Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pertarungan di Gerbang Kedua


__ADS_3

"Bawa aku mendekatinya". Suara Ciha membuyarkan lamunan Lingga. Dia kemudian memapah tubuh Ciha dan mendekati Mentari yang masih menangis.


"Tenanglah nona, saat ini yang terpenting adalah mencari cara agar dia tidak kembali mengamuk saat sadarkan diri. Aku akan mencoba menggunakan segel 4 unsur, walaupun aku tidak yakin akan berhasil namun setidaknya bisa menahannya beberapa saat". Ciha mulai memeriksa tubuh Sabrang.


"Tubuhnya sangat panas, dia benar benar sedang melawan pengaruh malih rupa". Ciha menarik tangannya cepat ketika menyentuh tubuh Sabrang.


Mentari tiba tiba teringat bungkusan yang diberikan Rakiti, dia mengeluarkan bungkusan itu dan memberikannya pada Ciha.


"Apa ini bisa membantu?". Tanya Mentari pelan. Ciha mengernyirkan dahinya saat menerima bungkusan Mentari. Dia membuka perlahan bungkusan itu dan terkejut saat dia melihat isi bungkusan itu.


"Anyelir hitam? bagaimana kau mendapatkan benda ini?". Tanya Ciha penasaran sambil mengamati bunga berwarna hitam ditangannya.


"Kakek Rakiti yang memberikannya, aku hanya boleh membukanya disaat terdesak". Ucap Mentari pelan.


"Kakek tua itu? dari mana dia mendapatkannya?". Ciha semakin bingung.


"Apa ada yang salah?". Tanya Mentari heran. Walaupun dia juga baru melihat bunga berwarna hitam itu namun dia merasa reaksi Ciha terlalu berlebihan.


"Kau tau seberapa langka benda ini? Anyelir hitam konon hanya ada di Lembah merah. Setauku hanya tuan Panca yang berhasil masuk kesana, bagaimana kakek itu bisa mendapatkan ini?".


"Selangka itukah benda itu?". Mentari mengernyitkan dahinya.


Sebenarnya masih banyak pertanyaan dikepala Ciha tentang Rakiti dan dari mana dia mendapatkan anyelir hitam ini namun Ciha harus bergegas sebelum Sabrang sadar dan kembali menyerang.


"Kita tidak punya banyak waktu, Anyelir hitam tidak bisa bertahan lama kecuali di lembah merah. Bunga uni akan hancur terkena udara dalam beberapa menit. Tolong ambilkan air, aku akan membuat ramuannya". Ciha mengeluarkan mangkuk makannya dan memasukan bunga itu.


"Apakah ini akan berhasil?". Lingga bertanya pelan.


"Semoga saja, Anyelir hitam biasa disebut tanaman Dewa. Tuan Panca pernah menggunakan ramuan ini untuk menekan pengaruh pusaka naga api saat dia membuatnya, mungkin bisa berhasil untuk jurus malih raga". Ciha terus menumbuk bunga berwarna hitam itu.


"Aku membutuhkan bantuanmu. Efek anyelir sangat keras terhadap tubuh, ramuan ini akan meresap ke sistem saraf mu namun jika tubuh tidak bisa menyerap dengan sempurna ramuan ini akan menyumbat pembuluh nadinya. Dengan kondisinya saat ini dia tidak akan bisa menyerap secara maksimal, kau harus membantunya dengan mengalirkan tenada dalammu ketubuhnya". Ciha menoleh kearah Lingga setelah bunga anyelir itu sudah halus.


"Ini airnya". Mentari memberikan mangkuk berisi air pada Ciha.


Setelah mengaduk beberapa saat Ciha meminta Mentari mendudukan Sabrang dan membuka mulutnya.


"Sekarang giliranmu". Ucap Ciha pada Lingga setelah ramuan itu masuk kemulut Sabrang.


