Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Ruh Batu Satam


__ADS_3

"Energi Keris Penghancur," belasan energi keris muncul dari lubang dimensi dan melesat cepat kearah Cakra Loji yang masih mengatur kuda-kudanya.


Cakra Loji kembali menghindar, dia membentuk dinding es untuk menahan efek ledakan energi keris penghancur sambil melompat mundur.


Namun baru bergerak beberapa langkah, Sabrang sudah muncul dari sisi kirinya, dia mendorong gagang pedangnya cepat sebelum melepaskan tapak Dewa Es Abadi melalui pedangnya.


"Dia semakin cepat...."


Satu serangan menghantam tubuh Cakra Loji dan membekukan sebagian tubuhnya dengan cepat. Dengan kecepatan tinggi, Sabrang memutar pedangnya dan mengincar kepala lawannya yang masih berusaha menghancurkan bongkahan es di tubuhnya.


"Jurus pedang pemusnah raga," ayunan pedang Sabrang melesat cepat dan menghancurkan pertahanan terakhir Cakra Loji.


"Kakang..." Sabrang tersentak kaget saat mendengar Moris memanggilnya, dia langsung memutar pedangnya dan menggunakan punggung pedang untuk menyerang.


Perubahan serangan tiba tiba itu membuat gerakan Sabrang sedikit melambat dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Cakra Loji.


Cakra Loji menunduk saat tebasan itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya, dia menarik sedikit pedangnya sebelum membuat gerakan menusuk.


Sabrang kembali dalam posisi tidak menguntungkan, cengkraman kakinya melemah karena harus berganti posisi dari menyerang ke bertahan dengan cepat.


Dia kemudian membentuk dinding es yang sebenarnya bisa dengan mudah dihancurkan oleh serangan lawannya, tapi bukan itu tujuan Sabrang memunculkan bongkahan es tepat dihadapannya.


Tepat setelah dinding esnya hancur, Sabrang menggunakan efek benturan sebagai pijakan untuk menjauh sambil menarik belasan energi keris yang berputar di udara.


"Energi Keris Penghancur."


Namun betapa terkejutnya Sabrang saat serangannya hanya menembus tubuh Cakra Loji yang bergerak dengan kecepatan tinggi kearahnya.


"Jurus ini..."


"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."


Sabrang berputar di udara, dia menghindari setiap ayunan pedang Cakra Loji yang mengarah padanya.


"Kau tidak bisa bertarung dengan rasa ragu seperti ini nak, dia bukan lagi adikmu. Cakra Loji telah menguasai tubuhnya," ucap Eyang Wesi tiba tiba.


"Apa kau pikir mudah menyerang tubuh adikmu sendiri? terlepas dia sudah dikuasai oleh Cakra Loji tapi tubuh itu tetap milik moris!" Sabrang tiba tiba merubah gerakannya saat mata bulannya melihat celah pertahanan.


Dia mengayunkan pedangnya sedikit lambat sebelum arahnya berubah dengan kecepatan tinggi kearah punggung Cakra Loji.


Sebuah ayunan pedang yang sangat cepat dan mengikuti arah angin bergerak ini sebenarnya tidak diduga sama sekali oleh Cakra Loji namun keraguan yang kembali muncul dalam pikiran Sabrang saat jarak keduanya sudah sangat dekat membuat serangannya melambat.


Sabrang bisa melihat wajah polos adiknya itu mengeras, seolah masih berusaha berusaha merebut kembali tubuhnya dari Cakra Loji.


Ayunan Pedangnya yang melambat memberi waktu pada Cakra Loji untuk menghindar dan diam diam menggunakan jurus mengendalikan waktu untuk memperlambat gerakan Sabrang.


"Kita masuk perangkapnya, dia memanfaatkan keraguan anak..." belum selesai Eyang Wesi bicara, Cakra Loji berhasil mencengkram tangan kiri Sabrang dan menariknya mendekat.


Sabrang terkejut, dia berusaha menarik lengannya namun dalam sekejap bongkahan es sudah mengunci gerakannya.


"Tapak Dewa Mencengkeram Langit."


Serangan Cakra Loji menghantam tubuh Sabrang telak, tidak hanya sekali tapi empat kali hanya dalam satu detik sebelum tubuhnya terlempar cukup jauh dan membentur sebuah batu besar yang ada di bukit Cetho.


