Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Cakra Tumapel


__ADS_3

"Hamba mohon menghadap tuan Patih," ucap Arung dari luar ruangan.


"Masuklah," jawab Wardhana pelan.


Arung masuk bersama Brajamusti, mereka menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Tetua?" Wardhana tampak terkejut setelah melihat Brajamusti, dia langsung berdiri dan memberi hormat.


"Apa terjadi sesuatu pada Angin Biru?" tanya Wardhana khawatir. Sejak pertarungan dengan Lakeswara dia memang belum sempat mengunjungi sekte Angin Biru karena sibuk menumpas para pemberontak.


Wardhana meminta Jatmiko yang merupakan orang kepercayaannya untuk memimpin sementara sekte milik Brajamusti itu selama dia fokus memberantas para pemberontak yang diciptakan Saung Galah.


Brajamusti menggeleng pelan sambil tersenyum lembut.


"Tidak ketua, semua baik baik saja hanya ada yang ingin aku bicarakan dengan anda," jawab Brajamusti.


Wardhana tampak lega, dia sempat khawatir jika kedatangan Brajamusti membawa kabar buruk mengenai sekte yang kini dipimpinnya.


"Maaf jika akhir akhir ini aku jarang mengunjungi Angin biru tetua, masalah Malwageni datang silih berganti," ucap Wardhana menyesal.


"Jangan terlalu sungkan ketua, saat aku memilih anda menjadi penerusku resiko seperti ini sudah ku perhitungkan mengingatkan anda adalah Patih Malwageni," Brajamusti mengambil gulungan kecil yang ada di sakunya dan menyerahkan pada Wardhana.


"Sebenarnya itu yang ingin aku bicarakan dengan anda," Brajamusti melanjutkan.


Wardhana membuka gulungan itu dan mulai membacanya.


"Glagah wangi dan Trowulan akan menjadi kunci menuju Gerbang suci Nagara Siang Padang. Lepaskan semua Nafsu dan ambisi maka suara alam akan menuntunmu menuju Nagara siang padang."


"Gerbang suci?" Wajah Wardhana berubah seketika.


"Anda pernah mendengarnya? apa berhubungan dengan Masalembo?" tanya Brajamusti cepat.


"Tidak, aku sudah memeriksa hampir seluruh catatan Masalembo maupun Gropak waton tapi tidak ada sedikitpun menyebut nama Gerbang suci, apalagi Nagara Siang Padang.


Tapi beberapa hari lalu aku mendengar nama Gerbang suci dari Lembu sora," ucap Wardhana pelan.


"Lembu Sora?"


Wardhana kemudian menjelaskan tentang kejadian yang menimpa Lembu sora sebelum pertarungan dengan Lakeswara.


"Jadi dia ditemukan terluka di hutan lali jiwo? apakah benar Masalembo pelakunya?"


"Awalnya aku berfikir demikian karena salah satu dari mereka menyamar sebagai Lembu sora namun sepertinya situasi tidak sesederhana itu.


Aku sempat berpikir gumaman Lembu sora hanya bunga mimpi biasa namun catatan anda mengenai gerbang suci membuatku berfikir ini memiliki hubungan. Sangat disayangkan sampai detik ini Lembu sora masih belum sadarkan diri," balas Wardhana.


"Boleh aku pinjam kitab ilmu pedang energi suci yang kuberikan dulu pada anda?" pinta Brajamusti.


"kitab Pedang energi suci?" jawab Wardhana bingung.


"Aku yakin ini ada hubungannya dengan kitab ilmu kanuragan yang di buat leluhur Angin biru, disalah satu jurusnya menyebutkan tentang Gerbang suci penghancur," balas Brajamusti.


Wardhana langsung melangkah menuju lemari penyimpanan dan mengambil sebuah kitab yang dulu diberikan Brajamusti padanya.


"Silahkan tetua," Wardhana menyerahkan kitab itu pada Brajamusti.


