Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Ancaman Lembah Siluman


__ADS_3

Wardhana terlihat masuk ke dalam penginapan yang berada tak jauh dari Kadipaten Kediri. Dia memutuskan beristirahat sejenak setelah hampir dua hari berjalan tanpa henti.


"Sepertinya tak jauh lagi aku telah sampai di Kadipaten Kediri, sebaiknya aku beristirahat sejenak dan menunggu Seno. Semoga dia bisa menemukanku" Wardhana memesan beberapa makanan dan minuman untuk mengisi perutnya.


Wardhana memang memutuskan bergerak cepat karena Sabrang berpesan untuk secepatnya menemukan murid dari Elang putih yang selamat sebelum permusuhan aliran putih dan hitam berubah menjadi perang terbuka.


"Ku dengar kabar tentang hancurnya Elang putih pertama kali terdengar dari Kediri, jika perkiraan ku tidak salah dia masih berada di sini untuk bersembunyi karena dia sekarang menjadi orang yang paling dicari di dunia persilatan namun bagaimana aku harus mencarinya jika tak ada satupun ciri cirinya yang kuketahui".


Tak lama seorang pendekar berbadan tegap terlihat memasuki penginapan dan duduk tak jaih dari Wardhana.


Wardhana mengernyitkan dahinya dia mengenali Pendekar tersebut karena pernah beberapa kali bertemu saat Malwageni belum runtuh.


"Lingga? kenapa dia berada disini?" Wardhana bergumam dalam hati.


Lingga memesan beberapa makanan untuk mengisi perutnya namun beberapa saat kemudian pandangannya tertuju pada Wardhana. Dia mengetahui Sepak terjang Wardhana selama ini yang memukul mundur Pasukan tangan besi.


Dia tersenyum sesaat sebelum berjalan mendekati Wardhana.


"Tak kusangka aku bertemu dengan mu di sini" Lingga duduk dihadapan Wardhana yang tetap meneruskan makannya tanpa memperdulikan kehadiran Lingga dihadapannya.


"Pelayan bawa sini makanannya" Dia berbicara pada pelayan yang berjalan membawa makanannya.


"Baik tuan" Pelayan itu berjalan mendekati Lingga dan Wardhana.


"Aku bosan duduk sendiri, bolehkah aku bergabung bersamamu?".


Wardhana hanya mengangguk tanpa berbicara kemudian melanjutkan makannya.


"Iblis hitam bukan dalang dibalik hancurnya Elang putih" Lingga bicara tiba tiba saat dia telah menyelesaikan makanannya.


Wardhana mulai tertarik dengan pembicaraan Lingga. Dia menatap Lingga sesaat.


"Apakah aku harus mempercayai musuhku?".


Lingga tersenyum sinis "Aku bisa membunuhmu dengan mudah, kenapa aku harus menjelaskan sesuatu pada orang yang dengan bisa kubunuh dengan mudah jika memang aku pelakunya".


"Lalu kenapa kau menceritakannya padaku? aku bukan bagian dari dunia persilatan dan bukan bagian dari Sekte aliran putih sepertinya percuma kau berbicara padaku" Wardhana tersenyum kecil.


"Suka tidak suka kemampuanmu dalam berpikir dan menganalisa sesuatu ditakuti oleh semua Kerajaan. Sepertinya aku butuh bantuan mu kali ini".


"Dan apa yang membuatmu berfikir aku harus membantumu?".


"Tuan mu yang pengguna Naga api adalah salah satu murid dari Sekte Pedang naga api, jika perang antara aliran pecah maka mau tidak mau tuanmu akan ikut terlibat. Iblis Hitam tidak pernah takut dengan Aliran putih namun kalian pasti juga menyadari ada kekuatan besar yang berusaha bangkit. Siapapun yang keluar sebagai pemenang kelak hasilnya akan sama, kita akan dihancurkan oleh kekuatan besar itu dan aku tidak ingin tunduk pada siapapun".


Wardhana terlihat berfikir sejenak "Aku akan membantumu namun dengan satu syarat".


"Kau berani mengajukan syarat padaku?" Aura Lingga menekan Wardhana.


"Kau mengatakan bisa dengan mudah membunuhku dan aku mengakuinya namun satu hal yang harus kau tau kami bisa mengambil keuntungan dari pertikaian kalian, jikapun aku terbunuh di sini Malwageni memiliki banyak Wardhana lain namun Iblis pedang akan mengalami kerugian besar dari peperangan ini".

__ADS_1


Wajah Lingga mengeras mendengar perkataan Wardhana, dia bisa membunuh orang yang dihadapannya dengan mudah namun apa yang dikatakan Wardhana semuanya benar.


"Apa yang kau minta dariku?" Lingga menatap tajam Wardhana.


"Aku ingin kau membebaskan Kertapati dari penjara Majasari, dengan kemampuan dan koneksi mu sepertinya tidak sulit mengeluarkannya tanpa menimbulkan keributan".


"Permintaanmu terlalu berat" Lingga berkata pelan


"Kertapati hanya prajurit menengah kurasa tidak akan berdampak besar bagi Majasari dan jika ini menguntungkan Iblis hitam bukankah tidak masalah mengeluarkan seorang prajurit menengah?".


Lingga menatap Wardhana, dia sangat mengagumi kemampuan Wardhana dalam bernegosiasi.


"Baik jika aku menyetujui syarat yang kau ajukan lalu bagaimana kau menyelesaikan masalah ini?"


