
Wardhana menatap sebuah bangunan tinggi menjulang dihadapannya sambil mengeluarkan gulungan dari balik pakaiannya.
"Apa ini tempatnya paman?" tanya Sabrang pelan.
"Benar Yang mulia, jika melihat pertemuan garis dari sembilan titik gedung itu, harusnya inilah tempatnya," jawab Wardhana sambil berjalan kearah pintu bangunan itu dan memasukinya.
Sebuah ruangan besar yang terdiri dari beberapa sekat yang berlapis emas menyambut mereka saat pintu terbuka.
Dinding ruangan itu tampak dipenuhi dengan relief bergambar aneh disertai tulisan dibeberapa tempat. Di beberapa sudut ruangan terdapat rak penyimpanan kitab yang sudah kosong.
"Sepertinya ini ruang penelitian mereka, bagaimana mereka memiliki ilmu pengetahuan setinggi ini," ucap Wardhana pelan sambil menyentuh sebuah batu lempengan dengan tulisan aneh terukir di atas batu.
"Tetua?" Wardhana menoleh kearah Wulan.
Seolah mengerti maksud Wardhana, Wulan berjalan mendekati Wardhana dan mulai membaca tulisan yang terdapat di lempengan batu itu.
"(Alam menentukan siang dan malam dan semua sistem yang berputar didalamnya)," ucap Wulan sambil mengernyitkan dahinya.
"Sistem yang berputar didalamnya?" gumam Wardhana pelan.
Tak jauh dari lempengan itu diletakkan, sebuah batu besar dengan beberapa gambar aneh, diantaranya gambar orang sedang berkebun, berlatih ilmu kanuragan dan beberapa gambar aneh lainnya dengan latar gambar seperti hujan yang bersanding dengan gambar matahari.
Wajah Wardhana makin bingung saat tiba tiba sinar matahari masuk kedalam ruangan dari atap yang sepertinya sengaja dilubangi dan menyinari lempengan batu yang tadi dipegangnya.
"Sepertinya ini suatu sistem untuk menentukan waktu menanam dan berlatih ilmu kanuragan, mereka memanfaatkan sinar matahari yang menyinari alat ini untuk mengetahui perubahan cuaca. Bagaimana bisa mereka membuat benda ini dengan semua sistem kerumitannya?" ucap Wardhana takjub.
"Jadi maksudmu semua sistem rumit ini digunakan untuk menentukan cuaca dan kehidupan mereka?" Wulan tampak tidak mempercayai ucapan Wardhana.
Dia pernah hidup dalam lingkungan Masalembo sebelum dibuang, dan sepengetahuannya teknologi Masalembo tidak sedetail ini.
"Jangan memandangku seperti itu, aku pun ingin menyangkalnya namun semua alat ini seolah menjelaskan semuanya. Mereka benar benar mengerikan," balas Wardhana pelan.
"Ciha, bawa beberapa benda ini dan gambar ulang semua yang ada di dinding ruangan ini, aku akan memeriksanya setelah kembali ke Malwageni dan menggunakannya disana, dengan semua ini, Malwageni akan mencapai masa keemasannya," pinta Wardhana.
"Baik tuan," balas Ciha.
"Paman, kau harus lihat ini," panggil Sabrang yang berdiri di sudut ruangan sambil menatap gambar dihadapannya.
Wardhana dan Wulan langsung berjalan mendekati Sabrang dan menatap gambar yang ditunjukkan Sabrang dengan takjub.
"Kecerdasan merupakan kutukan bagi peradaban Gropak Waton, kami seolah dikutuk alam dengan tubuh istimewa dan semua kecerdasan sejak lahir.
Awalnya semua suku Gropak Waton sangat bangga dengan apa yang dimilikinya namun perlahan semua berubah, ambisi dan hawa nafsu merasuki kami. Saling bunuh antara pendekar terbaik mulai terjadi dimana mana demi sebuah ambisi. Kekacauan yang kami buat di tanah suci dewa seolah tak akan bisa dihentikan, namun seorang yang berasal entah dari mana mampu meredam semua permusuhan.
Dengan sisa sisa yang kami miliki, Gropak Waton memutuskan mengubur semua kutukan disini. Butuh puluhan purnama bagi kami bersama tuan agung menemukan gunung yang cocok untuk mengubur semuanya. Kami memulai kembali hidup di sini dan bertekad untuk tidak keluar. Semua yang kami miliki harus dikubur demi kedamaian dunia.
