
Tanwira membenturkan batu kecil yang dibawanya kedinding, tak lama kobaran api menyambar keseluruh ruangan terkena percikan api.
Sebuah ruangan yang cukup luas menyambut mereka, beberapa dinding terdapat tulisan dan gambar gambar aneh. Tanwira cukup takjub melihat isi ruangan yang semuanya terbuat dari emas. Walaupun telah jutaan tahun mereka tinggal disana namun tak sekalipun Tanwira berani masuk keruangan itu.
Wardhana terlihat menyentuh sebuah batu yang memancarkan cahaya.
"Batu ini dapat menyimpan energi panas dan memancarkan kembali. Mereka sudah bisa membuat alat seperti ini". Wardhana menggeleng pelan.
"Kami menyebutnya Batu cahaya, Batu itu dapat menyeral energi dan memancarkannya kembali". Tanwira menjelaskan.
Pandangan Wardhana terhenti disebuah tulisan yang berada dilangit langit ruangan, sebuah gambar pedang yang tertancap diatas sebuah batu dan gambar sebuah Danau yang sangat besar.
"Suwarnadwipa?". Wardhana mengernyitkan dahinya. Dia terus mengingat nama itu, sepertinya dia pernah mendengar nama itu.
Wardhana mulai membaca tulisan yang ada dilangit ruangan.
"(Gua tersembunyi dihutan Suwarnadwipa akan menuntunmu lebih dekat menuju pusat kekuatan dunia)".
Tanwira melangkah mendekati Wardhana yang tampak asik membaca tulisan dilangit gua.
"Swarnadwipa adalah salah satu daratan yang konon terletak diujung Nuswantoro, beberapa pendekar Kumari kandam kabarnya pernah menginjakkan kaki disana".
"Rumah para dewa". Ucap Wardhana tiba tiba. "Aku yakin rumah para dewa ketiga berada di sana".
Wardhana kemudian mengeluarkan gulungannnya dan mulai menyalin tulisan dan gambar gambar didinding itu, dia yakin petunjuk itu akan berguna untuk mencari rumah para dewa selanjutnya.
"Tuan kemarilah". Ciha memanggil Wardhana sambil memperhatikan gambar aneh didinding ruangan.
Wardhana dan Tanwira berjalan mendekati Ciha.
Raut wajah Wardhana tersentak kaget ketika melihat gambar yang ditunjukan Ciha namun dia berusaha menutupinya.
"Gambar ini seharusnya...". Belum selesai Ciha berbicara, Wardhana memberi tanda untuk tidak melanjutkan ucapannya. Wardhana terbatuk dan menempelkan jari telunjuk dibibirnya saat Ciha menoleh.
Walau Ciha tak mengerti maksud Wardhana memintanya diam namun dia menurutinya.
"Apakah ada yang aneh dengan gambar itu?". Tanya Tanwira penasaran.
__ADS_1
Ciha menggeleng pelan "Aku hanya merasa mengenal gambar ini namun sepertinya aku salah". Ucap Ciha berbohong.
"Jadi anda menjaga tempat ini selama tinggal disini?". Wardhana mengalihkan perhatian Tanwira yang belum puas dengan jawaban Ciha.
Tanwira mengangguk pelan "Aku memutuskan membangun peradaban Wentira karena menemukan ruang rahasia ini namun tak ada yang berani masuk kedalam. Para pendekar Wentira hanya berjaga diluar". Jawab Tanwira.
Wardhana terlihat berfikir sambil diam diam memberi tanda Ciha untuk menyalin gambar yang dia tunjukan.
"Tuan, kami tidak menemukan apa apa disini, aku sudah memeriksa setiap sudut ruangan tapj tak ada satupun pecahan batu yang mirip dengan pecahan yang kita temukan di sekte Tapak es utara". Ucap Arung bingung.
Tanwira tampak terkejut mendengar ucapan Arung, dia tidak memperhatikannya karena fokus pada tulisan yang ada didinding ruangan.
"Tidak mungkin, kami selalu menjaga tempat ini, tak ada yang pernah masuk keruangan ini".
"Mungkin kita salah tempat, sepertinya aku salah mengartikan petunjuk yang ditinggalkan tuan Panca. Aku minta maaf Yang mulia". Wardhana menggaruk kepalanya.
"Jadi kami juga salah mengartikannya? yang kami jaga selama ini hanya ruangan kosong ini?". Tanwira tersenyum kecut.
Sabrang dan Ciha saling berpandangan, mereka yang sudah mengenal dekat Wardhana tak sulit percaya jika Wardhana salah mengenali sebuah petunjuk.
Wardhana selalu bersikap hati hati sebelum menganalisa sesuatu, bukan sifat Wardhana yang ceroboh seperti itu.
