
"Maaf tuan, apa sebenarnya yang ingin anda katakan?" tanya Daritri pelan setelah mendengar cerita Wardhana.
"Kau benar benar dalam bahaya, mencelakai selir kesayangan Yang mulia adalah kesalahan terbesarmu. Aku mungkin tidak bisa membantumu lolos dari hukuman berat karena telah berkhianat pada Malwageni namun aku mungkin bisa membantumu lepas dari hukuman mati," balas Wardhana pelan.
"Aku tidak mengerti maksud anda tuan," jawab Daritri dengan wajah pucat.
"Semakin kau menyangkal, aku semakin menyukai permainan ini," balas Wardhana.
"Tuan, aku sudah membawanya," ucap Lembu Sora tiba tiba dari balik pintu.
"Bawa dia masuk," perintah Wardhana cepat, matanya terus menatap tajam Daritri.
"Baik tuan," Lembu Sora melangkah masuk bersama Airin.
"Tu... tuan," Airin menundukkan kepalanya memberi hormat sebelum duduk di sebelah Daritri.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Wardhana.
Airin hanya mengangguk pelan saat menyadari Daritri menatapnya tajam.
"Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpamu, hanya karena kain pemberian mendiang ibumu kau sampai terlibat dalam bahaya besar," ucap Wardhana
"Kain pemberian mendiang ibu? maaf tuan, hamba tidak mengerti maksud anda, ibu hamba masih hidup sampai saat ini," jawab Airin bingung.
"Apa maksud ucapanmu? bukankah..." belum selesai Daritri menyelesaikan ucapannya, Wardhana memukul meja dengan keras yang membuat mereka berdua terdiam seketika.
"Tak boleh ada yang menjawab sebelum aku memberi perintah! Jangan coba coba menguji kesabaran ku, saat ini aku sudah sangat berbaik hati pada kalian," teriak Wardhana.
"Maafkan aku tuan," jawab Airin dan Daritri hampir bersamaan.
"Lanjutkan!" ucap Wardhana pada Airin.
"Hamba tidak mengerti maksud anda tadi tuan, karena sampai saat ini ibu hamba benar benar masih hidup."
Wardhana menoleh kearah Daritri yang tubuhnya kini tampak bergetar hebat.
"Apa kau berusaha mempermainkan ku?" suara Wardhana meninggi.
"Hamba tidak berani tuan, dia telah berbohong. Saat itu dia benar benar meminta izin padaku untuk mengambil kain itu," sanggah Daritri.
"Apa itu benar?" Wardhana menoleh kearah Airin.
Wajah Airin tampak kecewa karena merasa dikorbankan oleh Daritri.
"Hamba tidak pernah meminta izin apapun tuan," ucap Airin lirih.
"Lalu apa yang kau lakukan di paviliun ratu saat itu? bukankah kau tidak bertugas malam itu?"
"Itu...itu..." Airin terlihat ragu menjawab pertanyaan Wardhana.
"Dengar, tadi pagi ada dua orang pendekar menyusup di asrama dayang, jika aku tak sigap menempatkan penjagaan di sana mungkin sekarang kau sudah menjadi mayat.
Kau adalah kunci dari semua masalah ini, nyawamu sedang terancam karena cepat atau lambat kau akan dibunuh untuk menutupi semua masalah ini dan hanya aku yang bisa menyelamatkanmu, jadi katakan semua yang kau ketahui," ucap Wardhana tenang.
Airin terdiam sesaat, dia terlihat mencuri pandang pada Daritri sebelum berbicara.
"Hamba diperintah untuk mengarahkan nyonya selir ke hutan itu tuan," jawab Airin lirih, air katanya mulai menetes di pipinya. Tubuhnya bergetar hebat menandakan rasa takut yang luar biasa.
"Siapa yang memberimu perintah?" kejar Wardhana.
"Nyonya Daritri tuan."
Wajah Daritri berubah seketika, lengannya mengepal menahan amarah.
"Apa itu benar?" tanya Wardhana.
"Maaf tuan, semua yang dikatakannya bohong. Hamba benar benar tidak tau mengenai masalah malam itu. Dia meminta izin untuk mengambil kain pemberian ibunya yang tertinggal di paviliun ratu, hamba tidak tau jika ternyata dia berbohong," jawab Daritri.
"Bukan dia yang berbohong tapi aku," balas Wardhana sambil tersenyum.
Daritri mengernyitkan dahinya, dia masih belum memahami ucapan Wardhana.
"Apa aku bertanya sesuatu selama kau berada di ruangan ini kemarin?" tanya Wardhana pada Airin.
