Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Mencari Dukungan Saung Galah


__ADS_3

"Kau sudah mendapatkan apa yang aku minta?" Wardhana berbicara pelan pada seorang pemuda yang duduk dihadapannya.


Pemuda tersebut mengangguk "Benar dugaan anda tuan, Aji seta menggunakan uang kerajaan untuk kepentingan pribadinya, aku mengetahuinya setelah membaca arsip keuangan Kerajaan yang dibuatnya".


"Kau mendapatkan buktinya?".


"Iya tuan, bahkan aku berhasil menemukan mantan bawahannya yang bersembunyi dari kejaran tuan Aji seta yang berusaha melenyapkannya untuk menutupi kesalahannya". Pemuda itu menyerahkan gulungan pada Wardhana.


"Baik terima kasih atas bantuanmu dan maaf telah melibatkanmu".


"Anda tak perlu sungkan tuan, ayah anda dulu telah banyak membantu ayahku, ini tidak seberapa tuan". Pemuda itu menundukan kepalanya kepada Wardhana.


"Lalu sepertinya aku ingin meminta bantuan mu sedikit lagi Satria, Bisakah kau antarkan aku ketempat persembunyian orang yang kau sebut mantan bawahan Aji seta, Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padanya".


Satria mengangguk pelan "Mari ikut denganku tuan".


***


Di sebuah rumah yang sangat besar dan penuh dengan penjagaan, Aji seta sedang berbicara


pada penasehatnya.


"Kau harus pastikan mereka mendukungku menolak rencana Yang mulia mengundang perwakilan resmi Malwageni ke acara kerajaan, jika itu sampai terjadi artinya Saung Galah mengakui kedaulatan Malwageni dan secara terbuka menantang Majasari".


Penasehatnya mengangguk pelan.


"Bagaimana mungkin Yang mulia ingin mencari masalah dengan Majasari, itu sama saja memulai perang yang tak akan bisa kita menangkan".


"Mungkin Yang mulia tersinggung atas sikap Majasari pada kadipaten Wanajaya dan berniat memberi pelajaran pada Majasari tuan".


"Tapi bukan berarti kita harus menentang Majasari" Wajah Aji seta mengeras menahan amarah.


Tak lama salah satu prajuritnya masuk menemui Aji seta.


"Maaf tuan ada yang ingin bertemu dengan anda".


"Katakan padanya aku tidak ingin bertemu siapapun!".


"Tapi tuan..." Prajurit tersebut berhenti sejenak, dia ragu mengatakannya. "Dia ingin membicarakan masalah Arsip keuangan kerajaan" prajurit itu menunduk tak berani menatap Aji seta.


Raut wajah Aji seta berubah seketika dan menatap tajam prajuritnya.


"Kau mengenalnya?".


"Ti... tidak tuan" Suara prajurit itu bergetar.


"Siapa yang berani mencari masalah denganku" Aji seta mendengus kesal.


"Biarkan dia masuk" Aji seta sedikit membentak prajuritnya.


"Baik tuan" Prajurit itu bergegas pergi.


"Terima kasih telah berkenan menerimaku tuan" Tak berapa lama Wardhana muncul dari balik pintu.


Aji seta mengernyitkan dahinya, dia merasa tidak mengenali orang yang berada dihadapannya "Siapa kau?".


"Bolehkah aku duduk terlebih dahulu?" Wardhana tersenyum kecil membuat Aji seta makin geram.

__ADS_1


Wardhana sedikit terkekeh melihat reaksi Aji seta.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Aji seta menatap dingin Wardhana.


"Anda terlalu tergesa gesa tuan, biarkan aku bernafas sejenak" Wardhana menarik nafas panjang.


Namun sepertinya Aji seta sudah tidak ingin berbasa basi dengan Wardhana. dia sudah paham Wardhana pasti mengetahui perbuatannya menggunakan uang Kerajaan untuk kepentingan pribadinya.


"Apa yang kau tau tentang Arsip keuangan kerajaan?" Aji seta menatap tajam Wardhana.


"Semuanya tuan, termasuk beberapa anggaran prajurit yang hanya terserap 40%, aku tidak tau kemana sisanya mungkin memang Keuangan Kerajaan sedang bermasalah namun aku tidak tau bagaimana reaksi Yang mulia jika dia mengetahui masalah ini akan mengakibatkan melemahnya pasukan Saung galah ditengah hubungan yang renggang dengan Majasari".


Wajah Aji seta mengeras mendengar perkataan Wardhana yang sedikit mengancamnya.


Ajiseta menoleh kearah Penasehatnya yang juga menatap tajam Wardhana.


"Anda sebaiknya tidak berfikir untuk melenyapkanku tuan, Saat ini tuanku sedang menemui Patih Jaladara di istana. Anda mungkin bisa melenyapkan ku dengan mudah namun jika aku menghilang maka kabar ini akan sampai pada Yang mulia".


"Kau mengancamku hanya dengan perkiraan yang kau dapat dari membaca Arsip kerajaan? Sebaiknya kau harus berhati hati atau aku akan melaporkanmu karena tanpa ijin membaca dokumen rahasia milik Saung galah".


