Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perjanjian Lakeswara dan Wardhana


__ADS_3

"Apa hanya ini kemampuanmu? kemana perginya bakat yang diturunkan ayahmu? kau bahkan masih belum berhasil menyatukan kekuatan dan kelembutan menjadi satu, itu artinya kau belum mengerti apa yang tadi ibu katakan!" teriak Sekar Pitaloka kesal.


Sabrang hanya tersenyum kecut mendengar teriakan ibunya, dia terus bergerak mengikuti semua petunjuk Sekar Pitaloka sambil berusaha menyatukan energi murni dengan Naga Api.


Sabrang sebenarnya sudah hampir menguasai semua yang terkandung di dalam kitab Sabdo Loji karena prinsip prinsip ilmu kanuragan yang tertulis didalam kitab itu hampir sama dengan ilmu yang saat ini sudah dia kuasai.


Sabdo Loji bukan kitab ilmu kanuragan yang sudah terbentuk layaknya Sabdo Palon. kitab itu hanya berisi nilai nilai atau prinsip kehidupan, ilmu kanuragan dan hubungan dengan alam semesta. Bahkan dari satu kalimat yang ada didalam kitab itu bisa menciptakan ribuan jurus tergantung pemahaman orang yang membacanya.


Dengan bantuan Sekar Pitaloka dan Lakeswara dalam memahami makna yang terkandung didalam kitab itu, Sabrang seolah sedang menyempurnakan semua jurus yang sudah dia kuasai selama ini.


Namun yang membuat Sabrang kesulitan adalah menggabungkan dua kitab yang saling bertentangan itu menjadi satu kesatuan. Jika Sabdo Loji cocok dengan energi Naga Api yang cenderung kasar maka Sabdo Palon akan lebih sempurna dengan energi murni trah Tumerah yang didapat Sabrang dari Sekar Pitaloka dan itu artinya dia juga harus menggabungkan dua energi besar dalam tubuhnya itu.


Sekar sebenarnya sangat mengerti betapa sulitnya menggabungkan dua jurus dan dua energi dalam satu gerakan namun dia tidak punya pilihan lain selain memaksakan tubuh anaknya itu sampai batasnya, karena seperti yang dikatakan Wardhana, hanya gabungan dua kitab itulah yang bisa mengalahkan Ken Panca.


Kecepatan Sabrang tiba tiba meningkat saat dia mulai menggabungkan dua energi dalam tubuhnya namun ketika dia bersiap melepaskan salah satu jurusnya, sesuatu dalam tubuhnya seolah meledak sebelum tubuhnya kaku dan terjatuh dalam posisi berlutut.


Wajah Sabrang mengeras saat merasakan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya. Dia menarik dua energi besar yang bertabrakan didalam tubuhnya sambil mengatur nafasnya kembali.


"Kau masih melakukan kesalahan dan itu bisa melukai tubuhmu sendiri nak. Kau harus mampu menyatukan dan menyelaraskan Tubuh, pikiran dan jiwamu kedalam pedang Naga Api dan biarkan dua energi besar di tubuhmu menyatu," ucap Sekar Pitaloka pelan sambil memeriksa tubuh Sabrang.


"Aku sudah berusaha bu tapi ketika Energi murni dan Naga Api menyatu, tubuhku seperti menolaknya sehingga kedua energi itu kembali terpisah," jawab Sabrang.


"Tubuhmu bukan menolak, itu reaksi alami tubuh manusia untuk melindungi diri saat mendeteksi dua kekuatan besar menyatu. Itulah kenapa kau harus menyatukan Tubuh, pikiran dan Jiwa menjadi satu agar tidak ada lagi penolakan," balas Sekar Pitaloka.


Lakeswara yang melihat latihan Sabrang dari jauh tampak gelisah, walau hanya sesaat dia merasakan dua kekuatan tadi menyatu dan menciptakan kecepatan yang sangat mengerikan.


"Wardhana sialan, dia memaksaku menerima tawaran kerjasama dan melatih anak ini dengan alasan munculnya pendekar terkuat sungai kuning yang akan menghancurkan Nuswantoro, tapi sekarang justru aku yang sedang menciptakan musuh terkuatku," umpat Lakeswara kesal.


