Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Perangkap Wardhana


__ADS_3

Setelah kepergian Sabrang dan kelompoknya dari Wentira, suasana kota itu kembali berbenah. Ruangan bintang yang selama ini dijadikan tempat terlarang untuk dikunjungi disulap menjadi ruangan Tanwira.


Tanwira tampak mengawasi sendiri pemindahan ruangannya bersama Dananjaya.


"Aku masih tidak percaya jika selama ini kita menjaga tempat kosong ini, jika salah satu pecahan kunci itu tidak berada disini lalu dimana ksatria itu menyembunyikannya?". Ucap Tanwira pelan.


"Hamba juga cukup terkejut Yang mulia, mungkin memang pecahan itu disembunyikan ditempat lain". Jawab Dananjaya pelan sebelum dia berteriak pada prajuritnya yang sedikit ceroboh.


"Hei kau! berhati hatilah, dinding emas itu sedikit rapuh!". Bentak Dananjaya.


Tanwira cukup terkejut mendengar teriakan Dananjaya. Matanya menoleh menyelidik, seolah ada yang aneh dengan Dananjaya.


"Panglima, bagaimana kau tau tempat itu rapuh? Bukankah kah kemarin berjaga diatas dan tidak ikut masuk?". Tanya Tanwira curiga.


"Ah.. itu.. Hamba hanya merasa jika tempat yang sudah dibangun jutaan tahun akan rapuh Yang mulia". Jawab Dananjaya terbata bata.


"Sejak kapan logam emas bisa rapuh? Bahkan bangunan Wentira tetap kokoh walau sudah jutaan tahun". Tiba tiba prajurit yang dibentak Dananjaya menjawab pelan.


Dananjaya makin panik setelah menyadari kesalahan ucapannya.


"Kenapa dengan wajah anda tuan? apa aku salah bicara tuan Dananjaya ah tidak apa aku boleh memanggilmu pendekar langit merah?". Prajurit tersebut melangkah mendekati Dananjaya.


Dananjaya menajamkan matanya saat prajurit itu mendekatinya. Setiap prajurit Wentira memang dilengkapi dengan penutup kepala dan wajah sehingga sulit baginya mengenali wajah prajurit itu.


"Siapa kau sebenarnya?". Dananjaya mulai memegang pedangnya. Melihat reaksi tak biasa Dananjaya, Tanwira mundur beberapa langkah.


Prajurit itu mulai membuka penutup kepala dan wajahnya, terlihat senyum dingin Wardhana.


"Kau? bagaimana? bukankah kau sudah pergi dari kemarin?". Ucap Dananjaya semakin panik.


Tanwira pun sangat terkejut melihat Wardhana bisa menyusup dipasukannya


"Pergi? aku tidak akan pergi sebelum membawa pecahan kunci Telaga khayangan api".


"Tuan, bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?". Tanwira yang masih belum memahami situasinya, bertanya pada Wardhana.

__ADS_1


"Sejak awal pecahan kunci itu ada diruangan ini tuan, namun seseorang mencurinya secara tergesa gesa".


"Secara tergesa gesa?". Tanwira mengernyitkan dahinya.


"Aku menyadarinya saat menyentuh Batu cahaya diruangan ini. Batu cahaya bersifat menyerap energi panas dan memantulkannya kembali menjadi cahaya, saat aku menyentuh batu itu masih terasa hangat jadi aku yakin ada yang lebih dulu masuk sebelum kita kemarin. Sepertinya dia terpaksa mencuri karena kedatangan kami, dia tidak ingin kunci itu jatuh ketangan kami. Aku sempat bertanya pada anda kemarin apakah tempat ini dijaga dan anda memastikan tidak ada yang bisa lepas dari penjagaan bukan? Jika demikian aku bisa pastikan yang mencuri pecahan kunci itu adalah para penjaga itu sendiri". Wardhana menatap tajam Dananjaya.


Dananjaya tersenyum kecut setelah mendengar ucapan Wardhana, dia mulai melepaskan aura dari tubuhnya.


"Dia berbohong Yang mulia, hamba benar benar tidak tau apa yang dia bicarakan, pendekar langit merah? Hamba bahkan baru mendengar dari mulutnya, tidak mungkin hamba berkhianat setelah mengikuti anda sekian lama". Dananjaya terus membela dirinya.


Tanwira terdiam setelah mendengar ucapan Wardhana. Apa yang dikatakan Wardhana sangat masuk akal namun dia hampir tidak percaya jika Dananjaya tega mengkhianatinya.


"Kepercayaan dirimu yang begitu tinggi membuatmu membongkar sendiri topengmu". Sindir Wardhana.


"Apa maksudmu?". Tanya Dananjaya menahan amarah.


"Kau memberiku gulungan catatan siasat sebagai hadiah agar perhatianku teralihkan karena kau tau aku lebih tertarik dengan siasat perang namun kau melupakan satu ucapanku saat itu. Aku akan melakukan apa saja untuk mendukung Yang mulia mencapai puncak kekuasaan". Wardhana mengambil gulungan yang diberikan Dananjaya dari saku pakaiannya.