Aku menulis pesan ini untuk memperingatkan semuanya, jangan sentuh kami, jangan dekati kami, biarlah kami hidup menyendiri agar alam tidak murka," ucap Wulan pelan.
"Suku Gropak Waton? Jadi mereka yang membangun tempat ini, mereka sepertinya ingin mengubur ilmu pengetahuan dan kanuragan yang mereka anggap sebagai kutukan agar dunai damai dan tidak mengulangi kesalahan di tanah suci dewa," ucap Wardhana pelan.
"Lalu tiga trah besar Masalembo datang dan membunuh semuanya?" Wulan mencoba melanjutkan ucapan Wardhana.
__ADS_1
"Aku masih belum mengerti mengenai hal itu, apa yang anda katakan bisa saja benar namun bisa juga tiga trah Masalembo juga penduduk asli Gropak Waton yang berkhianat.
Tapi tulisan ini menjelaskan sebagian misteri yang menyelimuti Masalembo, ilmu pengetahuan dan kanuragan tinggi yang mereka miliki sepertinya memang berasal dari sini," balas Wardhana pelan.
"Jadi begitu ya, jika benar para pemimpin dunia adalah pelaku yang membantai semua orang disini, mereka benar benar kejam," ucap Wulan bergetar menahan amarah.
Wardhana tampak mengernyitkan dahinya saat menyadari sesuatu.
"Apa ada yang melihat tuan Rubah Putih?" tanya Wardhana tiba tiba.
Semua serentak melihat sekelilingnya, mereka baru menyadari jika Rubah Putih tidak ada diantara mereka karena terlalu takjub dengan semua yang ada di ruangan emas itu.
"Aku pun baru menyadari dia tidak ada, sama seperti kalian," jawab Candrakurama saat Wardhana menatapnya.
"Benar dugaanku selama ini, dia sepertinya mengenal tempat ini," ucap Wardhana pelan.
"Apa maksud ucapanmu? aku orang yang sangat mengenal Rubah Putih, dia tidak mungkin memiliki hubungan dengan tempat ini," ucap Wulan tiba tiba sambil menatap tajam Wardhana.
***
"Siapa mereka sebenarnya? bahasa yang mereka gunakan sangat mirip dengan tuan Agung saat pertama menyelamatkan kami, apa dia keturunan tuan Agung?" ucap seorang pria yang dari tadi bersembunyi mengamati rombongan Sabrang.
"Bukankah bersembunyi adalah tindakan seorang pengecut?" Rubah Putih muncul dari balik pintu sambil menghunuskan goloknya.
Wajah pria itu tampak terkejut saat melihat kehadiran Rubah putih, dia sangat yakin tadi melihat pria berambut putih itu ikut masuk ruangan bersama Wardhana dan yang lainnya. Pria itu sudah menggenggam pedangnya dan siap bertarung sebelum kembali menyarungkan pedangnya.
"Kau mengerti bahasa Waton? bahasa yang kalian gunakan tadi sama dengan bahasa milik tuan Angung, siapa kalian sebenarnya?" tanya pria itu.
"Itu yang ingin aku tanyakan padamu, siapa sebenarnya aku?" jawab Rubah putih.
Pria itu tampak bingung dengan ucapan Rubah Putih.
"Sepuluh tahun, hanya sampai umur sepuluh tahun aku dapat mengingat masa laluku, sekuat apapun aku mencoba mengingat masa kecilku tapi tidak berhasil, aku seolah tak memiliki ingatan apapun sebelum umurku sepuluh tahun.
Dan bahasa yang aku gunakan ini seolah muncul begitu saja dari mulutku. Saat aku memasuki tempat ini, aku seolah sangat mengenal semuanya," ucap Rubah Putih menjelaskan seolah tau kebingungan pria dihadapannya.
Pria itu tampak memperhatikan Rubah Putih dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Bisakah anda membuka penutup wajah itu?" pinta Pria itu.
Rubah Putih terdiam sesaat sebelum membuka topeng yang selalu menutupi wajahnya.
"Kau beruntung kali ini, tidak semua orang yang telah melihat wajahku dapat hidup," ucap Rubah Putih.
Wajah pria itu berubah seketika saat melihat wajah Rubah Putih.
"Kau? wajahmu sangat mirip dengan tuan Agung, jangan jangan," pria itu tidak melanjutkan ucapannya.
