
"Dia mengalirkan tenaga dalamnya ketubuh gadis itu untuk menahan seranganku. Jurus apa yang digunakannya, tanganku seperti terbakar". Pendekar itu mengibaskan tangannya yang terasa panas.
"Tuan muda". Arkadewi masih terkejut setelah merasakan ada tenaga dalam yang melindungi tubuhnya.
"Maaf aku terlambat, sakit dikepalaku benar benar mengganggu". Sabrang melangkah mendekati pendekar itu sambil melepaskan Energi bumi untuk menekan pendekar itu.
Wajah pendekar itu menjadi pucat pasi menerima tekanan tenaga dalam Sabrang.
"Apakah manusia benar benar bisa memiliki tenaga dalam sebesar ini?".
Tangan kanan Sabrang terlihat diselimuti es tipis yang perlahan menjalar sampai ke lehernya. Setelah berada didekatnya Sabrang dengan cepat mencengkram leher pendekar itu. Kini Lapisan es di tangan Sabrang menjalar hampir keseluruh tubuh Pendekar itu.
"Kau tau rasanya membeku? tubuhmu akan mati rasa setelah itu perlahan kesadaranmu akan menghilang, nafasmu terasa sesak hingga jika kau boleh memilih kau akan memilih mati. Kematian perlahan akibat tubuhmu membeku akan menyiksa disisa hidupmu". Sabrang menyeringai menatap tajam Pendekar itu.
Pendekar itu hanya terdiam dan mulai merasakan apa yang dikatakan Sabrang tadi. Wajahnya mulai pucat menandakan aura dingin mulai masuk ke tubuhnya.
"Sekarang katakan padaku apa yang dilakukan Lembah tengkorak di sini?". Ucap Sabrang dengan suara pelan namun mampu membuat pendekar itu ketakutan.
"Ke...Ketua memerintahkan kami untuk mencari pusaka di dalam Alas roban".
"Pusaka?" Sabrang terdiam mendengar pengakuan pendekar itu. Dia sudah bisa menebak pusaka yang mereka cari adalah Keris penguasa kegelapan.
Perlahan aura dingin ditubuh Sabrang menghilang berganti dengan hawa panas yang menyelimuti hampir sekujur tubuhnya. Bongkahan es di tubuh pendekar itu mulai mencair.
"Kau kali ini kulepaskan, katakan pada Lembah tengkorak jika berani menyentuh keris itu aku akan menghancurkan kalian tanpa sisa". Suara Sabrang meninggi membuat bulu kuduk pendekar itu meninggi. Dia hanya bisa mengangguk cepat mendapat ancaman Sabrang.
"Ayo kita pergi nona, sepertinya aku sedikit terlambat". Sabrang memberi tanda pada Arkadewi untuk melanjutkan perjalanan.
***
Sesosok tubuh melesat diantara rimbunnya pepohonan di Alas roban. Dia berhenti sejenak memandang luasnya alas roban.
"Tempat ini sudah kulewati tadi, sepertinya aku hanya berputar putar di tempat ini". Batara bergumam sambil memandang tanda yang dia buat di salah satu pohon.
Batara memutuskan beristirahat sejenak sambil menatap sekitarnya. Rimbunnya Alas roban membuat udara menjadi lembab menambah kesan angker hutan tersebut.
__ADS_1
Tak lama setelah Batara duduk sesosok bayangan melesat tak jauh dari tempatnya beristirahat.
"Siapa dia?" Batara memutuskan mengikutinya dari belakang dengan tetap menjaga jarak agak jauh. Dengan kemampuan ilmu meringankan tubuh seperti itu Batara yakin ilmu kanuragan pendekar itu sangat tinggi.
Batara memutuskan menghentikan langkahnya disebuah pohon tinggi sesaat setelah pendekar tersebut menghilang dari pandangannya.
"Aku yakin dia bergerak kemari kenapa tiba tiba menghilang". Batara menjadi siaga sambil menatap sekelilingnya.
Sebuah serangan dari arah belakang membuat Batara melompat turun dari atas pohon. Serangan tiba tiba itu hampir mengenainya andai dia tidak menggunakan perisai pelindung matahari milik Lembah siluman.
"Berani sekali kau mengikutiku". Sesosok tubuh terlihat melayang diudara.
Batara menjadi siaga terhadap pendekar dihadapannya.
"Jika kau menginginkan Keris penguasa kegelapan kusarankan kau melupakannya". Lingga berkata sambil menatap tajam Batara.
"Pendekar Iblis hitam memang mengerikan namun ancaman mu tak akan berhasil terhadap Lembah siluman". Batara melepaskan aura dan mencoba menekan Lingga.
"Oh jadi benar kabar jika Lembah siluman sudah bangkit kembali". Lingga dapat merasakan jika ilmu kanuragan Batara jauh lebih kuat dari pendekar Lembah siluman yang pernah dia hadapi beberapa saat lalu.
Kau bisa membayangkan dunia tanpa permusuhan, dunia tanpa saling bunuh. Lembah siluman akan mengatur semua kepentingan kalian".
