Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Akhir Pertempuran


__ADS_3

Kematian Umbara membuat Masalembo makin terpojok, beberapa sekte pendukung Masalembo bahkan sudah tidak memiliki niat bertarung lagi. Mereka berusaha melarikan diri walau tak mudah lari dari kejaran aliansi Jawata.


Wardhana memberikan perintah untuk kembali menggunakan strategi Kannaya Wyuha (strategi perang dengan susunan pasukan berbentuk lingkaran berlapis) untuk mengepung aliansi Masalembo yang berusaha melarikan diri.


Arung dan Wijaya langsung bergerak memimpin pasukan untuk membentuk lingkaran besar yang mengelilingi pasukan Masalembo.


"Jangan biarkan satu orangpun melarikan diri", teriak Wardhana.


Para tetua sekte yang dipimpin Brajamusti ikut bergerak membantu pasukan aliansi.


"Yang mulia, aku sudah mengetahui letak pintu masuk Masalembo" ucap Wardhana pelan saat beradu punggung dengan Sabrang.


Sabrang mengangguk pelan, "Setelah membereskan mereka semua, kita pergi," balas Sabrang sambil menciptakan puluhan energi keris di udara.


"Saatnya membereskan dendam masa lalu," Sabrang bergerak dengan kecepatan tinggi dan membunuh semua yang dilewatinya.


"Jurus Angin pembasmi iblis tingkat II : Angin kegelapan", tubuh Sabrang seolah menghilang saking cepatnya dia bergerak. Belasan pendekar roboh ketanah dengan luka yang nyaris sama, perutnya terkoyak oleh pedang naga api.


Sabrang mencengkram dan menarik salah satu pendekar yang berada didekatnya untuk melindungi tubuhnya dari serangan lawan sesaat sebelum dia mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


"Badai api neraka", kobaran api yang melesat dari pedangnya membakar semua yang berada didekatnya.


"Mundur, jangan dekati dia", teriak salah satu pendekar sambil melompat mundur namun tiba tiba tubuhnya mulai terbakar api saat sebuah pedang menancap tepat di punggungnya.


"Bukan hanya dia yang bisa membakar seseorang", ucap Emmy sambil mencabut pedangnya.


"Tinju penghancur angin", Sabrang menghentakkan kakinya ketanah dan dalam seketika puluhan batu beterbangan disekitarnya.


Sabrang memutar kedua tangannya seolah sedang menari sebelum mengibaskan kedua tangannya yang membuat pululah batu melesat ke segala arah dan menembus tubuh para pendekar Masalembo.


Kobaran api ditubuhnya terus membesar seiring dengan kecepatannya yang terus meningkat.


Gendis yang melihat aliansi nya dibantai tak bisa berbuat apa apa karena terus ditekan Tungga dewi dan Mentari. Walau ilmu kanuragan keduanya berada dibawanhnya namun kombinasi serangan dua wanita Jawata itu mampu mendesaknya.


Gendis bisa saja melarikan diri namun terbayang hukuman berat yang akan diterimanya dari Masalembo.


Kekalahan sangat diharamkan oleh para penguasa dunia dan hukumannya adalah mati.


"Kalian semua benar benar membuatku dalam kesulitan," Gendis memutar pedangnya sambil melompat mundur namun Mentari tampak tak membiarkannya.


Puluhan pisau es hampir saja menghujam tubuhnya andai Gendis terlambat menyadari.


Saat dia berusaha menyerang Mentari, Tungga dewi menyerangnya dengan jurus tarian rajawali. Serangan tiba tiba Tungga dewi mampu memecah konsentrasi Gendis, dia tidak menyadari segel bayangan Mentari mendekatinya dan mengunci bayangannya.


"Sial, tubuhku tak bisa bergerak", Gendis melepaskan aura dari tubuhnya untuk melepaskan segel Mentari namun tiba tiba darah mulai mengalir dari hidung dan telinganya.


"Racun?", Gendis tersentak kaget.


"Segel bayanganku mengandung racun mawar hitam, kau akan mulai merasakan apa yang kurasakan dulu. Tubuhmu akan mulai bereaksi saat racun ku mulai menyebar dalam organ vitalmu. Kami mungkin bukan tandingan mu namun tak ada yang mustahil jika kami bekerja sama," Mentari melepaskan jurus es abadi untuk mencengkram kaki gendis karena dia sadar segel bayangannya tak mampu menahan Gendis terlalu lama.


Mentari memberi tanda dengan mengangkat tangannya untuk memberi serangan terakhir pada Tungga dewi.


Tak sampai satu detik Tungga dewi melepaskan jurus pedang pemusnah raga untuk mengambil kepala Gendis.