Suara benturan terdengar keras dan menghancurkan batu itu. Darah segar mulai mengalir dari mulut dan hidung Sabrang.


"Sudah aku katakan, kau tak akan bisa bertarung dengan rasa ragu saat menghadapinya. Dia sedang memanfaatkan..." Eyang Wesi menghentikan ucapannya saat merasakan energi besar mendekat dengan sangat cepat.


"Gawat! Sabdo Palon Tingkat Akhir..." Eyang Wesi langsung membentuk perisai tenaga dalamnya dengan seluruh kekuatannya. "Naga Api, bantu aku!"


Sabrang yang merasakan beberapa tulang rusuknya patah berusaha menggerakkan tubuhnya, dia menggunakan Ajian Inti Lebur Saketi untuk menarik energi Naga api dan memaksanya bergerak. Namun baru saja tubuhnya mulai bergerak serangan terkuat Cakka Loji menghantamnya.


"Duarr," separuh bukit Cetho langsung hancur dan membentuk sebuah lubang yang sangat besar. Bebatuan besar terlempar dan berjatuhan kebawah menghancurkan apapun yang dilewatinya.


Serangan besar itu bahkan menghancurkan beberapa bangunan sekte Bintang langit yang berada cukup jauh dari lokasi pertarungan.


Para pendekar Bintang Langit terlihat panik, segel udara yang selama ini melindungi mereka dari serangan ratusan pendekar Iblis Loji langsung hancur terkena energi kejut yang berasal dari benturan serangan Cakra Loji dan perisai energi Megantara.

__ADS_1


Kekuatan ini... apa dunia persilatan akan benar benar hancur?" ucap Bayu Sutra, salah satu tetua Bintang Langit khawatir.


Ratusan pendekar Iblis Loji yang awalnya tertahan di seberang jurang langsung bergerak menyerang. Bagai sekawanan serigala yang haus darah mereka melompati jurang itu dan menyerang siapapun yang berada dalam jangkauan.


"Gunakan lagi segel udara, Cepat!" teriak Bayu panik, dia mencabut pedangnya dan berusaha menghadang ratusan pendekar Iblis Loji.


Namun perbedaan kekuatan diantara mereka membuat sekte Bintang Langit langsung terdesak. Para pendekar Bintang Langit yang tidak diperbolehkan mempelajari ilmu kanuragan hanya bisa melawan dengan serangan serangan biasa membuat pendekar Iblis Loji leluasa membunuh mereka.


Dalam sekejap, sekte Bintang Langit hampir rata dengan tanah. Ratusan orang terbunuh dan teriakkan minta tolong yang menyayat hati terdengar di seluruh penjuru sekte.


Saat harapan mulai tipis, puluhan pendekar dari kelompok Mata Elang yang pernah bermusuhan dengan mereka muncul dan menyerang para pendekar Iblis Loji.


"Paman, bentuk formasi Mata Elang, aku ingin menyudutkan mereka di pinggir jurang!" teriak Arkadewi pada Brojo Seno, salah satu orang kepercayaannya.


"Baik nona," balas Brojo Seno cepat, dia membawa belasan pendekar Mata Elang dan bergerak membelah lautan pendekar Iblis Loji.


Melihat kedatangan Mata Elang, Bayu Sutra bergerak mendekati Arkadewi canggung, dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Daniswara pernah menjebak Mata Elang demi kepentingan menguasai Dieng.


"Nona... terima kasih anda bersedia datang dan membantu kami, mengenai permasalahan Bintang Langit dan Mata Elang di masa lalu, aku..."


"Apa permusuhan masih begitu penting saat situasi seperti ini? Aku tidak tau ini perbuatan siapa, tapi alam sepertinya sedang memurnikan kembali energinya untuk mengembalikan keseimbangan yang rusak akibat ulah kita semua.


"Tak perlu berterima kasih karena aku datang bukan sebagai pendekar Mata Elang tapi seorang manusia yang berharap bisa menebus kesalahan dimasa lalu dengan membantu kalian. Siapkan segel terbaik Bintang Langit, kita akan menjebak mereka masuk kedalam jurang," Ucap Arkadewi sebelum bergerak masuk kedalam formasi Mata Elang.


"Jangan biarkan formasi Mata Elang hancur, tutup semua celah pertahanan!" teriak Arkadewi.