"(Siasat ini kusiapkan untuk pertempuran jika kami bangkit merebut sesuatu yang seharusnya menjadi takdir kami sejak dulu, langit darah akan bangkit dengan siasatku). Langit darah adalah khiasan untuk sekte langit merah, aku pernah membaca disalah satu catatan Tuan Panca. Kau terlalu percaya diri karena menganggap para pendekar langit merah memiliki kecerdasan yang luar biasa namun kali ini akan kubuktikan jika kalian tidak ada apa apanya dimataku".


"Apa aku pernah mengatakan jika dia bukan penduduk kumari kandam tuan? jika perkiraanku tidak salah pendekar langit merah adalah sekte yang dibentuk oleh tuan Panglima untuk menguasai telaga khayangan api.


Yang menulis kitab paraton adalah tuan panglima untuk menuntun para pendekar langit merah menuju telaga khayangan api karena dia tidak bisa meninggalkan Wentira selama belum bisa mengambil sesuatu diruang rahasia ini". Wardhana memukul dinding rapuh yang tadi secara sengaja dia benturkan dengan meja untuk memancing amarah Dananjaya.


Sebuah ruangan lain terbuka ketika dinding rapuh tadi hancur. Dananjaya sudah tidak bisa menahan emosinya, dia melepasksn seluruh aura ditubuhnya untuk menekan semua yang ada disekitarnya.


"Apa yang ada diruangan itu?". Tanya Tanwira terkejut.


"Anda bisa menanyakan langsung pada panglima Dananjaya". Wardhana tersenyum sinis".


"Katakan jika yang dikatakannya tidak benar panglima?". Tanwira menatap tajam Dananjaya.


"Kau adalah raja yang lemah tuan, aku harus merebut tahtamu. Harusnya dengan kekuatan dan ilmu pengetahuan yang kita miliki dunia persilatan sudah dalam genggaman namun kau tidak tertarik sama sekali dan lebih memilih bersembunyi seperti tikus ditempat seperti ini". Dananjaya tersenyum sinis.


"Kau telah dikuasai hawa nafsumu, kau tak ada bedanya dengan 10 Dewa Kumari kandam". Tanwira menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kau melakukan kesalahan besar Wardhana, aku melepaskanmu kemarin karena aku cukup kagum dengan kecerdasanmu namun kau terlalu ikut campur. Apa kau pikir kekuatan kalian bisa menghentikanku dan pendekar penjaga Wentira?".


"Jadi kalian semua terlibat? aku cukup terkejut karena perkiraanku hanya kau pelakunya namun sekali lagi kepercayaan diri yang kau miliki sekali lagi menghancurkanmu. Bukan aku yang harusnya khawatir tapi kalian". Wardhana tersenyum penuh makna.


"Kau.. jangan jangan". Belum selesai Dananjaya bicara aura yang lebih besar menekan ruangan itu.


Dua pendekar penjaga Wentira tiba tiba roboh ketanah ketika dua buah energi keris menghujam tubuh mereka.


"Tidak ada yang bisa keluar dari ruangan ini hidup hidup". Sabrang tiba tiba mucul bersama Lingga dan Arung dari belakang.


"Kendalikan kekuatanmu bodoh atau kita semua akan terkubur diruang bawah tanah ini". Umpat Lingga pada Sarbrang.


"Kau terlalu cerewet". Ejek Sabrang.


Dananjaya memberi tanda pada dua pendekar penjaga untuk bersiap menyerang, dia bersiul beberapa kali seolah memanggil sesuatu.


"Jika kau berniat memanggil 4 pendekar lainnya yang kau siagakan dipintu masuk maka lupakanlah, mereka sudah menjadi abu". Ucap Arung sesaat sebelum dia mulai menyerang.


Pertempuran diruangan yang cukup sempit itu dak dapat dihindari lagi. Tekanan aura yang keluar dari tubuh Sabrang semakin membuat ruangan terasa sempit.


Dananjaya tiba tiba menyerang Wardhana yang berada dalam jangkauannya, dia merasa harus membunuh Wardhana terlebih dulu karena dialah penyebab rencananya berantakan.


Wardhana yang tidak siap menerima serangan berusaha menghindar namun gerakan Dananjaya lebih cepat, dalam sekejap dia sudah berada didekat Wardhana. Ketika serangannya hampir mengenai Wardhana, Sabrang tiba tiba muncuk dihadapannya dan menangkis serangan Dananjaya.


"Bagaimana dia bisa berpindah tempat secepat ini". Ucap Dananjaya kesal.


"Bersiaplah, hari ini akan kubalaskan kematian paman Malewa". Ucap Sabrang sambil menarik keris yang terbentuk diudara.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Baterai Bagdad atau dalam novel PNA disebut batu cahaya adalah artefak kuno jutaan tahun lalu yang ditemukan pada tahun 1936 di dekat Bagdag irak. Sampai saat ini Baterai bagdag masih menjadi pertanyaan besar bagi para ilmuan karena fungsinya hampir sama dengan batu baterai atau aki saat ini.


Bagaimana para nenek moyang bisa membuat alat secanggih itu? Nikmati aja BAMBANG jangan terlalu dipikirin ntar mumet dewe...


Terakhir... Vote.. ojo moco wae

__ADS_1


__ADS_2