
"Kau terlalu berlebihan Anom". Sabrang menggeleng pelan setelah melihat anom memotong lengan pendekar itu.
"Kini kau adalah tuanku nak, aku hanya mencoba melindungimu dari serangan apapun".
Sabrang terlihat tersenyum sambil melihat pendekar yang mencoba menyerangnya tadi mengerang kesakitan.
"Kau berani mencari masalah dengan Lembah tengkorak?" pendekar yang terlihat paling kuat berteriak.
Sabrang menghela nafas, matanya menatap Tajam pendekar yang berteriak padanya. "Bukankah kalian yang mencari masalah dengan temanku?".
"Kakang dia telah memotong tanganku, apakah kalian akan diam saja melihatnya".
"Diam kau! dasar tidak berguna". Pendekar itu menghardik anak buahnya.
Melihat para pendekar Lembah tengkorak itu mulai emosi, beberapa pengunjung memutuskan segera pergi dari penginapan itu, mereka tidak ingin terlibat dalam masalah.
Pendekar itu tersenyum congkak melihat semua pengunjung penginapan itu takut pada Lembah tengkorak.
"Kau seharusnya tidak mencari masalah dengan Lembah tengkorak, sekarang pergilah dan tinggalkan temanmu maka aku akan mengampuni tindakanmu memotong lengannya".
"Orang seperti kalian selalu membuatku muak, jika tidak ada yang ingin dikatakan lagi aku akan melanjutkan perjalananku".
Sabrang memegang tangan Mentari dan mengajaknya pergi. Suasana hatinya saat ini sedang buruk karena belum memiliki cara menemukan sekte Bintang langit.
Namun tiba tiba pendekar itu menyerang Sabrang dengan cepat, Ketika Mentari akan mereaksi menangkis serangan yang terarah pada Sabrang tiba tiba dinding es muncul di hapannya. Serangan pendekar itu membentur dinding es dan membuat dia sedikit terdorong akibat efek benturan.
"Tapak Es utara?". Pendekar itu mengernyitkan dahinya.
"Aku hanya ingin melanjutkan perjalananku tapi kalian membuat semuanya menjadi rumit". Sabrang melepaskan aura hitam pekat yang menekan seisi ruangan. Beberapa saat kemudian Pedang Naga api keluar dari sarungnya dan berpurar diudara mengeluarkan kobaran api.
"Kau selalu pamer Naga Api". Anom tersenyum sinis menyindir Naga api.
"Diam kau tua bangka, akan kutunjukan padamu apa itu kekuatan".
Sabrang menggeleng pelan, entah sejak kapan dua pusaka itu seolah saling bersaing menunjukan kekuatan di hadapannya.
"Aku akan membawa mereka keluar atau penginapan ini akan terbakar oleh Naga api , kau urus sisanya". Sabrang menoleh kearah Mentari sesaat sebelum tubuhnya menghilang dari pandangan dan mucul tepat didepan pendekar yang menyerangnya. Belum sempat pendekar itu bereaksi Cakar es utara telah menghantam tubuhnya.
"Gerakannya cepat sekali". Wajah pendekar itu berubah pucat setelah melihat kecepatan Sabrang.
Pendekar itu terlempar keluar penginapan dengan bongkahan es menempel di perutnya. Sabrang dengan cepat mengejarnya diikuti Naga api yang berputar di udara. Pendekar Lembah tengkorak lainnya yang dari tadi mematung setelah melihat kecepatan Sabrang terpaksa mengikuti keluar untuk membantu ketua mereka.
Tersisa dua pendekar yang langsung mengepung Mentari, mereka merasa Mentari kini adalah harapan mereka satu satunya untuk menghentikan Sabrang. Jika mereka bisa mengalahkan Mentari dan menjadikannya sandra mungkin Sabrang akan menyerah.
"Kalian telah membuat kesalahan besar dengan mengusiknya, bahkan akupun kadang merasa takut jika melihat kekuatannya". Mentari menggelengkan kepalanya, beberapa saat kemudian aura hijau menyelimuti tubuhnya.
Pendekar berhasil mendarat setelah terlempar oleh Cakar es utara.
