Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Keberadaan Sabrang Damar


__ADS_3

"Kitab Sabdo Loji ya... Aku bahkan membutuhkan waktu setahun lebih untuk menguasai kitab itu dan kau mengatakan sedang menunggu anak itu berlatih? kalian pikir bisa bertahan berapa lama menghadapi aku?" ejek Ken Panca.


"Bicaralah sesukamu Li Yau Fei dan kita lihat apa yang akan terjadi, jika kau sangat menginginkan tubuhnya itu artinya kau sudah tau bakat mengerikan yang dimiliki anak itu. Dia bahkan lebih berbakat dari ayah," jawab Jaya Setra pelan.


Li Yau Fei tidak menjawab ucapan Jaya Setra, sebagian pikirannya seolah membenarkan pernyataan itu. Dia sudah cukup lama mengamati Sabrang sejak masih di sekte Pedang Naga Api. Gaya bertarung, bakat dan tekad anak itu mengingatkan Li Yau Fei pada Sanjaya, pemimpin tertinggi Lemuria.


Sabrang bahkan bisa dikatakan melebihi Sanjaya karena berhasil menundukkan Naga Api, hal yang belum bisa dilakukan Sanjaya sampai ajal menjemputnya karena terkena racun Li Yau Fei.


Dengan umur yang masih sangat muda dan bantuan Naga Api, Iblis terkuat batu Satam, dia tidak bisa membayangkan bagaimana kuatnya Sabrang andai mampu menggabungkan dua jurus yang saling bertentangan itu.


Kitab Sabdo Palon awalnya memang di ciptakan oleh seorang pendekar sakti sebagai tandingan Sabdo Loji. Jika kitab Sabdo Loji lebih menonjolkan kekuatan dan cenderung kasar, Sabdo Palon adalah kebalikannya. Gerakannya yang lembut dan cepat bagai angin membuat jurus itu sedikit lebih mematikan.


Andai Sabrang mampu menggabungkan kedua jurus itu maka kekuatan dan kelembutan akan menyatu dan menciptakan jurus yang sangat mengerikan.


"Sialan kau Setra, aku tak menyangka kau lebih pintar dari ibumu. Dulu dia pernah menghentikan aku, apa kau pikir kali ini aku akan melakukan kesalahan yang sama?" ucap Ken Panca geram.


"Apa itu sebuah pujian? jika benar maka bukan aku yang harus kau puji tapi orang yang kau anggap lemah dan terkurung di dasar jurang gunung Pusaran Angin. Dialah yang menggerakkan para pendekar hebat ini dalam rencananya," balas Jaya Setra.


"Wardhana? tidak mungkin..." Wajah Ken Panca mengeras menahan amarah, dia merasa sudah meruntuhkan kepercayaan diri orang kepercayaan Sabrang itu sampai titik paling rendah. Pertengkaran dengan Sabrang dan kelompoknya yang sudah diatur sedemikian rupa harusnya membuat dia berada di jurang keputusasaan.


"Kau terlalu memandang rendah orang lain hingga membuat satu kesalahan besar. Sabrang mungkin yang terkuat andai dia bisa menggabungkan dua kitab itu tapi jika boleh memilih aku justru lebih baik mati ditangannya karena mungkin rasa sakit yang kurasakan hanya beberapa detik sebelum hangus menjadi abu tapi tidak dengan Wardhana, dia akan memberikanmu kematian perlahan yang menyakitkan dan penuh keputusasaan."


"Tidak mungkin... aku tidak akan pernah gagal lagi, kalian harus mati sekarang juga sebelum aku merebut tubuhnya," Ken Panca melepaskan aura hitam pekat dari tubuhnya sebelum bergerak menyerang.


Jaya Setra, Wahyu Tama, Wulan dan Wijaya langsung bereaksi, dalam hitungan detik aura besar Ken Panca memenuhi area pertarungan bahkan membuat beberapa dinding bangunan retak dan hancur.


"Kekuatan ini...apa mungkin bisa dimiliki seorang manusia?" Wahyu Tama sang dewa pedang timur bergerak lebih dulu, pengalaman bertarung yang dimilikinya membuat dia bisa melihat sedikit celah dalam pertahanan Ken Panca.


"Tuan Wijaya, mohon bawa Mentari dan tetua Wulan Sari ketempat yang aman dan perintahkan semua untuk menjauh, pendekar medis Lembayung Hitam akan mengobati nona itu. Ini akan menjadi pertarungan yang sangat berbahaya," ucap Jaya Setra sebelum bergerak membantu Wahyu Tama.


Wulan tiba tiba berjongkok dan menyentuh tanah, dia menggunakan segel matahari untuk melindungi tempat itu.