Dia kembali teringat saat Wardhana tiba tiba muncul bersama Setra di dimensi ruang dan waktu milik Sabrang, tempatnya terkurung selama ini.


Lakeswara yang saat itu sedang berlatih tampak terkejut melihat keberanian orang kepercayaan Sabrang itu muncul dihadapannya.


"Apa kau sudah bosan hidup dan ingin mengantarkan nyawa padaku? atau anak itu sudah putus asa?" ucap Lakeswara tanpa menoleh sedikitpun, dia masih terus memainkan pedang pusaka nya seolah menunjukkan pada Wardhana jika dia masih yang terkuat.


"Anda masih sombong seperti biasanya tuan, mungkin aku harus mengingatkan kembali jika anda sudah dua kali dikalahkan oleh Yang mulia," jawab Wardhana tenang.


"Dikalahkan ya..." tubuh Lakeswara tiba tiba menghilang dari pandangan dan muncul tepat dihadapan Wardhana.


Dia berusaha mencengkram leher Wardhana dengan tangan kanannya namun gerakan Setra lebih cepat, dia langsung mengarahkan jurus tapak Penghancur hati ke perut pemimpin Masalembo itu.


Lakeswara sempat terkejut melihat kecepatan Setra sebelum menangkis tapak itu dengan tangannya. Tubuh dua pendekar itu terdorong beberapa langkah akibat efek benturan tenaga dalam.


"Mohon bersabar tuan, aku bisa bertindak lebih jauh jika anda terus memaksa," ucap Setra pelan.


"Jadi pendekar ini yang membuatmu berani menemui aku? apa kau pikir aku tidak bisa membunuh kalian?" ucap Lakeswara yang bersiap dengan serangan berikutnya.

__ADS_1


"Aku tak pernah ragu anda bisa membunuhku dengan sangat mudah tapi kematianku akan menjadi awal dari hancurnya Nuswantoro dan dunia yang sejak dulu ingin anda ciptakan," jawab Wardhana cepat.


"Hancurnya Nuswantoro? apa kau sedang mengancam aku?" tanya Lakeswara sinis.


"Bukan aku, tapi pendekar terkuat masa lalu yang mungkin bisa membunuh anda hanya dalam beberapa kali serangan."


Lakeswara langsung tertawa setelah mendengar ucapan Wardhana, dia tidak menyangka orang kepercayaan Sabrang itu memiliki selera humor yang tinggi.


"Ken Panca, lebih tepatnya orang yang menguasai tubuh keturunan anda itu cepat atau lambat akan membunuh kita semua," ucap Wardhana tiba tiba.


"Ken Panca? kau ingin menipuku? orang bodoh itu bahkan hampir mati di tanganku saat dia membantu kalian!" bentak Lakeswara.


"Tidak, anda salah tuan, kita semua tertipu dengan rencananya. Ken Panca bisa saja membunuh anda saat itu tapi dia tidak melakukannya karena sedang mempersiapkan tubuh Yang mulia. Anda tentu orang yang paling mengerti seberapa mengerikannya tubuh gabungan trah Dwipa dan Tumerah bukan?


"Satu satunya alasan dia tidak membunuh kita saat itu adalah menunggu Yang mulia berkembang dan anda adalah salah satu orang yang bisa memaksa tubuh Yang mulia terus berevolusi," jawab Wardhana cepat.


"Ajian Ulat Sutra Abadi membutuhkan tubuh unik untuk menahan efek mengerikan yang akan muncul saat perpindahan roh berlangsung dan saat ini tubuh tuan Sabrang sudah siap dalam segala hal," sahut Setra menambahkan.


"Ajian Ulat Sutra Abadi, kebangkitan pendekar suku Sungai kuning dan perpindahan roh...apa kau pikir aku akan percaya begitu saja pada ucapan musuhku?" jawab Lakeswara sambil tersenyum mengejek.


