Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Tekad Pangeran Sabrang


__ADS_3

Sabrang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, bagaimana mungkin ki Gandana memintanya memusnahkan seluruh ilmunya.


"Maksud kakek aku harus memusnahkan ilmu yang kupelajari dengan susah payah?".


Ki Gandana mengangguk pelan "Kau tau nak ilmu Api abadi yang Suliwa pelajari hanya sebagian kecil dari inti ilmu api abadi. Tubuhmu tak akan mampu menjadi "wadah" ilmu mengerikan itu. Aku akan mengganti harga yang pantas atas ilmu yang kau pelajari dengan mengajarkan seluruh ilmu yang kumiliki asal kau mau membuang ilmu itu".


Sabrang menjadi serba salah mendengar permintaan Ki Gandana. Jika menolak Sabrang yakin Ki Gandana akan memusnahkan ilmunya dengan paksa. Dia sudah merasakan tidak berdaya berhadapan dengan Ki Gandana walaupun menggunakan Pedang Naga Api di tambah kini kondisi tubuhnya sedang terluka.


Namun dia tidak akan pernah mau memusnahkan Ilmu Api abadi karena Suliwa dan ki Ageng menggantungkan harapan dipundaknya.


Selain itu dia masih membutuhkan Naga api untuk merebut kembali Singgasana Ayahnya dari tangan Majasari.


"Maaf kek aku sepertinya tidak bisa mengabulkan permintaan anda" Sabrang menggeleng pelan.


"Apa yang kau pikirkan!!! Bahkan ratusan orang memohon padaku untuk menjadi muridku namun aku tidak menerima murid dan kini kau menolak kebaikan hatiku?" Suara Ki Gandana meninggi.


"Bukan maksudku menolak kebaikan kakek namun aku tidak akan mengecewakan guruku".


"Walaupun kau harus mati?" Aura ki Gandana tiba tiba menekan Sabrang.


"Hidup mati ku bukan ditentukan oleh kakek atau siapapun, jika aku harus mati disini aku tetap tidak akan memusnahkan ilmu kebanggaan milik Sekte Pedang Naga Api".


"Ilmu kebanggaan Sektemu? Itu hanya ilmu curian milik Tanah Para Dewa" Ki Gandana tersenyum sinis.


"Apapun yang kakek katakan tentang Sekte Pedang Naga Api tak akan membuatku berubah pikiran. Ilmu Api abadi adalah ilmu yang diajarkan guruku dengan harapan aku akan berguna bagi sesama. Aku tidak akan pernah mengecewakan guru" Sabrang berkata sedikit meninggi, membuat Ki Gandana terkejut.


Ki Gandana terdiam sesaat sebelum kembali tersenyum.


"Kau begitu menghormati gurumu, aku cukup tersentuh. Namun jika pedang itu menguasaimu apakah kau masih akan menghormati gurumu? Bahkan ku pastikan kau akan membunuh orang terdekatmu".


"Aku tidak akan sudi dikendalikan sebuah Pedang".


Ki Gandana tertawa mengejek "Kau bahkan sangat bergantung dengan kekuatan Naga api bisa bisanya berbicara seolah kau bisa menguasai Naga Api".


"Mungkin saat ini aku belum dapat menandingi Naga Api namun aku tidak akan menyerah. Akan kupastikan Naga Api tunduk padaku"


"Bukankah kakek tadi mengatakan jika Bakatku sangat besar? Aku akan bertambah kuat dan semakin kuat, jika saatnya tiba Segel Kegelapan hilang dari Pedang Naga Api aku akan mengendalikannya".

__ADS_1


Ki Gandana sedikit terkejut mendengar Sabrang berkata dengan tidak ada keraguan dimatanya.


"Anak ini sangat menarik, kini aku sedikit mengetahui alasan yang membuat Suliwa menyerahkan pedang itu padanya" Ki Gandana berkata dalam hati.


"Kenapa kau sangat keras kepala nak, apa sebenarnya tujuanmu belajar ilmu kanuragan?".


"Aku hanya ingin melindungi orang yang berarti buatku dan....." Sabrang berhenti sesaat dia sedikit ragu untuk melanjutkannya.


"Hahahahaha kau sangat bodoh Bocah, lakukan sesukamu namun saat kau mulai dirasuki Naga api kupastikan saat itu aku akan membunuhmu". Ki Gandana bangkit dan melangkah pergi meninggalkan Sabrang sendirian.


...........................


(Sekte Tapak Suci)


"Hanya tersisa kau seorang, memohonlah padaku mungkin aku akan mengampunimu". Seorang pria berjalan santai diatas tumpukan puluhan mayat. Dia terlihat menjilat pedangnya yang berlumuran darah.