"Nona...." Semangat Bayu Sutra kembali meluap, untuk pertama kalinya dia merasakan permusuhan di dunia persilatan hilang. Tak perduli aliran hitam, putih ataupun netral, semua bergabung untuk mempertahankan diri dari serangan para pendekar aneh itu.


"Tak ada tempat untuk melarikan diri dan bersembunyi dari kejaran para pendekar itu, satu satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menghadapi mereka. Saat ini, kelompok Mata Elang sedang bertaruh nyawa bersama kita, gunakan segel Api dan bentuk formasi segitiga Bintang Langit!" teriak Bayu Sutra.


"Segel Api? tapi tuan..."


"Tak ada cara lain, bantu aku mengaktifkan segel itu di sisi jurang!" Bayu Sutra berlari kearah jurang, dia tidak perduli walau puluhan Iblis Loji mengejarnya.


"Andai hari ini aku mati, semoga kematian ini menjadi awal dari hilangnya semua permusuhan di dunia ini," ucap Bayu Sutra dalam hati.


***


"Bola petir terakhir...maafkan aku ketua..." ucap Ratih pelan sebelum tubuhnya oleng dan terjatuh kebawah.


Melihat Ratih kehabisan tenaga, Layang Yuda bergerak cepat menyambar tubuhnya dan membawanya menjauh dari kejaran Iblis Loji.


"Nona Mentari, dinding es abadi!" teriak Layang Yuda sambil mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanannya.


"Langkah Dewa Penghancur," Layang Yuda menghentakkan kakinya ketanah membuat belasan Iblis Loji yang mendekatinya terlempar.


"Paman Wijaya, lindungi aku!" Mentari tiba tiba keluar dari pertarungan dan bersiap membentuk dinding es untuk melindungi Layang Yuda.


"Tapak Dewa Es Abadi," baru saja hawa dingin menyelimuti sebagian tubuh Mentari, tiba tiba sesuatu yang aneh terjadi. Mentari merasakan energinya hilang seketika sebelum tubuhnya roboh ke tanah.


"Kekuatanku?" ucapnya bingung.


Bukan hanya Mentari, Rubah Putih dan Lingga juga merasakan hal yang sama, energi mereka seolah hilang seketika. Namun berbeda dengan Mentari yang langsung terjatuh, Rubah Putih masih bisa menyerang dengan kecepatan tinggi walau serangannya menjadi tidak terlalu mematikan.


"Suanggi, apa kekuatanmu mulai habis?" tanya Rubah Putih dalam pikirannya bingung.


"Suanggi?"


***


"Tak akan ada yang bisa selamat dari serangan sekuat itu, aku tak menyangka kakakmu memiliki ilmu pedang yang jauh lebih kuat dari milik Yasha Wirya, Moris," ucap Cakra Loji sambil berjalan dengan penuh percaya diri mendekati lubang besar dihadapannya, saat debu yang beterbangan di udara mulai menipis.


"Dengan ini, aku bisa membuka gerbang kesepuluh dan membebaskan semua energiku yang masih tersegel di tempat itu."


Cakra Loji mengalirkan energinya di tangan kanan sebelum melompat turun ke lubang itu, dia harus memastikan tubuh Sabrang hancur sebelum kembali ke gerbang kesepuluh.


Namun, baru saja kaki Cakra Loji menginjak tanah di dasar lubang, tiga buah energi besar melesat dari udara dan mengarah ke lubang itu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Sadar sesuatu yang buruk akan terjadi, Cakra Loji langsung melompat naik dan membentuk perisai energi untuk melindungi tubuhnya.


"DUARRR."


Ledakan yang sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari serangannya tadi menghempaskan tubuh Cakra Loji beberapa meter kebelakang walau sudah menggunakan perisai energi.


"Apa-apaan...."


Wajah Cakra Loji berubah seketika saat samar samar melihat tubuh Sabrang melayang diantara debu yang mengepul kembali di udara. Seluruh tubuhnya terlihat diselimuti aura hitam dengan kobaran api merah.


"Dia masih bisa selamat setelah menerima serangan pedang Sabdo Palon tingkat akhir?" ucap Cakra Loji terkejut sambil mengalirkan kembali tenaga dalam ke pedang pusaka miliknya.