"Semoga kau datang tepat waktu nak.." Wulan melesat mengikuti gerakan Wahyu Tama, dia ingin mencari celah untuk melepaskan serangan tiba tiba.


"Tapi tubuh nyonya selir...aku tidak boleh menyentuhnya..."


"Apa disaat seperti ini kau masih memikirkan aturan keraton? jika dia terbunuh maka dia juga akan membunuhmu!" umpat Wulan kesal.


"Ba...baik tetua," Wijaya menyambar tubuh Mentari dan Wulan Sari, dia bergerak cepat menjauh bersama dua orang pendekar medis Lembayung Hitam.


Namun baru beberapa meter mereka melangkah, belasan pendekar Lembayung Hitam yang dipimpin Gara menghadang langkahnya.


"Kau pikir aku akan membiarkan kalian pergi begitu saja?"


Wijaya menghentikan langkahnya sambil menatap sekitarnya bingung, jika dia tidak menggendong tubuh dua wanita itu, dengan kemampuannya saat ini Wijaya yakin mampu mengimbangi mereka.


"Sial! semua sedang bertarung... apa yang harus aku lalukan," Wijaya sempat berpikir untuk meletakkan tubuh keduanya terlebih dahulu di tanah dan bertarung tapi area pertempuran saat ini sudah benar benar sangat berbahaya.


Saat dia sedang berpikir, bola bola api tiba tiba muncul disekitarnya bersamaan dengan sebuah serangan yang memaksa Gara dan yang lainnya mundur.


"Kemamang?" ucap Gara terkejut.


"Pergilah dan pastikan nyonya selir selamat, akan sangat merepotkan jika dia muncul dan melihat gadis itu mati," ucap Lingga pelan.


"Terima kasih tuan..." Wijaya kembali berlari, dia berusaha memutar dan menghindari area pertarungan.


"Kejar dia!" teriak Gara.


Saat empat pendekar Lembayung Merah berusaha mengejar Wijaya, Lingga melepaskan energi pedangnya dan bergerak cepat kearah mereka.


"Cepat sekali," dua pendekar yang berusaha menghentikannya tiba tiba roboh ketanah. Lingga melompat dan memutar tubuhnya di udara sebelum melepaskan jurus Tarian Iblis pedang.

__ADS_1


"Tak ada yang akan kubiarkan pergi..." ucapnya pelan.


"Kemamang... sangat mengejutkan kau bisa mengendalikan mahluk itu, aku menjadi sangat bersemangat setelah ribuan tahun bersembunyi seperti tikus," Gara terlihat mulai serius.


"Jadi kau sudah mulai serius? baik... aku ingin mencoba kemampuan para pendekar peradaban aneh itu," ucap Lingga sambil tersenyum.


"Berhati hatilah, aku merasakan energi aneh berputar cepat ditubuhnya," ucap Kemamang dalam pikiran Lingga.


"Energi aneh? bukankah semua energi kalian memang aneh? aku sudah muak berada diantara semua keanehan ini.. sepertinya menghilang dari dunia persilatan setelah semua ini selesai adalah hal terbaik," ucap Lingga sebelum menyerang.


"Menghilang? bukankah kau memiliki ambisi menjadi yang terkuat di dunia persilatan? apa semua itu hanya bualan?" ejek Kemamang.


"Setiap pendekar pasti menginginkan menjadi yang terkuat tapi entah mengapa aku merasa kekuatan akan merubah sikap seseorang dan aku tidak ingin itu terjadi padaku. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa disibukkan oleh hal merepotkan seperti ini."


***


Jaya Setra dan yang lainnya terus menyerang secara bersamaan tanpa henti. Kombinasi kekuatannya dengan Wulan dan kepintaran Wahyu tama membaca alur pertarungan coba dimanfaatkan untuk membentuk formasi dadakan.


Ken Panca, walau sedikit terkejut dengan ilmu kanuragan mereka terutama Jaya Setra masih terlihat tenang. Gerakan gerakannya yang cepat mampu menghindari semua serangan dengan sempurna.


"Dunia persilatan sudah berkembang sangat cepat, aku terkejut kalian mampu merepotkan aku. Sudah lama aku tidak merasa bersemangat seperti ini," Ken Panca merubah jurusnya, dia terlihat menggunakan jurus pedang yang hampir sama dengan pedang Pemusnah raga milik Sabrang namun jauh lebih mematikan.


Kecepatan serangan Ken Panca yang meningkat merubah situasi dengan cepat. Pertarungan yang awalnya seimbang berubah, Ken Panca perlahan mampu menekan balik.


"Jurus ini... walau gerakannya berbeda tapi hampir sama dengan pedang pemusnah raga milik Sabrang?!" ucap Wulan terkejut.


"Kitab Sabdo Loji adalah pusat dari semua ilmu kanuragan, jurus yang kau sebut tadi hanya bagian kecil dari kitab itu," balas Setra sambil berusaha menghindari serangan yang semakin cepat.