Dihadapannya seorang Pendekar tingkat ahli berlutut dengan luka disekujur tubuhnya. Nafasnya mulai tak beraturan menandakan staminanya telah habis.


Dia menatap dengan perasaan takut pria yang berjalan mendekatinya seperti melihat iblis.


"Inikah kekuatan seseorang yang dijuluki Iblis Pencabut nyawa? Dia bahkan menghancurkan sekte ku seorang diri" Tubuh pendekar tersebut bergetar hebat.


Dia tersenyum kecil menikmati setiap pembunuhan yang dilakukannya. Namun senyum itu tak bertahan lama saat seseorang mendekatinya.


"Kau selalu bertindak sesuka hatimu Asoka".


"Tak usah ikut campur urusanku atau kau akan kehilangan Kepalamu juga Rimba" Asoka berkata tanpa menoleh ke arah Rimba.


"Jangan sombong kau, aku tau siapa dirimu dulu sebelum tuang Lingga memungutmu di jalan. Kau kira aku takut dengan julukan Iblis pencabut nyawa yang kau sandang? Jika bukan karena perintah tuan Lingga sudah kubunuh kau dari dulu".


Aura hitam menyelimuti tubuh Rimba dan menekan Asoka. Mendapat ancaman seperti itu membuat Asoka sedikit bergidik, dia menoleh ke arah Rimba.


"Ada perlu apa kau menemuiku?".


Melihat Asoka sedikit melunak membuat Rimba menarik kembali aura yang dikeluarkannya.


"Tuan lingga memerintahkanmu untuk membawakan kepala seorang pemuda pengguna Pedang Naga Api, dan kali ini tuan Lingga tidak ingin mendengar kata gagal. Kau harus pastikan membunuh anak itu".

__ADS_1


"Pengguna Pedang Naga Api? Akan sangat menarik jika aku berhasil merebut pedang itu dan jika saat itu tiba aku akan datang untuk membunuhmu".


Rimba tersenyum sinis "Kau selalu terobsesi membunuhku tapi tak pernah kau lakukan, kau terlalu besar mulut".


Wajah Asoka berubah merah menahan amarahnya. Dia benar benar terhina oleh perkataan Rimba namun dia memutuskan meredam emosinya. Dia sadar saat ini ilmunya berada di bawah Rimba.


"Katakan dimana aku dapat menemukan anak itu".


"Daerah perbatasan dengan Saung galah tidak jauh dari Kadipaten Wanajaya. Namun tuan Lingga berpesan agar kau bergerak senyap agar tidak menimbulkan konflik dengan Saung Galah".


"Katakan pada tuan Lingga aku akan membawa Kepala anak itu sebagai hadiah dariku".


Asoka berjalan meninggalkan Rimba yang sedang menatap ngeri keadaan sekitarnya.


"Ilmunya meningkat dengan pesat, aku harus berhati hati dengan anak itu" Rama berkata dalam hati.


............................


"Kakek, Tuan muda makanan sudah siap" Mentari muncul dari arah dapur. Mendengar suara Mentari membuat Ki Gandana sumringah, dia selalu menantikan menyantap masakan Mentari.


"Saat seperti ini yang selalu ku nantikan nona" Ki Gandana tertawa keras lalu melangkah mendekati makanan yang disediakan Mentari.


Mentari mengejar Ki Gandana tanpa memperdulikan Sabrang yang masih bermeditasi.


"Aku akan memasak makanan kesukaan kakek setiap hari asal kakek mau menjadikan tuan muda sebagai murid".


Ki Gandana menoleh ke arah Mentari "Kau ternyata gadis yang sangat licik, berani sekali kau bernegosiasi denganku".


Mentari tertawa kecil mendengar ancaman Ki Gandana "Kek tolong bantu tuan muda, aku berjanji akan memasak lebih banyak lagi masakan kesukaan kakek" Mentari terus merajuk pada Ki Gandana.


"Kau menyukainya?" Pertanyaan Ki Gandana membuat wajah Mentari tiba tiba berubah merah merona.


"Kakek bicara apa sih? Aku hanya berhutang budi pada nya karena tuan muda telah menyelamatkanku dari cengraman kelompok kalajengking merah".


Ki Gandana tertawa melihat tingkah Mentari yang malu malu mengakui perasaannya.


"Ajak kekasihmu makan, aku akan memikirkan tawaranmu setelah perutku terisi penuh".

__ADS_1


Wajah Mentari berubah ceria kemudian berlari kearah Sabrang untuk mengajak makan bersama.


__ADS_2