"Anak itu jauh lebih menakutkan dari Arya Dwipa, aku harus membunuhnya sebelum dia sadarkan diri," Cakra Loji kembali bergerak, dia menyilang kan pedangnya sambil menggunakan jurus mengendalikan waktu.


"Harusnya sejak awal Moris membunuhmu, dia memang tidak berguna," Cakra Loji mengayunkan pedangnya saat sudah berada di dekat tubuh Sabrang.


"Jangan pernah menyebut adikku tidak berguna!" mata Sabrang tiba tiba terbuka sebelum menangkis serangan itu dengan keris yang muncul di tangannya.


"Tidak mungkin...Jurus Pedang Sabdo Palon milikku..."


Sabrang mendorong keris penguasa kegelapan untuk menjauhkan pedang Cakra Loji dan disaat bersamaan tangan kirinya bergerak cepat menyentuh perut Cakra Loji.


"Tapak Dewa Es Abadi," satu serangan Sabrang menghempaskan tubuh Cakra Loji kebelakang.


Belum sempat Cakra Loji mengatur kuda kudanya kembali, Sabrang sudah muncul dihadapannya.


"Kau!" Cakra Loji berusaha menarik pedangnya namun lengan kiri Sabrang lebih dulu menahan gerakan tangannya.


Keris penguasa kegelapan di tangan kanannya menghilang dan berubah menjadi Pedang Naga Api saat lengan Sabrang berayun.


"Jurus Pedang jiwa tingkat V : Gelombang penghancur sukma."


Tubuh Cakra Loji kembali terlempar namun kali ini dia jauh lebih siap, sebuah lubang dimensi sudah dipersiapkan untuk melarikan diri ke Gerbang sembilan.


Cakra Loji sadar, dengan kekuatan aneh yang dimiliki Sabrang saat ini, hanya bertarung di ruang dimensi yang bisa membuatnya memenangkan pertarungan kali ini.


"Tak akan ada yang bisa menghentikan aku untuk bangkit kali ini," tubuh Cakra Loji mulai terhisap kedalam lubang dimensi namun saat lubang itu hampir tertutup, bayangan Sabrang yang sejak awal diam diam mengikuti pergerakan Cakra Loji menarik kembali tubuhnya keluar.


"Segel Bayangan," tubuh Cakra Loji terlempar ke udara dan hanya dalam hitungan detik, Sabrang sudah bersiap dengan gagang pedangnya di udara.


Bukit Cetho tiba tiba berubah menjadi gelap saat seluruh wilayahnya tertutupi oleh aura hitam pekat yang terus meluap dari tubuh Sabrang.


"Beristirahatlah dengan tenang Moris, aku pasti akan membawa tubuhmu kembali ke keraton."


"Tapak Dewa Es Abadi," gagang pedang Sabrang hancur saat berbenturan dengan tubuh Cakra Loji.


Cakra Loji terhempas ketanah bersamaan dengan tertutupnya seluruh puncak bukit Cetho dengan bongkahan es.


"Jangan pernah bermain main dengan ruh Batu Satam atau kau akan merasakan akibatnya," ucap Naga Api.


"Kau selalu berlagak paling kuat, tanpa tubuh anak ini kau hanya api kecil yang tidak tau diri," ejek Suanggi cepat.


"Coba katakan sekali lagi dan aku akan merobek mulutmu," balas Naga Api cepat.


"Merobek mulutku? Kau boleh mencobanya jika mampu, kepala batu!" jawab Suanggi kesal.


"Kau!"


"Mereka benar benar tidak bisa bersatu, apa mereka tidak bisa menahan diri sementara waktu? bukankah ini pertama kalinya kita semua berada dalam satu tubuh dan berkumpul kembali," ucap Kemamang pelan.


"Biarkan saja dua mahluk bodoh itu bertengkar, aku tidak ingin berurusan dengan mereka," jawab Siren cuek.


"Kakek, bersiaplah. Sudah saatnya kita menyegel kembali mahluk itu ke gerbang kesepuluh," tubuh Sabrang meluncur deras ke bawah bersamaan dengan munculnya aura kuning yang menyelimuti kedua tangannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Arkadewi Mata Elang dengan Arkadewi ABM adalah dua orang yang berbeda, hanya namanya sama... Jadi jangan bingung ya Mblo....

__ADS_1


__ADS_2