
Wardhana yang mendengar kabar hancurnya Sekte Lembah tengkorak yang merupakan pendukung kerajaan Majasari langsung memanggil Lembu sora ke kadipaten Rogo geni.
Selama patih Wijaya masih memperdalam ilmu kanuragannya Wardhana menunjuk Lembu sora sebagai tangan kanannya.
"Lembu sora menghadap tuan Adipati". Lembu sora menundukan kepalanya kemudian duduk di kursi yang telah disediakan.
"Maaf sora aku memanggilmu tiba tiba". Wardhana tersenyum hangat.
"Anda tidak perlu sungkan tuan. Apakah terjadi sesuatu?". Wajah Lembu sora sedikit cemas. Sangat jarang Wardhana memanggilnya tiba tiba.
"Kau sudah mendengar hancurnya sekte Lembah tengkorak?". Tanya Wardhana.
Lembu sora menganggukkan kepalanya "Kabar ini sedang hangat didunia persilatan. Kudengar mereka hancur oleh tiga pendekar misterius".
"Aku yakin Yang mulia yang menghancurkannya, tidak ada lagi pendekar yang diselimuti kobaran api saat bertarung kecuali beliau. Hancurnya Lembah tengkorak bisa menjadi keuntungan bagi kita namun bisa juga merugikan kita".
"Maksud anda?". Tanya Lembu sora pelan.
"Hancurnya Lembah tengkorak jelas mengurangi kekuatan Majasari, ditambah Paksi saat ini ditahan oleh Saung galah. Namun akibat hancurnya Lembah tengkorak Majasari memperketat penjagaan disetiap pos perbatasan, hal ini membuat kita kini tidak dapat bergerak bebas memasuki wilayah mereka.
Kita bisa memanfaatkan situasi ini untuk kembali menekan Majasari namun kita harus meminta persetujuan Yang mulia terlebih dahulu".
"Anda ingin berperang lagi dengan mereka?".
"Secara langsung tidak karena bagaimanapun kita juga kehilangan banyak pasukan saat berperang dengan mereka beberapa waktu lalu. Aku ingin menyusupkan beberapa prajurit kita ke keraton Majasari untuk menghimpun kekuatan sebelum kita kembali mengibarkan perang".
"Apakah itu mungkin? Setiap perbatasan kini dijaga para pendekar aliran hitam. Walaupun mereka dari sekte menengah namun tetap tidak mudah menghandapi mereka tuan".
"Aku sudah mempunyai rencana untuk itu namun aku ingin kau sendiri yang mencari Yang mulia dan meminta persetujuannya sora".
"Baik tuan". Ucap Lembu sora.
***
Sudah beberapa hari sejak Sabrang dan Mentari meninggalkan Sekte bintang langit mereka sudah sampai di pos penjagaan dekat keraton Malwageni. Sabrang berusaha secepat mungkin mencapai sekte Pedang Naga api karena masih banyak yang harus dia persiapkan sebelum masuk Dieng.
Penjagaan di pos penjagaan lebih ketat sejak kekalahan Majasari dari Saung galah. itu terlihat dari beberapa penjaga yang tidak mengenakan seragam prajurit.
"Mereka menempatkan beberapa pendekar juga di pos penjagaan?". Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Maaf tuan, anda harus melapor sebelum melanjutkan perjalanan". Salah satu prajurit menghentikan Sabrang.
"Bukankah itu pos penjagaan menuju keraton? sedangkan kami tidak menuju ke sana, kenapa harus melapor pada kalian?". Raut wajah tidak senang terpancar di wajah Sabrang.
Bukan tanpa sebab Sabrang terlihat kesal, dia merasa tidak perlu lapor pada siapapun diwilayah Malwageni.
Arah sekte pedang naga api memang berlawanan arah dengan keraton Malwageni. Mereka hanya melintas didepan pos penjagaan.
__ADS_1
"Siapapun yang melewati tempat ini kemanapun tujuannya harus melapor terlebih dahulu". Prajurit itu terlihat tidak senang dengan sikap Sabrang yang seperti melawan.
"Jika aku tidak mau?". Sabrang menatap tajam prajurit itu.
Prajurit itu mengernyitkan dahinya menatap bola mata berwarna mencolok milik Sabrang.
Melihat suasana makin panas, Mentari berusaha meredam suasana.
"Tuan muda biar aku yang akan melapor". Mentari melangkah ke pos penjagaan, dia tidak ingin ada keributan dan menimbulkan kecurigaan karena bagaimanapun saat ini Malwageni adalah wilayah jajahan Majasari.
Namun tak lama Mentari kembali dengan wajah lesu.
"Tidak ada yang boleh mengunjungi Sekte Pedang Naga api". Ucap Mentari singkat.
Raut wajah Sabrang makin buruk setelah mendengar ucapan Mentari.
"Peraturan macam apa itu?".
"Oh jadi tujuan kalian ke sekte itu? Lebih baik kalian urungkan niat kalian. Sekte pedang Naga api berusaha memberontak pada Majasari, Yang mulia raja memerintahkan untuk menutup semua aksek ke sekte itu".
Sabrang terkekeh mendengar ucapan prajurit itu "Apa bisa sebuah sekte kecil memberontak? kalian terlalu mengada ngada".
"Tuan muda.....". Mentari berusaha mengajak Sabrang untuk mundur terlebih dahulu dan menyusup kesana. Bukan hal sulit bagi mereka untuk menyusup ke Sekte pedang naga api.
