
Mantili terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu namun rasa penasaran membuatnya memberanikan diri bertanya.
"Apa sekteku memiliki hubungan dengan Kumari kandam?".
"Maaf tetua, untuk hal itu aku belum berani menjawab namun pasti ada alasan mengapa leluhur anda memilih tempat ini sebagai markas sekte Tapak es utara. Sepertinya jawabannya berada di telaga khayangan api". Ucap Wardhana pelan sambil memperhatikan sesuatu.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu paman?". Tanya Sabrang saat melihat Wardhana seperti melamun memikirkan sesuatu.
"Ah tidak Yang mulia, aku hanya merasa mengerti kenapa ken Panca begitu takut untuk meneruskan pencarian Telaga khayangan api".
"Maksud paman?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Tempat ini dibangun dengan sangat detail Yang mulia, Setiap sudut ruangan dibangun dengan begitu simetris dan setiap sudutnya sama persis ditambah dengan pasir yang memenuhi setiap sudut ruangan. Sepertinya semua ini digunakan untuk meredam dan melindungi bangunan ini dari getaran atau gempa. Bangunan ini diciptakan agar bertahan lama, ilmu pengetahuan yang mereka gunakan benar benar mengerikan". Wardhana menggeleng pelan.
"Apakah mungkin ada ilmu pengetahuan seperti itu?". Suliwa menatap Wardhana bingung, bukan hanya Suliwa namun semua yang ada diruang rahasia itu dibuat bingung dengan analisa Wardhana. Bagaimana mungkin mereka bisa berfikir sangat detail seperti itu jika saat ini saja belum ada yang menguasai pengetahuan semaju itu.
"Tempat ini menunjukan pada kita bagaimana mengerikannya peradaban Kumari kandam". Jawab Wardhana pelan.
"Lalu apa rencana anda tuan Adipati?". Tanya Mantili.
"Aku ingin menemukan sisa kunci batu langit sebelum ada yang lebih dulu menemukannya".
"Bukankah lebih baik jika kunci ini kita hancurkan agar tempat itu tidak pernah ditemukan?". Arung ikut bicara.
"Awalnya aku pun berfikir seperti itu namun jika memang menghancurkan kunci batu langit ini adalah solusi terbaik maka orang yang paling bisa menghancurkannya adalah tuan Panca. Pencipta Pusaka naga api tidak mungkin kesulitan menghancurkan batu langit ini. Pertanyaannya kenapa tuan Panca tidak melakukannya? dalam gulungan ini dia hanya mengatakan kuputuskan menunda sampai orang terpilih tiba. Tuan panca memutuskan menunda bukan menghancurkannya pasti memiliki alasan tertentu yang belum kuketahui. Aku tidak ingin kita melakukan kesalahan besar sebelum semuanya jelas".
"Benar juga apa yang dikatakan tuan Adipati, jangan sampai kita melakukan kesalahan besar yang justru membahayakan dunia persilatan. Setauku tuan Panca selalu memiliki alasan atas semua tindakannya". Ucap Arung mengamini pendapat Wardhana.
"Yang mulia, jika diizinkan aku memiliki sedikit rencana untuk menghadapi masalah ini". Wardhana menoleh kearah Sabrang.
"Katakan paman, untuk itulah aku meminta bantuan paman". Jawab Sabrang.
__ADS_1
"Hamba sempat berfikir jika 4 Daratan lainnya tertulis ditempat ini namun ternyata sama sekali tidak ada petunjuk apapun diruangan ini. Sepertinya kita harus pergi kedaratan Celebes, tempat tuan panca menemukan petunjuk telaga api. Hamba yakin akan ada petunjuk lainnya disana.
Kemudian mengenai serangan yang terjadi di Tapak es utara, hal ini menandakan siapapun yang kemarin menyerang sudah mengetahui jika tapak es utara memiliki hubungan dengan telaga khayangan api, akan sangat berbahaya jika tempat ini tidak dijaga ketat karena mereka bisa saja kembali kesini". Wardhana terlihat menggambar sesuatu ditanah sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapak es utara menjadi sangat penting saat ini karena merupakan kunci utama. Kita harus mempertahankan tempat ini apapun caranya. Jika diijinkan hamba ingin membagi menjadi dua tim untuk mempermudah misi kali ini. Tim pertama sebagai tim utama akan pergi kedaratan Celebes untuk mencari tau kebenaran Telaga khayangan api, Kemudian tim kedua bertugas menjaga tempat ini sampai tim pertama kembali. Aku masih yakin mereka akan kembali menyerang tempat ini". Ucap Wardhana.
"Tunggu tuan, apa maksud anda Tapak es utara menjadi kunci utama petunjuk telaga khayangan api?". Tanya Suliwa.
""Gambar batu langit tidak mungkin digambar disetiap rumah para dewa. Anda tidak akan menaruh kunci rumah anda disembarang tempat, ada alasan Ksatria Dwipantara menaruh petunjuk di tapak es utara. Saat ini aku belum mengetahui alasannya namun sepertinya semua akan terjawab di daratan Celebes".
Arung menatap kagum pada Wardhana, dia kini dapat memahami kenapa Sabrang begitu percaya pada Wardhana. Kecepatan berfikir dan membaca situasi yang dimiliki Wardhana benar benar membuatnya kagum.
