
Mentari tersungkur ke tanah terkena Jurus Tapak beracun milik Sekte kelelawar hijau. Darah mengalir dari hidungnya, wajahnya pucat pasi.
"Tuan....." Perlahan kesadaran Mentari menghilang dan tak sadarkan diri.
"Nona Mentari" Wira mencoba bangkit namun tubuhnya benar benar tidak mau digerakkan.
"Bawa mereka pergi" Batara memerintahkan anak buahnya membuang tubuh Mentari dan Wira.
"Baik tuan" beberapa orang mengangkat tubuh Mentari dan Wira.
Saat mereka melangkah pergi tiba tiba sesosok tubuh menyerang mereka membuat mereka terpental mundur, tubuh Mentari ikut terpental.
Sabrang menoleh ke arah Wira yang ikut terpental tak jauh dari darinya. Wajahnya berubah menakutkan dan aura ditubuhnya perlahan keluar.
"Di mana Mentari?" Sabrang menatap tajam Wira.
"Maaf tuan nona Mentari......". Wira menunjuk tubuh yang tergeletak agak jauh darinya. Sabrang bergerak cepat ke arah Mentari dan memeriksanya.
"Nona bangunlah nona" Sabrang mengalirkan tenaga dalamnya untuk menekan penyebaran racun dalam tubuh Mentari.
Tak lama Sulis dan Bahadur tiba, dia menatap Sabrang kemudian menoleh ke arah Batara.
"Kau melakukan kesalahan besar Batara" Bahadur menatap tajam Batara yang tersenyum sinis padanya.
"Ya aku melakukan kesalahan besar dengan tidak membunuhmu beberapa waktu lalu guru, namun kali ini aku tak akan melakukannya lagi ku pastikan hari ini kau mati di tanganku".
Batara menyerang cepat Bahadur, Sulis bergerak cepat dengan menahan serangan Batara.
"Kau kira bisa melawanku dengan kekuatanmu". Serangan cepat Batara menghantam Sulis dan membuatnya terpental mundur.
Batara dengan cepat mencengkram leher Bahadur.
"Kau tidak tau betapa mengerikannya anak itu" Bahadur berbicara dengan terbata bata.
"Aku akan membereskannya setelah membunuhmu" Batara terlihat merapal sebuah jurus.
"KU BUNUH KAU".
Aura yang sangat besar menekan Batara membuatnya melepaskan cengkeramannya.
"Aura apa ini?" Batara menoleh ke arah Sabrang yang telah berdiri dengan pedang mengarah padanya. "Bagaimana anak ini memiliki kekuatan sebesar ini?".
Kobaran api merah mulai menyelimuti tubuh Sabrang membentuk sesosok raksasa. Matanya perlahan berubah warna menjadi merah darah.
"KU BUNUH KAU".
"Gawat amarahnya membangunkan Naga api" Wajah Bahadur pucat pasih memandang kobaran api merah dihadapannya.
"Tuan Sulis jauhkan nona itu dari kobaran api, Naga api tidak akan membakar tubuh anak muda itu karena dia tuannya namun tidak dengan tubuh nona itu dia bisa hangus terbakar jika dibiarkan".
"Baik tuan" Sulis melesat cepat ke arah Mentari namun tiba tiba Sabrang menyerangnya. Sulis mundur dengan cepat menghindari serangan Sabrang.
"Tuan ini aku" Sulis berteriak kencang setelah berhasil menghindar.
__ADS_1
"KU BUNUH KAU".
"ini benar benar gawat, Naga api telah menguasai tubuh anak itu sepenuhnya"
"Menarik" Batara tersenyum kecil dan siap menyerang Sabrang.
"Hentikan Batara, dia bukan lawanmu" Bahadur berteriak ke arah Batara.
"Kau lupa jika aku telah menjadi kuat berkali kali lipat" Batara tersenyum sinis sebelum tubuhnya melesat cepat ke arah Sabrang.
"Kau tidak tau seberapa besar kekuatan Naga api" Bahadur menggeleng pelan.
"Pedang penghancur Iblis" Serangan cepat Batara mengarah ke tubuh Sabrang namun tiba tiba Sabrang menghilang dari pandangannya.
"Bagaimana mungkin dia lebih cepat dariku".
Beberapa saat kemudian tubuh Sabrang telah muncul dibelakang Batara dan menyerang dengan pedangnya.
Batara terpental mundur beberapa meter, darah mengalir dari hidungnya.
"Siapa dia sebenarnya" Wajah Batara berubah ketika Sabrang kembali menghilang dan muncul tepat dihadapannya.
Serangannya kembali mengenai tubuh Batara membuatnya muntah darah. dia mencoba mundur dan menjaga jarak dengan Sabrang namun lagi lagi kecepatan Sabrang jauh diatasnya.