Tubuh pendekar Masalembo itu roboh ketanah dengan tubuh menghitam.


Tungga dewi menyarungkan pedangnya sambil menahan sakit ditubuhnya. Mentari memapah tubuh Tungga dewi yang hampir roboh.


"Kita menang," ucap Mentari pelan.


Pertempuran berakhir saat sebuah ledakan api menghantam hampir seluruh pasukan aliansi Masalembo.

__ADS_1


Sabrang tampak berdiri diantara ledakan api sambil menarik semua energi keris yang tersisa. Dia menatap sekelilingnya sambil menarik nafas panjang.


"Pertempuran selalu meminta banyak nyawa, kini semua tampak sama, membunuh demi sesuatu yang kita yakini benar. Apakah aku adalah Masalembo sesungguhnya seperti yang pernah dikatakan kakek Rakiti?," gumam Sabrang lirih.


Tumpukan mayat terlihat sepanjang mata memandang, kemenangan besar kali ini tak membuat mereka senang karena korban jatuh di pihak mereka pun tidak sedikit.


Wardhana kemudian membagi pasukannya menjadi beberapa tim. Ada yang bertugas mengevakuasi puluhan pendekar yang terluka dan sebagian lainnya menguburkan tumpukan mayat disekitar danau warna warni.


"Aku akan membantu yang lainnya didalam, katakan pada paman Wijaya untuk menemui ku malam ini," ucap Sabrang pada Wardhana.


"Baik Yang mulia," balas Wardhana pelan.


***


Suasana malam setelah pertempuran besar dengan Masalembo masih mencekam, bau darah masih tercium cukup menyengat disekitar sekte Api dan angin.


Puluhan pendekar terlihat masih mendapatkan perawatan oleh pendekar lainnya.


Wijaya tampak mematung didepan pintu salah satu kamar yang ada di sekte Api dan Angin, dia terlihat ragu untuk mengetuk pintu.


Wardhana yang berdiri dibelakangnya tampak tersenyum kecil sambil menggeleng pelan.


"Jangan membuat Yang mulia menunggu terlalu lama tuan, beliau bisa menjadi orang yang paling lembut namun disisi lain bisa menjadi orang yang paling kejam jika memyangkut Malwageni. Masuklah dan hadapi masalah yang telah anda buat, aku yakin Yang mulia sudah mengampuni anda."


Wijaya mengangguk pelan, dia mengetuk pintu setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya.


"Wijaya mohon menghadap Yang mulia," ucapnya pelan.


"Masuklah, " balas Sabrang dari dalam.


Wijaya melangkah masuk diikuti Wardhana setelah mendengar ucapan Sabrang.


Wijaya dan Wardhana tampak terkejut saat melihat Sabrang sedang bermeditasi. Aura merah yang menyelimuti tubuhnya tampak berusaha menyerap tenaga dalam mereka.


Sabrang membuka matanya dan mempersilahkan mereka duduk namun Wijaya langsung berlutut dihadapan Sabrang.


"Hamba siap menerima hukuman mati atas tindakan hamba pada Malwageni Yang mulia, namun hamba memohon anda sendiri yang menjatuhkan hukuman itu. Suatu kebanggaan bagi hamba bisa mati ditangan Yang mulia," ucap Wijaya pelan.


"Mati di tanganku? aku tak bisa mengabulkannya paman," ucap Sabrang pelan.


"Yang mulia," ucap Wijaya lirih.


"Paman pernah mengatakan jika hukuman seorang pengkhianat adalah mati karena Malwageni tak mengenal kata pengkhianat. Apa itu masih berlaku?."


Wijaya mengangguk pelan, dia sadar tak ada ampun bagi seorang pengkhianat apapun alasannya dan dia siap menerima hukuman itu.


"Tindakan paman bisa membunuh puluhan prajurit Malwageni yang saat ini berjuang merebut kembali Malwageni, kesalahan paman kali ini benar benar besar," Sabrang mengangkat tangannya dan menciptakan sebuah energi keris tepat dihadapan Wijaya.


"Paman tau apa yang harus dilakukan dengan keris itu," ucap Sabrang dingin.


"Yang mulia", Wardhana mencoba membela Wijaya namun sebuah keris muncul dihadapannya.


"Apa paman akan ikut berkhianat?", tanya Sabrang.


"Hamba tidak berani Yang mulia," Wardhana ikut berlutut dihadapan Sabrang.


"Hamba pernah gagal melindungi Yang mulia Ratu dan kali ini hamba gagal menjalankan tugas yang diamanatkan Yang mulia Arya Dwipa. Mohon maafkan hamba Yang mulia agar hamba bisa mati dengan tenang", ucap Wijaya sambil meraih keris yang melayang dihadapannya.