Lingga duduk bersila dan mulai menempelkan telapak tangannya dipunggung Sabrang. Beberapa saat kemudia Mentari melangkah mundur saat kobaran api kecil perlahan menyelimuti tubuh Sabrang.

__ADS_1


"Apinya mulai menyelimuti tubuhnya". Lingga tersentak kaget saat dia melihat api mulai mendekati telapak tangannya. Dia sudah bersiap menarik tangannya namun mengurungkan niatnya karena dia tidak merasakan panas.


"Api ini tidak berniat menyerangku?". Lingga mengernyitkan dahinya. Dia hampir tidak percaya kobaran api itu benar benar tidak terasa panas.


Saat Lingga sedang sibuk menyalurkan tenaga dalamnya untuk membantu menyerap ramuan anyelir hitam, 3 sosok bertubuh tegap melayang mendekati mereka.


"Berani sekali kalian masuk tempat ini". Maruta menatap tajam Ciha. "Bukankah kau salah satu anggota sekte bintang langit?". Maruta melangkah mendekati Ciha.


"Jauhi dia". Mentari mencoba menyerang Maruta namun tiba tiba salah satu pendekar petir sudah berada didekatnya dan menyerangnya. Mentari mencoba menghindar namun kecepatan pedang kembar milik pradipa lebih dulu mengenainya.


Beruntung bagi Mentari segel pelindung meredam tajamnya pedang di tubuhnya.


"Kau pengguna racun ya? menarik". Pradipa tersenyum dingin setelah melihat aura hitam ditubuh Mentari.


"Dia cepat sekali". Mentari meringis kesakitan. Dia menoleh kearah Lingga yang masih mengalirkan tenaga dalamnya.


"Aku harus mengulur waktu, akan sangat berbahaya jika Lingga menghentikan tiba tiba aliran tenaga dalamnya. Mereka berdua bisa terluka parah". Mentari mencabut pedangnya dan mulai merapal jurus.


"Kau pikir aku takut". Selesai berkata demikian Mentari kembali menyerang Pradipa. Aura hitam pekat menyelimuti tubuhnya.


Walau Mentari mengeluarkan seluruh tenaga dalamnya namun tetap terlihat ketimpangan kekuatan diantara mereka. Sekeras apapun dia berusaha menyerang, Pradipa mampu menghindar dengan sempurna sebaliknya serangan Pradipa beberapa kali mampu mengenai Mentari cukup telak.


"Jika celah ini kumanfaatkan sepertinya aku bisa sedikit menekannya". Mentari menarik pedangnya dan merapal jurus segel bayangan sambil melompat mundur. Belum sempat dia menyelesaikan jurusnya, Wasta sudah muncul dibelakangnya.


"Apakah kalian tidak memiliki sikap ksatria?". Mentari Mendengus kesal setelah tubuhnya mental menghantam tanah.


"Kemenangan adalah segalanya, kau hanya dikenang sebagai pemenang bukan ksatria". Wasta menjilat pedangnya.


"Kau!". Mentari mencoba bergerak namun rasa sakit menahan gerakannya.


Lingga terlihat mulai gelisah setelah mengetahui Mentari sedang terdesak.


"Sial! Bertahanlah sedikit lagi, jika kuhentikan aliran tenaga dalam tiba tiba maka kami berdua akan terluka". Lingga bergumam dalam hati. Untuk saat ini dia tidak bisa melakukan apa apa karena jika memutus aliran tenaga dalam tiba tiba akan membuat organ dalam mereka terluka parah.


"Bukankah tugas kalian melindungi tempat ini? Lalu kenapa kau membawa mereka masuk?". Maruta mencengkram kuat leher Ciha membuat pemuda itu kesulitan bernafas.


Ciha berusaha berontak namun tenaganya kalah jauh, tak lama lengan kiri Maruta mengeluarkan aura hitam. Saat Maruta bersiap membunuh Ciha tiba tiba sebuah serangan melesat kearahnya. Maruta melempar tubuh Ciha dan melompat menghindar.


