Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Dua Bulan Kemudian


__ADS_3

Disalah satu ruangan kecil yang terdapat dipinggir jurang lembah sukma ilang Mentari sedang bermeditasi ketika Wulan sari menghampirinya.


"Sudah kuduga kau berada disini". Ucap Wulan sari dengan senyum hangat.


"Sudah saatnya kita pergi, Suliwa sudah menunggu kita". Wulan sari melanjutkan.


Mentari menggeleng pelan "Aku akan menunggunya". Ucap Mentari singkat.


Wulan sari tersenyum hangat memandang gadis dihadapannya. Sudah dua purnama ini Mentari berlatih di salah satu tempat latihan di kelompok teratai merah sambil menunggu Sabrang. Wulan sari kagum pada kegigihan dan kesabaran gadis dihadapannya itu.


"Baiklah, katakan pada anak itu untuk segera menyusul kami ketika dia telah menyelesaikan latihannya".


"Baik nek". Mentari menundukan kepalanya memberi hormat pada Wulan sari.


Setelah kepergian Wulan sari, Mentari kembali duduk, wajahnya menampakkan guratan kecemasan. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendengar ledakan dari dasar lembah yang biasanya selalu terdengar.


"Apa yang sedang anda lakukan di bawah sana tuan muda, bukankah ini sudah saatnya kita pergi. Tak lama lagi purnama akan muncul, kita harus bergegas kembali ke bukit Cetho". Ucap Mentari gelisah.


Jika Wulan sari tidak melarangnya untuk turun kedasar lambah mungkin Mentari sudah turun untuk melihat keadaan Sabrang.


***


Kadipaten karang sari adalah salah satu wilayah kekuasaan Majasari. Tidak ada yang istimewa dari kadipaten ini selain tempatnya yang cukup terprencil dan susah dijangkau Kadipaten ini hanya dihuni puluhan orang saja. Itulah kenapa Majasari seolah tidak terlalu perduli dengan kadipaten ini namun dikadipaten terpencil inilah gerbang Dieng berada. Di kadipaten inilah akses satu satunya menuju dunia yang penuh kekuatan dan berbahaya itu berada.


Di pos penjagaan kadipaten Karang sari Maruta tersenyum dingin menatap puluhan prajurit yang tergeletak di tanah meregang nyawa. Terlihat tetesan darah di pedang embun paginya.


"Sudah kukatakan untuk tidak menghalangiku atau kalian akan kehilangan nyawa. ". Maruta menggeleng pelan.


Maruta melangkah santai diantara puluhan mayat sambil menyarungkan kembali pedangnya.


Setelah beberapa jam dia berjalan menyusuri rimbunnya hutan belantara akhirnya dia disambut oleh hamparan lautan. Dia berjalan kepinggir tebing dan menatap kebawah, tidak ada apa apa disana kecuali ombak besar yang menari membentur dinding tebing dan puluhan batu karang tajam yang terendam air laut.


Tepat dibawah kakinya itulah sebuah gerbang tersembunyi menuju dunia lain, dunia penuh misteri berada akan terbuka beberapa hari lagi.


"Ah tempat ini tidak pernah berubah, semua tampak sama dari tahun ketahun seolah ada kekuatan yang membuat tempat ini abadi". Maruta duduk diatas tebing itu dan memandang lautan lepas dihadapannya.


Bagi Maruta ini bukan yang pertama kali dia masuk ke Dieng. Setiap tahun di waktu yang sama dia selalu masuk ke Dieng mengambil Air kehidupan untuk Mahendra dan dirinya. Beberapa pendekar lembah siluman yang beruntung akan diizinkan meminum air misterius itu.


Efek air kehidupan bisa membuat sistem tubuh meregenerasi dengan sangat cepat, itulah sebabnya siapapun yang meminumnya akan memiliki tubuh yang hampir abadi.


Beberapa pendekar dunia persilatan berlomba lomba untuk mencari letak air kehidupan dan meminumnya walaupun mereka tau efek yang ditimbulkan oleh air kehidupan sangat mengerikan. Air kehidupan mengandung roh roh iblis yang setiap saat berusaha mengambil tubuh peminumnya.


