
Rubah putih terlihat mengambil ranting pohon kecil dan mengarahkan pada Sabrang sambil tersenyum ramah.
"Ada sesuatu yang ingin kupastikan terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu padamu, ayo kita bermain sedikit," ucap Rubah putih pelan.
"Kau meremehkanku?" Sabrang mengernyitkan dahinya saat melihat Rubah putih lebih memilih ranting pohon dari pada golok yang terselip di punggungnya.
"Ah...maaf jika aku meremehkanmu," Rubah putih membuang ranting pohon ditangannya dan mengganti dengan ranting lainnya yang jauh lebih kecil.
Sabrang menggeleng pelan sambil tersenyum kecut, dia benar benar diremehkan kali ini. Dia mengeluarkan pedang naga apinya bersamaan dengan aura merah darah meluap dari tubuhnya.
"Kau akan menyesal," Sabrang melesat cepat kearah Rubah putih.
"Potensimu memang sangat besar namun terlihat tak ada yang benar benar membimbingmu selama ini, dengan kekuatanmu saat ini kau tak akan bertahan lebih dari lima jurus jika berhadapan dengannya," Rubah putih mengalirkan tenaga dalamnya kedalam ranting ditangannya sesaat sebelum menyambut serangan Sabrang.
Benturan keras saat pedangnya menyentuh ranting Rubah putih mengejutkan Sabrang, dia memang bisa mengalirkan tenaga dalam seperti yang dilakukan Rubah putih namun tak akan sekuat itu.
"Aku terkejut saat melihat kau bertarung, semua gerakan jurusmu tidak ada yang kokoh, kau seolah hanya meniru jurus itu," Rubah putih memutar ranting pohonnya dan menyentuh ujung pedang naga api, dia menariknya sambil memutar lengannya membuat pedang naga api terlepas dari tangan Sabrang.
"Inti dari ilmu kanuragan adalah kuda kuda yang kokoh agar tak menimbulkan celah sama sekali, dan kau sangat lemah dalam hal ini," Rubah putih mencengkram lengan Sabrang sambil menariknya sebelum melepaskan jurus dengan tangan kosong.
"Cakar pembalik langit," lengan Rubah putih seolah menembus tubuh Sabrang sesaat sebelum menghilang.
"Aku hampir lupa kau memiliki mata bulan," Rubah putih melompat mundur saat puluhan energi keris melesat cepat kearahnya.
Dia mengarahkan tangannya kearah energi keris dan menghentikannya tepat didepan topengnya.
"Kau memiliki pusaka yang merepotkan," Rubah putih melempar energi keris kesatu arah tepat setelah Sabrang muncul dari ruang dan waktu.
Energi keris itu melesat dan masuk kedalam tubuh Sabrang.
"Dia bahkan mampu mengendalikan Anom?" raut Wajah Sabrang berubah seketika.
"Apa ranting ini masih terlalu besar untukmu?" ejek Rubah putih.
Sabrang tak menjawab ejekan Rubah putih, dia memilih kembali menyerang.
Keduanya kembali bertukar serangan, suara ledakan terdengar setiap senjata mereka beradu. Arung bahkan harus mundur beberapa langkah untuk menghindari efek serangan mereka berdua.
Wulan tampak menatap pertarungan mereka berdua dari atas air terjun.
"Anak ini sangat berbeda dari Naraya, seberapa besar sebenarnya bakatnya," gumam Wulan takjub.
"Perhatikan setiap langkah kakimu saat menyerang," Rubah putih merendahkan tubuhnya saat sabetan pedang Naga api hampir mengenainya, dia menggunakan lengan kirinya untuk berputar sedikit sebelum menyabetkan ranting kearah kaki kanan Sabrang.
Tubuh Sabrang kehilangan keseimbangan sebelum sebuah pukulan mengarah padanya.
"Perisai es abadi," serangan Rubah putih menghantam dinding es.
"Menguasai jurus es? menarik," Rubah putih menambah tenaga dalamnya dan sekali lagi menghantam dinding es dengan keras.
Sabrang melompat mundur saat dinding es hancur, dia mengalirkan energi Naga api kedalam matanya sebelum menyerang balik.
Sabrang merubah gerakan tiba tiba, dia menarik energi keris yang dia munculkan di udara untuk mengacaukan gerakan Rubah putih.
"Apa yang kau rencanakan?" gumam Rubah putih dalam hati, dia menangkis setiap serangan energi keris dengan mudah sambil bergerak mendekat.
Dia tersenyum sesaat ketika melihat segel bayangan bergerak diantara lesatan energi keris.
"Kau pikir aku akan masuk perangkap seperti yang kau lakukan pada Wulan?"
Rubah putih menarik rantingnya kedepan saat jarak mereka sudah dekat, dia menangkis salah satu energi keris sebelum melepaskan jurus golok penghancur naga.
Mata bulan Sabrang terus memperhatikan gerakan ranting Rubah putih yang semakin cepat. Saat ranting tersebut hampir menghantam pedangnya dia berpindah dengan jurus ruang dan waktu.