"Jadilah Naga Malwageni yang disegani dan bawa Yang mulia menuju puncak kejayaan, jangan pernah melakukan kesalahan seperti yang aku lakukan", Wijaya kembali menoleh kearah Sabrang.


"Terima kasih atas segala kepercayaan anda selama ini Yang mulia, sekali lagi mohon maafkan hamba", Wijaya menarik keris itu dan menghujamkan kejantungnya, keris itu tampak tembus sampai kepunggungnya.

__ADS_1


Wardhana memejamkan matanya, tak sanggup melihat teman seperjuangannya mati diujung keris Rajanya.


Raut wajah Wijaya berubah seketika saat dia tidak merasakan sakit sama sekali, bahkan tak ada satu tetes darah pun yang keluar dari tubuhnya.


"Yang mulia," ucap Wijaya saat melihat mata biru Sabrang bersinar terang.


Wardhana membuka matanya saat merasa ada yang aneh, bagaimana bisa Wijaya masih bisa bicara saat keris penguasa kegelapan menghujam tubuhnya.


"Aku menggunakan jurus ruang dan waktu untuk melindungi tubuhmu dan aku anggap Wijaya sang pengkhianat sudah mati bunuh diri karena kesalahan tetap kesalahan dan paman harus menebusnya.


Hari ini aku mencabut gelar paman sebagai Patih Malwageni, aku akan menempatkan paman sebagai komandan pasukan Angin selatan dibawah perintah paman Sora dan mengangkat paman Wardhana sebagai patih yang baru. Kuharap paman mengerti mengapa aku menurunkan jabatan paman, aku ingin paman kembali berjuang meraihnya tanpa meminta pada siapapun.


Berikan nyawa paman untuk Malwageni sebagai penebus kesalahan karena aku masih sangat membutuhkan bantuan paman Wijaya."


Wijaya terdiam setelah mendengar pengampunan Sabrang padanya.


"Apa paman menerimanya?," tanya Sabrang.


"Hamba menerima semua perintan Yang mulia, terima kasih atas kebaikan anda".


Wardhana tersenyum lega setelah melihat keputusan yang diambil Sabrang.


"Anda semakin dewasa Yang mulia, aku yakin anda akan menjadi Raja yang bijak suatu saat," gumam Wardhana dalam hati.


"Apa sudah ada kabar dari Ciha mengenai gerbang terakhir?", tanya Sabrang pada Wardhana.


Wardhana mengangguk pelan, "Dia meminta bertemu besok pagi, sepertinya dia sudah menemukan petunjuk gerbang terakhir".


"Paman harus menemukan gerbang itu secepatnya agar kita bisa langsung menyerang Masalembo sebelum mereka mendengar kabar hancurnya pasukan aliansi yang dipimpin Umbara."


"Baik Yang mulia", balas Wardhana.


"Lalu dimana letak gerbang utama Masalembo paman? kudengar paman sudah pernah memasukinya?", tanya Sabrang pada Wijaya.


"Hamba tidak mengetahui lokasi pastinya Yang mulia karena saat masuk mata hamba ditutup kain hitam namun beberapa pendekar mereka menyebut gunung Tidar", jawab Wijaya.


"Gunung tidar?," ucap Sabrang dan Wardhana bersamaan.


"Apa ada yang salah Yang mulia?" tanya Wijaya bingung.


"Gunung tidar atau biasa disebut sebagai paku penyeimbang daratan Jawata adalah lokasi Telaga khayangan api, bagaimana mungkin Masalembo berada disana?".


Wardhana membuka gulungan yang dia dapatkan di Wentira.


"Ini adalah lokasi Masalembo yang terletak ditengah lautan, Jarak lokasi Tidar dan daratan Masalembo cukup jauh, bagaimana mungkin gerbangnya ada di gunung Tidar?", ucap Wardhana bingung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih atas segala dukungannya baik pada Pedang Naga Api maupun Api di Bumi Majapahit.


ABM akan update esok hari... mohon dimaklumi karena saya sedang dalam kesibukan yang cukup menyita waktu.


Beberapa minggu kedepan ABM akan update normal...


Oh iya, Author untuk pertama kalinya memiliki akun Instagram yang baru dibuat beberapa jam lalu.


Beberapa ulasan tentang PNA maupun ABM termasuk rencana cerita pendek Spin off beberapa tokoh penting PNA rencananya akan dibahas di sana.


Jika berkenan kalian bisa memfollow akun Author yang baru beberapa biji followernya.


@rickyferdianwicaksono

__ADS_1


Gambarnya cover PNA....


terima kasih


__ADS_2