"Mudah saja, Awal berita ini menyebar adalah di Kadipaten Kediri. Sebuah berita yang bisa membuat perang besar antara aliran putih dan hitam membuatnya menjadi orang yang paling dicari di dunia persilatan. Jika aku menjadi dirinya aku akan menetap sementara di sini dan bersembunyi sampai suasana mereda.


Artinya menurut perkiraanku dia masih berada di sekitar Kadipaten Kediri, dia tidak mungkin mengambil resiko bertemu ratusan pendekar yang mencarinya. Kita hanya perlu mencari siapa yang sering bertemu dengannya beberapa hari ini, aku yakin dia tau keberadaan orang itu.


Aku sedang menunggu seorang teman yang telah kutugaskan mencari informasi di Kediri semoga kita mendengar kabar baik".


"Maaf tuan aku terlambat" Seorang pemuda berjalan cepat menghampirinya.


"Ku kira kau tidak bisa menemukanku seno" Wardhana mempersilahkan Seno duduk disampingnya.


"Anu.... tuan" Seno menatap kearah Lingga.


"Tidak apa apa, dia juga mencari kebenaran atas hancurnya Elang putih".


Wardhana tersenyum kecut "Bintang utara terkenal sebagai Sekte tertutup akan sedikit sulit meminta keterangan dari mereka".


"Biar aku yang menemuinya" Suaranya sedikit meninggi.


"Kau tidak akan menambah masalah dengan menghancurkan sekte aliran putih kan? Masalah akan bertambah runyam jika kau melakukannya".


"Jika dia tidak mau bekerja sama......" Belum selesai Lingga berbicara Wardhana memotong.


"Kita akan pergi bersama biar aku yang berbicara dengan tetua Saino dan aku tidak ingin ada kekerasan dalam mencari informasi kali ini".


***


"Mereka tidak bisa di biarkan kali ini, jelas sekalu mereka mengingkari perjanjian enam belas tahun lalu untuk tidak saling menyerang". Ki Gandana berbicara tegas.


"Kita belum tau permasalahan yang sebenarnya tetua, anda mohon bersabar" Suliwa yang baru datang bersama Wulan sari tersenyum ramah.


"Àh tetua, salam hormat" Ki Gandana berdiri menyambut Suliwa diikuti Ki Ageng dan lainnya.


"Tak perlu sungkan" Suliwa duduk diikuti Wulan sari.


"Lalu masalah apa yang akan anda bicarakan?" Mantili bertanya pelan.

__ADS_1


"Ini tentang Lembah Siluman...." Suliwa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan pembicaraannya. Semua menatap Suliwa dengan penuh penasaran.


"Tanda tanda kebangkitan mereka semakin menguat akhir akhir ini, munculnya banyak pendekar muda dengan ilmu yang aneh ditambah dengan beberapa sekte yang tiba tiba menutup diri dari dunia luar semakin menguatkan bahwa mereka mulai berkeliaran di dunia persilatan".


"Maksud anda mereka mulai menyusup ke beberapa sekte?" Ki Gandana mengernyitkan dahinya.


"Benar tetua, beberapa sekte kemungkinan telah disusupi mereka, Aku belum tau apakah Lembah siluman pelakunya atau bukan namun yang pasti ada kekuatan besar yang mencoba menguasai dunia persilatan. Hanya Sekte kelelawar hijau yang gagal mereka susupi karena digagalkan oleh murid Ageng" Suliwa menoleh ke arah Ki Ageng.


Ki Ageng mengernyitkan dahinya "Muridku?".


Suliwa mengangguk "Sabrang berhasil menggagalkan rencana mereka sekaligus memukuk mundur pendekar misterius yang berusaha mengambil alih pimpinan Kelelawar hijau. Namun hampir terjadi Kekacauan baru di dunia persilatan".


"Maksud guru?".


"Kemampuan pendekar misterius itu sangat tinggi, tanpa sadar membangkitkan Naga api yang telah kusegel dalam pedang Naga api, Murid mu hampir menjadi Iblis pembunuh".


Ki Ageng tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya begitu juga dengan Mantili dan Gandana.


"Apa sebenarnya tujuanmu memberikan Pedang Naga api padanya?" Mantili menatap tajam Suliwa.


"Sebenarnya.... " Suliwa terlihat ragu mengatakannya.


"Jika anak itu berubah menjadi Iblis dan dikuasai Naga api dia akan menjadi bencana yang mungkin lebih menakutkan dari Lembah siluman. Apa kau tidak berfikir sampai sana?" Suara Mantili meninggi.


"Sebenarnya Enam belas tahun lalu Naga api telah memperingatkan tentang kebangkitan Pedang Pusaran angin".


"Pedang pusaran angin? kau bercanda? Pedang itu tak pernah ada! kalaupun ada bukankah kabarnya pedang itu di Segel di Dieng dengan Segel kuno" Ki Gandana tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Bukankah Dieng juga di anggap legenda? namun tetua Singa Emas menemukannya?".


Semua terdiam mendengar penjelasan Suliwa, mereka telah melihat sendiri sesuatu yang bangkit dari masa lalu yang dianggap sebagai legenda mulai bermunculan di dunia persilatan.


"Apa yang sebenarnya akan terjadi di dunia persilatan ini?" Sudarta yang dari tadi hanya diam mengamati berkata dalam hati


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


***JANGAN LUPA VOTE VOTE DAN VOTE


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca


Dukung juga penulis di


Karyakarsa. com /RickypakeC


dengan memberikan vote dan dukungan dalam bentuk lainnya***


__ADS_1


#***Road to 100 Chapter Pedang Naga Api


Terima kasih atas dukungan teman teman semua 🙏🙏***


__ADS_2