
Wardhana langsung mempercepat langkahnya saat mendengar suara ledakan disertai debu yang membumbung tinggi dari arah gerbang utama.
"Bertahanlah Rubah Putih, aku akan mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini. Beri aku waktu sedikit lagi untuk memahami situasi ini," ucap Wardhana dalam hati.
"Aku menemukannya, dia ada di sini," teriak salah satu pendekar Lembayung Merah yang langsung bergerak kearah Wardhana.
"Sial, gerakan mereka cepat sekali," umpat Wardhana sambil terus berlari.
"Kau pikir bisa lari dariku?" Pendekar itu mendekat dengan cepat dalam beberapa tarikan nafas.
Namun saat jarak keduanya sudah cukup dekat, kabut tebal tiba tiba muncul dan menyelimuti area disekitar mereka.
"Ilmu segel?" Pendekar itu mencoba bergerak lebih cepat karena yakin Wardhana sudah ada di dekatnya namun secepat apapun dia bergerak tak ada siapapun disekitarnya. Wardhana seolah menghilang ditelan kabut.
"Syukurlah anda sudah kembali tuan Patih, keadaan keraton benar benar kacau karena tuan Rubah Putih merubah rencana tiba tiba," sapa dua orang prajurit Angin selatan yang berjaga di gerbang utama paviliun ratu.
"Segel kabut ya? kau bergerak tepat waktu Ciha," ucap Wardhana lega, dia melangkah cepat mendekati para prajurit penjaga itu.
"Apa Gusti ratu baik baik saja? Lalu dimana Ciha saat ini?" tanya Wardhana cepat sambil melangkah masuk kedalam paviliun ratu.
"Gusti ratu bersama tuan Ciha dan nyonya selir di ruang utama, mereka sedang berusaha menghancurkan lempengan batu merah," jawab prajurit itu.
"Menghancurkan lempengan batu merah?" Wardhana menghentikan langkahnya terkejut.
"Benar tuan, itu permintaan langsung tuan Rubah Putih pada Gusti Ratu."
"Menghancurkan lempengan itu berarti mengubur semua yang ada didalam ruang persembahan itu selamanya, apa Rubah Putih mengetahui sesuatu tentang ruangan itu," ucap Wardhana dalam hati.
"Maaf tuan, apa tidak sebaiknya kita kembali ke rencana awal? perubahan rencana tiba tiba ini membuat pasukan Angin selatan kebingungan," ucap prajurit itu pelan.
"Tidak, Rubah Putih pasti memiliki alasan yang kuat melakukan ini, untuk sementara ikuti saja perintahnya karena aku sudah memberi kuasa penuh padanya untuk mengambil keputusan dalam situasi mendesak demi melindungi keraton. Sekarang jelaskan padaku situasinya secara keseluruhan," Wardhana kembali berjalan menuju ruang utama paviliun ratu.
"Pergerakan pasukan Angin Selatan menjadi kacau karena tuan Candrakurama dan Ardhani yang seharusnya memimpin mereka tiba tiba ditugaskan untuk pergi ke dermaga Karang Sari. Dan di sisi lain, bantuan dari para Pendekar Lembayung Hitam Kontilola juga belum datang sampai saat ini.
"Tuan, hamba mohon maaf jika harus mengatakan ini tapi keraton sudah dikepung dari berbagai arah dan kita tidak akan bisa bertahan lebih lama tanpa bantuan dari mereka," jawab prajurit itu cepat.
"Dermaga Karang Sari? apa mungkin dia juga merasakan keanehan ini?" ucap Wardhana dalam hati.
"Tuan, masih belum terlambat jika kita kembali menggunakan..."
"Cukup! ikuti semua perintah Rubah Putih untuk sementara waktu, aku akan memikirkan rencana berikutnya dan mengambil alih pasukan mulai saat ini," potong Wardhana cepat sebelum mengetuk pintu sebuah ruangan.
__ADS_1
"Wardhana mohon menghadap Gusti Ratu," ucap Wardhana sopan.
"Paman Wardhana? masuklah," jawab Tungga Dewi cepat.
"Terima kasih Gusti ratu," jawab Wardhana sambil melangkah masuk, dia menundukkan kepalanya saat melihat Tungga Dewi dan Emmy duduk di tengah ruangan bersama Ciha.
