Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Besar


__ADS_3

Sudah hampir seharian Tantri dan para pendekar Hibata berjalan meninggalkan hutan kematian dan belum menemukan satupun perkampungan. Sepanjang mata memandang, hanya hutan belantara yang ada dihadapan mereka.


Wajah Minak Jinggo mulai bosan, walau dia saat ini mengembara bersama beberapa gadis cantik namun mereka sama sekali tidak bisa diajak bercanda.


"Kupikir perjalanan kali ini akan jauh lebih menarik dari Trowulan tapi sepertinya aku terlalu berharap," umpat Minak Jinggo sambil duduk di atas sebuah batu yang ada di pinggir sungai.


"Kau benar benar tidak berubah, saat ini nyawa Yang mulia berada ditangan kita dan kau masih memikirkan kesenangan?" balas Tantri kesal.


"Aku juga memikirkan nyawanya sama sepertimu tapi apa salah jika aku mengeluh dan bosan?" jawab Minak Jinggo seenaknya.


"Aku akan pergi memeriksa hutan ini sebentar, sebaiknya kita istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga," ucap Winara sambil bergerak pergi tanpa menunggu jawaban Tantri.


Tantri hanya mengangguk pelan sebelum meminta Gendis mengisi wadah air mereka yang mulai kosong.


"Lihatlah, dia tak pernah sekalipun membantah ucapan Winara, andai aku yang meminta istirahat tadi, entah apa jadinya nasibku," bisik Minak Jinggo pada Wicaksana yang berada didekatnya.


"Jangan samakan Nara denganmu, dia adalah pendekar muda berbakat yang pintar dan tidak banyak bicara, sedangkan kau?" Wicaksana sengaja menggantung ucapannya sambil terkekeh.


"Jika aku tidak berbakat lalu kau apa?" balas Minak Jinggo sinis.


"Setidaknya aku sedikit di atas kalian."


"Apa kau bilang? Kau bahkan..." Minak Jinggo menghentikan ucapannya saat menyadari Tantri menatapnya tajam.


"Sudahlah, aku mau tidur dulu," Minak Jinggo merebahkan tubuhnya di atas batu besar itu sambil memejamkan matanya.


"Apa gua itu masih jauh?" tanya Elang pelan, dia terus memperhatikan sekitarnya karena merasa ada yang mengawasi mereka.


"Tidak juga, setelah keluar dari hutan ini, seharusnya kita sampai di sebuah perkampungan yang dulu dikuasai sekte kelelawar hijau, mungkin setengah besok pagi kita akan sampai di gua itu," jawab Tantri pelan.


"Syukurlah, aku merasa ada yang tidak beres dengan hutan ini," balas Elang cepat.


"Ada yang tidak beres?" tanya Tantri penasaran.


"Aku tidak tau bagaimana menjelaskan padamu tapi sepertinya dia juga merasakannya, kita harus cepat keluar dari hutan ini," jawab Elang dengan wajah gelisah sambil menunjuk lengan Minak Jinggo yang terus menggenggam gagang pedang seolah siap bertarung.


"Dia?" Tantri mengerutkan keningnya bingung, dia merasa Minak Jinggo memang sangat misterius karena sampai saat ini dia tidak bisa mengukur kemampuan pemuda itu.


Tantri merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Minak Jinggo dan setelah melihatnya bertarung di Trowulan beberapa hari lalu, dia merasa pemuda itu menyembunyikan kemampuan sebenarnya.


"Siapa kau sebenarnya, memilih sekte Naga Api yang sudah lama menarik diri dari dunia persilatan jelas bukan pilihan baik bagi pemuda berbakat sepertimu. Nama sekte itu mungkin disegani tapi itu hanya sisa sisa cerita masa lalu karena kini mereka semakin lemah setelah tak lagi memiliki ambisi di dunia persilatan," ucap Tantri dalam hati.


Tak Lama, Winara muncul kembali setelah memeriksa hutan, sebuah gulungan kecil tampak terselip di balik pakaiannya.


"Gulungan itu? aku yakin dia tadi tidak membawa apapun," ucap Tantri dalam hati.


"Sepertinya kita harus cepat, tak jauh didepan aku melihat sebuah perkampungan dan sesuai petunjuk tetua Teratai Merah, tempat yang akan kita tuju tak jauh dari perkampungan itu," ucap Winara pelan.

__ADS_1


"Syukurlah, ayo kita pergi," Elang yang sejak tadi perasaannya gelisah langsung bangkit dan berjalan kearah yang ditunjukkan Winara.


"Hei, ayo pergi!" Wicaksana membangunkan Minak Jinggo yang sejak awal memang tidak tertidur.


"Merepotkan sekali," Minak Jinggo berpura pura meregangkan tubuhnya seolah baru bangun sebelum mengikuti mereka dari belakang.


