Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Tapak Es Utara


__ADS_3

Tubuh Damarsunu diselimuti Es tipis, tak berapa lama kemudian es yang menyelimuti tubuhnya hancur.


"Ada masalah apa sampai Tapak Es Utara ikut campur urusan kami? " wajah Damarsunu merah penuh amarah.


Dayun mundur beberapa langkah menghentikan pertarungannya, dia sedikit terkejut karena merasakan tekanan tenaga dalam yang besar dari wanita berjubah putih tersebut.


Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Wijaya dan Lasmini untuk sedikit beristirahat dan mengambil nafas.


Perempuan setengah baya tersebut menatap Wijaya dengan tajam.


"Jika kau mempermainkanku maka kau ada di urutan pertama yang akan kuhancurkan".


"Hamba tidak akan berani bermain main dengan ketua Tapak Es utara". Wijaya memberi hormat pada perempuan berjubah putih tersebut.


"Jadi benar dia keturunan Sekar Pitaloka?".


Wijaya mengangguk pelan, dia menunduk tak berani menatap Wanita tersebut.


Wanita tersebut menggeleng pelan, lalu menatap Sabrang dengan lembut.


"Adik ku memang bodoh!" Tiba tiba tubuh wanita tersebut diselimuti Es tipis. Tatapannya tajam ke arah Dayun membuat nyali Dayun sedikit ciut. Dia sangat paham kemampuan Mantili, Ketua Sekte Tapak Es Utara, bahkan kemampuannya hampir setara dengan Singa Emas dan Kertasura.


Tiba tiba Damarsunu menyerang Mantili dengan Goloknya. Gerakan Goloknya dengan cepat mengarah pada Mantili.


Wajah Mantili berubah seketika, tiba tiba tubuhnya menghilang beberapa detik sebelum Golok Damarsunu menghantamnya.


"Aku tidak ada urusan denganmu" Lasmini muncul tepat dibelakang Damarsunu


"Tapak Dewa es Abadi" Tubuh Damarsunu tersungkur. Darah mengalir dari mulutnya.


"Kecepatan apa ini? Bagaimana dia bisa secepat ini". Damarsunu tak mampu mengimbangi kecepatan Mantili.


"Apakah ini kekuatan manusia" Wijaya dan Lasmini saling menatap satu sama lain.


"Aku akan mengurus kalian nanti" dia menatap tajam Damarsunu dan Dayun bergantian.


Dia berjalan pelan mendekati Sabrang, membuat sikap Mentari menjadi siaga namun tak berani bergerak sedikitpun.


Tenaga dalam Mantili benar benar mengintimidasi semua yang ada di sana.


Tangannya menyentuh tubuh Sabrang dan mulai mengalirkan tenaga dalamnya. Beberapa saat kemudian tubuh Sabrang mulai diselimuti Es.


"Kau keras kepala seperti ibumu" Mantili mengeluarkan pil obat dan memberikannya pada Sabrang.


Tanpa sengaja Mantili menatap Pedang yang ada di tangan Sabrang, dia mengernyitkan dahinya.


"Kau sungguh anak yang menarik. Beristirahatlah sebentar, aku yang akan mengurus mereka".


Sabrang mengangguk pelan, dia masih bingung dengan situasi yang dihadapinya.


"Baiklah saatnya membuat perhitungan dengan kalian". Mantili bergerak dengan cepat ke arah Dayun berada.

__ADS_1


Dayun mundur beberapa langkah bersiap menerima serangan. Dia mengalirkan tenaga dalam yang besar ke pedangnya.


"Tiupan angin neraka" Dayun menyambut serangan Mantili dengan jurusnya. Tubuh Mantili bergerak lebih cepat menghindari serangan Dayun.


"Hanya segini kemampuan Lembah tengkorak". Mantili menyerang Dayun dengan kecepatan yang mengerikan. Dayun mencoba menghindari serangan tersebut namun Mantili lebih cepat darinya.


