang panik.
Tindakan Sabrang itu membuka celah pertahanannya yang langsung dimanfaatkan Hanggareksa. Sabetan pedangnya hampir membelah tubuh Sabrang andai bongkahan es tidak cepat melindunginya.
"Bagaimana kau bisa mengkhawatirkan orang lain saat dirimu sendiri akan mati?" ejek Hanggareksa.
"Sial, dia benar benar kuat. Apa aku harus menggunakan jurus pedang Sabdo Palon?" ucap Sabrang sambil mengatur kembali nafasnya.
Sabrang teringat ucapan Darin yang memintanya tidak menggunakan jurus itu sembarangan karena efeknya yang sangat mematikan.
"Kalian, periksa apa yang ada di dalam gua itu," perintahnya kemudian pada dua orang temannya.
"Baik kakang," mereka bergerak masuk kedalam gua.
"Gawat, Wardhana," Wulan yang berusaha menghentikan mereka, kembali terkena serangan pendekar Kalang.
Beberapa sabetan pedang terus mengenai tubuh Wulan, tubuhnya sudah tidak bisa bergerak cepat karena sudah mencapai batasnya.
"Aku akan membunuhmu," teriak Wulan dengan sisa sisa tenaganya.
"Anda memaksaku bertindak kasar," Pendekar itu merubah gerakan pedangnya dengan cepat sebelum menusuk tubuh Wulan.
Saat pedangnya hampir menyentuh tubuh Wulan, sebuah golok melesat kearahnya.
Pendekar itu menarik serangannya dan menangkis golok itu, saat dia berusaha mencari pemilik pusaka itu, sesosok tubuh muncul di dekatnya dan menyentuh tubuhnya.
"Ledakan tenaga dalam iblis."
Pendekar itu masih sempat menarik pedangnya membuat Rubah Putih bergerak menghindar.
Benturan tenaga dalam Iblis dengan pedang pendekar Kalang menimbulkan ledakan besar.
__ADS_1
"Kuat sekali," ucap Pendekar itu saat tubuhnya terlempar cukup jauh.
"Untung saja aku tidak terlambat," Rubah putih menggerakkan lengan kanan saat golok pusaka nya berputar mendekatinya.
"Dia berbeda dan jauh lebih kuat," ucap Wulan dalam hati.
"Kau baik baik saja nenek peot?" ejek Rubah Putih.
Wulan tampak emosi saat Rubah Putih menyebut kata yang paling dia benci, andai bukan sedang dalam pertarungan mungkin dua sudah menghajar pria rambut putih dihadapannya itu.
"Bagaimana kau bisa semakin kuat?" tanya Wulan bingung.
"Bukan muridmu saja yang berlatih keras, aku sudah menyempurnakan jurus Ledakan tenaga dalam iblisku," balas Rubah Putih sambil menarik goloknya.
"Beristirahatlah, biar aku yang menyelesaikan pertarungan ini," Rubah Putih bergerak menyerang.
"Wardhana?" Wulan berlari masuk dengan tubuh terhuyung, tenaga dalamnya sudah benar benar habis. Dia masih sempat mendengar pertarungan di luar untuk beberapa saat sebelum tubuhnya jatuh tak sadarkan diri.
Wajah Sabrang sedikit lega setelah melihat Rubah Putih, kini dia bisa berkonsentrasi menghadapi Hanggareksa.
"Apa kau akan menyerah? bertambah satu orang tetap tidak akan merubah hasil," ucap Hanggareksa saat melihat Sabrang mengambil pedang Naga Api yang terlempar di tanah.
"Menyerah? ini baru akan di mulai," ucap Sabrang pelan.
"Maaf kek, aku harus menggunakan Jurus pedang Sabdo Palon kali ini," ucap Sabrang dalam hati.
"Matanya berbeda, dia seolah yakin akan memenangkan pertarungan ini. Menarik," ucap Hanggareksa sambil tersenyum.
***
Dua pendekar Kalang masuk kedalam ruangan tempat Wardhana dirawat, mereka memeriksa setiap sudut ruangan untuk mencari Kitab Sabdo Loji tapi tidak berhasil.
"Kitab itu sepertinya tidak ada di sini kakang Durga," ucap pendekar Kalang pada temannya.
"Kakang?" panggilnya lagi saat Durga mematung sambil menatap wajah Wardhana.
"Apa kau lihat wajah pria itu? wajahnya seperti tidak asing," balas Durga bingung.
"Tidak asing?" temannya ikut menatap Wajah Wardhana.
"Tuan Arda Sukma?" pendekar itu juga terkejut dan tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Benar, wajahnya sangat mirip dengan adik tuan Hanggareksa yang mencuri kitab Sabdo Loji dari Kuil Khayangan," balas Durga pelan.
"Tidak mungkin, mayat tuan Arda Sukma sudah dikubur sendiri oleh ketua saat ditemukan di dekat gunung sinabung," ucap pendekar itu.
"Bagaimana jika dia adalah keturunan tuan Arda Sukma?"
"Keturunannya?"
Durga tampak menggeleng pelan, "Tidak mungkin, ketua sudah menyelidiki orang yang pernah dekat dengan tuan Arda Sukma dan tidak ditemukan seorang pun Wanita. Mungkin mereka hanya mirip," ucap Durga sambil mengajak temannya untuk memeriksa ruangan lainnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bonus Chapter sudah meluncur....