
Guntoro terlihat menatap takjub sebuah lembah yang berada tepat dibelakang gunung tertinggi yang ada di sisi gelap alam semesta. Nafasnya mulai tak beraturan karena tekanan udara di lembah itu jauh lebih besar.
"Jadi tempat ini benar benar ada," gumamnya dalam hati.
Guntoro kembali teringat pesan ayahnya dulu sesaat sebelum kematiannya.
"Lembah neraka?" Guntoro mengernyitkan dahinya saat ayahnya menyebut nama itu.
"Lembah Neraka ditemukan tuan Rakin saat berlatih di sisi gelap alam semesta, di sanalah dia menaklukkan ruh tongkat cahaya putih dan meramal tentang kemunculan tiga cahaya putih yang akan menyelamatkan dunia.
Saat dia menyadari kesalahannya dengan mengajarkan seluruh ilmu kanuragannya pada tiga pendekar yang salah satunya bernama Lakeswara Dwipa, tuan Agung mengungsikan nona Andriani keluar Gropak Waton.
Saat itu tuan Agung berpesan pada nona Andriani untuk mendatangi lembah neraka karena semua kunci menghentikan mereka tersembunyi di sana. Carilah letak sisi gelap alam semesta dan temukan lembah neraka, itu akan membantu kita menghentikan mereka," ucap Bayu Aji sesaat sebelum kematiannya.
Guntoro masih mematung dipinggir lembah itu, sudah cukup lama dia melupakan ucapan ayahnya itu karena menganggap bersembunyi adalah cara terbaik menghadapi para penguasa dunia.
Namun pertemuan dengan Mentari dan Sabrang membuatnya sadar jika bersembunyi tak akan menyelesaikan masalah apapun.
"Tak kusangka aku harus masuk ketempat ini," Guntoro tersenyum kecut sesaat sebelum melompat turun.
Wajah Guntoro berubah seketika saat tubuhnya tiba tiba merasakan tekanan yang sangat besar. Dia bahkan tak mampu menggerakkan tubuhnya untuk beberapa saat ketika mendarat di dasar lembah.
"Tekanan udaranya jauh lebih besar daripada di atas sana," ucapnya sambil perlahan mengalirkan tenaga dalamnya.
Ketika Guntoro mulai bisa menggerakkan tubuhnya, dia menatap sekelilingnya dan menemukan sebuah gua besar di sisi kanannya.
Dia mengernyitkan dahinya saat merasakan aura panas meluap dari gua itu.
"Gua Neraka?" Guntoro melangkah perlahan dengan hati hati, dia tampak bingung setelah melihat dalam gua yang ternyata kecil.
"Apa ini bukan gua neraka?" gumamnya dalam hati.
Pandangannya terhenti pada sebuah tulisan kecil yang ada di dinding gua. Guntoro perlahan mendekati dinding itu dan mulai membacanya.
"Legenda Dewa api akan bangkit jika Iblis api membuat perjanjian darah dengan tuannya. Ledakan puluhan gunung api akan menyambut kebangkitan dewa api. Batu persembahan gua kabut akan menjadi perantara kebangkitannya.
Memanggil dewa api bukan tanpa resiko karena dewa api memiliki dua wajah, kebaikan dan keburukan akan saling bertarung. Jika sisi buruknya bangkit maka akan menghancurkan dunia ini."
"Dewa api?" Guntoro mengernyitkan dahinya.
Guntoro tampak bingung, dia mengira jika kunci untuk mengalahkan para pemimpin dunia yang tersembunyi di dalam gua neraka sesuai petunjuk Rakin adalah sebuah pusaka atau kitab tanpa tanding namun ternyata dia salah. Kunci yang dikatakan Rakin pada anaknya ternyata hanya sebuah tulisan kuno yang terukir di dinding gua.
"Apa maksud tuan agung sebenarnya?" gumam Guntoro bingung.
__ADS_1
"Apa mungkin pusaka anak itu?" Guntoro tiba tiba teringat pusaka yang dimiliki Sabrang.