Sebuah tapak tepat mengenai tubuh Dayun membuatnya terpental beberapa meter.


Mantili kembali menyerang tanpa memberi kesempatan Dayun bernafas. kali ini kecepatannya meningkat lebih cepat.


"Kau terlalu lambat" Mantili muncul tepat dihadapan Dayun dan mencengram lehernya. Tangan kirinya mengeluarkan bongkahan es berbentuk pisau.


"Kecepatannya luar biasa" gumam Dayun ketakutan.


"Hujan Pisau Es utara" Bongkahan es tepat mengenai perut Dayun membuatnya muntah darah. Tidak lama kemudian tubuhnya membeku.


Damarsunu menatap pertarungan itu dengan wajah ketakutan, dia sangat mengerti kemampuan Dayun setingkat diatasnya namun Mantili dapat mengalahkannya dengan mudah. bahkan terlihat Dayun tidak dapat mengimbangi kecepatan Mantili.


"Kemampuan Ketua Tapak Es Utara memang seperti yang didengungkan". gumamnya.


Mantili melangkah ke arah Damarsunu yang masih terluka parah. Dia mengambil posisi siaga dengan Golok ditangannya walaupun menurutnya itu hal yang sia sia jika Mantili menyerangnya.


"Tetua mohon maafkan ayahku, aku mengharapkan kebaikan anda tolong jangan bunuh dia". Nilam sari maju berlutut dihadapan Mantili.


"Kau jangan ikut campur nona, aku tak akan segan segan membunuh siapa saja yang menghalangiku". Tatapan tajam mantili membuat Nilam sari mengeluarkan keringat dingin.


"Tapi tetua aku mohon berilah kesempatan ayahku untuk memperbaiki kesalahannya". Nilam sari masih berusaha membujuk Mantili untuk mengampuni ayahnya.


"Kau wanita yang keras kepala" Tangan kiri Mantili kembali mengeluarkan bongkahan es menyerupai pisau.


"Nenek mohon jangan lakukan itu" Sabrang bangkit dan berjalan kearah Mantili.


Wijaya berusaha menahan Sabrang mendekati Mantili karena sangat berbahaya. Dia sering mendengar kekejaman ketua Tapak Es Utara.


"Kau membelanya? Setelah apa yang dilakukannya padamu?".


"Aku memohon untuk nona Nilam sari nek".


"Jika aku menolak?" Aura Mantili kembali menekan semua yang berada disana. Dia menatap Sabrang tajam.


"Pangeran bukan pilihan bijak menentangnya, bagaimanapun beliau adalah bibi mu". Wijaya membujuk Sabrang, dia khawatir terjadi sesuatu pada Sabrang.


"Aku... aku... " Sabrang terlihat bingung menjawab Mantili.


Mantili melesat cepat ke arah Damarsunu tanpa menghiraukan permohonan Sabrang.


Damarsunu mencoba menangkis serangan dengan Goloknya namun Mantili lebih cepat mencengkram tangannya. Golok di tangannya pun terlepas, dia menjerit kesakitan. Saat tapak Mantili hampir mencapai tubuhnya tiba tiba gerakannya terhenti.


"Maaf nek aku harus menghentikanmu" Sabrang terlihat merapal sebuah jurus.


Mantili sedikit terkejut Sabrang menguasai Segel kuno tersebut.

__ADS_1


"Segel Bayangan? Kau selalu membuatku terkejut nak, tapi jika Kau pikir bisa menghentikanku dengan tenaga dalam mu kau salah besar nak".


Uap es tiba tiba keluar dari tubuh Mantili, beberapa saat kemudian Sabrang terpental beberapa langkah kebelakang.


"Tenaga dalamnya menekan efek Segel Bayangan ku, seberapa besar sebenarnya tenaga dalam nenek ini".


Dalam hitungan detik Tapak mantili menghantam tubuh Damarsunu dan membuatnya tersungkur ke tanah.


