Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertempuran di Gerbang Wentira


__ADS_3

Wardhana terlihat mengernyitkan dahinya ketika membaca gulungan yang diberikan Ciha padanya. Dia membaca setiap kata yang ditulis Ciha berulang kali.


"(Dinding yang aneh, aku mengiranya seperti itu namun merubah sudut pandang mengungkap tabir peradaban kuno. Angin senja dan air akan membantu menemukan jalan turun dan batu bergeser. Jika keturunanku kelak beruntung kuharap dia bisa menepati janjiku pada orang orang dikota tersembunyi untuk melindunginya. Mungkin aku akan mati oleh mahluk bermata biru, kutinggalkan pusaka api untuknya)".


"Dinding yang aneh? Angin senja dan air?". Wardhana tampak mengamati dinding jurang cukup lama namun dia menggeleng pelan.


"Semua dinding jurang ini tampak sama, apa aku salah memilih tempatnya". Wardhana terus berpindah tempat untuk mengamati tebing itu namun belum juga menemukan dinding aneh seperti yang tertulis digulungan itu.


"Apa kau menemukan sesuatu selain tulisan ini?". Tanya Lingga pelan.


Ciha menggeleng pelan, "Hanya ini yang aku temukan di sekte Naga langit namun sepertinya tuan Panca membuat pusaka Naga api dari besi terbaik yang berasal dari kota Wentira. Itu artinya kota itu memang benar benar ada".


"Jika kota Wentira benar benar ada berarti telaga khayangan api juga ada. Dunia persilatan tak akan pernah damai jika tempat itu memang ada". Lingga menarik nafas panjang. Dia berfikir semua kekacauan yang diakibatkan oleh Sekte lembah siluman maupun Iblis petarung semua bersumber dari satu tempat, Telaga Khayangan Api.


Wardhana kembali dengan wajah kusut, dia masih belum menemukan dinding aneh yang disebutkan dalam pesan Ken Panca.


"Bagaimana tuan?". Tanya Ciha pelan.


Wardhana menggeleng pelan "Misteri kali ini benar benar membuatku bingung, kemungkinan ilmu pengetahuan yang mereka gunakan untuk membangun Wentira jauh lebih maju dari Dieng dan ruang rahasia tapak es utara. Aku semakin yakin jika yang ada didalam Wentira adalah sisa sisa penduduk Kumari Kandam".


Wardhana duduk bersila dan memejamkan matanya, dia merasa harus menganalisa situasi dari awal. Jika yang akan mereka hadapi adalah sisa peradaban Kumari kandam atau telaga khayangan api jelas bukan perkara mudah menemukannya.


Sudah beberapa jam Wardhana duduk mematung dan tak ada yang berani mengganggunya karena semua yakin hanya Wardhana yang mampu memecahkan misteri Wentera.


Ketika matahari mulai tenggelam, angin bertiup dari sisi selatan jurang menerpa tubuh Wardhana yang masih mematung, membuatnya membuka matanya.


"Angin senja?". Wardhana menyadari sesuatu. Dia berdiri dan berlari kearah selatan, matanya kembali memandang bibir jurang dari arah selatan dan menemukan sebuah batu yang sedikit menonjol yang hanya terlihat dari sisi selatan jurang.


"Aku menemukannya". Wardhana berlari kearah batu kecil yang menonjol dan menekannya sekuat tenaga. Lingga dan yang lainnya ikut mendekat dengan rasa was was karena sebentar lagi mereka akan melihat sebuah kota yang seluruhnya terbuat dari emas yang selama ini hanya dianggap cerita dongeng bahkan oleh penduduk Celebes.


Dinding jurang bergetar sesaat sebelum batu kecil bergeser dan mengeluarkan lilitan tali yang membentuk anak tangga dan menjuntai kedasar jurang.


Wardhana menelan ludahnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sekali lihat aja dia sudah menyadari jika tempat ini dibangun dengan peradaban yang sangat maju.


Semua menahan nafas dan saling memandang satu sama lain seolah menunggu perintah untuk menuruni tangga itu.


"Ayo kita turun". Suara Wardhana sedikit bergetar, untuk beberapa waktu dia menarik narik tali itu untuk memastikan tidak rapuh.


"Jadi jembatan putus ini yang kadang dilihat orang namun tiba tiba kembali menghilang". Gumamnya dalam hati.


Wardhana menginjakan kakinya didasar jurang, air menggenangi sebatas mata kaki.

__ADS_1


"Turunlah, tanga ini aman dituruni". Teriak Wardhana dari dasar jurang.


"Batu bergeser". Wardhana mulai meraba dinding tebing karena suasana mulai gelap, obor yang sudah dipersiapkan masih dibawa Lingga yang mulai menuruni tebing.


Lolongan serigala hutan dan kicauan burung hutan seolah memperingatkan mereka untuk tidak membuka sesuatu yang seharusnya tidak boleh dibuka. Bulu kuduk Wardhana berdiri mendengar lolongan serigala yang saling bersautan.


Jantung Wardhana hampir berhenti ketika tangannya berhasil meraih sebuah batu yang tersusun secara tidak alami.


"Yang mulia, aku menepati janji hamba untuk membawa anda masuk kekota emas Wentira".


Sebuah batu bergeser membentuk gerbang yang cukup besar ketika Wardhana menggeser susunan batu sesuai dengan petunjuk Ken panca.


Wardhana menyipitkan matanya karena sinar terang keluar dari dalam gerbang itu.


"Matahari?". Dia bergumam dalam hati.