"Tidak tuan, hamba pun bingung mengapa anda hanya diam tanpa bertanya apapun," jawab Airin.
"Yang menarik adalah bagaimana jawabanmu sama dengan apa yang ku tulis di gulungan ini. Semua jawaban di gulungan ini adalah hasil karangan yang kuat kemarin dan bukan jawaban Airin.
Apa kau membacanya sebelum aku datang? jika benar, berarti kau berbohong?" cecar Wardhana.
Daritri terdiam seribu bahasa, tidak ada lagi sangkalan yang bisa dia keluarkan dari mulutnya, dia benar benar telah masuk dalam jebakan yang disiapkan Wardhana.
Daritri sama sekali tidak menyangka jika Wardhana tidak bertanya apapun pada Airin dan menyiapkan jawaban palsu untuk menjebaknya.
Lembu Sora dan Airin akhirnya mengerti dengan sikap Wardhana kemarin, mereka begitu takjub dengan semua jebakan yang telah dipersiapkan Wardhana.
"Sama seperti Airin, aku bisa membantumu terlepas dari hukuman mati walau aku tidak menjanjikan kebebasan dengan syarat kau katakan semua yang kau ketahui.
Bukan kalian yang aku incar tapi kekuatan besar yang ada dibelakang kalian. Ini bukan sebuah kesepakatan karena tanpa bantuanmu pun aku bisa mengungkap semuanya. Sekarang semua pilihan ada ditanganmu," ucap Wardhana.
"Sebaiknya kau tidak mempersulit dirimu sendiri, sangat bodoh jika kau melindungi orang yang ingin membunuhmu," Lembu Sora menimpali sambil memanggil prajuritnya untuk membawa pendekar yang tadi pagi dilumpuhkan oleh Lingga.
"Dia adalah orang yang tadi menyusup di asrama dayang kerajaan, tugasnya adalah membunuh kalian berdua," ujar Wardhana.
Wajah Daritri dan Airin pucat pasi setelah mendengar ucapan Wardhana.
"Kalian hanya diperalat, dan yang bisa melindungi kalian saat ini hanya Malwageni," Wardhana menambahkan.
"Semua berawal dari seorang pria yang datang ke rumahku beberapa hari setelah kabar hancurnya Majasari tersebar. Dia menawarkan ku uang dalam jumlah yang sangat besar jika aku mau mendaftar sebagai dayang kerajaan.
Awalnya aku tidak paham apa tujuannya sampai akhirnya aku bertemu tuan Aswangga, dia mengatur semuanya termasuk memberiku kedudukan sebagai kepala dayang kerajaan.
Beberapa hari setelah pertemuanku dengan tuan Aswangga, turun perintah pada kami untuk mencari kesalahan nyonya selir sampai akhirnya terjadi penyusupan di paviliun ratu. Hanya itu yang aku tau tuan, aku berani bersumpah tidak tau mengapa mereka ingin nona selir pergi dari keraton," jawan Daritri terbata bata.
"Aswarangga? tak kusangka komandan pasukan Api Merah terlibat, aku akan pastikan kepalanya terpenggal atas pengkhianatan nya," ucap Wardhana geram.
"Aku benar benar mohon maaf tuan, tak ada sedikitpun aku memiliki niat buruk pada nyonya selir. Jika aku tidak mau melakukannya maka keluargaku dalam bahaya," balas Daritri.
__ADS_1
"Saat ini situasinya sama, aku yakin keluarga kalian dalam bahaya setelah mereka gagal membunuh kalian. Bantu aku menjebak Aswarangga dan aku akan meminta Sora untuk menyembunyikan keluarga kalian di tempat yang aman," ucap Wardhana pelan.
"Apapun akan hamba lakukan untuk keselamatan orang tua hamba tuan," balas Daritri.
"Bagaimana kau berhubungan dengan Aswarangga?"
"Salah satu prajurit yang berjaga di paviliun nyonya selir adalah orang kepercayaan tuan Aswarangga, aku biasanya mengirimkan pesan saat dia berjaga."
"Kapan waktunya?" kejar Wardhana.
"Harusnya nanti sore setelah pemeriksaan ini, aku harus melaporkan semuanya," jawab Daritri.
"Dimana kalian biasa bertemu?"
"Sebuah rumah yang berada dipinggir ibukota dekat dengan gerbang kota," balas Daritri cepat.
"Baik, ajak dia bertemu malam ini, sisanya biar aku yang membereskannya," ucap Wardhana.
"Baik tuan," jawab Daritri.
"Dengar, hukum tetap hukum dan pengkhianatan terhadap Malwageni adalah kesalahan terbesar kalian. Aku tidak bisa membuat kalian lepas dari hukuman namun aku bisa membantu kalian agar tidak dihukum mati dan tentu saja aku menjamin keselamatan keluarga kalian."
