Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Misi Menyelamatkan Wardhana II


__ADS_3

"Hamba bersama tuan Guntur utusan dari Wanajaya mohon menghadap" Kurawa berlutut dihadapan Sabrang.


Sabrang mengangguk pelan kemudian mempersilahkan mereka duduk. Terlihat mentari duduk disebelah Sabrang.


"Hamba komandan Pasukan Kadipaten Wanajaya membawa pesan untuk tuan Pangeran" Guntur menundukan kepalanya memberi hormat.


"Ah selamat datang paman Guntur maaf jika tempatnya sedikit kecil" Sabrang tersenyum menatap Guntur.


"Apakah Paman Gardika mengabulkan permohonanku?".


Guntur mengangguk " Tuan Adipati mempersilahkan Pangeran untuk ikut rombongan Wanajaya jika ingin masuk ke kadipaten Ligung namun dengan beberapa syarat yang harus anda penuhi".


"Apa yang paman Gardika minta dariku?" Sabrang bertanya penasaran.


"Kami akan memberikan seragam prajurit Wanajaya untuk menghindari kecurigaan mereka namun hanya untuk tiga orang tuan, yang kedua misi apapun yang akan dilakukan tuan disana kami harap tidak membawa atribut Wanajaya. kami hanya membantu tuan untuk melewati pos pemeriksaan, ku harap tuan pangeran mengerti situasi kami".


Sabrang tersenyum sambil mengangguk mendengar perkataan Guntur.


"Itu sudah cukup bagiku paman,aku sangat berterima kasih atas bantuan Wanajaya".


"Boleh aku bertanya sesuatu tuan?" Guntur memberanikan diri bertanya.


" Katakan paman apa yang kau ingin ketahui?".


"Apakah benar jika Tuan Wardhana ditangkap okeh Adipati Singgih?".


"Aku belum tau kebenarannya namun kemungkinan sekecil apapun akan ku kejar untuk menyelamatkan Paman Wardhana".


"Apakah mungkin mereka telah membelot dan bekerja sama dengan Majasari tuan?".


"Aku belum tau pasti paman namun yang bisa kupastikan Saung Galah tidak akan melakukan hal kotor ini terhadap kami". Aura tenaga dalam Sabrang perlahan keluar dan menekan yang ada disekitarnya.


Guntur menelan ludahnya menerima tekanan tenaga dalam yang sangat besar. Sabrang memang sengaja melepaskan auranya untuk memberikan peringatan pada utusan Wanajaya untuk berfikir berkali kali jika ingin mencari masalah dengannya.


"Apakah paman Gardika akan hadir disana?".


"Tuan Adipati akan berangkat terpisah dengan rombongan. kudengar pembesar Saung galah yang akan hadir adalah Tuan Mahapatih langsung, maka Tuan adipati akan menyambut diperbatasan dan menuju ke kadipaten Ligung bersama rombongan Mahapatih".


"Hmm begitu bahkan Mahapatih Saung Galah yang hadir langsung, sepertinya ada sesuatu yang menarik di Ligung" Sabrang terlihat berfikir sejenak.

__ADS_1


"Jadi kapan kita akan berangkat paman?".


"Besok pagi pagi sekali kami akan melintas didekat sini tuan, ku harap tuan tidak terlambat karena perjalanan akan memakan waktu setengah hari".


"Baiklah paman sampaikan pada Paman Gardika rasa terima ksihku padanya".


"Baik tuan jika tidak ada yang dibicarakan lagi hamba mohon diri".


Sepeninggal Utusan Wanajaya Sabrang memanggil Kurawa untuk berbicara.


"Paman, aku ingin orang orang kita berjaga disekitar Pos penjagaan Ligung. Aku mempunyai firasat jika masalah ini tidak sesederhana yang kita kira apalagi dengan hadirnya Mahapatih Saung galah di sana".


"Baik Pangeran".


***


Lembu sora berjalan mengiringi rombongan pedagang yang menuju Kadipaten ligung bersama dua orang yang bersamanya.


Pakaian yang mereka kenakan membuat mereka terlihat sebagai pedagang.


"Apa yang kau cari di Ligung? Malwageni telah hancur Sora, akan sangat sulit melawan kerajaan sebesar Majasari. Aku adalah teman baik ayahmu dulu, dengarkan saranku lupakan Malwageni".


