Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Menyusup ke Sekte Kelelawar Hijau


__ADS_3

Batara menarik nafas panjang, perlahan dia membuka matanya dengan wajah masam.


"Aku masih belum bisa menguasainya, apa ada yang terlewat olehku".


Tak jauh dari lokasi dia berlatih sepasang mata memperhatikannya dengan wajah cemas.


"Itu bukan jurus milik sekte Kelelawar hijau, dari mana ketua mendapatkan ilmu mengerikan itu" Mahasyura bergumam dalam hati.


"Apa yang kau cari" Suara Batara dari belakang mengagetkan dirinya. Tatapan tajam Batara membuat Mahasyura berkeringat dingin.


"Sejak kapan dia berada dibelakangku? Bukankan beberapa detik lalu dia duduk di sana".


"Tuan aku... aku..." Tiba tiba lengan Batara mencengkram Mahasyura.


"Cepat sekali" Mahasyura menatap takut Batara.


"Aku bertanya sekali lagi apa yang kau cari" Batara mengalirkan tenaga dalamnya ke tubuh Mahasyura. Darah segar mulai mengalir dari hidung Mahasyura.


"Tuan, jurus apa yang kau gunakan? Bukankah ini bukan jurus milik Kelelawar hijau".


"Lalu kenapa?" Tanya Batara dingin.


"Anda menyalahi aturan sekte kelelawar hijau tuan" Suara Mahasyura mulai tersenggal menandakan tubuhnya mulai lemas.


"Aturan itu sudah tidak berlaku lagi sejak aku memegang pucuk pimpinan Sekte ini". Batara menggeleng pelan "Kau seharusnya jangan mencari tau apa yang harusnya kau tidak boleh tau".


Wajah Mahasyura benar benar ketakutan merasakan kekuatan Batara.


Mahasyura adalah salah satu pendekar paling berbakat di Sekte kelelawar Hijau namun kali ini dengan mudah dikalahkan oleh Batara.


"Ilmu iblis apa yang kau pelajari" Perlahan kesadaran Mahasyura mulai menghilang.


"Sangat disayangkan, kau adalah orang paling berbakat di sekte ini sayang rasa ingin tahumu mengantarkanmu pada kematian".


***


Rombongan pedagang mulai memasuki wilayah Kelelawar hijau, Sabrang dan Mentari termasuk di dalamnya.


Beberapa pendekar terlihat berjaga dan memeriksa semua barang bawaan, tak ada satupun barang terlewat dari pemeriksaan mereka.


"Masuklah" Salah satu pendekar berkata dengan dingin setelah memeriksa barang yang dibawa.


"Terima kasih tuan".


"Jaga sikap kalian, Kelelawar hijau tidak suka dengan sikap lancang". Salah satu pedagang berbicara pelan seolah tidak ingin didengar oleh orang lain setelah agak jauh dari pos pemeriksaan.


Dia kemudian menoleh ke arah rombongan Sabrang dengan wajah datar. "Apapun misi kalian disini, kalian hanya punya waktu dua hari setelah itu kita pulang aku tidak ingin mendapat masalah disini".


"Baik tuan" Salah satu pendekar dari Mata elang menjawab.

__ADS_1


"Tuan Sabrang malam ini kita bergerak, aku sudah mendapat gambaran posisi tetua ditahan semoga semua berjalan sesuai dengan rencana" Sulis berbicara setengah berbisik.


Sabrang hanya mengangguk sambil memperhatikan sekitarnya.


"Banyak sekali penjagaan di Sekte ini, apakah ada masalah?".


***


"Sudah kuduga sejak pertama masuk ada yang tidak beres di sekte ini" Sabrang menatap keluar dari celah pintu kamarnya. Penjagaan begitu ketat terlihat dengan beberapa pendekar yang lalu lalang di sekitar tempat mereka menginap.


"Apakah harus seperti ini terhadap para pedagang yang bahkan tidak mempunyai ilmu kanuragan".


Tak lama seseorang mengetuk pintunya, dua orang pendekar dari Mata elang masuk ke kamar Sabrang.


"Penjagaannya ketat sekali tuan, apa yang harus kita lakukan?" Sulis berbicara pelan. Tak lama Sabrang mematikan penerangan kamarnya.


"Kita tak akan bisa bergerak bersamaan akan cepat menimbulkan kecurigaan. Tunjukan jalannya padaku, biarkan temanmu berjaga disini".


"Baik tuan".