"Wajah anda mengatakan sebaliknya tuan, sejak awal anda sudah percaya dengan ceritaku karena aku yakin anda pernah membaca isi kitab Sabdo Loji tapi berusaha menutupinya karena ingin memancingku mengatakan semua tentang ajian Ulat Sutra Abadi. Jangan pernah berpikir untuk menguasai jurus itu karena aku tak akan membiarkan muncul Ken Panca lainnya," balas Wardhana pelan.


Wajah Lakeswara sedikit berubah, dia tidak menyangka Wardhana bisa membaca jalan pikirannya.


Seperti yang dikatakan Wardhana, sejak awal sebenarnya dia sudah percaya adanya sebuah ajian yang mampu memindahkan roh ke tubuh orang lain karena pernah mempelajarinya dalam kitab Sabdo Loji yang dulu sempat dimilikinya sebelum hilang di curi Naraya Dwipa.


"Kau terkadang jauh lebih mengerikan dari anak itu, anggap aku percaya padamu, lalu apa yang kau inginkan dariku?"


Wardhana menoleh kearah Jaya Setra sebelum menjelaskan semuanya secara rinci pada Lakeswara termasuk kemunculan suku sungai kuning di Nuswantoro yang menjadi awal semua masalah di dunia persilatan bersama kitab Sabdo Loji.


Wardhana juga menjelaskan tentang rencana besar yang dibuatnya bersama Setra untuk menghentikan Ken Panca dan memancing keluar semua sisa sisa pendekar peradaban terlarang karena menurutnya itulah satu satunya cara menghentikan semua kekacauan yang selama ini terjadi di dunia persilatan.


"Ambisi besar Li You Fei lah yang menyebabkan semua kekacauan ini terjadi dan satu satunya harapan untuk menghentikan dia saat ini hanya anda dan Yang mulia," ucap Wardhana menutup penjelasannya.


"Aku dan anak itu? apa sebenarnya yang ingin kau katakan?" tanya Lakeswara bingung.


"Aku ingin anda membimbing Yang mulia menguasai ilmu kanuragan yang ada di dalam kitab Sabdo Loji dan menyatukannya dengan jurus pedang Sabdo Palon, itu satu satunya cara mengimbangi kekuatan Ken Panca," jawab Wardhana cepat.


Wajah Lakeswara langsung memerah menahan amarah, permintaan Wardhana kali ini benar benar tidak masuk akal, bagaimana dia bisa memintanya mengajari musuh terkuat yang selama ini menghalangi rencananya.


"Kau benar benar sudah gila Wardhana... kau ingin aku menciptakan musuh terkuat untuk diriku sendiri? anggap dia berhasil membunuh Ken Panca, lalu apa yang akan terjadi padaku setelah itu? mati konyol di tangan pendekar terkuat yang aku ciptakan sendiri."


"Paling tidak kita bisa membuat kesepakatan lain daripada harus terbunuh ditangan orang itu," jawab Wardhana.


"Kesepakatan?"

__ADS_1


"Aku tak pernah menganggap siapapun sebagai musuh abadi karena bagiku hanya kepentingan lah yang abadi. Kita pernah hampir saling membunuh? iya. Tapi itu semua karena mempertahankan kepentingan masing masing dan aku tidak akan pernah ragu untuk merangkul musuhku jika kita memiliki kepentingan yang sama.


"Saat ini bukan hanya dunia persilatan yang dalam bahaya tapi seluruh Nuswantoro dan aku siap bernegosiasi apapun secara terukur demi melindungi kepentinganku termasuk jika harus berdamai dengan anda," jawab Wardhana tegas.


"Aku benar benar menyukai jalan pikiranmu, kau bisa berubah menjadi orang yang sangat kejam jika ada yang mengusik kehidupanmu. Baik, aku akan mengambil resiko dengan mengajarinya ilmu kanuragan tapi kau harus memberi imbalan yang setimpal. Aku ingin kitab Sabdo Loji itu menjadi milikku dan melepaskan aku dari tempat ini. Jika anak itu berhasil menguasai semua jurus yang ada didalam kitab itu tentu tak ada yang perlu kau takutkan karena aku bukan lagi lawannya bukan?" balas Lakeswara cepat.