"Jika benar anak itu adalah kuncinya maka aku mulai mengerti mengapa alam mempertemukannya dengan Tari, aku harus cepat memberitahu dia," Guntoro berjalan cepat keluar gua, dia ingin segera memberi tahu Sabrang mengenai legenda dewa api.
Namun langkahnya terhenti saat melihat sesosok tubuh berdiri tak jauh dari gua.
"Jangan pernah berfikir membangkitkan dewa api, dia jauh lebih berbahaya dari para pemimpin dunia itu," ucap Pendekar misterius itu.
"Siapa kau? bagaimana kau bisa tau tempat ini?" tanya Guntoro terkejut.
"Kesalahan terbesarku adalah menciptakan Pedang Naga Api, kupikir dengan memasukkan iblis api kedalam pusaka itu bisa membantu menghancurkan angkara murka. Namun perlahan aku mulai menyesalinya, Iblis Api bukan mahluk yang bisa ditaklukkan, dia adalah simbol angkara murka di dunia ini.
Aku menjaga gua ini untuk menebus kesalahan masa laluku, tak boleh ada yang membangkitkan Dewa Api walaupun itu keturunanku sendiri," ucap Pendekar itu pelan.
"Kau salah tuan, saat ini Iblis api telah memilih tuannya, apa yang kau katakan hanya ketakutan mu saja," balas Guntoro.
"Memilih tuannya? aku hanya memasukkan sedikit saja energi Iblis api kedalam pusaka itu. Lupakan niat kalian membangkitkan Dewa api, tidak akan ada yang bisa mengendalikannya walau itu Lakeswara Dwipa sekalipun," jawab pendekar itu.
"Siapa kau sebenarnya dan bagaimana kau tau mengenai Lakeswara Dwipa?"
"Tak penting siapa aku, tugasku hanyalah mencegah kehancuran dunia dengan memastikan siapapun tak boleh membangkitkan Dewa Api. Sekarang pergilah dan jangan tunjukkan wajahmu lagi disini," ucap Pendekar itu sedikit mengancam.
Guntoro terdiam, dia benar benar penasaran dengan sosok dihadapannya.
"Sudah kukatakan jika Dewa Api jauh lebih berbahaya dari mereka, kuharap kau mengerti ucapan ku dan pergi dari sini," Pendekar itu berjalan masuk ke gua.
"Semua suku Gropak Waton dibantai habis hanya dalam waktu cepat, dia sangat berbahaya dan harus dihentikan. Ini bukan lagi soal dendam pribadiku, dunia ini dalam bahaya jika Lakeswara tidak dihentikan," ucap Guntoro tiba tiba.
Langkah kaki pendekar itu terhenti setelah mendengar ucapan Guntoro.
"Kau benar benar keras kepala," Pendekar itu terdiam sesaat sambil menatap Guntoro.
"Saat aku menyelidiki suku Iblis petarung, aku menemukan fakta jika mereka semua dimanfaatkan oleh seseorang untuk kepentingan tertentu. Saat menyadarinya, aku mulai mencari pangkal semua masalah ini dan ujung benang yang kutarik sampai pada Lakeswara.
Lakeswara seperti sengaja memberi "hadiah" pada suku iblis petarung untuk tujuan tertentu. Kau tau apa yang diinginkan Lakeswara? pusaka Megantara. Dia menginginkan itu karena pusaka itulah yang konon menurut ramalan akan menghancurkannya.
Rasa takutnya membuat dia hanya terfokus pada Megantara dan tidak menyadari jika ada satu kekuatan yang jauh lebih besar dari pusaka itu.
Saat itu, aku tidak terlalu tertarik dengan Megantara karena mengetahui pada legenda Dewa Api dari sebuah kitab kuno yang kutemukan secara tidak sengaja. Aku mulai membuat pusaka dan mencari keberadaan roh Iblis api.
