Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Wardhana Dalam Bahaya


__ADS_3

Wijaya terlihat berjalan cepat menuju sebuah rumah di dekat hutan tak jauh dari keraton Malwageni, dia terhilat sedikit khawatir.


Tak lama Lembu sora tampak menyambutnya dan mempersilahkannya masuk.


Terlihat beberapa orang telah menungu di dalam ruangan juga dengan wajah yang terlihat cemas. Wijaya bergegas duduk diikuti Lembu sora dibelakangnya.


"Apakah yang lain berhalangan hadir kakang?" Wijaya bertanya pada Lembu sora.


"Benar kakang, beberapa orang sedang melaksanakan tugas mata mata di wilayah Majasari. Tuan Wardhana sedang membangun persahabatan dengan beberapa kadipaten di Saung Galah, yang lainnya..... ehm....".


Lembu Sora tidak melanjutkan perkataannya. Wijaya memejamkan matanya sambil menggeleng pelan, dia sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan Lembu Sora padanya.


Sejak pertempuran di Kadipaten Wanajaya, Majasari menjadi sangat agresif. Mereka memburu orang yang dianggap pendukung Malwageni.


Wijaya dan lainnya ikut merasakan efek agresifitas Majasari.


Dua markas rahasia tempat orang orang Wijaya bertemu dan berbagi informasi di hancurkan begitupun dengan para pendekarnya. Pasukan yang dipimpin oleh Iblis hitam membunuh siapa saja yang dicurigai membangkang pada Majasari.


"Aku sudah tau kakang, dalam dua minggu kita kehilangan banyak pendukung kita. Beberapa keluarga bangsawan yang kemarin mendukung kita kini menarik diri akibat tekanan Majasari" Wijaya menggelengkam kepala.


"Lalu apa yang akan kita lakukan tuan?" Lembu sora bertanya pelan.


"Kita harus menahan diri sementara waktu sampai Wardhana berhasil menjalankan misinya".


Wijaya menatap beberapa orang yang ada dihadapannya "Aku ingin meminta tolong pada kakang sedikit". Wijaya menoleh kearah Lembu sora dan dibalas anggukan menandakan setuju.


"Aku ingin kakang dan yang lainnya sementara mengungsi ke beberapa Sekte pendukung kita. Cepat atau lambat tempat ini akan menjadi giliran berikutnya untuk dihancurkan. Aku sudah mendapat izin dari Sekte Pedang naga Api, Rajawali Emas dan beberapa sekte kecil untuk tempat bersembunyi sementara waktu".


"Lalu tuan?" Lembu sora memandang Wijaya cemas.


"Aku ada sedikit keperluan dengan tetua Kelompok teratai merah, setelah selesai aku akan menghubungu kalian".


"Ingatlah untuk tidak melakukan gerakan mencolok untuk sementara waktu".


"Baik Tuan Patih" Mereka serempak menjawab.


Wijaya melangkah keluar rumah kecil itu, matanya menerawang menandakan hatinya sedang tidak baik.


"Di mana anda Pangeran? Semoga anda baik baik saja"


Teriakan salah satu prajuritnya membuyarkan lamunan Wijaya.


"Ada beberapa prajurit menuju kemari tuan patih" seorang prajurit penjaga berlari cepat menuju Wijaya.


Tak lama Lembu Sora terlihat keluar mendengar ada keributan.

__ADS_1


"Ada apa tuan?".


"Matikan semua lampu dan penerangan lainnya, ada beberapa prajurit menuju kemari, aku akan mencoba menghadang mereka dan katakan pada yang lainnya untuk segera pergi dari sini, aku akan menghubungi kalian secepatnya.


Tubuh Wijaya melesat dan menghilang dikegelapan malam.


***


Sabrang perlahan membuka matanya, dia kemudian bangkit dan duduk di pinggir tempat tidurnya.


Terlihat Mentari sedang tertidur dalam kondisi duduk tak jauh dari tempat tidur Sabrang. Wajahnya menyiratkan kelelahan yang sangat.


"Kau seperti biasa terlalu memaksa nona" Sabrang menggeleng pelan.


Tak lama perutnya terdengar menjerit membuat Mentari terbangun.


"Ah tuan muda sudah sadar?" Mentari mendekati Sabrang dan memberikan minum untuknya.


"Aku akan mengambilkan makanan anda tuan, mohon menunggu sebentar". Sabrang mengangguk pelan.


