Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tanah Para Dewa VI


__ADS_3

Ciha terus mengelilingi gua buntu itu sambil mengetuk ngetuk setiap sudut dinding gua, dia masih berharap menemukan sebuah pintu rahasia.


"Benar benar tidak ada jalan lain, gua ini benar benar buntu". Ciha mendengus kesal. Dia sudah cukup yakin jika dinding tebing ini ada pintu rahasia namun yang mereka temukan hanya gua buntu.


"Bersabarlah, Malam akan datang tak lama lagi. Saat ini yang terpenting adalah beristirahat karena kita tidak tau apa yang kita temukan didalam sana". Ucap Lingga pelan.


Ciha hanya terdiam sambil terus memandangi dinding gua, dia masih penasaran. Jika memang tidak ada pintu rahasia di gua ini dia yakin ada petunjuk yang bisa mereka dapatkan. Pandangannya berhenti di sebuah batu besar yang sedikit mencolok. Dia tidak memperhatikan sejak tadi karena fokus mencari pintu rahasia.


Ciha mendekati sebuah dinding yang tertutup batu besar.


"Bisa kau pindahkan batu ini?". Ciha mengetuk batu itu dengan tangannya.


Sabrang mengangguk pelan kemudian mengeluarkan Pedang Naga apinya.


"Aku hanya ingin kau memindahkannya bukan menghancurkannya". Ciha bersingut dan menahan Sabrang.


Sabrang menggaruk kepalanya sambil tersenyum canggung. Dia bersama Lingga akhinya menggeser batu besar itu dengan tenaga dalamnya.


Sebuah tulisan di dinding menarik perhatian Ciha. "Sudah ku katakan ada sesuatu di gua ini".


Ciha terus menyentuh dan mengamati tulisan di dinding gua.


"Aksara palawa, aku akan mencoba menterjemahkannya. Ucap Ciha sambil mengambil gulungan di dalam pakaiannya.


"(Semua berawal... saat ... aku menemukan gua ini..... Tabir gelap masa lalu tersingkap tanpa bisa kubendung. Ketika aku mencari tau masa laluku semua mengarah ketempat ini). Tulisan ini sudah rusak namun sepertinya artinya jika digabung dengan tulisan ini (Kuharap tempat ini tertutup selamanya atau suku kuno akan bangkit)". Ciha terus berfikit sambil menyentuh tulisan itu.


"Tulisan ini sepertinya dibuat diwaktu yang berbeda, guratan tulisannya sedikit berbeda". Ucap Ciha pelan sambil meraba alenia kedua tulisan itu.


"(Bacalah batu tulis, geser kehidupan dan menyesallah hidup abadi. Pesan ini peringatan untul siapapun yang menemukannya)". Ciha mengernyitkan dahinya.


"Kenapa setiap petunjuk yang mengarah ke Dieng selalu di tulis hanya untuk misteri baru. Kenapa tidak ditulis secara jelas apa yang terjadi". Ucap Lingga kesal.


"Mereka bukan tidak mau menulis secara lengkap namun tidak bisa".


"Tidak bisa?". Lingga mengernyitkan dahinya.


"Jika perkiraanku benar, apa yang akan ingin dia tunjukan adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Siapa yang menjamin bahwa yang menemukan tempat ini adalah orang yang berniat baik?. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan menuliskan semuanya secara lengkap.


Dengan hanya memberi petunjuk petunjuk kecil dia berharap siapapun yang menemukannya tidak akan langsung tau apa maksud pesannya. Aku benar benar takjub pada pemilihan katanya, siapapu yang menulis ini dia bukan orang sembarangan dan yang pasti dia memperingatkan akan bangkitnya suku kuno". Ciha menunjuk kata Kuno di dinding.


Mentari terdiam setelah mendengar ucapan Ciha.


"Suku kuno? jangan jangan suku kuno yang dia maksud adalah Suku iblis petarung". Gumam Mentari dalam hati.


"Siapapun yang menulis ini dia sepertinya sedang menyelidiki suku kuno lalu semua petunjuk mengarah kesini dan ternyata dia menemukan fakta di batu tulis yang sangat mengagetkannya". Ciha menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya.


"Sudah berkali kali aku datang kemari ternyata ada rahasia sedalam ini di Dieng. Aku tidak pernah memperhatikan batu tulis yang ada digerbang itu karena kurasa itu tidak terlalu penting namun sepertinya batu itu adalah kunci misteri semua ini".


***


Suliwa terus mendesak Ki Saprana yang mulai tersudut, Pola serangan api abadi benar benar menyulitkan Ki Saprana.


"Kalian pikir orang yang sudah kehilangan pedang naga api akan mudah dikalahkan? kalian benar benar salah". Wulan sari melompat diudara dan merapal jurus.


Angin dingin tiba tiba berhembus saat Wulan sari merapal jurusnya.