Orang yang meminumnya memang akan memiliki tubuh yang hampir abadi namun roh iblis itulah yang membuat mereka abadi. Mahendra bahkan tak pernah tertidur sedetikpun sejak meminum air itu karena takut kesadarannya direbut oleh iblis saat dia terlelap.


Maruta kali ini memutuskan datang lebih cepat untuk mengamati situasi dan membuat rencana karena dia yakin dengan bangkitnya Naga api dan kemunculan pedang langit kali ini Dieng akan sangat ramai. Dia ingin memastikan mereka tidak mencapai Dieng.


"Entah sampai kapan kami semua tergantung pada air itu". Gumam Maruta sambil menatap indahnya lautan dihadapannya.


Sikap Maruta tiba tiba menjadi siaga saat seseorang mendekatinya.


"Anda datang lebih awal tuan". Langgeng menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Tahun ini akan sedikit merepotkan untuk masuk kesana, aku ingin membuat sedikit rencana sambil mengamati situasi". Ucap Maruta pelan.


"Apa Naga api akan datang kemari?". Tanya Langgeng pelan.


Maruta menganggukkan kepalanya. "Tidak hanya dia, sepertinya akan ada beberapa pendekar dunia persilatan yang akan mencoba masuk untuk menghentikan kita".


"Lalu apa yang harus kulakukan?".


"Aku akan menempatkan banyak pendekar Lembah siluman disekitar perbatasan tempat ini, aku ingin kau memimpin para pendekar itu dan menghentikan mereka mendekati tempat ini apapun caranya. Aku dan 3 pendekar petir akan masuk dan mengambil air itu".


"3 pendekar petir? apakah tidak berlebihan ketua sampai mengirim mereka kemari?". Langgeng mengernyitkan dahinya.


"Yang akan kita hadapi bukan hanya Naga api, aku yakin pedang langitpun akan menuju kemari. Ketua ingin selain mengambil air itu kita membawa pulang pusaka terkuat Dieng itu".


"Jadi ketua benar benar ingin membuka gerbang kegelapan itu?". Raut wajah Langgeng terlihat pucat.


"Kita membutuhkan pusaka itu untuk menyusun ulang tatanan dunia persilatan yang sudah kacau ini. Tugas kita hanya membatu ketua agar dunia ini menjadi lebih baik. Pasti akan banyak jatuh korban namun itu akan sebanding dengan hasilnya kelak. Dunia tanpa permusuhan, dunia tanpa saling bunuh. Semua akan hidup damai dibawah perintah Lembah siluman".


"Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu mewujudkan itu tuan". Langgeng duduk disamping Maruta dengan wajah lesu.


"Apa ada yang menggangu pikiranmu?". Maruta menatap Langgeng.


"Ah tidak tuan, aku hanya berfikir jika Ketua dulu berhasil menguasai pusaka suling raja setan mungkin orang tuaku tidak akan mati dibunuh oleh Bratajaya Dwipa". Terpancar kesedihan diwajah Langgeng.


"Tak usah kau sesali yang sudah terjadi, kali ini kita harus pastikan rencana ketua berjalan agar tidak ada lagi yang bernasib sama sepertimu".


"Baik tuan".


"Persiapkan dirimu, aku akan menemuimu beberapa hari sebelum purnama mencapai puncaknya. Aku harus pergi kesuatu tempat untuk mempersiapkan semuanya". Maruta bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Langgeng sendirian.


***


"Ketua, aku mohon izin untuk pergi". Lingga menghadap Kertasura.


Kertasura terlihat mengernyitkan dahinya "Kau sudah mau pergi? bukankah masih beberapa minggu lagi sampai bulan purnama mencapai puncaknya".


"Aku ingin memastikan semua berjalan lancar ketua, aku akan singgah terlebih dahulu di sekte Bintang langit". Ucap Lingga pelan.


Kertasura terlihat berfikir sejenak sebelum memberi izin pada Lingga.


"Baiklah, aku akan menunggumu di kadipaten Karang sari. Jangan sampai terlambat aku yakin Lembah siluman tidak akan tinggal diam melihat kita mendekati Dieng".


"Baik ketua, aku mohon diri". Setelah memberi hormat dia melangkah meninggalkan ruangan Kertasura.


