
Wikarta terpental mundur beberapa langkah, wajahnya memerah menahan amarah dan menatap Gardika tajam.
"Kau berhutang dua kali padaku". Gardika tersenyum kecut, tubuhnya bergetar menahan sakit. Darah menetes dari tangannya, genggaman pedangnya mulai melonggar menandakan staminanya telah habis.
Dia menggunakan tenaga terakhirnya untuk menangkis serangan Wikarta yang mengarah pada Wardhana.
Gardika menatap sekelilingnya beberapa pasukannya mulai terdesak mundur oleh serangan pasukan tangan besi.
"Ku akui kau orang jenius namun sepertinya kita tidak dapat menunggu bantuan lebih lama, kita akan berakhir di sini. Setidaknya aku mati bukan sebagai penghianat Saung galah". Gardika mengangkat pedangnya dengan sisa sisa tenaganya.
Wardhana bangkit dan berdiri di samping Gardika, dia memandang Wikarta tajam.
"Aku minta maaf tuan, namun bukankah merupakan suatu kebanggaan membuat Pasukan Majasari menelan kekalahan di saat terakhir hidup kita".
"Kau memang menarik, akan sangat berbahaya jika berhadapan denganmu sebagai musuh".
Saat Wikarta akan bergerak menyerang tiba tiba beberapa anak buahnya terpental beberapa meter.
Wikarta menoleh ke arah sesosok yang menyerang prajuritnya.
"Ah sepertinya aku sedikit terlambat" Sabrang menatap Wardhana yang sedang terluka.
"Paman baik baik saja?" Dia melangkah mendekati Wardhana. sikap Wikarta menjadi siaga, firasatnya mengatakan pemuda yang ada dihadapannya bukan lawan yang bisa dianggap enteng.
"Hamba baik baik saja Pangeran, harap pangeran berhati hati dia bukan lawan yang mudah dihadapi". Raut wajah Wardhana berubah seketika, dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Sabrang.
Gardika sedikit terkejut mendengar Wardhana menyebut pemuda yang ada dihadapannya Pangeran. Dia menoleh ke arah Wardhana yang masih menatap khawatir Sabrang.
Beberapa Pasukan majasari bergerak menyerang Sabrang bersamaan.
"Jadi kalian adalah pasukan Majasari, kebetulan hari ini suasana hatiku sedang tidak baik".
Sabrang menghunuskan pedangnya, terlihat kobaran api mulai menyelimuti pedang dan tubuhnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya menghilang dari tempatnya.
"Tarian Iblis Pedang" tiba tiba Sabrang muncul di tengah tengah prajurit Majasari. Serangannya membuat prajurit yang terkena jurus pedangnya terbakar dan hangus menjadi abu. dia kembali menyerang tanpa memberi kesempatan musuhnya untuk berfikir.
Gerakan pedang Sabrang semakin cepat dan mematikan.
Raut wajah Wikarta berubah seketika, matanya tak berkedip menatap Sabrang.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa menggunakan Ilmu milik Iblis hitam".
Melihat kehebatan Sabrang membuat nyali pasukan Majasari menjadi ciut. Mereka mundur perlahan menjauhi area pertempuran.
"Mundur, dia bukan lawan yang bisa kalian hadapi" Wikarta bersiap menyerang dengan pedangnya.
Namun Sabrang sepertinya tidak berniat membiarkan mereka hidup. Dia kembali menyerang dengan sekuat tenaga. Beberapa pendekar aliansi aliran hitam mencoba menahan serangannya namun semua sia sia.
"Jurus pedang penghancur tulang" kali ini serangannya semakin cepat membuat para pendekar yang mencoba menghadangnya terpental mundur.
Dalam beberapa kali serangan keadaan kini mulai berbalik. Hampir seluruh pasukan tangan besi dan aliansi pendekar aliran hitam meregang nyawa.
"Siapa dia? Apakah ini benar kekuatan manusia?". Wikarta mundur beberapa langkah, dia mencoba mencari celah untuk menyerang namun kobaran api yang menyelimuti tubuh Sabrang benar benar bagai tembok kokoh yang tidak dapat ditembus.
Wardhana pun tak kalah terkejut melihat kehebatan Sabrang, dia menelan ludahnya, dia benar benar melihat sisi lain dari Sabrang kali ini. Sesosok haus darah yang tanpa belas kasihan menghabisi musuhnya.
Sabrang mengalihkan pandangan pada Wikarta, dia tersenyum kecil sebelum tubuhnya kembali menghilang.
Wikarta bergerak mundur mencoba menebak arah serangan Sabrang namun tiba tiba Sabrang telah muncul kembali hanya berjarak beberapa jengkal dihadapan Wikarta.
Wikarta belum sempat bereaksi ketika tangan Sabrang sudah mencengkram lehernya.
"Jadi dia keturunan Arya Dwipa? Ilmu nya sangat mengerikan". Gardika merasa lega karena dia memilih berada di pihak yang tepat.