"Ada salah satu jurus yang membuatku bingung, beberapa kali aku mencoba memahaminya namun tak berhasil, akhirnya aku melewatkan tingkatan itu," Brajamusti membuka kitab itu dan berhenti di tengah halaman kitab.


"Jurus pedang energi suci tingkat 7 : Pagebluk Lampor mengguncang langit," ucap Brajamusti kemudian.


"Jurus Pedang energi suci tingkat tujuh ini satu satunya jurus milik Angin Biru yang tidak aku kuasai, gerakannya yang aneh dan membingungkan seolah bukan sebuah jurus pedang."


"Bukan jurus pedang? boleh aku membacanya tetua?" pinta Wardhana pelan.


Brajamusti mengangguk pelan sambil menyerahkan kembali kitab itu.


"*Pagebluk Lampor mengguncang langit adalah j**urus pedang paling mematikan dari tiga puluh dua tingkat. Jangan gunakan jika tidak dalam keadaan hidup dan mati, atau alam akan murka*.


Menguasai jurus tingkat dua adalah mutlak sebelum menggunakan jurus ini, bergerak diantara angin dan gunakan panca indra untuk membuka gerbang suci. Ketajaman pedang apapun tak akan mampu menandingi Pagebluk lampor. Hancurkan semua tanpa sisa termasuk penggunanya, gunakan hanya saat hidup dan mati. Gabungan kata awal akan menjadi kunci menguasai jurus ini," Wardhana kemudian mengamati beberapa gerakan yang digambarkan kitab itu.

__ADS_1


"Hancurkan semua termasuk penggunanya?" Wardhana terlihat berfikir sejenak.


"Apa mungkin itu dari awal bukan salah satu jurus pedang energi suci tapi sebuah pesan tersembunyi?"


"Kemungkinan besar seperti itu tetua, tapi mengapa pesan ini harus disembunyikan diantara jurus pedang? lalu mereka berusaha menyembunyikan dari siapa?"


"Gabungan kata awal akan menjadi kunci menguasai jurus ini? menggabungkan kata awal?" wajah Wardhana berubah seketika, dia membuka kembali kitab itu dari awal dan mencatat sesuatu.


"Apa anda menemukan sesuatu?" Brajamusti tampak penasaran.


"Jika perkiraanku tidak salah ini memang bukan sebuah jurus tapi pesan tersembunyi. (Gabungan kata awal akan menjadi kunci menguasai jurus ini) adalah petunjuk bagi kita untuk menggabungkan setiap tulisan awal kitab ini di tingkatan jurusnya," Wardhana terus menulis setiap kata awal di masing masing tingkatan jurusnya.


"Benar dugaanku," Wardhana menunjukkan tulisan yang dibuatnya pada Brajamusti.


"Sinar bulan purnama akan menjadi awal penanda matahari kembar muncul di Glagah Wangi, dua pohon buah Maja atau yang lebih dikenal sebagai pohon kehidupan akan membuka gerbang suci saat matahari kembar saling menyinari."


"Jadi ini benar sebuah pesan, pantas saja aku tidak bisa menguasainya. Glagah Wangi adalah sebuah hutan yang kini menjadi markas Sekte Angin Biru, dua pohon maja akan membuka gerbang? bagaimana kita mencari letak pohon Maja jika saat ini hutan itu telah hancur ratusan tahun lalu," ucap Brajamusti bingung.


"Bukan itu yang menjadi pikiranku saat ini tetua, tanpa dua pohon maja kita masih bisa melacaknya dengan memecahkan kata sinar bulan dan matahari kembar yang saling menyinari.


Menyembunyikan petunjuk dalam jurus pedang dan tidak menuliskan di dinding gua yang anda temukan menandakan leluhur Angin biru takut akan sesuatu atau seseorang hingga harus sedikit repot dengan menyelipkan di antara jurus pedang ciptaannya.


Apa yang dia takutkan itulah yang menjadi pikiranku, menyembunyikan dari siapa?" jawab Wardhana sedikit khawatir. Instingnya mengatakan jika masalah kali ini tak kalah rumit dari Ambisi Lakeswara dan kelompoknya.