"Tunggu dulu". Ucap Kertasura tiba tiba.


Lingga menoleh kearah Kertasura dengan wajah bingung.


"Kau baik baik saja bukan? aku melihat kau sedikit berbeda setelah kembali dari Bintang langit. Apakah terjadi sesuatu selama disana?".


"Aku baik baik saja ketua, aku hanya terlalu banyak berlatih untuk mempersiapkan diri masuk ke Dieng".

__ADS_1


***


Sesosok tubuh terlihat mendekati Mentari yang sedang tertidur dalam posisi duduk. Dia menatap wajah Mentari sambil tersenyum hangat.


"Kau terlalu memaksakan diri". Sabrang menggeleng pelan. Wajah cantiknya tidak bisa menutupi guratan guratan lelah. Sabrang mendekatkan wajahnya ke wajah Mentari.


"Nona, apakah kau selalu tertidur dengan wajah cantik seperti ini?".


Mentari hampir memukul Sabrang saat membuka matanya. Wajah mereka hanya terpaut beberapa inci membuat wajah Mentari merona merah.


"Apa yang anda lakukan tuan muda?". Mentari bersingut kesal.


"Apa yang kulakukan? aku membangunkanmu dari tidur anehmu". Ucap Sabrang tertawa.


"Apa harus seperti itu cara membangunkanmu?". Mentari bergumam dalam hati.


Mentari menatap Sabrang yang masih tertawa melihat reaksinya. Ada rasa lega dalam hatinya setelah melihat Sabrang telah kembali dari latihannya selama dua purnama lebih.


Wajahnya pun terlihat tidak lagi menakutkan seperti sebelumnya.


"Tuan muda di mana pedang anda?". Mentari mengernyitkan dahinya, di baru sadar tidak melihat pedang yang biasa selalu ada dipunggungnya.


"Ah maksudmu pedang naga api? Aku menyimpannya disuatu tempat". Sabrang tersenyum menggoda Mentari.


Sejak menyelesaikan latihannya selama dua purnama di dasar lembah sukma ilang Pedang naga api telah menyatu dengan tubuhnya. Dia bisa memanggil Naga api kapanpun seperti yang dilakukannya terhadap Anom.


"Apakah kakek guru sudah berangkat?". Sabrang bertanya pelan.


Mentari mengangguk pelan "Sudah beberapa hari lalu tuan muda, nenek Wulan berpesan padaku untuk segera menyusul setelah anda menyelesaikan latihan".


"Berapa lama lagi bulan purnama mencapai puncaknya?".


"Sekitar dua minggu lagi tuan". Jawab Mentari.


"Baiklah, kita akan berangkat setelah aku mengunjungi makam ibuku. Ayo kita pergi".


Sabrang melangkah dengan penuh keyakinan, tak ada lagi ganjalan dihatinya seperti sebelumnya. Dia sudah siap dengan segala kemungkinan dan bahaya yang akan menyambutnya di Dieng.


"Kau sudah siap untuk kembali ke ketempat itu?". Anom mengejek Naga api.


"Apakah aku pernah takut akan sesuatu? Akan kubakar semua yang ada di tempat itu jika berani menghalangi anak ini". Jawab Naga api congkak.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Catatan Author :


Akhirnya Part Dieng akan dimulai dari Episode ini, semoga kalian tetap setia membaca Novel PNA.


Akan ada beberapa kepingan Misteri tentang tempat itu yang akan Author buka perlahan. Dan yang paling penting tentu saja mengenai sejarah kelam Trah Dwipa yang merupakan urat nadi cerita PNA.


Mengenai Give away PNA berupa pulsa 100K akan diumumkan setiap akhir bulan di Grup Author. Untuk keterangan lebih lanjut atau pertanyaan pertanyaan lainnya mengenai PNA juga bisa ditanyakan di Grup Author. Jadi jika berkenan silahkan bergabung di grup.

__ADS_1


Tak lupa ucapan terima kasih buat semua yang telah mendukung novel PNA sampai bisa berada di posisi 19 besar. Kalian yang terbaik!!!!


Semoga kita semua selalu diberi kesehatan amin......


__ADS_2