
"Letak gerbang terakhir tidak berada di dalam gua, aku menyadarinya saat melihat beberapa gambar di dinding gua pelangi", ucap Ciha pelan.
Wardhana tampak serius menyimak semua penjelasan Ciha.
"Lalu dimana letak gerbang itu?", tanya Wardhana.
"Air terjun yang berada disisi kiri gua pelangi. Aku sudah memeriksanya beberapa kali untuk memastikannya dan aku menemukan lubang kecil disalah satu dinding tebing. Sepertinya lubang itu untuk meletakkan kunci gerbang terakhir".
"Kunci gerbang terakhir? dari mana kita mendapatkan kunci itu?", tanya Wardhana.
Ciha menggeleng pelan sambil terus memperhatikan gulungannya.
"Aku tidak tau tuan namun sepertinya lubang itu hanya seukuran gantungan kalung yang dikenakan Sabrang", jawab Ciha.
"Kalung?", Wardhana tampak berfikir sejenak, dia mencoba merangkai semua petunjuk yang selama ini dia dapatkan.
Semua kepingan petunjuk yang dia dapatkan tampak mulai menyatu menjadi satu walau masih ada beberapa hal yang dia belum mengerti.
"Hanya keturunanku yang bisa membuka gerbang terakhir", gumam Wardhana.
"Kalung yang dikenakan Yang mulia adalah kunci membuka gerbang terakhir, itulah kenapa Naraya menyebut hanya keturunannya yang bisa membuka gerbang itu", ucap Wardhana tiba tiba.
Ciha tampak terkejut mendengar jawaban Wardhana, dia benar benar takjub pada rencana Naraya yang sangat matang. Kalung yang selama ini hanya dianggap peninggalan biasa leluhurnya ternyata adalah kunci utama membuka semua rahasia Masalembo.
"Kita semakin dekat pada apa yang kita cari", ucap Ciha pelan.
Wardhana menganggukkan kepalanya, "Aku merasa bahaya besar akan dimulai saat ini. Apa yang disimpan Naraya di gerbang itu sepertinya sesuatu yang sangat penting dan aku yakin Masalembo akan melakukan apapun untuk mendapatkannya kembali.
Gerbang itu adalah kunci rahasia Masalembo, aku ingin tempat itu benar benar steril saat dibuka, hanya beberapa orang saja yang boleh masuk. Aku tidak ingin ada penyusup yang merebut apa yang disembunyikan Naraya."
Ciha mengangguk pelan "Aku akan bicara pada tetua Krisna mengenai masalah ini, semoga dia mengerti," jawab Ciha.
Wardhana kemudian memejamkan matanya, dia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa ada sesuatu yang salah tuan?", tanya Ciha pelan.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan gerbang utama Masalembo", Wardhana menunjukkan gulungan yang berada di mejanya.
"Ini adalah lokasi yang kita yakini sebagai letak Telaga khayangan api dan ini adalah lokasi tersembunyi daratan Masalembo. Jika ditempuh dengan berjalan kaki dari titik utama Tidar menuju Masalembo maka akan membutuhkan waktu dua hari dan kau tau apa yang membuatku bingung?. Tuan Wijaya mengaku pernah diajak masuk Masalembo, sebuah tempat yang dia gambarkan sebagai peradaban paling maju yang pernah dilihatnya.
Walau kedua matanya ditutup saat melewati gerbang utama Masalembo namun dia yakin letak gerbang itu berada di gunung Tidar".
Ciha tersentak kaget setelah mendengar penjelasan Wardhana.
"Bagaimana mungkin?", balas Ciha.
"Itu yang membuatku bingung, aku sempat berfikir jika Masalembo membangun jalan bawah tanah menuju Masalembo namun semua pendapatku kembali dipatahkan oleh tuan Wijaya.