Wardhana terkekeh mendengar Aji seta mengancamnya.


"Anda ingin bertaruh? Aku bukan hanya mempunyai bukti keterlibatan anda menggunakan uang kerajaan namun akupun mempunyai saksi mata atas perbuatan anda".


"Kau!!".


"Orang yang anda cari selama ini ada bersamaku, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan Yang mulia lakukan jika mengetahui masalah ini".


Aji seta terdiam sejenak


"Ah iya aku lupa memperkenalkan diri namaku Wardhana, aku perwakilan dari Malwageni".


Aji seta terkejut mendengar Wardhana menyebut Malwageni.


"Apa yang kau inginkan? uang?".


"Sepertinya anda salah paham tuan, aku bukan tipe orang yang tertarik dengan uang. Aku ingin anda menyetujui rencana Yang mulia mengundang perwakilan resmi Malwageni".


Aji seta menggelengkan kepalanya "Kau pikir bisa merebut kembali Malwageni? kau tau seberapa kuat Majasari?".


"Anda tak perlu memikirkan masalah kami tuan, lakukan apa yang kuminta atau orangku akan bergerak. Kami telah kehilangan segalanya sejak Malwageni runtuh dan kami akan melakukan apapun untuk merebut kembali Malwageni termasuk jika harus menghancurkan anda" Suara Wardhana meninggi.


"Kau akan menyesali apa yang kau lakukan padaku hari ini" Ajiseta menggebrak meja.


"Semua keputusan ada ditangan anda tuan, kuharap besok ada kabar baik yang bisa kudengar".


Wardhana menundukan kepalanya berpamitan kemudian melangkah pergi meninggalkan Aji seta dengan wajah memerah menahan amarah.


"Kurang ajar!!!! Kau kira aku akan diam saja diperlakukan begini". Aji seta menggebrak meja sepeningal Wardhana.


"Tuan apakah tidak sebaiknya dia kita lenyapkan?" Penasehat Ajiseta berbicara setelah Wardhana pergi.


"Tidak! Jangan gegabah, kau tau siapa dia? dia adalah Naga yang tertidur milik Malwageni kita tidak akan sanggup berhadapan dengannya".


"Lalu apa tindakan kita?".


Aji seta menggeleng pelan "Katakan pada yang lain untuk menyetujui dengan rencana Yang mulia raja".

__ADS_1


"Tapi tuan.......".


"Lakukan saja apa yang ku perintahkan, apa aku terlihat memiliki Pilihan lain?" Aji seta membentak penasihatnya.


"Baik tuan"


***


"Hamba mohon menghadap tuan patih" Terlihat komandan pasukan topeng galah menunduk dihadapan Jaladara.


"bangunlah Lokajaya, apakah mereka sudah tiba?".


Lokajaya mengangguk "Mereka ada di luar tuan".


"Bawa mereka masuk".


"Baik tuan".


Tak lama Sabrang dan Wijaya muncul dan memberi hormat pada Jaladara.


"Hormat kami pada Tuan patih" Wijaya menundukan kepalanya diikuti Sabrang yang ada disampingnya.


"Duduklah" Jaladara tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk.


"Terima kasih sudah bersedia menemui kami tuan" Wijaya tersenyum ramah.


"Ah jangan sungkan, anda sudah membantu Saung galah beberapa kali mana mungkin aku menolak kehadiranmu".


"Lalu mengenai undangan untuk perwakilan Malwageni...." Jaladara terlihat berfikir sejenak. "Saat ini para pejabat di Saung galah terbelah dua, sehingga yang mulia belum bisa memutuskan hal ini".


"Aku dapat mengerti tuan, permasalahan ini akan berdampak besar pada Saung galah kedepannya namun aku tetap berharap kalian bersedia bekerja sama dengan kami". Sabrang kali ini berbicara setelah beberapa saat hanya diam dan mendengarkan.


"Aku mengerti Pangeran namun dengan kondisi saat ini kami harus memikirkan segala resiko yang harus kami hadapi, mohon pangeran mengerti situasi kami".


Sabrang mengangguk pelan, dia menoleh kearah Wijaya meminta pertimbangan.


"Ah iya Wardhana menitipkan ini pada anda tuan" Wijaya memberikan sebuah gulungan pada Jaladara.


Jaladara mengernyitkan dahinya kemudian membuka gulungan tersebut. Raut wajahnya berubah seketika setelah membaca gulungan itu.


"Dari mana kau mendapatkan ini?" Jaladara tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Aku mempunyai bukti lainnya tentang para pejabat Saung galah yang mulai bermain mata dengan Majasari. Situasi ini hampir sama saat Malwageni runtuh di serang Majasari. Aku akan membantu anda memberikan bukti keterlibatan mereka jika Saung galah bersedia mengakui Malwageni".


Wijaya kemudian berdiri dan menundukan kepalanya. "Kami permisi dulu tuan, semua keputusan ada pada Saung Galah".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


***Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca


Dukung juga penulis di


Karyakarsa. com /RickypakeC


dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya


Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2