"Terima kasih tuan," jawab Airin dan Daritri bersamaan.
"Sora, antar nyonya Daritri ketempat nya dan bawa Airin ke tahanan khusus wanita, aku akan mempersiapkan sesuatu untuk nanti malam," perintah Wardhana.
"Baik tuan," Sora menundukkan kepalanya saat Wardhana bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
***
"Apa mereka melukaimu?" tanya Sabrang pelan saat melepaskan pelukannya.
Mentari menggeleng pelan sambil mengusap air matanya.
"Mereka tidak menyakiti hamba sama sekali Yang mulia, mohon jangan hukum mereka," jawab Mentari.
"Kita bicarakan nanti karena apapun alasannya aku akan menghukum mereka yang berani mencelakai mu. Udara sudah semakin dingin, ikutlah denganku, akan kubuatkan perapian untuk menghangatkan tubuhmu," ajak Sabrang pelan.
Sabrang menggendong Mentari tanpa meminta persetujuannya dan melangkah pergi.
"Siapa yang mengizinkanmu membawanya?" teriakkan Guntoro kembali menghentikan langkah Sabrang.
"Ayah!" balas Mentari geram.
"Ayah?" Sabrang tampak bingung setelah mendengar ucapan Mentari.
Mentari turun dari gendongan dan berdiri dihadapan Sabrang saat ayahnya sudah mencabut pedang.
"Aku sudah katakan pada ayah berkali kali jika aku adalah selir raja, tak akan ku izinkan siapapun berusaha melukai Yang mulia termasuk ayah," ucap Mentari sedikit berteriak.
"Apa kau sudah gila? dia adalah musuh keluarga kita!" balas Guntoro kesal.
"Dia ayahmu?" tanya Sabrang sambil memberi tanda pada Mentari untuk diam.
Belum sempat mentari Menjawab, Guntoro sudah bergerak menyerang. Tubuhnya yang sudah terbiasa dengan kondisi di sisi gelap alam semesta membuatnya bisa bergerak seperti biasa.
Mentari yang berusaha melindungi Sabrang terlihat memaksakan menggunakan tenaga dalamnya.
Sabrang kemudian menarik tubuh Mentari kebelakang dan mencoba menangkis serangan Guntoro.
Sabrang terpaksa membuat bongkahan es ditangannya untuk menyambut pedang Guntoro, dia tidak bisa memunculkan pedang Naga Api karena membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Benturan keras terdengar saat pedang Guntoro menghantam es yang menyelimuti kedua tangan Sabrang.
"Hanya ini kemampuanmu? bagaimana kau akan menjaga anakku?" Guntoro memutar sedikit tubuhnya dan dengan cepat menghantam tubuh Sabrang dengan lengan kirinya.
"Sial," tubuh Sabrang terpental beberapa langkah dan membentur pepohonan.
"Yang mulia!" teriak Mentari, dia berusaha melepaskan diri dari totokan Sabrang.
"Aku sempat berfikir anda sangat kuat, namun ternyata aku salah, apa hanya ini kemampuan anda?" ucap Sabrang sambil mencoba berdiri.
"Aku menggunakan separuh kekuatanku karena memandang anakku, jika tadi aku menggunakan seluruh kekuatanku saat ini kau sudah tewas," balas Guntoro.
"Jika ayah berani menyentuh Yang mulia, aku tak akan pernah memaafkan ayah sampai kapanpun," teriak Mentari.
"Cukup tari! ini masalahku dengannya," balas Guntoro geram.
"Jika anda merasa begitu kuat maka gunakanlah seluruh kemampuan yang anda miliki," ejek Sabrang.
"Kau terlalu sombong nak," jawab Guntoro pelan. Tak lama Guntoro melepaskan aura yang cukup besar dari tubuhnya.
"Ayah!" Wajah Mentari berubah seketika saat melihat ayahnya mulai serius.
Sabrang memejamkan matanya sesaat sebelum menggunakan Cakra Manggilingan untuk menarik energi murni dari tubuhnya.
"Hei bodoh! jika kau memaksa menarik energi murni maka kau akan tewas seketika," ucap Naga Api dalam pikirannya.
"Apa aku terlihat memiliki pilihan lain?" balas Sabrang.
Nafas Sabrang mulai tersenggal saat perlahan energi murni mengalir ditubuhnya, dia berusaha memunculkan pedang Naga Api namun tak berhasil.
"Butuh energi yang cukup besar untuk menarik pedang dari tubuhmu," balas Naga Api.