Sabrang memejamkan matanya merasa menyesal tidak dapat menghentikan Mantili. Terdengar jeritan Nilam sari sesaat setelah tubuh ayahnya roboh ke tanah.


"Kali ini kau kuampuni, tapi ilmu kanuraganmu telah kumusnahkan. Kuharap kau dapat memikirkan kesalahanmu".


Nilam sari terkejut mendengar perkataan Mantili, dia berlari mendekati ayahnya dan berlutut dihadapan Mantili.


"Terima kasih tetua atas kemurahan hati anda".


Mantili melengos pergi ke arah Sabrang meninggalkan Nilam sari yang sedang berlutut.


"Aku melakukan ini bukan untukmu".


..........................................


"Ibu mu adalah adik seperguruanku. Dia berbeda denganku, dia memiliki bakat yang sangat besar sedangkan aku hanya murid biasa. ibumu adalah murid yang paling disayang oleh guru kami. Namun semua berubah saat rombongan kerajaan datang bertemu dengan guru. saat itu Malwageni dan Tapak Es Utara akan menjalin kerjasama". Mantili memejamkan matanya sesaat kemudian melanjutkan ceritanya.


"Saat itu Ayahmu tertarik pada adik ku, begitupun sebaliknya. Hal ini jelas membuat guru kecewa, karena Sekar pitaloka adalah murid kesayangan Guru. Namun adik bodohku tetap memilih ayahmu dan pergi meninggalkan Tapak Es Utara".


"Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi, ibumu menjadi ratu Malwageni. Aku sempat mendengar kabar jika Malwageni di serang oleh Majasari. Saat aku mencoba mencari tau semua sudah terlambat'. ibumu sudah menghilang dari keraton dan Malwageni sudah jatuh ke tangan Majasari".


"Ikutlah dengan ku nak kau mewarisi bakat ibumu, aku yakin kau akan menjadi pendekar terkuat dibawah bimbinganku".


Sabrang sedikit terkejut mendengar tawaran Mantili. Dia memang ingin mendengarkan lebih banyak tentang ibunya dari Mantili namun dia harus mencari Tanah Para Dewa untuk menjadi lebih kuat. Semua demi orang orang yang menaruh harapan padanya termasuk Rakyat Malwageni.


"Maaf nek aku tidak bisa, Aku sedang mencari sesuatu. Setelah semua urusanku selesai aku akan berkunjung ke Tapak Es Utara".


"Kau!!!" Terlihat sedikit amarah di wajah Mantili namun hanya beberapa saat. Setelah berhasil mengendalikan emosinya Mantili kembali tenang.


"Banyak orang memohon padaku untuk menjadi muridku kau malah menolak ku dengan seenaknya. Selain bakat yang diturunkan ibumu sepertinya dia juga menurunkan sifatnya padamu" Mantili tersenyum kecut pada Sabrang.


"Maaf telah mengecewakan mu, tetapi aku hanya ingin menemukan Tanah Para Dewa terlebih dahulu". Sabrang merasa tidak enak menolak tawaran Mantili namun dia benar berar harus mencari Tanah Para Dewa terlebih dahulu.


Mantili mengernyitkan dahinya tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Apa yang kau cari disana? Tempat yang bahkan hingga saat ini letaknya masih menjadi misteri".


Mantili kemudian teringat sesuatu dan menatap Pedang yang ada di hadapannya.


"Apa ini ada hubungannya dengan Pedangmu?".


Sabrang mengangguk pelan "Aku ingin mencari Kitab Energi Bumi".


Mantili tersentak kaget mendengar Kitab Energi Bumi. dia tidak menyangka akan mendengarnya dari mulut Sabrang.

__ADS_1


"Jika kau berniat mempelajari kitab terlarang itu lebih baik kau urungkan niatmu. Kitab itu adalah kitab yang sangat berbahaya, Apa alasanmu ingin mempelajarinya?".


__ADS_2