Selama perjalanan Tantri lebih banyak diam sambil terus memperhatikan gulungan yang terselip di tubuh Winara.


"Sikap Nara sepertinya berubah beberapa hari sebelum kami di usir dari Lembah Air terjun pelangi, apa ini hanya perasaanku?" ucap Tantri dalam hati.


Sikap diam Tantri selama perjalanan akhirnya menarik perhatian Gendis, dia melambatkan langkahnya agar bisa berjalan di samping gadis itu.


"Apa terjadi sesuatu? walau kita baru berkenalan beberapa hari tapi aku tidak pernah melihatmu pendiam seperti ini," bisik Gendis tiba tiba.


"Ah tidak, mungkin aku hanya gugup karena ini misi pertama kita sebagai kelompok, terlebih nyawa Yang mulia berada ditangan kita," jawab Tantri pelan, dia masih belum ingin menceritakan keanehan yang dirasakannya.


"Aku dari kecil sudah mulai mengembara di dunia persilatan, walau saat itu belum memiliki ilmu kanuragan apapun tapi aku menggunakan kepalaku untuk bertahan hidup. Pengalaman itu memaksaku membaca setiap perubahan sikap orang di sekitarku karena hanya itu yang bisa menyelamatkan hidupku.


"Jadi walaupun saat ini kau berusaha menutupinya tapi aku tau ada yang kau pikirkan saat ini dan jika itu adalah sikap Winara, aku juga merasakannya," balas Gendis pelan sambil tersenyum kecil.


Wajah Tantri langsung berubah setelah mendengar ucapan Gendis, dia menoleh cepat dan menatap wajahnya cukup lama.


"Sejak kapan kau..." tanya Tantri cepat.


"Beberapa hari sebelum kita di usir dari Air terjun Lembah Pelangi dan kau tau apa yang kulihat saat malam hari sebelum kita pergi dari sana? Nara keluar diam diam dari Lembah pelangi saat kita semua tertidur. Menarik bukan?" bisik Gendis.


"Keluar maksudmu...." Tantri tak melanjutkan ucapannya saat melihat Gendis memberi tanda padanya untuk diam.


"Aku memang baru mengenal kalian semua tapi kuharap kita bisa menghadapi bersama sama sesuatu yang akan segera terjadi. Apa kau pikir kita dipilih menjadi anggota Hibata secara acak atau hanya berdasarkan bakat? jika kau bisa melihat kelebihan kita masing masing kau akan menyadari jika kemampuan kita semua saling melengkapi seperti sebuah kepingan kepingan kecil yang disatukan," bisik Gendis sebelum berlari dengan semangat karena sebuah perkampungan mulai terlihat di kejauhan.


"Akhirnya aku bisa membersihkan tubuhku," teriak Gendis sebelum tubuhnya menabrak Winara dan terjatuh bersama.


"Maaf..maaf aku terlalu bersemangat," Gendis langsung bangkit dan berlari kembali.


"Gadis itu benar benar ceroboh," umpat Winara kesal.


Gendis yang sedang berlari tampak memasukkan gulungan yang dicurinya dari Winara sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Kita lihat apa isi gulungan ini," ucapnya dalam hati.


***


Gunung Pusaran angin adalah sebuah perbukitan yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Malwageni tepatnya di sebelah utara Kadipaten Rogo Geni.


Dunia persilatan memberi julukan Pusaran angin karena selain tebingnya yang sangat curam dan dikeliling jurang yang dalam, cuaca di gunung itu juga tidak menentu. Angin kencang yang bahkan mampu melempar tubuh manusia dewasa dan cuaca yang tidak menentu membuat para pendekar berfikir ulang jika ingin mendaki gunung itu.


Berbeda dengan gunung lainnya seperti Damalung, Slamet serta Bukit Menoreh yang diselimuti banyak misteri dan cocok untuk memperdalam ilmu kanuragan, Gunung Pusaran angin hanya gunung tropis biasa yang kebetulan berada di wilayah yang cuacanya tidak menentu. Itulah sebabnya hampir semua pendekar tidak tertarik untuk datang tempat itu.

__ADS_1


Namun tidak ada yang tau jika di dasar salah satu jurang paling dalam di Gunung Pusaran Angin itu terdapat puluhan bahkan ratusan bangunan tersembunyi yang dihuni oleh mereka yang menamakan diri pendekar Carang Lembayung.


Pendekar Lembayung sebenarnya adalah orang orang suku Lemuria yang termakan hasutan Li Yau Fei, mereka bahkan menganggap tetua sungai kuning itu sebagai Dewa penolong dari ambisi Purwati dan suku Atlantis yang digambarkannya sangat kejam.


Li Yau Fei juga menceritakan jika dia harus mendapatkan tubuh sempurna untuk menghentikan ambisi Purwati yang akan bangkit kembali suatu saat.