"Begitu ya, sepertinya pertarungan ini akan sangat sulit," jawab Sabrang pelan.
Perlahan namun pasti kedua tangan Sabrang mulai diselimuti bongkahan es abadi.
"Saatnya membalaskan dendam leluhurku," Guntoro kembali bergerak menyerang.
Suara benturan keras kembali terdengar di udara, saat pedang milik Guntoro menghantam lengan Sabrang yang diselimuti es abadi. Walaupun Sabrang kalah dalam segala hal namun pengalaman bertarung dan instingnya tidak benar benar hilang.
Beberapa kali terlihat bongkahan es yang menyelimuti kedua tangannya hancur namun selalu muncul bongkahan baru dengan cepat.
Es mulai bermunculan di sekeliling tubuh Sabrang dan berputar mengikuti serangan Guntoro.
Sabrang sesekali melempar pisau es yang tercipta ditangannya ketika pelindung es hancur. Serangan cepat pisau terbangnya mampu sesekali menyulitkan pergerakan Guntoro.
__ADS_1
"Sungguh sangat mengagumkan tubuhnya begitu cepat beradaptasi di tempat ini, keturunan Dwipa benar benar berbeda," Guntoro kembali melompat mundur saat sebuah pisau es melesat cepat kearahnya.
"Mainanmu tak akan berguna di hadapanku," Guntoro menangkap pisau es itu dan menghancurkannya dengan sekali remasan tangannya.
"Sekarang atau tidak sama sekali," Sabrang kembali menarik paksa energi murni dalam tubuh yang membuat kecepatannya sedikit meningkat.
Dia memunculkan dua pisau es di kedua tangannya, ketika Guntoro berhasil menghancurkan dinding es dihadapannya, Sabrang melempar pisau di tangannya sambil bergerak sedikit memutar.
Serpihan es yang menutupi pandangan Guntoro dimanfaatkan Sabrang untuk mendekat.
Guntoro yang tidak menyangka Sabrang akan bergerak secepat itu terpaksa mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya untuk memukul mundur Sabrang kembali.
Ketika tinju es utara hampir mengenainya, Guntoro sedikit bergerak mundur untuk mempersiapkan serangannya.
"Jurus yang cukup berbahaya namun dengan tenaga dalam yang sedikit, jurus ini hanya mainan biasa," Guntoro menyambut tinju kilat hitam dengan tangannya, namun wajahnya berubah saat dia merasakan suhu dingin yang berasal dari serangan Sabrang.
"Kau menjebak ku?" Guntoro berusaha menarik tangannya namun terlambat, bongkahan es membuat tangannya seolah menempel ditangan Sabrang.
"Cakar Es Abadi," Sabrang menghantam tubuh Guntoro dengan tangan kirinya membuat tubuh Guntoro membeku seketika.
Wajah Mentari tampak sedikit lega melihat Sabrang mampu menghentikan ayahnya.
"Aku cukup terkejut melihatmu bisa bertahan sejauh ini namun sudah saatnya aku menghabisi mu," perlahan bongkahan es itu retak dan hancur berkeping keping.
"Kau pikir jurus es itu mampu menahanku?" terlihat amara di wajah Guntoro.
Guntoro kembali menyerang, dia seolah tidak mendengar jeritan Mentari yang memintanya berhenti. Belasan serangannya tepat mengenai Sabrang yang memang sudah mencapai batasnya.
Tekanan udara yang ada di sisi gelap alam semesta membuat Sabrang tak berkutik, bahkan untuk mengeluarkan pedang Naga Api dari tubuhnya pun dia tak mampu.
Sedikit saja Sabrang memaksakan tubuhnya untuk menarik energi murni, saat itu juga nafasnya menjadi berat.
"Akan kutunjukkan apa itu perbedaan kekuatan," Guntoro menarik tubuh Sabrang mendekat saat dia berusaha menjauh.
Lengan kiri Guntoro tampak diselimuti aura merah sebelum dihantamkan di tubuh Sabrang.
"Tapak penghancur gunung," serangannya telak mengenai Sabrang yang membuat tubuhnya terpental jauh.
"Yang mulia!" Mentari berteriak kencang.
Saat tubuh Sabrang hampir membentur pohon, Rubah Putih muncul dan langsung menyambarnya.
"Ternyata kami tidak sendirian," ucap Rubah Putih sambil mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Sabrang.
Guntoro tampak terkejut melihat kedatangan Rubah Putih, kecepatan yang diperlihatkan pendekar berambut putih itu jauh diatasnya.
"Siapa kau? bagaimana tubuhmu bisa bergerak bebas di tempat ini?"