Mentari bergegas keluar mengambil makanan yang sudah dimasaknya.


Sabrang merasakan tangan kirinya sakit saat tak sengaja menyentuhnya. dia melihat tangannya kemudian mengernyitkan dahinya.


Tak lama Mentari masuk dengan makanan ditangannya


"Di mana Guru? aku belum melihatnya?" Sabrang melihat sekelilingnya. Dengan rumah kecil begini harusnya dia sudah melihat gurunya.


"Kakek pergi dari kemarin, ada pertemuan dengan beberapa tokoh aliran putih di Lembah sukma ilang Teratai Merah".


Sabrang mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan mentari.


"Ada apa mereka berkumpul? apakah ada yang genting" Sabrang bergumam dalam hati.


"Maaf tuan muda kemarin aku sedikit mencuri dengar Kakek sedang berbicara dengan seseorang. Aku mendengar mereka berbicara tentang Paman Wijaya".


"Sepertinya memang sesuatu yang penting terjadi" Sabrang berpikir sejenak.


"Jika tuan ingin mengikuti pertemuan itu aku bisa pulang sendiri. Seperti yang aku katakan kemarin rumah ku tidak jauh dari sini".


"Ah tidak apa apa, aku yakin semua sudah ditangani oleh Paman Wijaya, jika pun ada sesuatu yang penting paman Wijaya pasti mengutus orang untuk memberitahu ku" Sabrang tersenyum lembut dan memandang Mentari.


"Aku tetap akan mengantarmu pulang".


Mentari mengangguk tanpa berani menatap Sabrang.

__ADS_1


***


"Kau pikir dengan menyiksaku seperti ini aku akan membuka mulutku?" Wardhana terlihat terikat disebuah kursi dengan Wajah babak belur.


"Apa yang kau dapat dengan keras kepala seperti ini? kau hanya akan mati sebagai tikus!!!" Seorang pria berbadan tegap berdiri dihadapannya.


"Lebih baik mati sebagai tikus demi membela apa yang kami miliki dari pada hidup enak dengan menjadi peliharaan Majasari". Warhdana tersenyum sinis.


"Duaaaak" Sebuah pukulan kembali mendarat di wajah Wardhana.


"Apa maksudmu?" Pria tersebut mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Apa aku salah bicara? Bukankah aku berada di Kadipaten Ligung? Salah satu daerah kekuasaan Saung Galah? dan tunggu.... Anda membiarkan utusan Majasari berkunjung setelah apa yang mereka lakukan pada Wanajaya?. Aku sedang berpikir bagaimana jika Keraton Saung galah tau kau menyembunyikan utusan Majasari di kadipatenmu tuan Singgih?".


"Kau!!! Jika tuan Lingga tidak melarangku membunuhmu sudah dari kemarin kau menjadi mayat!" Singgih menatap Tajam Wardhana.


"Jika dengan ratusan pasukan tangan besi saja kemarin tidak bisa membunuhku lalu apa yang dapat kau lakukan dengan kadipaten kecilmu ini?" Wardhana tertawa lantang membuat Singgih semakin marah.


"Akan kupastika kau mati dengan tanganku sendiri saat semua rencana ini berhasil".


Wardhana hanya tersenyum kecut kendapati dirinya berada di tahanan kadipaten Ligung. beberapa hari yang lalu dia mengunjungi Kadipaten ligung untuk meminta bantuan kerjasama.


Namun ternyata Adipati Singgih telah membelot pada Majasari dengan imbalan kekayaan yang sangat besar. dan akhirnya dia berakhir di Penjara ini.


"Aku harus mencari cara memberitahukan pada Tuan Gundala" Wardhana menggeleng pelan.


○**Sedikit info yang kurang penting


Sebuah novel dengan judul


"Tentang kita (Komedi Romantis)"


Inget judulnya pake dalem kurung juga karena secara tidak sengaja gua men "Search" banyak novel dengan judul tentang kita. akhirnya gw pakein tambahan komedi romantis...


Sebuah novel kisah cinta antara Sabrang dan Mentari dengan versi modern gak pake silat silatan dan diramu dengan Komedi romantis.


Percaya sama gua hidup lo gak GAUL kalo belum baca novel ini...


terima kasih dan mohon dukungannya juga buat pembaca setia Naga Api untuk men "search" Novel


"Tentang Kita (Komedi Romantis**)"



Terima kasih dan mohon dukungannya

__ADS_1


__ADS_2