__ADS_1


"Pisau angin peremuk tulang". Dia mengayunkan selendangnya kearah para pendekar dibawahnya.


"Mundur". Ki Saprana yang mengenali jurus milik Wulan sari berusaha memperingatkan muridnya namun semua terlambat, mereka semua tumbang ketanah tanpa tau apa yang menyerangnya.


"Pelajaran pertama, jangan pernah mengalihkan perhatianmu dari lawan apapun yang ada disekitarmu". Suliwa muncul dibelakang Ki Saprana dengan pedang terhunus, dia memutar pedangnya dan mengarahkan punggung pedang untuk menghantam Ki Saprana. Suliwa tidak ingin membunuh orang lagi.


"Api abadi tingkat II : Tarian pedang api". Pedang Suliwa menghantam punggung Ki Saprana membuat tubuhnya ambruk ke tanah.


"Kau! kenapa kau tidak membunuhku?". Ki Saprana menatap tajam Suliwa. Beberapa tulangnya patah akibat dihantam punggung pedang Suliwa, andai Suliwa menggunakan mata pedangnya mungkin tubuh Ki Saprana sudah terbelah dua.


"Tujuanku kini menyelamatkan dunia persilatan dari Lembah siluman, aku tidak ingin menjadi pembunuh seperti dulu. Dengarkan aku Saprana, apa yang ada di Dieng sangat berbahaya bagi dunia persilatan termasuk dirimu. Sadarlah dan bantu kami menghentikan dunia persilatan".


Ki Saprana terdiam setelah mendengar ucapan Suliwa, dia kemudian tertawa keras.


"Kau benar benar aneh Suliwa, dulu dunia persilatan berusaha membunuhmu namun kau kini berbicara ingin menyelamatkan dunia persilatan. Apa yang sebenarnya ada dipikiranmu?". Ucap Ki Saprana.


"Mungkin aku tidak akan bisa menghentikan permusuhan antar aliran dunia persilatan namun paling tidak aku bisa mencegah bangkitnya Lembah siluman. Mereka ingin mengendalikan pikiran kita semua dengan pusaka Suling raja setan. Apa kau ingin hidup tenang dengan pikiran dikendalikan mereka? Aku lebih memilih mati daripada dikendalikan mereka".


"Ayo kita pergi tetua, waktu kita tidak banyak, hari sudah mulai beranjak malam". Ucap Wulan sari.


"Ingatlah kata kataku barusan, ku harap kau tidak lagi mengambil jalan yang salah". Ucap Suliwa sebelum melangkah pergi meninggalkannya.


***


"Apa aku mengenal kalian?". Kertasura menyipitkan matanya menatap 3 pendekar dihadapannya.


"Dermaga ini tutup tuan, silahkan kembali lain kali". Ucap Pradipa salah satu pendekar petir sambil tersenyum dingin.


"Apa aku mengatakan akan naik kapal?". Aura hitam meluap dari tubuh Kertasura.


Wasta yang dari tadi diam tiba tiba tersenyum dingin sebelum menghilang dari pandangan.


Sebuah sabetan pedang dari arah belakang melesat cepat kearah Kertasura.


"Tak kusangka ada pendekar secepat kalian di tempat terpencil ini". Kertasura memutar tubuhnya dan menyambut serangan Watsa dengan pedang yang masih ada didalam sarungnya.


Beberapa detik berikutnya puluhan suara benturan pedang terdengar dalam hitungan detik. Kecepatan serangan keduanya sampai tak terlihat mata biasa.


Kertasura masih menggunakan sarung pedangnya untuk menahan serangan dan menyerang balik. Namun saat Wasta kembali menghilang, Kertasura terpaksa mencabut pedangnya saat serangan dari arah sisi kiri mengarah kepalanya.


"Tranggg". Suara benturan keras menandakan mereka bertarung dengan tenaga dalam yang besar.


"Pedang langit? Pantas aku merasa itu bukan pedang biasa". Wasta melompat mundur dan mengambil jarak sambil menguatkan kuda kudanya. Dia menyilangkan pedang kembarnya.


Dua pendekar petir lainnya bergerak mengelilingi Kertasura.


"Sepanik inikah Lembah siluman? jika kalian menginginkan perang akan kuberikan". Kertasura memutar pedangnya.


Satu detik berikutnya semua bergerak saling menyerang. Kertasura terlihat begitu lincah menghindari semua serangan sambil sesekali menyerang balik.


***


Lingga terus berdiri didepan mulut gua sambil memandang lautan ombak yang bergerak kesana kemari. Angin laut malam ini terasa lebih kencang dari biasanya.


"Suasananya begitu hening, sesuatu yang besar sepertinya akan terjadi". Gumam Lingga bergidik.

__ADS_1


Dia menoleh kearah Sabrang yang terlihat asik dengan makanannya. "Bagaimana dia bisa begitu tenang di saat seperti ini". Lingga menggelengkan kepalanya.