Hantaman pukulan Sabrang membuat Batara kembali terpental dan ambruk di tanah.
"Bagaimana mungkin jurus ku tidak dapat melukainya? Bahkan dia hanya mengayunkan pedangnya tanpa menggunakan jurus apapun".
Batara mengatur nafasnya, kali ini dia merasa benar benar telah membuat kesalahan yang besar dengan membangunkan Naga api.
"Kini dia akan membunuh siapapun yang dilihatnya" Bahadur menggeleng pelan.
Sulis bergerak menyelamatkan Mentari yang kini tidak dalam jangkauan Sabrang.
"Tetua dia sepetinya terkena racun sektemu" Sulis meletakan tubuh Mentari didekat Bahadur.
Bahadur dengan cepat memeriksa Mentari dan menotok beberapa bagian tubuh Mentari.
"Racunnya sudah menyebar, aku hanya bisa menghambatnya sedikit" Bahadur mengeluarkan pil dari sakunya dan meminumkannya pada Mentari.
***
"Nak anda tidak harus melakukan ini" Kakek tua muncul dipikiran Sabrang, tangannya mencoba meraih tangan Sabrang.
Namun kali ini Sabrang menghempaskan tangan kakek itu. "Aku harus membunuh mereka, mereka telah merenggut sesuatu yang paling berharga bagiku".
"Nak kemarilah" Kakek itu berusaha meraih tangan Sabrang namun tiba tiba sebuah cengkraman menahan tangan kakek itu.
"Pergilah kau tua bangka!! jangan ikut campur" Kakek itu terpental mundur. sesaat kemudian tubuh Sabrang menghilang ditelan kobaran api.
"Pangeran" Kakek itu menggeleng pelan
***
__ADS_1
"Iblis haus darah kini telah lepas di dunia persilatan, kita benar benar tidak bisa berbuat apa apa sekarang" Bahadur menggeleng pelan.
"Lindungi tuan Batara" Puluhan pendekar muncul dan mengepung Sabrang.
"Hei menjauhlah!!" Bahadur berteriak ke arah para pendekar itu.
Tiba tiba puluhan api berbentuk pedang menyerang puluhan pendekar Kelelawar hijau dengan cepat, seketika tubuh puluhan pendekar itu hangus menjadi abu.
Bahadur kembali menggelengkan kepalanya "Kalian bukan lawannya kini".
Saat pedang Sabrang hampir mengenai Batara tiba tiba sesosok tubuh menyelamatkannya dan membawa menjauh dari Sabrang.
"Bagaimana bisa Naga api bangkit ditempat ini" Pria tersebut terlihat menyelimuti tubuhnya dengan tenaga dalam.
"Guru" Batara berusaha bangkit namun pria itu menahannya.
"Kita bukan lawannya kini, kau hanya akan mengantarkan nyawamu".
Bahadur mengernyitkan dahinya memandang pria tersebut "Siapa dia?".
"Mundur" Pria itu berteriak pada Batara sesaat sebelum Sabrang muncul dihadapannya.
"Tenaga dalam pelindung Matahari" Pria tersebut membuat perisai tenaga dalam beberapa saat sebelum serangan Sabrang mengenainya.
Dia terpental mundur dan menghantam dinding padepokan.
"Bahkan pelindung matahari tak mampu menahan serangannya". Pria tersebut menggeleng pelan.
"Guru baik baik saja" Batara menghampiri Pria itu.
"Aku tidak apa apa untuk saat ini, kita harus pergi sekarang atau kita akan terbunuh disini".
"KU BUNUH KAU".
"Tapi guru bagaimana dengan Sekte Kelelawar hijau?" Batara bertanya pelan.
"Apakah kau masih berambisi menguasai sekte yang sebentar lagi akan menjadi abu?" Pria tersebut memegang lengan Batara dan menghilang beberapa saat sebelum serangan Sabrang mengenainya.
Sabrang kemudian menoleh ke arah Bahadur dan lainnya.
"KU BUNUH KAU".
"Gawat dia telah kehilangan kesadarannya seperti Suliwa enam belas tahun lalu, ah tidak kali ini kekuatannya jauh lebih kuat karena tubuh anak itu mampu menahan kekuatan Naga Api". Bahadur menggendong tubuh Mentari dan melesat menjauh.
"Mundur" Dia berkata pada Sulis yang masih mematung menatap kengerian dihadapannya.
Namun tiba tiba tubuh Sabrang telah muncul tepat dihadapan Bahadur yang menggendong Mentari.
***Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏
Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul
"Tentang kita (Komedi Romantis)"
__ADS_1
Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***