__ADS_1
Rubah putih tersentak kaget, perhatiannya yang terpecah antara Sabrang dan segel bayangan yang terus mendekat membuatnya terlambat bereaksi.
Sabrang muncul dibelakangnya dan langsung menyerang.
"Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."
"Jurus itu?" Wulan yang sejak awal diam terlihat sangat terkejut.
"Sial, jurus bayangan hanya sebagai pancingan," Rubah putih membuang ranting ditangannya, dia memutuskan mencabut golok pusaka nya untuk mengangkis serangan karena yakin serangan cepat itu tak mampu dihindarinya.
Sebuah ledakan besar terjadi saat kedua pusaka berbenturan, saking besarnya benturan tenaga dalam itu membuat lubang yang sangat besar di tanah.
Rubah putih bereaksi cepat, dia menambah tenaga dalamnya dan menarik pedang naga api yang terlihat menempel di goloknya.
Saat pedang naga api terlempar di udara, dia melepaskan Cakar pembalik langit. Serangan yang sangat cepat itu bahkan tak mampu ditangkap mata bulan Sabrang, tubuhnya terpental beberapa langkah sebelum menghilang untuk menghindari tubuhnya terbentur batu besar.
"Bahkan jurus pedang jiwa pun ditirunya, bagaimana jika dia benar benar menguasai sepenuhnya jurus itu?" ucap Rubah putih terkejut.
Sabrang kembali muncul di atas batu, dia terlihat mengatur nafasnya. Darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.
"Tak ada sedikitpun celah yang ditinggalkannya, dia benar benar kuat," gumam Sabrang pelan.
"Apa kau tak pernah memiliki guru?" tanya Rubah putih bingung.
Sabrang mengernyitkan dahinya bingung sebelum menggeleng pelan, dia memang beberapa kali belajar ilmu kanuragan dengan Ageng, Suliwa bahkan ki Gandana namun tak ada yang benar benar membimbingnya sampai selesai, mereka hanya memberi petunjuk dan selebihnya dia mengembangkan sendiri.
"Pantas saja, kau memang menguasai beberapa jurus mematikan termasuk yang paling mengejutkanku adalah pedang jiwa namun semua jurusmu meninggalkan banyak celah, kau seolah mempelajarinya sendiri tanpa ada yang membimbing mu.
Bakat dan pengalaman bertarung yang kau milikilah yang selama ini menyelamatkanmu namun dihadapan pendekar yang jauh lebih kuat darimu bakat tak banyak membantu jika kau tidak benar benar menguasai jurusmu,"
"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Sabrang heran.
"Jika kau menguasai jurus pedang jiwa dengan sempurna maka saat ini aku tak akan mampu berdiri lagi," balas Rubah putih sambil berjalan mendekat.
"Aku baik baik saja, tak perlu khawatir," balas Sabrang pelan.
"Pemimpin tiga tah besar Masalembo tak bisa dihadapi dengan kekuatanmu saat ini, kau hanya akan menjadi bebanku. Tinggallah disini tiga purnama bersamaku, akan kubuat kau sekuat diriku bahkan lebih, kau memiliki potensi dan bakat melebihiku hanya saja kau belum bisa memaksimalkannya," ucap Rubah putih.
"Tiga purnama? maaf kek bukan aku menolak niat baikmu namun saat ini aku memiliki tanggung jawab pada kerajaanku" jawab Sabrang sedikit terkejut, dia tidak mungkin meninggalkan kerajaannya selama itu.
"Karena tanggung jawabmu itulah kau harus tinggal disini," jawab Rubah putih.
"Maksud kakek?"
"Kau pikir mereka akan melepaskan mu setelah kau menghancurkan daratan Masalembo? seluruh keluargaku dan Wulan dibunuh saat kami mencoba melawan dan aku yakin kau akan bernasib sama.
Semua orang yang pernah berhubungan denganmu akan dibunuhnya, aku dan Wulan mungkin bisa membantumu namun itu belum cukup. Kita memerlukan banyak bantuan untuk menghadapi mereka," ucap Rubah putih.
Sabrang terdiam sesaat, ada kekhawatiran dalam hatinya jika harus meninggalkan Malwageni dalam waktu lama, apalagi mereka kerajaan baru yang masih harus membangun kekuatan namun apa yang dikatakan Rubah putih ada benarnya.
Rubah putih yang dengan mudah memojokkan dirinya saja tak mampu melawan para pemimpin dunia.
"Apa yang dikatakan Rubah putih benar, akan menjadi percuma jika saat ini kau membangun kembali kerajaanmu tanpa meningkatkan ilmu kanuraganmu karena cepat atau lambat mereka akan mengincarmu.
Aku akan membantu mengobati ratu dan selirmu dengan syarat kau harus tinggal disini, aku dan Rubah putih akan melatihmu," ucap Wulan yang muncul tiba tiba.
Rubah putih mengernyitkan dahinya, dia tak menyangka ucapan itu akan keluar dari mulut Wulan mengingat Sabrang adalah keturunan trah Dwipa.