"Apa kita akan memeriksanya?" tanya Brajamusti pelan.


"Itu pasti tapi sepertinya sinar bulan akan menjadi kunci misteri ini, masih ada waktu beberapa hari sampai purnama mencapai puncaknya.


Namun masalahnya aku membutuhkan bantuan Ciha untuk memecahkan masalah ini, dia yang paling paham menghitung arah dan sudut pancaran sinar bulan," ucap Wardhana lirih, kehilangan Ciha benar benar membuat Malwageni rugi.


"Kami yang akan pergi membujuknya paman," Sabrang muncul bersama Mentari dari balik pintu.


"Yang Mulia," Wardhana dan Brajamusti langsung berdiri dan memberi hormat


"Aku sudah mendengar semuanya dari kakek Rubah Putih mengenai Gerbang suci. Aku dan Tari memiliki kedekatan dengan Ciha setelah kejadian di Dieng, semoga aku bisa membujuknya kembali," ucap Sabrang pelan.


Wardhana terlihat berfikir sejenak sebelum mengangguk pelan.


***


Keduanya melesat cepat membelah hutan mengenakan pakaian serba hitam sebelum berhenti di lereng bukti Cetho setelah hampir seharian bergerak tanpa henti.


Pemandangan alam yang indah berupa hutan dengan pepohonan menjulang tinggi mulai menyambut mereka.


"Sudah lama sekali bukan?" ucap Sabrang pada Mentari, dia kembali mengingat perjalanannya bersama Mentari dan Lingga saat mencari Sekte Bintang langit sebelum masuk Dieng.


"Benar Yang mulia," jawab Mentari pelan.


"Semoga kakek masih tinggal di sini, ayo kita pergi," Sabrang kembali bergerak diikuti Mentari di belakangnya, dia ingin mengunjungi Rakiti terlebih dahulu sebelum masuk ke Sekte Bintang Langit.


Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat gubuk milik Rakiti hancur seperti habis ada pertarungan besar.


"Tari berhati hatilah, sepertinya ada yang tidak beres," Sabrang melepaskan energi Naga Api untuk menekan sekitarnya, dia khawatir ada yang menyerangnya tiba tiba.


"Kakek!" teriak Sabrang saat melihat mayat Rakiti dan dua orang pendekar bertopeng penuh dengan luka di sekujur tubuhnya.


"Periksa sekitar tempat ini, sepertinya pertarungan belum lama terjadi," ucap Sabrang saat melihat darah masih mengalir di tubuh Rakiti.


Wajah Sabrang semakin buruk saat mengenali topeng yang dikenakan dua mayat yang berada di dekat Rakiti.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini? bahkan pendekar Hibata yang dilatih langsung oleh Lingga tewas tak berdaya," ucap Sabrang bingung.


Rakiti adalah salah satu pendekar sakti dunia persilatan, ilmunya bahkan sedikit di atas Brajamusti. Siapapun orang yang membunuhnya jelas bukan pendekar biasa.


Pandangan Sabrang terhenti saat melihat sebuah lempengan besi kecil diantara reruntuhan gubuk milik Rakiti.


"Cakra Tumapel?" Sabrang mengernyitkan dahinya sebelum mengambil lempengan itu dan memasukkannya kedalam sakunya.


"Yang mulia, tidak ada tanda tanda keberadaan seseorang, sepertinya dia sudah pergi," ucap Mentari pelan.

__ADS_1


"Ciha! Ciha dalam bahaya, ayo cepat!" Sabrang melesat pergi bersama Mentari menuju sekte Bintang Langit.


"Gerbang suci, kematian kakek Rakiti dan sikap aneh Ciha, apa semua ini berhubungan?" ucap Sabrang dalam hati.


Setelah melewati hamparan bunga beracun Sabrang dan Mentari sampai di pinggir jurang.


Dua orang pendekar yang berjaga terlihat menghandang jalan mereka.


"Maaf tuan, ada perlu apa anda datang kemari?" tanya salah satu pendekar itu sopan.