"Tidak! Aku akan melangkah kemanapun aku ingin dan tak seorangpun yang bisa menahanku apalagi dengan alasan konyol seperti ini". Suara Sabrang meninggi membuat prajurit itu tersinggung.
Suara Sabrang yang cukup keras terdengar oleh beberapa pendekar yang sedang berjaga. Mereka akhirnya mendatangi Sabrang untuk mencari tau permasalahannya.
Saat Sabrang melangkahkan kakinya tiba tiba salah satu pendekar bergerak kearahnya dan melepaskan serangan tapaknya.
Sabrang memutar tubuhnya dan menyambut serangan itu dengan tangannya namun beberapa detik sebelum kedua tangan itu beradu tiba tiba keris penguasa kegelapan muncul ditangannya. Sabrang memutar sedikit tangannya dan mennyarangkan keris itu ditubuh pendekar yang menyerangnya.
"Gerakannya cepat sekali". Pendekar itu meregang nyawa.
"Kalian yang memaksaku! Jika kalian masih menghalangi jalanku majulah!". Sabrang melepaskan aura hitam pekat dari tubuhnya. Mata biru mudanya kembali bersinar.
Setelah melihat kekuatan Sabrang pendekar lainnya memutuskan mundur diikuti prajurit lainnya. Mereka sadar bukan hal bijak terus mencari masalah dengan pendekar dihadapannya.
Setelah keris penguasa kegelapan menghilang Sabrang melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh kebelakang. Mentari mengejarnya dari belakang.
"Tuan muda anda tak harus melakukan itu, kita bisa menyusup saat malam".
"Aku tidak suka sembunyi sembunyi saat memasuki rumahku sendiri". Sabrang berkata pelan. Mentari hanya diam dan mengikutinya.
"Semenjak mata itu sering bersinar anda sedikit berubah tuan muda". Gumam Mentari dalam hati.
"Kau melihatnya?". Salah satu pendekar berbicara pada temannya setelah Sabrang tidak lagi terlihat.
__ADS_1
Temannya mengangguk setuju "Aku bahkan tidak bisa melihat gerakannya dan dari mana keris itu muncul".
***
"Guru bukankah kita harus bertindak? mereka benar benar telah keterlaluan! Bagaimana mereka berani berjaga di dekat gerbang masuk sekte". Ucap Satria kesal. Dia merasa dengan kemampuan yang dimiliki Sekte pedang Naga api bukan hal sulit untuk mengusir para prajurit Majasari dari sekte mereka.
"Guru Suliwa memintaku untuk tidak mencari masalah dengan Majasari sementara waktu. Kemunculan Lembah siluman semakin nyata, jika kita sibuk berperang dengan Majasari maka Lembah siluman akan memanfaatkan situasi ini". Ki Ageng berkata pelan.
"Tapi mereka sudah sangat keterlaluan Guru, kita seperti ditahan di rumah kita sendiri guru". Satria masih bersikeras pada pendapatnya.
Sebenernya Ki Ageng setuju dengan Satria, sudah hampir satu purnama Sekte pedang naga api dijaga oleh pasukan Majasari atas perintah Raja Majasari karena dituduh memberontak. Beberapa pendekar ikut menjaga untuk menutup akses sekte pedang naga api dari dunia luar.
Ki Ageng bisa saja mengusir mereka dengan mudah namun Suliwa berpesan padanya untuk tidak memicu perang dengan Majasari paling tidak sampai mendapat kabar dari Sabrang yang ada di bukit Cetho.
"Bersabarlah, sampai ada kabar dari guru Suliwa. yang terpenting mereka tidak menginjakkan kaki di sekte kita". Ki Ageng menenangkan Satria.
Raut wajah Satria masih belum puas namun dia lebih mengikuti perintah gurunya.
"Guru.... Guru.....". Tiba tiba salah satu muridnya masuk dengan tergesa gesa.
"Ada apa?". Ki Ageng mengernyitkan dahinya.
"Ada keributan diluar guru". Murid tersebut mengatur nafasnya.
"Keributan?.....". Ki Ageng menghentikan ucapannya setelah merasakan tenaga dalam yang sangat besar dari luar.
"Siapa pemilik tenaga dalam sebesar ini?". Ki Angeng berbicara dalam hati.
"Bawa pedang kalian, ikut denganku". Ki Ageng memerintahkan muridnya.
Mereka bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ki Ageng tersentak kaget saat melihat puluhan pendekar mengepung seorang pemuda yang diselimuti aura hitam pekat dengan sebuah keris berputar diudara.
"Guru, menjauh". Mentari tiba tiba muncul dihadapan Ki Ageng dan mengajaknya untuk sedikit menjauh. Sebenarnya ki Ageng belum mengerti maksud ucapan Mentari namun instingnya mengatakan untuk menjauhi pemuda dihadapannya.
"Mundur". Dia memerintahkan muridnya mengikuti Mentari.
"Jangan pernah berani menginjakkan kaki kalian di Sekteku". Tepat setelah Sabrang selesai berbicara tubuhnya menghilang dari pandangan.
"Energi keris Penghancur". Aura hitam pekat menyelimuti seluruh area sekte pedang naga api sesaat sebelum ribuan energi hitam berbentuk keris meluncur kearah pendekar yang mengepungnya.
"DUARRRRR". Ledakan besar terjadi saat energi keris penghancur menghantam para pendekar itu.
"Kekuatan yang mengerikan". Ki Ageng menelan ludahnya.
Saat debu akibat ledakan menghilang dari pandangan Sabrang melangkah kearah Ki ageng sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
"Guru, anda baik baik saja".
"Sabrang?". Ki Ageng tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.