"Siapa kau sebenarnya? bagaimana kau bisa menggunakan jurus milik Tapak es utara". Pendekar itu berteriak lantang pada Sabrang yang telah berdiri dihadapannya.
"Tidak penting siapa aku, hari ini akan kuberi kalian pelajaran".
Dalam beberapa detik pendekar lainnya telah mengepung Sabrang.
"Apa yang kalian tunggu, serang dia". Pendekar itu memberi perintah pada yang lainnya.
Setelah mendapat perintah mereka semua menarik pedangnya dan mulai menyerang Sabrang bersamaan.
Sesaat sebelum Sabrang bergerak menangkis serangan yang terarah padanya tiba tiba kobaran api dari Pedang Naga api yang melayang diudara melesat cepat masuk kedalam tubuh Sabrang.
"Bagaimana bisa api itu tidak membakarnya". Mereka serentak menjaga jarak seletah merasakan tubuhnya hampir meleleh.
Mereka terus menyerang Sabrang sambil sesekali melompat mundur untuk sekedar mengambil nafas. Mereka harus menggunakan tenaga dalam yang besar untuk menekan panas di tubuhnya akibat efek kobaran api yang menyelimuti Sabrang.
"Tinju Kilat hitam". Sebuah api berbentuk kepalan tangan menghantam salah satu pendekar yang terlihat lengah. Hanya dalam beberapa detik tubuh pendekar itu sudah menjadi abu.
Semua terdiam setelah melihat salah satu temannya telah menjadi tumpukan abu hanya dalam hitungan detik.
"Kurang ajar! Lembah tengkorak tak akan kalah". Pendekar itu merapatkan giginya menahan amarah.
"Bentuk Formasi Lembah siluman". Pendekar itu berteriak pada yang lainnya.
"Kau akan merasakan Formasi jurus mengerikan milik Lembah siluman. Akan kupastika kau mati ditanganku".
Semua terdiam ragu setelah mendengar Formasi lembah siluman. Itu artinya mereka harus menggunakan jurus terlarang Ajian Pembakar Sukma.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi? kalian lupa sumpah setia kalian pada Lembah tengkorak atau pedangku ini yang akan mengingatkan kalian?". Pendekar itu terlihat marah karena semua anak buahnya hanya terdiam.
Beberapa saat kemudian mereka mulai merapal sebuah jurus, tak lama tenaga dalam yang besar mengalir deras di tubuh mereka.
"Jurus ini lagi, sepertinya aku harus terbiasa menghadapi jurus aneh ini". Sabrang menggeleng pelan kemudian menatap ke arah Pedang Naga api yang masih berputat diatasnya.
"Jika kau ingin menunjukan kekuatanmu padaku sekarang lah saatnya Naga api". Sabrang berteriak keras.
"Dengan senang hati bocah, sudah lama aku ingin membakar pengguna Ajian pembakar sukma". Sesaat setelah Naga api berbicara Pedang itu melesat turun dan menancap di tanah tepat dihadapan Sabrang.
Sabrang menggenggam pedang itu dan mencabutnya. Tepat setelah pedang Naga api tercabut Aura merah darah keluar dari pedang yang digenggam Sabrang dan menekan seluruh area pertarungan.
Mentari dan dua pendekar Lembah tengkorak yang sedang bertarung tiba tiba terdorong beberapa langkah.
"Ini yang kumaksud dengan kekuatan mengerikan, kalian benar benar dalam masalah". Raut wajah Mentari berubah pucat. Dia berusaha mengalirkan tenaga dalamnya keseluruh tubuhnya agar kesadarannya tidak hilang.
"Kekuatan ini?". Maruta yang sedang berada di sebuah penginapan puluhan kilometer jauhnya menghentikan makannya setelah merasakan sebuah energi yang mengerikan.
"Ada apa tuan?". Salah satu anak buahnya bertanya.
"Ah tidak, aku tadi seperti merasakan sebuah kekuatan besar namun sepertinya aku salah, jika ada pendekar didekat sini yang mempunyai kekuatan sebesar itu aku pasti telah merasakannya". Maruta kembali melanjutkan makannya.