"Pisau angin peremuk tulang? Jurus kuno seperti ini hanya dimiliki Teratai merah. Tak kusangka kalian berani ikut campur setelah apa Lembah siluman berikan dulu". Maruta menatap tajam Wulan sari yang melayang turun dari langit.

__ADS_1


"Aku tidak tau kesepakatan apa yang terjadi antara kalian dengan leluhurku dulu namun selama aku menjadi ketua Teratai merah, Lembah siluman berada diurutan pertama yang akan kuhancurkan". Sesaat setelah kakinya menapak tanah, Wulan sari mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


Maruta mencabut pedangnya dan menyambut serangan Wulan sari. Dalam waktu singkat mereka sudah bertukar puluhan jurus.


Watsa yang menyadari kekuatan Wulan sari memutuskan membantu Maruta namun tiba tiba perhatian Wasta terpecah saat melihat luapan api menyelimuti tubuh Sabrang. Dia menatap takjub kobaran api merah itu.


"Sebaiknya kubunuh dulu pengguna Naga api ini, akan sangat berbahaya jika dia berhasil pulih". Wasta melangkah mendekati Lingga dan Sabrang.


"Dia mengincar tuan muda". Mentari yang menyadari rencana Wasta bergerak dengan sisa sisa tenaganya berusaha menghentikannya.


"Kau benar benar merepotkan". Wasta tiba tiba muncul disisi kiri Mentari dan melepaskan tinjunya tepat di tubuh gadis itu. Mentari terdorong mundur beberapa langkah sebelum tersungkur ketanah.


"Tuan muda....". Mentari mencoba bangkit kembali namun tubuhnya sudah tidak mau mengikutinya lagi. Seluruh tubuhnya terasa sakit.


Wasta terus berjalan mendekati Lingga dengan pedang yang telah dialiri tenaga dalam.


"Sedikit lagi". Lingga tersentak kaget ketika mendengar suara dipikirannya.


"Alirkan tenaga dalammu dan pusatkan di perut anak ini setelah kobaran apiku membesar, sisanya biar aku yang mengurusnya". Suara misterius itu mengisi kepala Lingga.


Lingga ingin bertanya namun mengurungkannya saat dia merasakan kobaran api semakin membesar ditubuh Sabrang. Dia mengalirkan tenaga dalamnya sesuai arahan suara misterius itu. Beberapa saat kemudian dia merasa tubuhnya melayang diudara.


"Kalian telah salah memilih lawan". Wasta menyeringai sesaat sebelum mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.


"Tuan muda". Mentari berusaha bangkit namun lagi lagi tubuhnya jatuh ketanah.


Sebuah kobaran api menghantam pedang Wasta tiba tiba membuat dia terdorong mundur. Tak lama Tubuh Sabrang dan Lingga melayang diudara dengan posisi masih bersila.


"Naga api?". Raut wajahnya berubah buruk.


Belum selesai rasa terkejutnya, tubuh Sabrang sudah menghilang dari pandangan.


"Gawat". Wasta bersiap dengan pedangnya sambil mengamati kesekelilingnya.


"Ayunan pedang bulan". Sebuah serangan tiba tiba menghantam Wasta memaksanya terlepar mundur . Wasta memutar tubuhnya dan mendarat mulus di tanah. Dia bersiap menyerang balik namun Sabang sudah muncul dihadapanna dengan tinju kilat hitamnya.


"Cepat sekali". Kobaran api kembali menghantam tubuh Wasta.


"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasuki tubuh Suliwa". Naga api tertawa keras.

__ADS_1


"Kau harus ingat tunjuan kita masuk Dieng". Anom membentak Naga apu yang telah merasuki Sabrang.


"Kau cerewet sekali tua bangka, aku hanya perlu membunuh mereka semua kan?". Naga api memutar pedangnya.


__ADS_2