Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Sisi Gelap Alam Semesta


__ADS_3

"Pergi ke sisi gelap alam semesta?" Sabrang tampak tak percaya dengan syarat yang diajukan Rubah Putih padanya.


"Kau boleh memilihnya, jika kau meminta waktu dua hari padaku untuk menyelesaikan permasalahan yang kau hadapi, aku akan memberimu izin dengan syarat ikut aku ke sisi gelap alam semesta terlebih dahulu," balas Rubah Putih pelan.


"Tapi bukankah latihan fisikku belum selesai?" tanya Sabrang bingung.


"Kita sudah tidak memiliki waktu lagi, beberapa hari kemarin waktu kita terbuang di Gropak Waton, jika terus melakukan latihan fisik maka akan semakin banyak waktu terbuang.


Jika ramalan itu benar berarti saat ini hanya ada dua cahaya putih, kita membutuhkan semua kekuatan untuk mengalahkan mereka. Tak ada waktu untuk bersantai, aku akan membawamu ke sisi gelap alam semesta dan melihat reaksi tubuhmu, setelah itu kuberikan waktu dua hari padamu sebelum fokus berlatih," jawab Rubah Putih.


Sabrang terlihat berfikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya. Kejadian di Gropak Waton membuatnya sadar jika kekuatan para pemimpin dunia sangat besar mengingat mereka dilatih langsung oleh pertapa sakti tongkat cahaya putih.


"Baik, ikuti aku dan jangan sampai tertinggal," Rubah Putih tiba tiba bergerak cepat keluar dari air terjun lembah pelangi.


"Apa harus terburu buru seperti ini?" umpat Sabrang sambil terus meningkatkan kecepatannya untuk mengimbangi gerakan Rubah Putih.


Dangan kecepatan yang mereka gunakan tak butuh waktu lama untuk masuk kedalam sebuah hutan pinus yang sangat indah.


Hutan ini sedikit tersembunyi dan berada dibalik air terjun lembah pelangi. Tak mudah bagi orang menemukan tempat ini karena tertutupi dinding tebing batu yang menjulang tinggi.


Jika dilihat dari puncak air terjun lembah pelangi maka hanya terlihat jurang menganga yang sangat dalam, tak ada yang mengira jika didasar jurang itu terdapat hutan pinus yang sangat indah.


Namun jika berjalan memutari air terjun pelangi dan masuk lewat celah batu yang cukup sempit disalah satu sisi tebing akan muncul didasar jurang dan disambut udara segar khas hutan Nuswatoro.


Sabrang menatap takjub hutan dihadapannya, suara air gemericik sungai dan kicauan burung yang saling bersautan membuat dia makin larut dalam lamunannya.


"Bersiaplah, disini hukum alam seolah tak berlaku. semakin dalam kita masuk hutan maka udara akan semakin tipis dan tubuhmu akan semakin berat karena tekanan aura aneh yang menyelimuti tempat ini," ucap Rubah putih pelan sambil melangkah masuk hutan.


Hanya beberapa detik setelah Rubah Putih bicara, Sabrang mulai merasakan keanehan pada tubuhnya saat masuk lebih dalam.


Nafasnya mulai tersenggal dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sabrang terpaksa menghentikan langkahnya untuk mengatur nafas, dia seolah merasakan tubuhnya tertimpa beban yang sangat berat.


"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" ucap Sabrang pelan. Sabrang semakin bingung karena dia baru berjalan beberapa langkah namun seolah sudah menempuh perjalanan selama berhari hari.


Sabrang bukan pendekar sembarangan, puluhan lawan dengan aura besar pernah dia hadapi termasuk dinding udara Kuntala, sang pemimpin dewa penjaga Masalembo namun suasana hutan pinus itu sangat berbeda.


Aura yang menekannya kali ini seperti tidak bisa dilawan, sekuat apapun dia mengalirkan energi murni dalam tubuhnya tapi tetap tak mampu mengurangi tekanan yang dirasakannya.


Rubah Putih menghentikan langkahnya sambil tersenyum menatap Sabrang.


"Percuma kau mengalirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhmu, di sisi gelap alam semesta ilmu kanuragan tak berguna. Tenaga dalam membutuhkan pernafasan yang terus menerus, tarik semua energi yang kau alirkan karena itu yang membuatmu lelah seperti itu.


Tempat ini sangat tepat untuk melatih tubuh dan pernafasan yang menjadi kunci kanuragan," ucap Rubah putih pelan.


Sabrang mulai menarik semua energinya yang sempat dialirkan ke seluruh tubuhnya sesuai dengan saran Rubah Putih. Tak lama satu keajaiban seolah terjadi, tubuh Sabrang menjadi sedikit ringan dan dia mulai bisa berjalan lagi.


"Biarkan tubuhmu kosong, seolah kau tak memiliki tenaga dalam dan cobalah menyatu dengan sisi gelap alam semesta. Atur pernapasan kembali dan jangan terlalu banyak bergerak yang tidak perlu karena saat ini tubuhmu sedang dalam tahap adaptasi.