Beberapa saat kemudian Sulis dan Sabrang berjalan cepat dan sesekali melompat di atap menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


"Berhenti" Sabrang memberi tanda pada Sulis untuk berhenti dan menunduk, dia kemudian melihat sekitarnya, tak lama beberapa pendekar bergerak cepat didepannya.


"Ayo" Sabrang memberi tanda untuk kembali bergerak setelah beberapa penjaga tadi pergi.


"Dia bisa merasakan kehadiran mereka bahkan sebelum muncul dihadapannya. Setinggi apa ilmu anak ini". Sulis bergerak cepat diikuti Sabrang dibelakangnya.


"Seharusnya disini tempatnya tuan" Sulis memperhatikan sekitarnya.


"Aku akan masuk" Sabrang turun perlahan melalui celah atap diikuti Sulis dibelakangnya. Sebuah ruangan kosong menyambut mereka.


"Kau yakin ini tempatnya" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Aku cukup yakin ini tempatnya namun bagaimana bisa hanya ruang kosong yang kita temukan?".


"Segel kabut" Sulis menggeleng pelan, raut wajahnya berubah lemas.


"Segel kabut?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Benar tuan, Segel kabut adalah sebuah jurus untuk menyamarkan sesuatu. Aku yakin pintu masuk menuju Penjara tahanan mereka disembunyikan dengan segel kabut namun bagaimana bisa Kelelawar Hijau menguasai segel kabut?".


"Lalu bagaimana selanjutnya?".


"Kita tidak bisa berbuat apa apa tuan, Segel kabut hanya bisa dinetralkan oleh sesama pengguna segel itu".


"Sebaiknya kita pergi dulu tuan, kita pikirkan rencana berikutnya nanti".


Sesaat sebelum mereka pergi tiba tiba terdengar suara langkah kaki mendekati mereka.

__ADS_1


"Ada orang tuan" Sulis berbisik pada Sabrang.


Sabrang mengangguk dan memberi tanda untuk naik kembali ke atas.


"Aku yakin tadi melihat bayangan masuk sini" Salah satu pendekar berkata pada temannya.


"Itu hanya perasaanmu saja, mana mungkin ada orang bisa masuk dengan penjagaan ketat kita".


Pendekar satunya terlihat berfikir sejenak "Sebaiknya tetap kita periksa aku tidak ingin mengambil resiko".


Terlihat pendekar tersebut merapal sebuah jurus, tiba tiba kabut tebal menyelimuti seluruh ruangan. Beberapa saat kemudian perlahan kabut tebal itu mulai menghilang, terlihat sebuah pintu muncul di dinding ruangan.


"Jadi ini yang namanya Segel kabut?" Sabrang bergumam dalam hati.


Mereka melangkah masuk kedalam penjara namun beberapa saat kemudian tiba tiba tubuh Sabrang sudah muncul di belakang mereka.


"Cakar Es Utara" Salah satu pendekar terpental mundur dan roboh ke tanah.


Pendekar lainnya melompat mundur berusaha melarikan diri namun beberapa langkah sebelum mencapai pintu tubuhnya tak bisa digerakkan.


"Kau buru buru sekali" Sabrang berjalan mendekati pendekar tersebut sambil menoleh kearah Sulis yang masih di atap dan memberi tanda padanya untuk turun.


"Anak ini menguasai Segel bayangan" Sulis melompat turun mendekati Sabrang.


"Kau sebaiknya disini dulu" Cakar Es utara menghantam tubuh pendekar tersebut.


"Ayo kita masuk".


Mereka melangkah masuk ke Penjara kelelawar hijau perlahan, Pencahayaan yang redup serta lembab menambah kesan angker Penjara tersebut.


Sulis menghentikan langkah kakinya saat melihat seorang pria terkurung dengan rantai melilit seluruh tubuhnya.


Dia menoleh kearah Sabrang dan berjalan ragu mendekati pria tersebut.


"Apakah anda tetua bahadur?" Sulis berkata pelan membuat pria itu sedikit kaget. kepalanya yang ditutupi kain hitam membuat penglihatannya tertutup.


"Siapa kau? bagaimana bisa masuk kesini?" Suara parau pria tersebut mengagetkan Sulis.


"Jadi benar anda tetua Bahadur?".


"Siapapun kau pergilah dari sini secepatnya, kau tidak tau siapa yang kau hadapi. Mereka perlahan mulai bangkit dan Kelelawar hijau hanyalah awal dari ambisi mereka".


Sulis mengernyitkan dahinya "Mereka?".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul

__ADS_1


"Tentang kita (Komedi Romantis)"


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***


__ADS_2