"Ayo kita liat seperti apa sisa sisa peradaban Kumari Kandam". Ajak Wardhana setelah semuanya turun dari atas tebing.


Langkah mereka terhenti ketika melihat puluhan bangunan menjulang dihadapan mereka. Bangunan bangunan menjulang tinggi yang terbuat emas seolah membuat mereka masuk kedimensi lain, kedunia lain.


Bangunan bangunan tinggi itu tersusun rapi dan begitu simetris satu sama lain, Wardhana yakin jika bangunan itu dibuat dengan ilmu pengetahuan yang sangat maju.


Pandangan Wardana berhenti pada beberapa siringan atau got yang mengelilingi kota itu.


"Mereka memiliki sistem pembuangan air yang sangat mengagumkan. Sepertinya semua sudah diperhitungkan secara matang sebelum kota ini dibangun". Gumam Wardhana dalam hati.


Dari semua yang menatap takjub kota emas itu hanya Lingga yang terlihat gelisah. Kegelisahannya bukan tanpa alasan, insting pendekar yang sudah terasah puluhan tahun membuatnya bisa merasakan bahaya.


"Sebaiknya kita berhati hati". Lingga memperingatkan Wardhana dan yang lainnya.


Namun belum selesai Lingga berbicara sebuah serangan pedang tepat mengenai tubuh Malewa yang berdiri paling depan. Pendang pendekar itu menusuk tubuhnya hingga tembus kepunggungnya.


"Guru". Arung berteriak kencang dan melesat menyerang pendekar misterius itu.


Dua pendekar lainnya muncul tiba tiba saat Arung bergerak menyerang. Lingga dan Wardhana tidak tinggal diam, mereka bergerak membantu Arung namun sebuah aura besar menekan mereka sesaat sebelum tubuh mereka ikut diserang pendekar lainnya yang muncul dari berbagai arah.


Mereka bertiga terpental mundur dengan luka ditubuh mereka.


"Sial, kecepatannya sangat mengerikan". Umpat Lingga dalam hati sambil mengatur nafasnya.


"Dasar manusia hina, berani sekali kalian menginjakan kaki ditempat suci ini?". Dananjaya terlihat melayang diudara dan membentak Wardhana.

__ADS_1


"Manusia hina? kau pikir sisa sisa peradaban kumari kandam yang bersembunyi seperti tikus ditempat ini tidak lebih hina dariku?". Wardhana tersenyum sinis.


"Kau bagaimana....". Dananjaya tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar ucapan Wardhana.


"Bagaimana aku bisa mengetahui masa lalu kalian? Mudah saja, dari sekian banyak petunjuk yang kudapatkan dan melihat bangunan yang sangat rumit seperti ini tidak akan bisa hanya mengandalakan kitab paraton karena kitab itu hanya berisi kepingan kepingan kecil pengetahuan Kumari kandam. Jadi jika perkiraanku tidak salah hanya penduduk asli kumari kandam lah yang bisa membangun semua ini". Wardhana menarik pedangnya dan bersiap dengan kuda kudanya.


"Tak kusangka ada manusia hina sepintar dirimu". Dananjaya tersenyum mengejek.


"Kalian mungkin sangat bangga dengan ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan warisan leluhur namun kupastikan kali ini kalian akan merasakan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bisa didapatkan dari gulungan leluhur, pengalaman dan keinginan untuk terus belajar akan mengalahkan apa yang kalian banggakan selama ini". Ucap Wardhana yakin.


"Apa kau membual? kuakui kau memang pintar namun ingin mengalahkanku, kau terlalu percaya diri". Dananjaya melepaskan aura yang semakin besar untuk menekan Wardhana dan yang lainnya.


Wardhana tersenyum sinis sebelum memberi tanda untuk membentuk formasi tempur.


"Mulutmu akan terkunci, seluruh sendimu akan kaku ketika dia mulai bergerak. Kesalahan terbesarmu saat ini adalah membuatnya marah, ketika apinya mulai membesar tak akan ada yang bisa memadamkannya kecuali dirinya sendiri". Ancam Wardhana.


"Dia? mau ingin mengancamku?".


Wardhana belum sempat menjawab ketika suhu udara disekitarnya mulai naik dengan cepat.


"Dia datang". Wardhana berlutut ketika sepasang pendekar tiba tiba muncul didekatnya dan melepaskan aura yang sangat besar.


"Hormat pada Yang mulia". Wardhana menundukan kepalanya.


Sabrang menggeleng pelan ketika melihat Malewa tewas dihadapannya. Emmy yang ada disebelahnya hanya bisa menjerit sejadi jadinya karena Sabrang menahannya untuk mendekati mayat Malewa.


"Energi Banaspati? bagaimana pemuda ini memiliki energi milik iblis api?". Dananjaya mulai waspada dan memerintahkan 9 pendekar penjaga terkuat untuk membentuk formasi.


"Jadi mereka yang membunuh paman Malewa?". Tanya Sabrang dingin.


Wardhana mengangguk pelan sambil menundukan kepalanya, dia tak berani menatap Rajanya yang sedang diselimuti amarah.


"Baiklah, jika mereka tidak mengizinkan masuk maka aku akan menghancurkannya".


Sabrang menghilang dari pandangan bersamaan dengan munculnya puluhan energi keris diudara.


Wardhana dan yang lainnya juga bergerak membantu Sabrang.


Pertempuran digerbang kota paling misterius di tanah Nuswantoro itu tak dapat dihindari lagi.


Pedang Naga api yang sebenarnya diciptakan ken Panca untuk melindungi Wentira kini berbalik menyerang mereka.

__ADS_1


__ADS_2