"Katakan paman, apa sesuatu sedang terjadi? tuan Rubah Putih merubah rencana tiba tiba dan meminta pada Gusti ratu untuk menghancurkan lempengan batu merah ini," tanya Emmy.
"Jurus Mengendalikan Waktu, apa anda percaya jika ada jurus menakutkan seperti itu di dunia ini?" balas Wardhana pelan.
"Jurus mengendalikan Waktu?" Tungga Dewi dan Emmy saling menatap sebelum menggeleng pelan.
"Hamba mohon maaf Gusti ratu tapi hancurnya rencana yang hamba buat sepertinya berhubungan dengan jurus itu," Wardhana kemudian menceritakan semua keanehan yang dialami olehnya dan Lakeswara Dwipa termasuk pesan aneh dari Sekar Pitaloka yang meminta pemimpin tertinggi Masalembo itu datang ke keraton.
"Jadi maksudmu, ibu ratu..." Emmy tidak dapat melanjutkan ucapannya, tubuhnya tampak bergetar saat membayangkan efek yang akan diterima Sekar setelah menggunakan jurus mengerikan itu.
"Hamba mohon maaf nyonya... tapi sepertinya ibu ratu..."
"Tidak mungkin... Kau sedang bercanda bukan? bagaimana kau bisa membiarkan Ibu ratu menggunakan jurus terlarang itu," bentak Emmy.
"Hamba mohon maaf nyonya..."
"Maaf katamu? bagaimana kau bisa melindungi kerajaan ini jika Ibu ratu saja tidak bisa kau lindungi!" Emmy mencabut pedangnya tiba tiba dan bergerak kearah Wardhana.
"Segel bayangan... Gusti ratu, bagaimana anda bisa..." Ciha tersentak kaget saat segel bayangan menghentikan gerakan Emmy.
"Ibu ratu sudah berpesan padaku untuk menjalankan rencana yang dibuat paman Wardhana apapun resikonya, dan aku tidak akan membiarkan pengorbanan Ibu ratu menjadi sia sia karena emosi sesaat," ucap Tungga Dewi dengan suara bergetar.
"Pengorbanan Ibu ratu? jadi kau sudah tau semua ini akan terjadi dan tidak berusaha mencegahnya?" Emmy melepaskan pedangnya sebelum tubuhnya terjatuh dalam posisi berlutut. Air matanya mulai mengalir dari mata indahnya.
"Malam hari sebelum Ibu ratu pergi, dia menemui aku dan mengatakan semua rencananya. Apa kau bisa bayangkan bagaimana perasaanku saat dia mengatakan langsung padaku? Aku adalah orang pertama yang memohon untuk membatalkan rencananya, tapi apa yang bisa kulakukan saat beliau sudah memutuskannya?" Tungga Dewi mengambil sebuah gulungan kecil dari balik pakaiannya dan menyerahkan pada Wardhana.
"Itu adalah pesan yang ditulis Ibu ratu, beliau mengatakan padaku untuk menyerahkan pada paman jika rencana tiba tiba berubah."
Wardhana mengambil gulungan itu dan membacanya.
"Wardhana, jika kau membaca gulungan ini artinya aku sudah menggunakan jurus mengendalikan waktu walau sebenarnya aku sangat berharap kau tidak akan pernah membacanya. Jurus terlarang ini akan mengacaukan dimensi waktu dan merubah beberapa hal yang seharusnya tidak terjadi.
"Jurus mengendalikan waktu memiliki efek yang sangat mengerikan dan mungkin akan merubah beberapa hal dimasa depan. Kitab Sabdo Loji mengatakan jika efek jurus ini akan terasa sampai ratusan bahkan ribuan tahun setelahnya sesuai perkiraan kanda Arya Dwipa dan kau harus mengantisipasi semuanya. Rencanamu mungkin akan hancur akibat efek jurus ini, lakukan sesuatu untuk mengatasinya."
"Gusti ratu, jadi anda telah menyiapkan semuanya sendirian? bagaimana mungkin anda bisa berpikir untuk menanggung semuanya sendirian," ucap Wardhana sambil tertunduk lesu.
__ADS_1
"Jika paman merasa bersalah maka pastikan kita memenangkan pertempuran kali ini sesuai harapan Ibu ratu, aku dan semua ksatria Malwageni akan berada dibelakang paman," balas Tungga Dewi cepat.