Walaupun mereka melewati jalan bawah tanah tak akan memangkas waktu perjalanan terlalu banyak namun tuan Wijaya mengatakan matanya hanya ditutup beberapa menit saja. Hal yang tidak masuk akal menempuh jarak sejauh ini dalam beberapa menit".
"Lalu apa rencana anda saat ini?".
"Sepertinya kita memang harus masuk Telaga khayangan api untuk mendapatkan jawabannya. Yang mulia memerintahkan ku untuk segera bergerak menuju Telaga khayangan api setelah membuka gerbang itu.
__ADS_1
Aku sudah membagi tim menjadi dua, Lingga akan memimpin tim pertama dan saat ini sudah berlayar menuju Jawata untuk mengamati situasi di gunung Tidar. Malam ini kita akan membuka gerbang itu dan besok pagi kita akan menyusul mereka. Persiapkan semua keperluan keberangkatan kita, aku akan menghadap Yang mulia untuk membicarakan hal ini".
"Baik tuan, aku mohon diri", jawab Ciha.
Ciha melangkah keluar ruangan dengan wajah lesu, ada pertanyaan besar dalam dirinya selama beberapa hari ini.
Ciha sudah melihat semua mayat yang dinakamkan di dekat danau warna warni namun tak ada satupun yang dia kenali sebagai anggota Bintang langit.
"Bisa kita bicara tuan?", suara Tungga dewi mengagetkan Ciha.
"Ah ketua Hibata yang saat ini menjadi perbincangan di dunia persilatan", jawab Ciha basa basi.
"Aku ingin meminta maaf pada anda, saat ini sekte Bintang langit telah ku hancurkan karena terlibat dengan Masalembo. Ku harap anda tidak meninggalkan Yang mulia setelah mengetahui masalah ini. Jika anda ingin membalas dendam maka akulah yang bertanggung jawab", ucap Tungga dewi pelan.
Ciha tersenyum kecil setelah mendengar pengakuan Tungga dewi, wajahnya kini jauh lebih baik dari biasanya.
"Aku sempat khawatir saat tak melihat satu orangpun anggota bintang langit yang tewas dalam pertempuran kemarin. Aku takut mereka saat ini membuat kekacauan di tanah Jawata. Kini aku bisa lega setelah mendengar ucapanmu.
Aku adalah orang yang paling terpukul atas pengkhianatan Bintang langit pada tuan Panca karena dia telah banyak membantu kami. Aku akan membangun kembali Bintang langit walau membutuhkan waktu lama dan kali ini akan ku pastikan Bintang langit berada dibarisan Sabrang".
"Terima kasih tuan, Hibata akan membantu anda sekuat tenaga," ucap Tungga dewi lega.
***
Penjagaan di gua pelangi malam itu sangat ketat dan tak seperti biasanya. Puluhan pendekar yang dipimpin Arung nampak berjaga disekitar area gua pelangi.
Tak boleh ada yang mendekat termasuk murid sekte Api dan angin sekalipun, hanya Candrakurama yang tampak ikut berjaga berama Arung.
Wardhana lebih dulu datang bersama Ciha untuk memeriksa gerbang terakhir sambil menunggu kedatangan Sabrang.
"Mereka tampak serasi baik sebagai sepasang pendekar maupun sebagai Raja dan Ratu namun sepertinya dia memiliki kisah cinta yang rumit dengan beberapa wanita", ucap Candrakurama sambil terkekeh.
"Dia memang calon Ratu Malwageni", jawab Arung pelan.
"Jadi dia adalah Ratu Malwageni? lalu bagaimana dengan gadis satunya yang selalu bersamanya?". tanya Candrakurama terkejut.
Arung menggeleng pelan "Kenapa tidak kau tanya langsung padanya," ejek Arung.
"Malwageni akan mencapai masa keemasannya dibawah kendali mereka berdua", gumam Candrakurama dalam hati.
***
Wardhana yang sedang mengamati lubang kecil didinding gua langsung berlutut saat melihat Sabrang mendekat.