"Aku sepakat dengan tuan Adipati, harus ada penjagaan ditempat ini. Aku bersama Wulan sari akan tinggal disini bersama tetua Tapak es utara. Aku akan mencoba meminta bantuan sekte kenalanku untuk ikut membantu menjaga tempat ini". Ucap Suliwa pelan.
"Anda bisa mengantar kami kedaratan Celebes bukan?". Tanya Wardhana pada Arung.
Arung mengangguk cepat "Aku akan mengantar kalian namun mau berapa lama kita menjelajahi daratan Celebes?. Daratan Celebes lebih luas dari tanah Jawata, jika kita belum memiliki perkiraan tempat rumah para dewa itu maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencarinya".
"Wentira?". Arung tersentak kaget mendengar ucapan Wardhana.
"Gambar ini sepertinya menunjukan sebuah tempat". Wardhana menunjuk beberapa gambar yang berwarna kuning emas diantara gambar pepohonan hijau pada catatan Ken Panca "(Wentira). Sepertinya tuan Panca menulis catatan ini saat berada di Wentira. Wentira digambarkannya sebagai kota Emas karena bangunannya semua terbuat dari emas. Jika perkiraanku tepat Penduduk Wentira adalah keturunan Kumari Kandam maka tempat yang paling cocok untuk mencari informasi Telaga khayangan api hanya Wentira". Jelas Wardhana.
"Maaf tuan Adipati bukan aku tidak mendukungmu namun Wentira hanyalah kota khayalan yang selalu didongengkan orang tua pad anaknya, tempat itu benar benar tidak ada".
"Anda yakin?". Wardhana menatap Arung tajam.
"Setidaknya sampai saat ini belum pernah ada yang melihat kota Emas itu". Jawab Arung sedikit ragu. Tatapan mata Wardhana seolah mengatakan jika tidak ada yang akan lepas dari pengamatan mataku.
"Banyak tempat yang mungkin jauh dari jangkauan kita, Telaga khayangan api menyadarkanku jika dunia ini begitu misterius dan tidak sesederhana yang kita pikirkan. Jika kau percaya pada telaga khayangan api mengapa tidak dengan kota emas itu?".
Arung terdiam sesaat setelah mendengar jawaban Wardhana.
__ADS_1
"Konon kota Wentira terletak dihutan yang paling ditakuti didaratan Celebes. Membutuhkan waktu dua hari perjalanan dari sekteku".
"Baik, anda hanya perlu mengantar kami ketempat itu sisanya aku yang akan mengurusnya". Ucap Wardhana mantap.
"Jadi kapan kalian akan pergi? aku akan bicara pada Rajawali emas untuk membantu pengamanan tempat ini". Tanya Suliwa.
"Secepatnya tetua, Firasatku mengatakan akan banyak pendekar yang mencari kota itu saat ini namun sebelumnya aku masih membutuhkan beberapa orang untuk ikut bersama Yang mulia".
"Aku akan menyuruh beberapa muridku untuk mengikuti anda tuan". Mantili mengusulkan murid muridnya.
"Maaf tetua bukan aku menolak bantuan anda namun aku membutuhkan satu orang yang bisa membaca aksara kuno dan satu orang pendekar hebat untuk melindungi saat kami sedang memecahkan petunjuk disana". Wardhana menundukan kepalanya.
"Apa paman sudah punya calon yang akan paman bawa?". Sabrang menatap tajam Wardhana, perasaannya seperti tidak enak.
Wardhana mengangguk pelan "Maaf Yang mulia, Ciha akan sangat membantu memecahkan petunjuk yang akan kita temui disana dan Lingga bisa diandalkan dalam pertarungan".
Sabrang mendengus kesal setelah Wardhana mengusulkan nama Lingga.
"Apa yang dikatakan tuan Adipati benar, setelah Kertasura terluka hanya Lingga yang memiliki ilmu kanuragan tinggi namun bagaimana kita akan mencarinya? kudengar dia sudah memutuskan mundur dari Iblis hitam".
"Aku sudah mengirim orang kesekte Bintang langit untuk menjemput Ciha, semoga hari ini dia sudah tiba. Jika Ciha sudah datang dan kita kesulitan menemukan Lingga suka tidak suka kalian harus berangkat dengan tim yang ada". Suliwa melanjutkan.
"Baik tetua, besok kami akan pergi dengan atau tanpa mereka" Jawab Wardhana tegas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kota Wentira atau Uentira adalah sebuah tempat tak kasat mata yang dipercaya berada didaerah hutan belantara di Kota palu Sulawesi tengah (Koreksi jika salah). Konon kota ini peradabannya sudah sangat maju dan seluruh bangunannya terbuat dari Emas. Semacam kota emas Eldorado mungkin.
Dari kesaksian yang pernah ditulis, seorang pilot yang mengendarai pesawat tempur milik Belanda telah melihat kota megah di tengah hutan.
Bangunan-bangunan di kota tersebut berwarna kuning keemasan dengan gedung-gedung pencakar langit lainnya. Nama Kota ini diambil dari kata Uventira yang bermakna air yang bewarna merah. Tetapi, masyarakat sekitar tetap familiar dengan nama Wentira.
__ADS_1
Inget Bambang ini cuma Imajinasi Author yang terinspirasi dari kota Wentira, bener atau gak tempat itu ada mana gua tau.