Ciha masih asik dengan tulisan di dinding gua dan Mentari memutuskan mengistirahatkan matanya sejenak. Tubuh mungilnya menyender di dinding gua tak jauh dari Sabrang duduk.


Saat Lingga masih asik dengan pikirannya tiba tiba ada yang aneh dengan air laut. Perlahan namun pasti air laut mulai terlihat menjauh dari dinding gua. Entah kebetulan atau tidak suasana tiba tiba mencekam, Lolongan serigala hutan saling bersautan seolah mereka menyambut sesuatu yang menakutkan. Hembusan angin laut yang lumayan kencang dan menusuk tubuh menambah mencekam suasana.


"Sepertinya sudah mau dimulai". Lingga menggengam erat pedangnya. Dia merasa ada sesuatu yang menekan tubuhnya entah dari mana.


Sabrang mendekati Lingga yang masih mematung memandang air laut yang mulai surut.


"Kau merasakannya?". Lingga berbicara tanpa menoleh kearah Sabrang.


"Tubuhku benar benar bergetar merasakan sesuatu yang meluap dari dalam gua itu". Sabrang menunjukan tangannya yang terlihat bergetar. Lingga sedikit terkejut melihat reaksi Sabrang.


Sabrang bukan pendekar sembarangan, bahkan dihadapan Kertasura saat mereka hampir bertarung di Sekte tapak es utara dia terlihat tidak gentar sedikitpun namun kali ini tubuhnya seperti bereaksi berlebihan terhadap sesuatu dari dalam Dieng. Lingga memang merasakan tekanan itu namun dia yakin tidak akan membuat Sabrang takut.


"Apa yang terjadi denganmu?". Tanya Lingga heran.


"Aku tidak tau, aku hanya merasakan tubuhku seperti menolak masuk kesana". Ucap Sabrang bingung.


"Kau harus berhati hati, sepertinya ini tidak baik". Lingga masih menatap air laut yang kini sudah surut seluruhnya.


"Sudah saatnya kita pergi". Sabrang sedikit berteriak pada Ciha dan Mentari. Mereka bergegas melangkah kemulut gua setelah mendengar ajakan Sabrang.


Semua terdiam memandang batu karang yang sudah terlihat jelas dibawah.


"Ayo". Lingga bersama Ciha melompat terlebih dahulu. Lingga menancapkan pedangnya untuk memperlambat tubuhnya meluncur.


"Kau sudah siap?". Sabrang mengulurkan tangannya kearah Mentari. Setelah Sabrang memeluk Mentari dia melompat turun.


Dimalam yang hening itu 4 sosok manusia bergerak turun ke arah gerbang yang paling dicari oleh dunia persilatan.


Saat kaki mereka menginjak batu karang aura menekan sudah menyambut mereka dari dalam. Terlihat dua susun batu lumayan besar dihadapan mereka.


"Gunakan Segel pelindung". Ciha merapal jurus segel pelindung dan melangkah mendekati batu yang tersusun dihadapannya.


"Segelmu?". Lingga menatap heran Sabrang yang tubuhnya tidak diselimuti aura kuning.


Sabrang hanya terdiam, dia masih berusaha menekan gejolak ditubuhnya yang seperti menolak masuk kedalam. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Naga api, tubuhnya bereaksi". Ucap Anom pelan.


"Aku tau". Naga api menyalurkan energinya keseluruh tubuh Sabrang. Mereka semua sedikit terkejut saat kobaran api tiba tiba menyelimuti Sabrang.


Setelah Ciha menggeser tuas batu yang ada di bawah batu karang dua batu yang tersusun perlahan bergeser kearah berlawanan. Ciha menghidupkan penerangan yang dibawanya dari Sekte bintang langit.


Sebuah gua yang begitu indah dengan hiasan alami berupa stalaktit dan stalakmit menyambut mereka saat gerbang itu terbuka.


"Aura biru akan memenuhi ruangan ini untuk sesaat, jangan sentuh apapun yang muncul dihadapan kalian atau kalian akan dirasuki oleh sesuatu di tempat ini. Aku akan memasang segel kabut setelah kita menemukan batu tulis itu. Jangan pernah berpencar, ingat waktu kita hanya 4 hari, malam keempat dari hari ini gerbang akan kembali tertutup. Kita bergerak bersama".


Ciha melangkahkan kainya masuk Dieng begitu juga dengan Sabrang dan yang lainnya. Mereka melangkah dengan hati hati sambil sesekali melihat keindahan gua tersebut dan tanpa mereka sadari sesuatu sedang terjadi pada Sabrang. Mata bulannya semakin lama semakin bersinar, dua lingkaran kecil berwarna merah darah terbentuk dikedua bola matanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sekali lagi terima kasih atas dukungan yang begitu besar pada Novel PNA selama dua bulan ini. Kalianlah yang membuat saya terus semangat update di saat seperti ini.

__ADS_1


Semoga kita semua diberi kesehatan aminnn


__ADS_2