Akan sangat menakutkan jika pemuda yang ada dihadapannya menjadi musuh Wanajaya.
Leher Wikarta perlahan di selimuti Es tipis, nafasnya mulai tidak beraturan.
"Kau satu satunya yang akan kubiarkan hidup, Sampaikan pada Raja mu bahwa Keturunan Arya Dwipa akan menuntut balas atas perbuatan kalian pada Malwageni. Akan kuhancurkan Majasari dengan tanganku sendiri".
Setelah berkata demikian Sabrang melepaskan cengkraman tangannya. Wikarta terjatuh menunduk tak berani menatap Sabrang.
"Pergilah dan sampaikan pesanku pada Majasari".
Sabrang melangkah kendekati Wardhana dan Gardika yang sedang terluka "Biar kuperiksa luka paman".
Wardhana berlutut dihadapan Sabrang "Maaf Pangeran hamba tidak berguna".
Sabrang menggeleng pelan "apa yang paman lakukan hari ini benar benar membuat pasukan Majasari hancur berantakan".
__ADS_1
Saat sedang memeriksa luka Wardhana tiba tiba Lasmini datang bersama para pendekar aliansi yang dipimpinnya. Dia terdiam sesaat melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Terlihat abu berserakan di Pendopo tamu membuatnya bergidik merinding.
"Hamba mohon menghadap pangeran, ada yang ingin hamba sampaikan" Lasmini menunduk memberi hormat pada Sabrang.
"Ada apa bibi? Semua baik baik saja?".
"Ada pasukan dalam jumlah besar bergerak mendekat ke Wanajaya". Sabrang menatap Wardhana meminta penjelasan.
"Tidak apa apa nona itu pasukan Saung galah, sepertinya tuan Patih berhasil meyakinkan mereka untuk bekerja sama dengan kita. Itu akan menjadi tambahan kekuatan kita untuk merebut Malwageni kelak". Wardhana bernafas lega dia merasa rencananya kali ini benar benar berhasil.
...........................
"Hamba menghadap Pangeran" Wijaya berlutut dihadapan Sabrang.
"Bangunlah Paman" Sabrang mempersilahkan Wijaya duduk.
Wijaya menatap Wardhana tajam membuat Wardhana yang duduk disebelahnya sedikit menunduk.
"Jangan salahkan paman Wardhana, aku yang memaksanya untuk ikut terlibat. Paman jangan memperlakukanku seperti anak kecil lagi, aku sudah bisa menjaga diriku sendiri". Sabrang mengetahui jika Wijaya sedikit marah pada Wardhana karena melibatkannya dalam bahaya.
"Hamba tidak berani Pangeran" Wijaya menundukan kepalanya.
"Bagaimana dengan Saung galah paman? Apa mereka bersedia membantu kita?".
"Untuk saat ini mereka tidak akan mendukung secara terbuka , mengingat Malwageni saat ini merupakan wilayah jajahan Majasari. Jika mereka mendukung kita secara terbuka itu sama saja menyatakan perang dengan Majasari. Untuk saat ini kekuatan Saung galah masih belum bisa menandingi pasukan tempur Majasari. Namun melihat situasi saat ini penyerangan Majasari di Kadipaten Wanajaya sedikit menguntungkan kita Pangeran".
"Maksud paman?"
"Suka tidak suka Saung galah akan membantu kita dari balik layar, kejadian hari ini akan memperburuk hubungan mereka dengan Majasari dan mereka membutuhkan banyak bantuan termasuk kita untuk bisa sedikit meredam agresifitas Majasari".
"Tuan patih benar, pengiriman pasukan dalam jumlah lumayan besar ke kadipaten Wanajaya adalah bentuk protes mereka terhadap Majasari yang telah mengirim pasukan tempur ke wilayah Saung galah walaupun tidak secara terang terangan. Kita bisa memanfaatkan keretakan hubungan mereka dengan Majasari" Wardhana mengamini analisis Wijaya.
"Jika diijinkan aku mempunyai sebuah rencana untuk memperuncing pertikaian mereka tuan Patih". Wardhana menoleh ke arah Patih Wijaya.
"Apa rencanamu? Kau harus berhati hati dan pastikan jangan sampai keterlibatanmu terbaca oleh Saung galah maupun Majasari".
Wardhana mengangguk pelan "Hamba akan pastikan itu tuan patih".
"Paman besok aku akan melanjutkan perjalananku kembali, aku sudah terlalu lama berada disini. Untuk sementara kuserahkan Panji pimpinan pada Paman Wijaya namun demikian aku ingin setiap gerakan yang akan kita lakukan aku harus mengetahuinya. Untuk paman Wardhana aku ada sedikit permintaan, tolong sampaikan pesanku pada Kakek Ageng" Sabrang memberikan gulungan pada Wardhana.
__ADS_1
"Hamba menerima perintah" Wardhana dan Wijaya menjawab bersamaan sambil menundukan kepalanya.