Setelah memastikan setiap sudut ruangan dan tidak menemukan pecahan kunci telaga khayangan api mereka naik kembali keatas dengan langkah gontai. Mereka berfikir perjalanan ke daratan Celebes selama ini sia sia.
Wardhana tidak banyak bicara dan langsung melangkah kekamarnya setelah meminta izin pada Sabrang.
***
Ketika malam semakin larut dan hampir semua sudah terlelap dalam tidurnya, sesosok tubuh terlihat mengendap endap mendekati kamar Wardhana.
Wardhana yang sedang duduk sambil memperhatikan gulungannya tidak terlalu terganggu ketika pintu kamarnya dibuka tanpa permisi.
"Tuan Adipati". Ciha setengah berbisik sambil menutup pintu kamar Wardhana.
Wardhana hanya mengangguk dan terus memperhatikan gulungannya.
"Tuan adipati mengapa anda tidak mengatakan yang sebenarnya jika ruang bintang memang rumah para dewa yang kita cari?". Tanya Ciha penasaran.
__ADS_1
Wardhana menghentikan aktifitas membacanya, dia kemudia memijat dahinya memandakan kepalanya sedang sakit.
"Tempat itu selalu dijaga selama jutaan tahun, Tanwira bahkan menjamin tidak ada yang lepas dari penjagaan pendekar Wentira. Kau tau apa artinya? Jika pecahan kunci itu hilang satu satunya orang yang memungkinkan mencuri pecahan kunci itu adalah para pendekar penjaga itu".
"Jadi benar jika pecahan kunci itu memang ada diruangan itu sebelum dicuri?".
Wardhana mengangguk pelan "Aku yakin Wentira telah disusupi musuh, saat ini aku belum bisa menebak siapa orangnya namun aku yakin pelakunya ada diantara sembilan pendekar penjaga Wentira. Itulah kenapa aku merahasiakan sementara fakta ini, aku ingin memancing pencuri itu menampakan diri dan jika perkiraanku tepat aku yakin salah satu dari sembilan pendekar penjaga itu adalah pendekar langit merah yang menyamar".
Ciha tersentak kaget mendengar analisa Wardhana, dia cukup takjub pada pria dihadapannya yang dapat memperkirakan sesuatu hanya dengan petunjuk yang sangat sedikit.
"Bukankah Wentira adalah kota tersembunyi? bagaimana pendekar langit merah bisa menyusup tanpa diketahui? anda melihat sendiri bagaimana ketatnya penjagaan digerbang Wentira. Sangat mustahil bagi kita masuk tanpa bertarung seperti kemarin".
"Kita akan mengetahuinya setelah berhasil menangkap pencuri itu. Besok aku akan memancing keluar pencuri itu namun aku butuh bantuanmu". Wardhana membisikan sesuatu pada Ciha.
"Baik tuan, aku akan berusaha semampuku". Ciha menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya aku ingin meminta batuanmu satu lagi". Wardhana menunjukan catatan digulungannya.
"Kau pernah mendengar daratan Suwarnadwipa?".
"Aku pernah mendengarnya tuan namun aku tidak mengetahui letak pastinya". Jawab Ciha.
"Petunjuk letak daratan Suwarnadwipa ada digambar ini, aku ingin kau mempelajarinya karena aku harus mempersiapkan jebakan untuk menarik pencuri pecahan kunci Telaga khayangan api. Setelah kita mendapatkan kunci kedua, kita akan langsung menuju daratan Suwarnadwipa".
"Apakah anda tidak terburu buru tuan?, bukankah lebih baik kita kembali dulu ke Jawata?".
Wardhana menggeleng pelan. "Penyusup yang mencuri pecahan kunci itu menandakan pendekar langit merah mulai bergerak dan merubah rencanannya, sepertinya mereka telah menemukan petunjuk telaga khayangan api. Jika kita tidak bergegas maka mereka akan lebih dulu menemukan pecahan kunci lainnya".
"Anda yakin penyusup itu masih berada di Wentira? bagaimana jika dia telah pergi setelah mendapatkan kunci itu?".
"Aku yakin dia masih berada di sini dan saat ini sedang berusaha melarikan diri. Pencurian itu sepertinya dilakukan dengan terburu buru setelah kedatangan kita". Wardhana berdiri dan memasukan kembali gulungan kedalam pakaiannya. "Aku ingin keluar sebentar mencari udara segar". Wardhana tersenyum penuh makna.
Ciha menatap kepergian Wardhana dengan takjub. "Kau benar benar orang yang sangat mengerikan tuan Adipati". Gumam Ciha dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pulau Sumatra dulu lebih dikenal dengan sebutan Andalas atau Suwarnadwipa yang artinya Pulau emas..
__ADS_1
Maaf chapter ini agak sedikit terlambat karena saya sedang dalam perjalanan. Untuk Api di Bumi Majapahit saya baru bisa update besok setelah sampai dirumah.
Terima kasih yang sudah sabar menunggu....