"Tuan Agung? dimana aku dapat menemukannya?" tanya Rubah Putih.
"Tuan Agung tewas dibunuh oleh seseorang," balas pria itu.
__ADS_1
"Dibunuh? kau pikir aku percaya bualanmu? kau bisa hidup ditempat tersembunyi ini begitu lama, bagaimana orang yang kau sebut tuan agung itu bisa mati dengan mudah," ucap Rubah Putih geram.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, tuan agung tewas secara misterius sebelum ayahku yang menggantikan posisinya sebagai raja Gropak Waton," ucap pria itu menjelaskan namun terlambat, Rubah Putih sudah bergerak menyerangnya.
Pria itu menarik pedangnya dan menyambut serangan yang terarah padanya.
Pertarungan dua pendekar itu tak dapat dihindari, Rubah Putih terus menekan dengan kekuatannya. Tampak senyum dingin terbentuk di bibirnya yang untuk pertama kalinya tidak menggunakan topeng.
"Gaya bertarungnya mengingatkanku dengan gaya bertarung tuan agung, jangan jangan benar dia adalah anak itu," Pria lusuh itu tampak kesulitan menerima serangan Rubah Putih yang semakin cepat.
"Kemampuanmu sangat mengejutkan untuk tubuh kurus sepertimu," Rubah Putih mengayunkan pedangnya sekuat tenaga saat melihat celah lawannya.
"Sial, dia benar benar ingin membunuhku," Pria itu menangkis serangan yang terarah padanya dengan sekuat tenaga.
Tubuhnya bergetar hebat saat merasakan efek serangan Rubah Putih, saat dia mencoba menghindar, sebuah pukulan tepat mengenai perutnya.
Tubuh pria itu terpental dan membentur dinding bangunan sebelum jatuh kelantai.
"Apa kau masih tidak ingin mengatakan dimana tuan Agung yang kau sebutkan itu?" Rubah Putih mengalungkan goloknya dileher pria misterius itu.
"Aku sudah mengatakan jika tuan Agung dibunuh oleh seseorang, jika kau ingin membunuhku maka bunuhlah.
Jika kau pikir aku takut mati maka kau salah, aku bertahan hidup dalam kesepian dan ketidakpastian hanya untuk menunggu seseorang yang menurut ayahku pendekar dalam ramalan. Jika aku boleh memilih maka mati adalah pilihan utamaku" jawab Pria itu terbata bata.
Rubah Putih menatap pria dihadapannya cukup lama sebelum menarik kembali goloknya.
"Anggap saja aku mempercayai ucapanmu," Rubah Putih mengambil kembali topeng miliknya dan memakainya kembali.
"Katakan padaku siapa namamu dan siapa kalian?"
"Aku sudah lupa namaku namun kau bisa memanggilku Kusna," pria itu duduk perlahan sambil meringis kesakitan.
"Harus kuakui suku Gropak Waton bukan orang baik, kami pernah terjerumus dalam ambisi untuk menguasai dunia sampai akhirnya tuan Agung menyadarkan kami.
Dia membimbing kami semua untuk hidup damai disini dan melupakan semua ambisi, setidaknya itu yang kudengar saat aku masih kecil. Semua tampak berjalan sesuai dengan harapan kami sampai suatu hari tiga orang tersesat di gunung ini.
Kudengar salah satu pendekar Gropak Waton yang bertugas mencari bahan makanan diluar sana menemukan mereka bertiga terluka parah. Mereka dirawat ditempat ini selama hampir dua purnama, sikap ramah yang mereka tunjukkan membuat kami semua menerima dengan tangan terbuka. Sampai akhirnya, aku tidak tau apa yang terjadi, mereka membunuh semua penduduk suku Gropak Waton termasuk ayahku sebelum menutup tempat ini.
Aku berhasil selamat karena ayah menyembunyikanku di suatu tempat," ucap Kusna lirih.
"Tiga orang tersesat di gunung ini? apa kau tau siapa mereka?" tanya Rubah Putih.
Kusna menggeleng pelan, "Saat itu aku masih kecil namun salah satu dari mereka yang sering mengunjungi ayah bernama Lakeswara Dwipa," jawan Kusna.
Wajah Rubah Putih berubah seketika saat mendengar nama pemimpin tertinggi Masalembo itu.
"Lakeswara Dwipa?" Rubah Putih tampak menahan amarahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Vote
__ADS_1