"Apakah dia manusia? bagaimana dia bisa mempunyai kekuatan sebesar ini?". Pendekar Lembah tengkorak itu menelan ludahnya.
Jika mereka tidak menggunakan Ajian pembakar sukma mungkin sudah dari tadi tubuh mereka terpental akibat tekanan aura merah darah yang kini menyelimuti seluruh tubuh Sabrang.
"Ayo kita lihat seberapa besar kekuatanmu". Mata biru Sabrang terlihat bersinar sesaat sebelum tubuhnya melompat ke atas.
"Badai api neraka". Sabrang melesat cepat menyerang formasi yang mengepungnya.
Setelah Sabrang mengayunkan pedangnya aura merah darah berbentuk naga keluar dari pedangnya dan membakar semua yang dilaluinya.
"Bentuk perisai pelindung Matahari".
Para pendekar itu membentuk sebuah energi pelindung matahari untuk menahan Naga yang mengarah pada mereka.
Naga api hanya membutuhkan beberapa detik untuk menembus perisai itu dan membakar semua pendekar Lembah tengkorak menjadi abu.
"Bahkan pedang mereka meleleh terkena api itu". Mentari menatap Sabrang setelah mengalahkan dua pendekar yang menyerangnya.
"Kau terlalu memaksa anak itu Naga api, tubuhnya belum mampu menahan kekuatanmu". Anom memperingatkan Naga api.
"Tubuhnya harus segera terbiasa menerima kekuatanku jika tujuannya adalah Dieng". Naga api menatap tajam Anom.
"Tuan muda". Mentari mendekati Sabrang yang sedang duduk bersila di tengah tumpukan abu.
"Aku tidak apa apa, aku hanya perlu mengatur nafasku sejenak". Sabrang berkata pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**Tepat 2 bulan lalu, 5 Februari 2020 Novel Pedang Naga Api dengan segala kekurangannya terbit di Mangatoon / Noveltoon.
Saya menghaturkan ribuan terima kasih kepada pihak Mangatoon yang sudah memberi kesempatan Novel Pendang Naga Api terbit di aplikasi Mangatoon.
Ribuan terima kasih juga saya haturkan kepada para pembaca setia Pendang Naga api yang telah mendukung baik melalui Like, Vote dan share selama dua bulan ini yang tidak bisa saya sebutkan satu satu
Spesial terima kasih buat yang selalu memberikan vote setiap harinya :
Roni Albar
Raihan Fishing
Ajik Dwi suyamto
Zoe Tindaon
Rendra Sasongko
Puji Astuti
Eko Soetamto
M. Wahyu
__ADS_1
Muhsmmad mustain Al afasy
Windra Efendi
Wiston Rondo
Ronald Pasaribu
Hery Ziggy
Fensard
Shofiyudin Mustofha
Hen Rumahorbo
Su Parno
Sengkang Baplang
Almas rizky
Avryan D'Luck
Gembel Gunung
Sofia KDJ
Jenar Faruq
Kaab Nurul
Bintang Timur
Gatot kaca moba
Putri Gloria
Aditya Ahnaf
Fajar Firmansyah
Teh manis
Dan semua yang tidak bisa saya sebutkan namanya karena keterbatasan kata.
Dan yang telah memberikan tips pada Author
Wiston Rondo
WIN3
Santo Jaya
Jose Bongko joss
Jopan DTT
Satu lagi buat Bang Ali yang selalu komentar prediksi jalan cerita PNA 😁
Sekali lagi saya ucapkan ribuan terima kasih pada kalian semua...
Sudah menjadi impian setiap Penulis (Kali ini saya memaksa melabeli diri penulis) untuk dapat hidup melalui karyanya. Sebagai seorang pekerja serabutan saya pun berharap bisa mencukupi kebutuhan dengan karya saya.
Untuk itu jika tidak keberatan kalian semua bisa mendukung menulis baik dalam bentuk Vote, Share, like maupun tips.
Semoga kedepan Pendang Naga api masih menjadi salah satu bacaan favorit kita semua...
Terima kasih dan sehat selalu untuk kita semua.. amin**...
__ADS_1