Wardhana terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan, walau dia tau ada yang sedang direncanakan Lakeswara tapi setidaknya saat ini yang terpenting adalah menghentikan Ken Panca.


"Aku akan memberikan kitab itu setelah Yang mulia mempelajari semua isinya, Apa kita bersepakat?" balas Wardhana pelan.


"Tuan, kitab itu... aku bukan ingin menghalangi rencana anda tapi..."


"Anda tenang saja tuan, seperti yang kukatakan tadi hanya kepentingan yang abadi. Jika suatu saat dia mengusikku lagi maka akan aku hancurkan seperti Ken Panca," ucap Wardhana sebelum melangkah pergi.


"Seseorang akan menjemput anda jika semua sudah siap, kuharap anda memegang kesepakatan kita ini."


"Ulat Sutra Abadi ya... jurus yang sangat menarik," Lakeswara terlihat tersenyum sambil melangkah mendekati Sabrang dan Sekar Pitaloka.


"Menyatukan tubuh, pikiran dan jiwa tidak bisa dilakukan secara bersamaan, kau harus lebih dulu memastikan tubuh dan pikiranmu selaras dan itu hanya bisa dilakukan dengan cara bermeditasi. Kosongkan pikiran dan biarkan tubuhmu merasakan energi alam yang perlahan masuk dan membentuk titik putih dalam pikiranmu. Pada tahap ini pernapasan adalah kunci utama untuk membuat pikiranmu tenang," ucap Lakeswara pelan.


Sabrang dan Sekar Pitaloka langsung menoleh kearah Lakeswara.


"Dan kau baru mengatakannya sekarang?" balas Sekar Pitaloka kesal.


"Aku perlu waktu untuk berpikir karena bagaimanapun kita adalah musuh. Apa kau akan memberikan sesuatu yang paling berharga padaku begitu saja?" ucap Lakeswara sebelum menyentuh lengan Sabrang.


"Pinjamkan aku sedikit kekuatan Iblis api, akan ku tunjukkan bagaimana menyatukan dua kekuatan yang saling berlawanan."


***


Pertemuan para pemimpin sekte aliansi di aula utama keraton baru berjalan beberapa menit ketika mereka tiba tiba merasakan kekuatan besar menekan.


Pertemuan ini sebenarnya bagian dari rencana Wardhana untuk memancing keluar para pendekar Lembayung Merah dan menjadikan keraton sebagai area pertarungan. Dia ingin membersihkan pasukan Angin selatan dari mata mata Ken Panca.


Rubah Putih dan tetua lainnya sadar bahwa lawan yang mereka hadapi bukan pendekar sembarangan karena berhubungan dengan peradaban terlarang namun tetap saja mereka tidak menyangka jika musuh memiliki kekuatan sebesar ini.


"Mereka datang... perintahkan Ciha untuk memasang segel dan mempersiapkan semuanya, aku akan melihat siapa pemilik aura ini," ucap Rubah Putih pada salah satu prajurit penjaga sebelum bergerak keluar bersama para tetua sekte.


Ratusan pendekar Lembayung Merah tampak berdiri di atas atap bangunan bangunan keraton, aura yang meluap dari tubuh mereka benar benar membuat suasana keraton mencekam seketika.


Namun yang paling menarik perhatian Rubah Putih adalah seorang pendekar yang melayang di udara. Aura yang meluap dari tubuh pendekar itu tampak berbeda dari yang lainnya, dia terlihat berpikir sejenak sebelum mengenali aura itu.


"Mandala... jadi yang menyelamatkannya adalah Ken Panca," ucap Rubah Putih pelan.


"Dengarkan aku, tugas kalian adalah membunuh mereka semua dan mencari dimana lempengan batu kecil berbentuk bintang dan berwarna merah itu berada. Lempengan itu akan membuka gerbang menuju harta terbesar Latimojong dan membangkitkan kembali peradaban suci kita," ucap Mandala pelan sebelum bergerak kearah Rubah Putih dan para tetua sekte.

__ADS_1


"Matanya berbeda... apa telah terjadi sesuatu pada Mandala?" ucap Rubah Putih sebelum menyambut serangan itu.


__ADS_2