"Katakan pada Ciha, Sabrang ingin bertemu," ucap Sabrang pelan.


"Sabrang?" dua pendekar itu langsung menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Maaf Yang mulia hamba terlambat mengenali anda," ucap mereka bersamaan.


"Tidak perlu sungkan, aku mengenakain pakaian ini jelas kalian tidak akan mengenaliku. Apa terjadi sesuatu pada sekte Bintang langit?" tanya Sabrang khawatir.


"Terjadi sesuatu?" pendekar itu tampak bingung mendengar pertanyaan Sabrang.


"Aku menemukan kakek Rakiti tewas di gubuknya, aku khawatir terjadi sesuatu pada sekte Bintang langit," jawab Sabrang.


"Tetua Rakiti tewas?" pendekar itu tersentak kaget.


"Syukurlah jika kalian tidak apa apa, antarkan aku menemui Ciha," balas Sabrang.


Pendekar itu mengangguk cepat dan meminta temannya memasang segel udara untuk mencegah orang asing masuk.


"Sebenarnya ada yang aneh dengan ketua setelah kembali dari keraton Yang mulia," ucap pendekar itu.


"Aneh?"


"Ketua selalu mengurung diri di ruangannya, dia seolah takut akan sesuatu. Hamba pernah di minta mengumpulkan semua kitab segel dengan alasan ingin ingin menyempurnakan semua segel milik Bintang Langit," balas pendekar itu.


"Dia ingin menyempurnakan segel Bintang langit?"


***


Di sebuah hutan tersembunyi di ujung daratan Jawata, sebuah bangunan tampak berdiri kokoh walau sudah berusia ribuan tahun.


Letak hutan yang sedikit terpisah dengan dari Daratan Jawata membuat tak semua orang bisa masuk ke tempat itu, bahkan mungkin tak ada yang tau jika daratan kecil itu ada.


Seorang pemuda terlihat mendekati pulau itu menggunakan kapal kecil, dari kejauhan terlihat dua orang pendekar menyambutnya.


"Selamat datang di Pulau bunga tuan Rakiti," ucap salah satu pendekar yang menyambutnya.


"Pergerakan kalian akhir akhir ini benar benar membuatku repot! Ketua akan membunuh kita semua jika pergerakan Cakra Tumapel diketahui dunia sebelum kita berhasil membangkitkan pusaka yang tersembunyi di balik gerbang suci," umpat Rakiti kesal.


"Maaf tuan kami sudah bergerak dengan sangat hati hati, tak mungkin ada yang mencurigai kita," balas pendekar itu.


"Kau pikir dunia persilatan bodoh? ketua Bintang Langit mulai mencium pergerakan kita, untung saja aku bisa menyamarkan kematianku," ucal Rakiti pelan.


"Ketua Bintang langit?" pendekar itu bertanya bingung.


"Dunia persilatan sudah banyak berubah, pergerakan kita akan lebih sulit dengan bangkitnya Dewa api, berhati hatilah mulai hari ini, aku akan melaporkan masalah ini pada ketua," ucap Rakiti pelan.


"Baik tuan," pendekar itu sambil menundukkan kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan kaki


Ada yang tau arti Pagebluk Lampor? jika belum tau maka harap sabar, akan saya buka saat misteri baru mulai terungkap.


Yang kedua tentang Pulau bunga atau Bunga bungaan.


Saya sampai saat ini kesulitan mencari sejarah Pulau Nusakambangan, yang saya temukan hanya Pulau bunga bungaan sebagai nama lain dari Nusakambangan. Jika ada teman teman yang mengetahui sejarah atau nama lain Nusakambangan jaman dulu silahkan tuliskan di Komentar.


Selain Gunung Padang, Pulau Nusakambangan akan menjadi Latar pertempuran Sabrang dan "Musuh baru tapi lama" bernama Cakra Tumapel, dan saya pastikan Cakra Tumapel tidak berhubungan dengan Masalembo.

__ADS_1


Terakhir seperti biasa... VOTE karena posisi PNA kini terlempar dari 10 besar...


__ADS_2