"Hormat hamba pada Yang mulia".
Sabrang mengangguk pelan sambil melepaskan kalung pemberian Tungga dewi dan menyerahkan pada Wardhana.
"Jadi ini letak gerbang terakhir?" tanya Sabrang pelan.
"Benar Yang mulia, hamba mohon izin untuk membukanya", jawab Wardhana.
"Bukalah paman".
__ADS_1
Wardhana menundukkan kepalanya sebelum melangkah mendekati dinding gua.
"Kita lihat apa yang anda sembunyikan didalam gerbang terakhir ini tuan Naraya", gumam Wardhana sambil menempelkan gantungan kalung itu didalam lubang kecil.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu ketika dinding tebing perlahan terbelah menjadi dua.
Mereka semua mematung menatap dinding tebing yang terbelah sampai tak bergerak lagi.
"Sebaiknya kita mas...", belum selesai Ciha berbicara tiba tiba puluhan pedang melesat dari dalam gua dengan kecepatan tinggi.
Tungga dewi langsung bereaksi melindungi Sabrang, dia menggunakan energi ruang dan waktunya untuk memindahkan puluhan pedang itu namun betapa terkejutnya Tungga dewi ketika pedang itu terus melesat melewati ruang dan waktunya.
"Gawat", Tungga dewi mencoba mencabut pedangnya untuk menangkis serangan itu namun tiba tiba Sabrang menarik tubuhnya dalam pelukannya.
Sabrang menciptakan tameng api untuk melindungi mereka semua sebelum memasukannya dalam ruang dan waktunya.
Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Sabrang untuk memasukkan semua pedang itu dalam ruang dan waktunya.
"Pedang itu mengandung energi aneh", ucap Sabrang setelah berhasil menghilangkan semua pedang itu.
"Ada orang didalam?," tanya Ciha pelan.
Wardhana menggeleng pelan "Tidak, pedang itu adalah perangkap. Kecepatan pedang itu sama satu dengan yang lainnya, jika menggunakan tenaga manusia akan ada beberapa yang kecepatannya lemah karena tak mudah melempar puluhan pedang.
Jebakan ini sepertinya disiapkan jika Masalembo berhasil membuka gerbang ini", ucap Wardhana.
"Kita masuk paman", ucap Sabrang berjalan masuk diikuti Tungga dewi dibelakangnya.
***
Seorang pria berbadan tegap tampak berdiri di atas sebuah bangunan yang sangat tinggi sambil menatap langit.
Puluhan bangunan megah yang hampir sama tingginya tampak mengelilingi bangunan utama itu. Sebuah gunung tinggi terlihat disisi kiri dengan ukiran besar bertuliskan MASALEMBO.
Pra itu terlihat menghitung sesuatu ditangannya sebelum bergumam pelan.
"Sebentar lagi Yang mulia, tinggal seribu tahun lagi anda semua akan bangkit jadi mohon bersabar sedikit lagi".
Seorang pendekar tiba tiba muncul dibelakang pria itu sambil menundukkan kepalanya.
"Hama menghadap komandan Dewa Penjaga", ucap pendekar itu pelan.
"Apa sudah ada kabar dari Umbara dan Gendis?", tanya pria itu.
"Maaf komandan sampai saat ini mereka belum memberi kabar namun hamba sudah mengutus beberapa pendekar Kilat Masalembo untuk mencari tau apa yang sedang terjadi. Mohon bersabar sebentar lagi Komandan".
"Kebangkitan Yang mulia sudah memasuki tahap akhir dan kita membutuhkan apa yang dicuri Naraya untuk memulai proses selanjutnya. Pastikan Umbara mendapatkannya karena tak ada kata gagal dalam sejarah Masalembo".
"Baik komandan, hamba akan langsung mengabari anda setelah mendapat kabar dari mereka".
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa Follow IG Author ya...
__ADS_1
@rickyferdianwicaksono