"Paman aku mohon padamu untuk kali ini saja"Lembu sora bersujud memohon pada Badrun.


"Kau tidak mendengarkan apa yang aku katakan Sora" Badrun tersenyum kecut.


"Malwageni adalah tanah leluhur kita paman tak akan kubiarkan siapapun seenaknya menindas semua rakyat malwageni walaupun nyawa taruhannya. Apakah paman tidak tergerak sama sekali dengan keadaan saat ini?".


Badrun menggeleng pelan "Kau tau sora aku belajar berdagang dari ayahmu, lalu apa yang tersisa dari ayahmu saat ini? tidak ada. semua dihancurkan oleh Majasari, kau masih bisa memulai dari awal sora".


"Tidak paman, Aku berjuang atas apa yang kuyakini dan kupercayai. Sejak ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan Majasari pada Malwageni aku telah memutuskan untuk menyerahkah hidupku pada Malwageni".


"Kita berjuang untuk apa yang kita yakini dengan jalan dan cara yang berbeda paman. aku tidak memaksa paman untuk ikut berjuang denganku namun paman pasti merasakan semua pedagang diperas oleh Majasari atas nama Pajak. Apakah paman ingin anak cucu paman bernasib sama dengan paman?".


Bandrun terdiam memandang Lembu sora, semua yang dikatakannya memang benar. Majasari menerapkan pajak dengan sewenang wenang saat ini.


"Aku harus bisa masuk ke wilayah Kadipaten Ligung paman, mungkin saat ini nyawa temanku sedang dalam bahaya. Untuk kali ini aku mohon bantuan paman".


"Baiklah besok ikutlah rombonganku dan berpakaian layaknya pedagang".

__ADS_1


"Terima kasih Paman".


Lamunan lembu Sora buyar saat berada di depan Pos pemeriksaan perbatasan wilayah Ligung. puluhan Prajurit memeriksa sangat detail setiap orang yang ingin memasuki Ligung.


"Ah tuan Badrun anda datang lagi" Salah satu prajurit mengenali Badrun.


Badrun tersenyum manis dan memberikan beberapa keping uang pada prajurit penjaga.


"Bagaimana mungkin hidung seorang pedagang tidak dapat mencium uang didepan mata tuan".


Prajurit tersebut tertawa sebelum mengambil uang yamg diberikan Badrun padanya.


"Semoga kali ini kau kembali untung besar tuan Badrun".


Prajurit tersebut mempersilahkan Badrun masuk bersama rombongannya.


"Minggir semua!!" Suara seorang prajurit mengagetkan Lembu sora saat berjalan masuk pos pemeriksaan.


terlihat rombongan berkuda dan puluhan prajurit memasuki wilayah Lingung tanpa pemeriksaan.


"Selamat datang tuan Maha patih Saung Galah" puluhan prajurit penjaga serentak berteriak sambil berlutut.


"Bahkan Seorang patih Saung galah ikut hadir dikadipaten Kecil ini, sepertinya ada sesuatu yang penting". Lembu sora menatap rombongan besar tersebut berjalan didepannya.


"Aku harus cepat mencari informasi tentang tuan Wardhana. Semoga tidak terlambat". Lembu sora dan dua temannya memisahkan diri dari rombongan Badrun. Dia sempat menoleh kearah Badrun dan memberi hormat sebelum melangkah pergi.


"Kau sangat mirip ayahmu Sora, berhati hatilah" Badrun menatap kepergian Lembu sora dengan wajah khawatir.


***


***Dalam hitungan jam Rangking Pedang Naga api melesat dari posisi 109 ke posisi 55. Saya sangat berterima kasih atas dukungan teman teman.


Sesuai janji saya akan up beberapa Chapter sebagai rasa terima kasih. Tak ada yang membuat saya bersemangat selain dukungan teman teman**


**Sekali lagi saya mengharapkan dukungan teman teman semua baik dalam bentuk like maupun Vote 🙏


Kunjungi juga novel ke dua Saya berjudul


"Tentang kita (Komedi Romantis)"

__ADS_1


Terima kasih dan semoga sukses selalu untuk kita semua***


__ADS_2