Kau lihat gunung tinggi itu? disitulah tujuan kita, tekanan yang ada di sana jauh lebih kuat dari tempat ini, kau harus cepat beradaptasi," ucap Rubah Putih sambil kembali berjalan.


"Bagaimana kakek menemukan tempat ini?" tanya Sabrang kemudian setelah berhasil menguasai tubuhnya.


"Aku tidak tau, sesuatu yang ada didalam kepalaku seolah menuntunku ketempat ini. Seperti yang kukatakan di Gropak Waton, aku tidak dapat mengingat sebagian ingatan masa kecilku namun terkadang ada sesuatu yang tiba tiba muncul dalam pikiranku seolah ingin menuntunku," balas Rubah Putih.


"Kenapa tempat ini disebut sisi gelap alam semesta?" tanya Sabrang yang berjalan dibelakang Rubah Putih.


"Tempat ini sangat berbeda, semua hukum alam seolah tidak berlaku di sini. Udara yang sangat tipis dan sulit ditembus sinar matahari harusnya menjadikan tempat ini kering namun kau lihat sendiri, semua pepohonan bahkan jauh lebih subur dari tempat lain.


Air sungai yang sangat jernih itu menjadi pesan untuk kita semua, jika alam berkehendak maka apapun akan terjadi. Memasuki tempat ini seperti membuat kita berada di dimensi lain," jawab Rubah Putih.

__ADS_1


***


"Kau sudah sadar nak?" Guntoro tampak menatap anaknya yang terbaring di sebuah batu besar.


"Apa yang terjadi denganku?" tanya Mentari bingung saat merasakan tubuhnya sulit digerakkan dan nafas yang sangat berat.


"Itu reaksi biasa saat pertama kali masuk tempat ini, kau hanya perlu beradaptasi dengan suasana gunung ini. Tak ada yang bisa menemukan tempat ini karena letaknya sangat tersembunyi," jawab Guntoro.


"Aku harus kembali dan menemui gusti ratu untuk menjelaskan kekacauan yang ayah buat," Mentari mencoba bangkit namun nafasnya makin tak beraturan.


"Lupakan dia, kita berada ditempat yang sangat jauh dari Malwageni," balas Guntoro.


Mentari menggeleng pelan, "Apapun yang ayah katakan tentang Yang mulia, tak akan membuatku berubah pikiran, aku harus kembali ke keraton," jawab Mentari ketus.


"Apa kau sangat mencintainya?," tanya Guntoro dingin.


"Yang mulia adalah orang yang sangat perduli padaku ketika semua mencoba memanfaatkan aku. Saat ayah menitipkan aku bersama ibu angkat, saat itu semua hidupku berakhir.


Yang mulia lah yang memberi tujuan hidup baru, aku bukan hanya mencintainya, aku bahkan rela mati demi Yang mulia," jawab Mentari.


Guntoro menatap Mentari sambil terus mencari cara untuk membuat anaknya tinggal ditempat itu.


"Baik jika kau tetap berkeras, pulihkan dulu tubuhmu, setelah itu lakukan apa yang mau kau lakukan," jawab Guntoro.


Mentari terlihat mengangguk, dia menatap sekelilingnya dengan wajah bingung.


"Dimana ini ayah? kenapa tubuhku sangat berat?" tanya Mentari bingung.


"Tempat ini adalah tempat leluhur kita berlatih ilmu kanuragan, tuan agung Rakin menemukan tempat ini secara tidak sengaja saat mencari tongkat cahaya putih. Sebuah tongkat pusaka yang konon memilih sendiri tuannya.


Kau tau yang membuat tempat ini menjadi sangat istimewa? udara dan tekanan aura misterius yang sangat besar tidak bisa dilawan oleh tenaga dalam sebesar apapun.


"Sisi gelap alam semesta?" Mentari mengernyitkan dahinya.


"Dengar nak, tiga murid tuan Rakin tidak bisa dikalahkan oleh siapapun termasuk raja yang kau cintai itu. Hiduplah bersama ayah disini, tak akan pernah ada menemukan tempat ini dan biarkan ayah menebus kesalahan yang dulu aku lakukan," pinta Guntoro.


"Ayah, jika kita adalah keturunan tuan Rakin maka ayah seharusnya menguasai ilmu kanuragan keluarga kita bukan?" tanya Mentari tiba tiba.


"Sebagian," jawab Guntoro bingung.


"Aku akan memaafkan semua kesalahan ayah dengan satu syarat, ajarkan aku seluruh ilmu kanuragan yang ayah miliki. Aku ingin menjadi lebih kuat agar dapat membantu Yang mulia," pinta Mentari pada Guntoro.


"Anak ini tidak mendengarkan ucapan ku sama sekali, apa yang sebenarnya direncanakan alam dengan mempertemukan mereka berdua," ucap Guntoro dalam hati.