Saat pertarungan Li Yu Fei dan Purwati di puncak Suroloyo itulah para pendekar Lembayung memilih bersembunyi di bukit pusaran angin sambil menunggu perintah selanjutnya.


Cukup lama mereka bersembunyi di dasar jurang itu sampai akhirnya di suatu malam Li Yu Fei muncul dengan tubuh Ken Panca dan memberi sebuah rencana besar untuk menghancurkan suku Atlantis dan merubah tatanan baru dunia yang dianggapnya sudah rusak.


Sejak saat itulah perlahan mereka mulai mempersiapkan rencana besar yang saat ini sudah hampir mencapai puncaknya dengan menjadikan tubuh Sabrang sebagai pusat rencananya.


"Respati, apa kau yakin sudah menyingkirkan semua orang disekitar pemuda itu? sesuai perintah tuan Li Yu Fei, kita tidak akan bergerak jika semua belum siap," tanya seroang pria tinggi besar yang ditunjuk Li Yu Fei menjadi ketua tertinggi pendekar Lembayung.


"Hampir semua orang kepercayaannya sudah menjauh tuan, Iblis kembar yang kemarin ditugaskan untuk menyingkirkan Arung sang komandan utama pasukan Angin selatan juga sudah kembali dan mereka berhasil membunuhnya. Hanya tersisa Rubah Putih dan beberapa pendekar muda yang sepertinya tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Tanpa Wardhana kita akan lebih mudah memecah mereka perlahan," jawab Respati pelan.


"Begitu ya... hanya Iblis api dan Rubah Putih sepertinya yang masih menjadi penghalang terbesar kita, Ilmu kanuragannya tidak bisa dianggap remeh," jawab pria itu cepat.


"Maaf tuan, bagaimana jika menggunakan pendekar yang anda selamatkan dulu untuk melawan mereka, bukankah dia juga memiliki dendam pada mereka?"


"Tidak, untuk saat ini terlalu berbahaya mengeluarkannya dari ruang dimensi, didalam tubuhnya bersemayam mustika Merah Delima dan jika dia berbalik melawan akan sangat merepotkan. Tuan Li Yu Fei akan menggunakan tubuhnya jika tak berhasil merebut tubuh pengguna Naga Api itu, untuk saat ini biarkan dia terkurung di tempat itu," jawab pendekar itu pelan.


"Lalu apa yang akan anda lakukan sekarang tuan?" tanya Respati.


"Sepertinya hanya satu cara agar Iblis api itu takluk. Bawa beberapa orang dan pergi ke keraton Malwageni, aku ingin kalian menculik anaknya. Kita bisa menggunakannya untuk mengancam jika situasi tidak terkendali."


"Menculiknya? tapi tuan, bukankah itu cara kotor yang..."


"Kau harus ingat Respati, lawan yang kita hadapi bukan hanya mereka tapi mungkin juga para ksatria Lemuria yang masih setia pada Purwati dan kau harusnya orang yang paling mengerti betapa kuatnya Iblis Api. Aku akan melakukan apapun untuk membangkitkan kembali peradaban kita dulu!" potong pria itu sambil mengarahkan lengannya ke leher Respati.


Nafas Respati tiba tiba tersengal dan tubuhnya perlahan melayang di udara.


"Lakukan saja perintahku!" bentak pria itu kesal.


"Ba...baik tuan, aku akan segera pergi ke keraton," jawan Respati terbata bata.


"Jangan pernah berani membantah perintahku lagi karena lain kali tak akan ada ampun," pria itu melepaskan cengkeramannya.


"Mohon maafkan hamba tuan," jawab Respati cepat.


"Pergilah dan jangan sampai gagal! aku akan menemui Wardhana di penjara bawah tanah," ucap pria itu sambil melangkah pergi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ini PNA sudah mencapai 500 Episode sejak Februari 2020... Terima kasih sebanyak banyaknya pada kalian semua yang sudah mendukung Sabrang dengan setia....


Terakhir, buat beberapa reader yang sering menghujat PNA, terima kasih atas semua masukannya.. Dan sebagai ucapan terima kasih jika kalian berniat bikin Novel sendiri tolong Inbox gw.. Gw janji akan menjadi orang pertama yang mempromosikan novel kalian di Pedang Naga Api...

__ADS_1


Sebagai seorang kritikus ulung gua yakin kualitas tulisan kalian setingkat bahkan di atas Andrea Hirata penulis Laskar Pelangi dan gua sangat yakin novel kalian akan menjadi nomor satu di dunia.


Sekali lagi terima kasih... Kalian semua Luar Biasa... cuma sayang masih sendiri kayak biji cabe yang ke selip di gigi, mengganggu pemandangan wkwkwkwk


__ADS_2