Lingga terkekeh mendengar perkataan Batara "Kalian ingin menghentikan pembunuhan dengan membunuh?".
"Akan selalu ada pengorbanan demi sebuah tujuan, beberapa orang dikorbankan demi sebuah perdamaian di dunia ini bukankah itu setimpal?".
"Kalian tidak tau betapa berbahayanya pusaka yang akan kalian bangkitkan itu, kau pikir pusaka itu bisa dikendalikan oleh kalian?". Ucap Lingga
"Jika ada orang yang bisa mengendalikan Suling raja setan didunia ini maka dia adalah ketua kami". Batara menatap tajam Lingga Maheswara.
Lingga menggelengkan kepalanya "Iblis hitam tidak akan tinggal diam, kami akan menghentikan rencana gila kalian".
"Kau pikir Iblis hitam bisa menghentikan Lembah siluman? Saat ketua bangkit bahkan pengguna Naga api akan tunduk dihadapannya".
Batara memutuskan menyerang lebih dahulu, dia bergerak dengan kecepatan tinggi ke arah Lingga. Batara melepaskan beberapa pukulan dan sabetan pedangnya namun terlihat Lingga bisa menghindari walau dia terpaksa menggunakan tenaga dalamnya untuk mengimbangi kecepatan Batara.
__ADS_1
"Jurus pedang penghancur iblis? bukankah ini jurus kuno milik sekte Sungai timur yang telah lama musnah, bagaimana Lembah siluman bisa mempelajarinya". Lingga mengernyirkan dahinya, dia mengenali jurus yang digunakan Batara merupakan jurus terhebat dimasanya.
"Kau terkejut kenapa aku menguasai jurus ini? kau akan lebih terkejut jika melihat jurusku lebih banyak lagi". Batara tersenyum angkuh, dia merasa diatas angin setelah bertukar puluhan jurus dengan Lingga.
Batara bergerak lebih cepat dari sebelumnya dan dalam sekejap dia tiba tiba muncul di belakang Lingga dan menyerangnya.
"Jurus Pedang penghancur Iblis" Batara mengayunkan pedangnya yang telah dialiri tenaga dalam yang besar.
Lingga melompat beberapa langkah sambil merapal sebuah jurus "Tapak Peregang Sukma".
Lingga menahan serangan pedang batara dengan tapak peregang sukmanya. Keduanya terpental mundur beberapa meter akibat efek benturan serangan mereka.
"Kau meremehkanku dengan tidak mencabut pedangmu". Ucap Batara geram. Dia benar benar merasa diremehkan Lingga, mereka telah bertukar puluhan jurus namun Lingga masih belum menyentuh pedangnya.
"Kemampuanmu tak memberikan ku alasan untuk mencabut pedangku". Lingga tersenyum sinis.
Selesai berkata demikian Lingga memutuskan menyerang lebih dulu. Aura hitam pekat tiba tiba meluap dari tubuhnya membuat Batara sedikti bergidik.
Lingga mengeluarkan beberapa jurus tapak milik Iblis hitam dan berhasil mendarat di tubuh Batara. Namun saat dia mencoba terus menekan Batara tiba tiba tubuhnya terdorong beberapa meter terkena energi yang tiba tiba muncul dihadapannya.
"Tak kusangka kau menguasai perisai pelindung matarari". Lingga merasakan tangannya sedikit terasa sakit akibat terkena jurusnya sendiri.
"Kau terlalu meremehkanku, sekarang cabut pedangmu". Batara kembali menyerang dengan kecepatan tinggi namun Lingga terlihat lebih berpengalaman dalam pertarungan hidup dan mati sehingga dia tetap terlihat tenang saat Batara menyerangnya membabi buta.
Serangan cepat Batara dapat dihidari oleh Lingga bahkan beberapa serangan tapaknya berhasil menembus pertahanan Batara.
"Kuakui kau memang cepat namun kau terlalu percaya diri dengan kemampuanmu. Pertarungan tak hanya soal jurus namun ketepatan membaca gerakan lawan dan kau lemah dalam hal ini". Tapak peregang Sukma tepat mengenai tubuh Batara sesaat sebelum Batara bergerak menghindar.
Namun lagi lagi Lingga ikut terpental mundur terkena efek serangannya sendiri. Perisai pelindung Matahari memang jurus yang dapat menyerap serangan lawan dan mengembalikan pada penggunanya sebagai sebuah serangan.
"Perisai itu sangat merepotkan". Lingga bergumam sambil mengatur nafasnya. Diakuinya kecepatan Batara mampu menguras tenaga dalamnya.
"Baiklah jika kau tetap meremehkanku akan kupaksa kau mencabut pedangmu". Batara terlihat merapal sebuah jurus.
Beberapa saat kemudian aura hitam tampak menyelimuti pedangnya. Bebatuan disekitar tubuh Batara beterbangan seolah terhisap oleh aura hitam yang menyelimuti pedangnya.
__ADS_1
"Jurus ini?" Lingga secara reflek memegang gagang pedangnya. Wajahnya terlihat berubah serius.