"Apa ada yang salah?" tanya Wulan seolah tau apa yang dipikirkan Rubah putih.
Rubah putih menggeleng pelan sambil tersenyum kecil.
"Aku senang dengan pilihanmu kali ini," jawabnya.
__ADS_1
"Lalu apa yang terjadi dengan ratu dan selirmu?" tanya Wulan pelan.
Sabrang kemudian menceritakan kondisi kandungan Tungga dewi yang lemah dan tentang Mentari sebagai pengguna ajian lebur sukma.
"Ajian mengikat racun dalam tubuh ya," ucap Wulan pelan sambil mengambil sebuah gulungan lusuh yang terselip di pakaiannya.
"Pengguna ajian lebur sukma akan kehilangan semua ilmu kanuragannya jika aku memusnahkan ajiannya dan bagi seorang pendekar tak ada yang lebih menakutkan dari kehilangan seluruh ilmu yang telah dipelajarinya selama ini.
Ajian lebur sukma adalah ilmu kanuragan ciptaanku dan aku tidak tau bagaimana itu bisa tersebar di dunia persilatan namun kau tak perlu khawatir aku bisa mengatasinya tanpa menghilangkan ilmu kanuragannya. Jika kau setuju dengan syaratku maka akan kuberikan ramuan apa saja untuk menyelamat anakmu dan antarkan selirmu kemari, aku akan mendidiknya menjadi dewi kematian yang baru."
"Aku terima nek ah maksudku nona, apapun akan kulakukan untuk menyelamatkan mereka," jawab Sabrang yakin.
Rubah putih tampak lega setelah Sabrang meralat panggilannya.
Wulan terlihat memperhatikan setiap jengkal tubuh Sabrang sambil mengernyitkan dahinya.
"Berikan tanganmu, sejak awal kedatanganmu aku merasa kau memiliki aura aneh," Wulan menarik lengan Sabrang tanpa menunggu persetujuannya, dia terlihat memeriksa pergelangan tangan pemuda itu sebelum wajahnya tiba tiba berubah.
"Kau? bagaimana kau memiliki darah terlarang?" ucap Wulan terkejut.
"Darah terlarang?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Siapa ibumu? apa hubungannya dengan trah Tumerah?" kejar Wulan penasaran.
Kini wajah rubah putih ikut berubah setelah mendengar pertanyaan Wulan.
"Jadi maksudmu?" tanya Rubah putih.
"Ditubuhnya mengalir darah dua trah besar Masalembo, hal yang sangat dilarang oleh para pemimpin dunia, bagaimana kau bisa memilikinya?"
"Ibuku adalah keturunan Arjuna, dia menikah dengan ayah dan menjadi ratu Malwageni," jawab Sabrang
"Jadi alam mulai mempermainkan Masalembo, bagaimana mungkin mereka bisa melakukan kesalahan besar seperti ini," ujar Wulan pelan, dia menoleh kearah Rubah putih sambil menatap tajam.
"Satu purnama pertama aku yang akan melatihnya terlebih dahulu, hanya aku yang mampu memaksimalkan energi murni trah Tumerah."
"Kau? jangan jangan?"
Wulan mengangguk pelan, "Sudah saatnya Ajian inti lebur sakheti kuturunkan pada seseorang," jawab Wulan pelan sambil bangkit dari duduknya.
"Kuberi waktu kau dua hari untuk pulang dan mempersiapkan semuanya, selama satu purnama ini kau akan menderita dibawah pengawasanku, bersiaplah," ucapnya Sambil melangkah pergi.
"Ajian inti lebur saketi?" Sabrang menoleh kearah Rubah putih.
"Saat aku bertarung denganmu aku merasakan kau menguasai Cakra manggilingan. Ajian itu hanya bagian kecil dari turunan inti lebur saketi.
Jika Cakra manggilingan bisa dipelajari oleh semua orang maka Inti lebur saketi hanya bisa digunakan oleh trah Tumerah yang memiliki energi murni. Ajian ini jauh lebih menakutkan dari ledakan tenaga dalam iblis milikku," jawab Rubah putih.
"Jadi dia keturunan trah Tumerah?" tanya Sabrang pelan.
"Dia hampir sama denganmu, jika darahmu adalah gabungan dua trah yang sangat dilarang, Wulan sedikit berbeda. Dia adalah campuran Tumerah dengan manusia biasa dan karena hal itulah dia dibuang karena dianggap tidak berguna.
Namun bakat besarnya lah yang membuat dia bisa menciptakan jurus jurus mengerikan."
Rubah putih bangkit dari duduknya sambil menggerakkan tubuhnya.
"Aku harus memulihkan diriku dari racun yang selama ini menyiksaku, kau sebaiknya cepat pulang karena nenek peot itu tak pernah suka menunggu. Aku akan menemuimu satu purnama lagi dan akan kutunjukkan padamu hal yang menarik lainnya," Rubah putih melangkah pergi.
"Sepertinya kali ini akan jauh lebih menarik," gumam Rubah putih pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mbang rank 22 noh... Jangan minta up troos Vote Gih
__ADS_1