"Dengan tubuhmu saat ini kau tak akan mampu belajar ilmu kanuragan, kau harus membiasakan tubuhmu di sini terlebih dahulu sebelum berlatih," jawab Guntoro.


"Aku akan berusaha semampuku," Mentari bangkit dari duduknya dan mulai melangkah pelan keluar.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Guntoro bingung.


"Aku harus membiasakan tubuh ini beradaptasi dengan semua tekanan berat ini, aku benar benar harus menjadi kuat," jawab Mentari pelan.


"Kenapa kau terus memikirkan dia? apakah anak itu sangat berarti buatmu melebihi ayah?"


"Ayah dan Yang mulia adalah dua hal berbeda, aku sangat menyayangi ayah walau dulu aku sangat marah karena sikap ayah.


Jika ayah bertanya apa yang kurasakan saat bersama Yang mulia, mungkin hampir sama dengan perasaan ayah saat bersama ibu dulu," jawab Mentari sambil melangkah keluar.


"Dia sangat mirip denganmu, aku seperti melihat mu dalam tubuh Mentari. Kau benar benar memberiku anak yang sangat cantik, istriku," ucap Guntoro pelan.

__ADS_1


***


Wardhana terlihat menatap tajam Airin yang duduk dihadapannya. Wajah wanita itu terlihat gugup, selama hampir setengah jam tak sekalipun Airin berani menatap Wardhana.


Yang membuat Airin semakin takut adalah selama setengah jam dia duduk di kursi itu tak sepatah katapun keluar dari mulut Wardhana.


Wardhana hanya diam tanpa bertanya apapun.


"Tuan," Airin memberanikan diri berbicara.


"Apa ada yang mau kau katakan?" Wardhana akhirnya mulai bicara.


"Maaf tuan, anda memanggil hamba kemari namun tak sepatah katapun anda bicara, apa yang sebenarnya anda inginkan?" tanya Airin pelan.


"Kau tau nona, kematian apa yang paling menyakitkan dalam hidup ini?" tanya Wardhana tiba tiba.


Jantung Airin berdegup kencang saat mendengar pertanyaan tajam Wardhana.


"Hamba tidak tau tuan," jawab Airin lirih.


"Tepat dibawah kursi yang kau duduki, aku membangun ruang tahanan untuk para pengkhianat Malwageni. Kau tak akan mau membayangkan bagaimana mati dengan perlahan dan menyakitkan di ruangan pengap tanpa cahaya dan makanan. Aku pernah merasakannya saat menjadi tahanan di Saung Galah, jika kau berada di posisiku mungkin kau akan lebih memilih mati oleh mata pedang yang sangat tajam daripada mati dalam kesunyian," ucap Wardhana.


"Apa maksud tuan?" ucap Airin dengan suara bergetar.


"Tidak ada, aku hanya ingin mencari bahan pembicaraan denganmu," jawab Wardhana.


Airin menatap Wardhana bingung, dia benar benar tidak mengerti jalan pikiran Wardhana. Seharusnya saat ini dia diintrogasi oleh Wardhana sesuai dengan ucapan Daritri saat memanggilnya.


Airin bahkan diajarkan oleh Daritri untuk menjawab pertanyaan menjebak Wardhana, namun bukannya bertanya, Wardhana justru hanya diam mematung.


Bukan hanya Airin yang bingung dengan sikap Wardhana, Lembu Sora yang berada di dekat Wardhana pun tak habis pikir dengan sikap Wardhana.


"Panggil nyonya Daritri masuk," perintah Wardhana pada Sora.


"Baik tuan," balas Sora sebelum melangkah keluar.


Tak lama Daritri muncul bersama Sora, dia menundukkan kepalanya sebelum duduk disebelah Airin.


"Kau boleh keluar, aku sudah cukup mendapatkan jawaban yang kuinginkan," ucap Wardhana pada Airin.


"Jawabanku?" Airin mengernyitkan dahinya sebelum menundukkan kepalanya dan melangkah pergi.


Wajah Airin tampak bingung, bagaimana Wardhana bisa mengatakan mendapatkan jawaban jika dia tidak bertanya satu katapun.


"Sora, pastikan Airin dikurung di kamarnya dan jangan ada yang boleh menemuinya tanpa izinku, nyawamu taruhannya," ucap Wardhana dingin.


"Hamba akan pastikan tuan," jawab Sora yang juga tampak bingung.


"Dan untukmu, datanglah lagi besok, aku ingin mencocokkan jawabanmu dengan Airin, sekarang pergilah," ucap Wardhana.


"Baik tuan, besok hamba akan datang lagi," Daritri menundukkan kepalanya sebelum melangkah pergi.


"Tuan," ucap Sora pelan setelah Daritri pergi.


"Kau ingin tau kenapa aku tidak bertanya sedikitpun pada Airin bukan? besok kau akan tau jawabannya," balas Wardhana sambil tersenyum penuh makna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesuai janji.. 2 kali Up... Terima kasih atas segala dukungannya....

__ADS_1


__ADS_2