"Aku pun ingin bertanya hal yang sama denganmu namun sepertinya ada yang harus diurus terlebih dahulu karena kebodohanmu," Rubah Putih menunjuk Mentari.
Tubuh Mentari tampak bergetar seiring dengan luapan aura merah yang menyimuti tubuhnya, dedaunan disekitarnya beterbangan sesaat sebelum hancur seketika.
"Tari?" Guntoro melangkah mendekat saat melihat mata anaknya berubah menjadi merah.
"Menjauh! dia seperti kerasukan sesuatu," teriak Rubah Putih.
"Tari? apa yang terjadi denganmu?" saat tangan Guntoro hampir menyentuh rambut Mentari tiba tiba sebuah pukulan menghantam tubuhnya keras yang membuatnya terpental jauh.
"Bagaimana dia memiliki kekuatan sebesar ini?" belum selesai rasa terkejut Guntoro, sebuah benda melesat cepat kearah Mentari dan menempel ditangannya.
"Itu? tongkat cahaya putih dalam legenda?" Guntoro tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya saat tongkat pusaka yang dicari hampir seluruh pendekar itu berada di tangan anaknya.
Mentari menatap tongkat ditangannya sesaat sebelum bergerak menyerang Guntoro.
Guntoro yang sudah terluka parah tampak pasrah menerima serangan Mentari, tubuhnya seolah melawan perintah untuk bergerak.
Tongkat kecil yang berada digenggaman Mentari perlahan membentuk sebuah energi pedang, Mentari memutar tongkatnya dan mengayunkannya ke arah Guntoro.
"Hanya karena anak itu kau berniat membunuh ayah?" Guntoro tampak kecewa namun tak bisa berbuat apa apa.
Saat energi pedang hampir mengenainya, Rubah Putih muncul dengan golok pusaka nya. Dia menangkis serangan Mentari sambil melepaskan pukulan yang membuat Mentari terdorong mundur.
"Hei nak sadarlah! jangan biarkan pusaka apapun mengendalikan mu!" teriak Rubah Putih.
Namun Mentari seolah tak perduli, dia kembali menyerang dan kali ini sasarannya adalah Rubah Putih.
"Sadarlah! jika seperti ini terus aku bisa membunuhmu," Rubah Putih meningkatkan kecepatannya untuk mengimbangi gerakan Mentari.
Suara ledakan terdengar saat dua pusaka itu berbenturan di udara.
Sabrang tersadar dari pingsannya saat suara ledakan terus terdengar di udara, dia tersentak kaget saat melihat Mentari bertarung dengan Rubah Putih.
Mentari terlihat mulai terpojok walau tongkat cahaya putih terus mengalirkan energi ke tubuhnya. Matanya yang semakin memerah menandakan tubuhnya sudah mencapai batasnya.
"Aku harus menghentikan pertarungan mereka," Sabrang berusaha bangkit namun rasa sakit yang luar biasa masih dirasakannya, serangan terakhir Guntoro mematahkan beberapa tulang rusuknya.
"Maaf, aku harus melukaimu nona," Rubah Putih mengayunkan pedangnya saat melihat celah dipertahanan Mentari, dia menghantam lengan Mentari dengan punggung pedang membuat tongkat itu terlepas dan jatuh ketanah.
Mentari tidak tinggal diam, lengan kirinya mengeluarkan suhu dingin dan berusaha meraih tubuh Rubah Putih.
"Ledakan tenaga dalam Iblis," Rubah putih menyambut cakar es utara dengan tangannya.
Tubuh Mentari terlempar akibat efek ledakan tenaga dalam iblis, saat tubuhnya hampir membentur sebuah pohon, tiba tiba dia menghilang di udara.
"Jurus ruang dan waktu?" Rubah Putih menoleh kearah Sabrang dan menemukan mata bulan itu aktif untuk pertama kalinya di sisi gelap alam semesta.
Tak lama tubuh Mentari muncul tepat disebelah Sabrang.
Melihat Mentari terluka, Guntoro memaksakan tubuhnya bergerak, dia berlari kearah Mentari.
"Jangan Mendekat!!!" teriak Sabrang sesaat setelah Pedang Naga Api muncul ditangannya. Dia menghunuskan pedang itu kearah Guntoro.
"Bagaimana bisa dia menggunakan tenaga dalam ditempat ini?" ucap Guntoro bingung.
Harusnya butuh beberapa purnama untuk dapat membuat tubuh beradaptasi dan menggunakan tenaga dalam.
"Tak akan kubiarkan siapapun menyentuhnya," ancam Sabrang.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan nanya kok 1 chapter... ini udh dua Chapter yang digabung jadi satu....