"Tarian Iblis malam," serangan tiba tiba Ken Panca mampu mengenai tubuh Wahyu Tama sekaligus menghancurkan formasi mereka.


Melihat Wahyu Tama terlempar, Wulan dan Setra bergerak bersamaan dan memanfaatkan celah beberapa detik setelah Ken Panca melepaskan serangan.


"Jurus pedang kegelapan," Wulan mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan disaat bersamaan Setra menyerang dari arah berlawanan.


"Ledakan tenaga dalam Iblis," kecepatan Ken Panca terus meningkat, dia berhasil menangkis serangan dahsyat dari kedua sisi bersamaan dan dengan cepat mengincar Wulan yang dalam posisi tidak siap.


"Tidak mungkin.. dia masih bisa menghindari jurus pedangku," Setra menyambar tubuh Wulan sambil mengarahkan pedangnya ke titik buta Ken Panca.


"Manusia lemah tidak tau diri, mati kalian!" Ken Panca menghindari serangan Setra di detik terakhir dan menyerang balik.


Namun betapa terkejutnya dia saat melihat Setra masih bisa merubah gerakannya di udara sambil membawa tubuh Wulan.


Sabetan pedang Setra merobek pakaian Ken Panca sebelum tubuh mereka terlempar cukup jauh.


"Kau merobek pakaianku?" ucap Ken Panca geram, matanya memerah bersamaan dengan hancurnya beberapa bangunan di sekitar area pertarungan.


Belasan pendekar Teratai merah maupun Lembayung langsung tak sadarkan diri akibat tekanan aura Ken Panca. Wulan yang bukan pendekar sembarangan bahkan merasakan tubuhnya sulit bergerak, dia merasa kekuatan Ken Panca jauh di atas Lakeswara sekalipun.


"Dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar ini?" umpat Wulan.


"Ajian Ulat sutra Abadi bukan hanya mengambil tubuh orang lain tapi juga seluruh ilmu kanuragan dan ingatannya. Li Yau Fei telah merebut tubuh Ayah dan Ibuku yang merupakan pendekar Atlantis. Semua kekuatan itu bersatu di tubuh Ken Panca, masalah ini jauh lebih berbahaya dari yang aku perkirakan," jawab Jaya Setra pelan.


Jaya Setra mulai berhitung kembali, dengan kekuatan mereka saat ini sepertinya akan sulit menahan Ken Panca lebih lama, dia hanya berharap Sabrang bisa menguasai jurus itu lebih cepat.


Dia sebenarnya berharap lebih pada Lingga yang memiliki energi Kemamang dan Mentari dengan tongkat cahaya putihnya namun semua tidak sesuai perkiraannya. Mentari terluka parah dan Lingga masih kesulitan menghadapi Gara.


"Apa yang harus aku lakukan Wardhana..." ucapnya dalam hati.


"Kalian pikir bisa mengalahkan aku? Ajian Ulat Sutra akan membuat penggunanya semakin kuat jika terus berpindah tubuh. Selain Ayah dan Ibumu, apa kau tau tubuh siapa yang pernah aku gunakan sebelum ken Panca? Rakin Aryasatya. Itulah sebabnya aku bisa mengendalikan pusaka Tongkat Cahaya Putih," Ken Panca mengarahkan tangan kanannya ke Tongkat Cahaya Putih yang sudah terbelah jadi dua.


Tongkat itu tiba tiba melayang di udara sebelum menyatu kembali dan melesat kedalam genggaman tangan Ken Panca.

__ADS_1


"Kekuatan Tongkat ini sangat luar biasa," ucap Ken Panca sambil tersenyum dingin.


"Rakin? apa mungkin Rubah Putih adalah..."


"Kau benar... dia adalah anakku, awalnya aku mempersiapkan dia sebagai tubuh baruku tapi kemunculan Sabrang merubah segalanya. Anak itu memiliki tubuh yang bahkan jauh lebih kuat dari Sanjaya," aura Siren mulai keluar dari tubuh Mentari dan masuk kedalam tongkat cahaya putih yang kini berputar di atas kepala Ken Panca.


"Kekuatanku...apa yang terjadi? mengapa aku tidak bisa mengendalikan kekuatanku sendiri," Siren berusaha menarik kekuatannya yang masuk kedalam tubuh Ken Panca namun tak berhasil. Dia merasa sesuatu berusaha mengendalikan kekuatannya.


"Tidak mungkin... Tari...." teriak Siren sebelum bola matanya berubah menjadi merah.


Ken Panca terdiam beberapa saat ketika merasakan tenaga dalamnya bertambah dengan sangat cepat, untuk pertama kalinya dia merasa tubuhnya begitu ringan dan penuh dengan kekuatan.