***
"Jadi kau sudah bisa mengendalikan emosimu? Sepertinya wanita itu memang tidak lagi berharga bagimu," Ejek Ken Panca sambil terkekeh, dia berusaha memancing kembali amarah Sabrang seperti sebelumnya.
"Seorang pendekar akan selalu dekat dengan kematian dan Mentari tau itu, jika kau inging menggunakan kematiannya untuk memancing amarahku maka lupakan. Aku pasti akan membunuhmu untuk membalaskan dendamnya tapi tidak dengan amarah, kau harus merasakan rasa takut dan putus asa terlebih dahulu sebelum nyawamu melayang," jawab Sabrang pelan sambil memunculkan belasan energi keris di udara.
"Benarkah? sebagai leluhur, aku sebenarnya tidak ingin melihatmu kecewa tapi dengan kemampuan yang kau miliki saat ini, membunuhku hanya sebuah mimpin di siang bolong," Ken Panca tiba tiba bergerak menyerang dengan kecepatan tinggi. Dia masih terlihat percaya diri walau sudah beberapa kali terkena serangan Sabrang.
"Kau telah melakukan kesalahan besar dengan membunuhnya dan aku pastikan kau akan menyesalinya berkali kali," Sabrang menarik belasan energi keris sebelum menyambut serangan itu.
Keduanya kembali bertukar serangan, dengan mengandalkan mata bulan mereka saling membaca gerakan lawan.
Sabrang bergerak lebih cepat, dia melempar belasan energi keris untuk mengacaukan gerakan Ken Panca dan disaat bersamaan merubah gerakan pedangnya.
Serangan energi keris membuat konsentrasi Ken Panca sedikit terganggu, mata bulannya tidak bisa membaca dua gerakan cepat sekaligus sehingga tanpa sadar celah pertahanannya terbuka.
Saat perhatian Ken Panca teralihkan pada serangan keris penguasa kegelapan, Sabrang memanfaatkan kecepatannya untuk mendekat, tebasan pedangnya berusaha menembus celah pertahanan yang terlihat oleh matanya namun Ken Panca tidak tinggal diam, tongkat Cahaya Putih tiba tiba muncul dan membentuk perisai energi untuk menangkis serangan Sabrang dengan cepat.
"Jika kau menganggap dirimu adalah roh terkuat maka pelindung energi ini harusnya tidak menjadi masalah bukan?" Sabrang mengalirkan energi Megantara kedalam pedang Naga Apinya.
Ledakan besar kembali terdengar bersamaan dengan hancurnya pelindung energi Tongkat Cahaya Putih. Tebasan pedang Sabrang meluncur cepat kearah tubuh Ken Panca.
"Tidak mungkin... Pelindung terkuat Tongkat Cahaya Putih bisa hancur dengan mudah oleh pedang itu?"
Kejadian yang begitu cepat membuat Ken Panca yakin tak bisa menghindar, dia memilih menerima serangan itu dan memusatkan tenaga dalam dimatanya untuk mengaktifkan jurus mengendalikan waktu.
"Gawat, aku melupakan jurus itu," umpat Sabrang saat mata bulannya merasakan aura aneh meluap dari cakra Mahkota Ken Panca.
"Jurus mengendalikan waktu ya... jurus itu tidak akan berguna di hadapanku!" ucap Eyang Wesi pelan.
Aura aneh yang meluap dari tubuh Ken Panca menandakan jurusnya mulai aktif. Namun saat waktu mulai bergerak mundur, Pedang Megantara seolah tidak terpengaruh dan menghantam tubuh Ken Panca.
"Bagaimana mungkin..." Ken Panca terlempar cukup jauh sebelum terhempas ketanah.
"Kakek, ini..." Sabrang tampak bingung, dia merasa pandangannya gelap untuk sesaat dan saat tersadar, Ken Panca sudah terhempas ketanah.
"Aku adalah pusaka yang diciptakan untuk menjaga waktu, selama energiku mengalir didalam tubuhmu, jurus itu tidak akan berpengaruh apapun," jawab Eyang Wesi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Saya mohon maaf karena kemarin Pedang Naga Api libur tiba tiba dan kebetulan bertepatan dengan Malam penyiksaan pasukan Naga Jomblo.
Hari ini saya tidak mengucapkan hari Valentine karena selain menghargai para pendekar Jomblo saya juga merasa Valentine bukan budaya kita karena budaya kita adalah ditinggal pas lagi sayang sayangnya wkwkwkwkw