"Sepertinya aku harus mencoba kekuatan baru ini," Ken Panca menoleh kearah Wahyu Tama sambil tersenyum dingin.


"Ilmu kanuraganmu memang tidak terlalu tinggi tapi kau mampu membaca arah pertarungan dan itu cukup menyulitkan, bagaimana jika kau yang kubunuh lebih dulu," ucap Ken Panca sambil mengarahkan tongkat Cahaya Putih.


"Sepertinya kita belum terlambat... apakah..." Wardhana yang muncul bersama Arung dari gerbang utama tampak terkejut saat melihat markas Teratai Merah hampir hancur. Dia tidak pernah menyangka kekuatan para pendekar Lembayung Merah begitu mengerikan.


"Wardhana menyingkir!" teriak Wulan tiba tiba.


"Jadi kau dalang semua ini?" tubuh Ken Panca menghilang dari pandangan sebelum muncul kembali beberapa jengkal dihadapan Wardhana.


"Hentikan Panca!" teriak Wulan sebelum bergerak kearahnya.


"Kau pikir sudah menang tuan Patih?" Ken Panca mengeluarkan energi pedang di tangannya dan menancapkan ke tubuh Wardhana. Kejadian yang begitu cepat membuat semua orang terlambat bereaksi termasuk Arung yang sebenarnya berada didekat Wardhana.


Saat semua sudah merasa Wardhana akan tewas, sesosok tubuh menyambar tubuh Wardhana sebelum keduanya membentur salah satu bangunan.


"Maaf aku hampir terlambat tuan Setra," ucap Agam sambil meringis kesakitan karena tubuhnya terbentur dinding bangunan.


"Bertambah satu orang lemah tak akan mengubah apapun," ucap Ken Panca sinis.


"Kita tidak akan tau jika belum mencoba bukan?" balas Agam cepat.


"Jadi kau sudah mengerti semuanya?" jawab Setra lega.


"Terima kasih telah memberitahu kenyataan yang sebenarnya saat itu, aku hampir melakukan kesalahan besar karena kelicikan Li Yau Fei, tapi ayah..." Agam menggantung ucapannya saat teringat nasib Mandala yang kini belum diketahui keberadaannya.


"Agam?" ucap Wardhana dalam hati bingung.


"Tuan mohon jangan salah paham, aku sekarang berada di pihak kalian... orang itu telah memperalat ayah sehingga kitab Sabdo Loji muncul di dunia persilatan," ucap Agam pelan.


"Memperalat?" tanya Wardhana makin bingung.


"Aku baru mengerti jika ajian Ulat sutra abadi juga bisa mempengaruhi orang lain lewat mimpi. Dia menyamar menjadi ibu dan datang kedalam mimpi ayah meminta dihidupkan kembali dengan kitab yang terkubur di Danau Sidihoni. Itulah awal semua kekacauan ini dan dia melakukan ini semua untuk memancing cahaya putih dalam ramalan keluar," ucap Agam sambil bersiap menyerang.


"Jadi Yang mulia?"


"Sepertinya dia cahaya putih yang ditunggu Li Yau Fei selama ini. Tuan Setra, apa anda sudah siap?" tanya Agam pelan.


Jaya Setra mengangguk pelan sambil mengangkat pedangnya kembali.


"Tolong katakan pada tuan Sabrang..." Agam membisikkan sesuatu pada Wardhana sebelum bergerak menyerang. "Saat ini Li Yau Fei sudah terlalu kuat, hanya dia dan Iblis api itu harapan kita satu satunya."


"Begitu ya... baik akan aku sampaikan pada Yang mulia.. tolong bertahanlah sampai aku membawa kembali Yang mulia. Arung ayo pergi, kita harus menemui Yang mulai di ruang dimensi Naga Api, semoga Ibu suri dan Lakeswara berhasil melatihnya," ucap Wardhana sebelum berlari ke ruangan Wulan Sari.


"Lakeswara?" tanya Arung terkejut, dia tidak pernah mendengar nama itu disebut dalam rencananya.


"Nanti akan kujelaskan semua, aku harus menutup rapat semua rencana ini sampai benar benar yakin karena kita tidak tau apa masih ada mata kata dalam kelompok kita, hanya Aku, tuan Setra, Yang mulia dan Ibu ratu yang mengetahui keterlibatan Lakeswara dalam rencana kita," jawab Wardhana pelan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Nah lo Lakeswara nongol... Wardhana kali ini benar benar mengecoh bukan hanya lawan tapi juga kawan... Kayak mantan yang bilang Aku gak bisa hidup tanpamu tapi sekarang anaknya udah bisa bentuk kesebelasan sepak bola wkwkwkwk Sabar ya mblo...


__ADS_2