Aku masuk ke sisi gelap alam semesta ini secara tidak sengaja dan menemukan fakta jika tempat ini digunakan untuk mengurung Dewa api," Pendekar itu terlihat menarik nafasnya panjang sebelum melanjutkan ucapannya. Ada segurat penyesalan terpancar dari wajahnya.
"Kekuatanku hanya mampu menarik sedikit energi Dewa api. Saat itu aku begitu marah karena menganggap diriku terlalu lemah, segala cara aku gunakan untuk menarik energi Dewa api namun tak berhasil.
__ADS_1
Aku meninggalkan Pedang Naga Api di Dieng karena pedang itu adalah kegagalan terbesar di hidupku. Aku kembali lagi ke tempat ini dengan harapan bisa menciptakan pusaka baru untuk mengalahkan Lakeswara.
Namun kenyataan yang kutemukan jauh lebih mengerikan dari Lakeswara. Dewa api tidak bisa ditaklukkan, kekuatannya tak boleh dibangkitkan bahkan oleh anak itu sekalipun atau dunia berada dalam bahaya. Tubuh anak itu tak akan mampu menerima energi Dewa Api, dia akan menjadi pembunuh paling kejam yang pernah kau liat sebelum tubuhnya hancur perlahan. Dewa api jauh lebih kejam dari Lakeswara sekalipun," ucap Pendekar itu pelan.
"Jadi kau sudah tau jika anak pengguna Iblis api ada disini?"
"Aku tak mungkin tidak mengenali energi leluhurku," jawab pendekar itu sambil berjalan masuk gua.
"Leluhurmu? jangan jangan kau...," wajah Guntoro berubah seketika.
"Ken Panca, kau boleh memanggilku Panca. Sekarang pergilah dari sini, aku tak akan segan membunuh siapapun yang mencoba membangkitkan dewa api termasuk keturunanku sendiri. Lakeswara mungkin tidak bisa dihentikan namun kebangkitan Dewa api jauh lebih mengerikan." ucapnya pelan sesaat sebelum masuk gua.
"Ken Panca?" Guntoro mengernyitkan dahinya sambil menatap punggung pendekar itu.
"Jika Dewa api begitu kejam dan liar mengapa tuan Agung justru mengatakan jika Dewa api adalah kunci semua ini," gumam Guntoro bingung.
Guntoro terlihat berfikir sejenak sebelum melangkah masuk menyusul Ken Panca didalam gua.
"Aku sudah memintamu pergi bukan? apapun yang kau katakan tak akan merubah pendirianku," ucap Ken Panca saat melihat Guntoro masuk kedalam gua.
"Seseorang pernah mengatakan jika alam selalu memiliki cara untuk menyeimbangkan dunia. Alam tak mungkin menciptakan sesuatu yang dapat menghancurkan dunia, apakah tidak ada cara lain untuk mengendalikan Dewa Api?" Guntoro masih berusaha membujuk Ken Panca.
"Tidak ada cara apapun untuk mengendalikannya, satu satunya caranya adalah tetap menguburnya ditempat ini," balas Len Panca.
"Tolong bantulah aku, Lakeswara benar benar harus dihentikan," pinta Guntoro.
"Percuma kau memohon padaku, tak ada cara apapun untuk mengendalikannya. Kau sudah lihat sendiri bukan bagaimana mengerikannya Naga api ditangan anak itu? itu hanya sebagian kecil dari roh Dewa api," jawab Ken Panca cepat.
"Kau tau, melihatmu membuatku tertawa tuan. Apa yang kau lakukan saat ini sama dengan yang kulakukan dulu sebelum bertemu keturunanmu. Aku merasa bersembunyi adalah pilihan yang paling masuk akal karena aku tak ingin ambil resiko," ejek Guntoro pelan.
"Aku berbeda denganmu, aku tidak lari atau bersembunyi, aku hanya menjaga apa yang tidak boleh bangkit oleh alam," jawab Ken Panca.
"Jangan bawa bawa kehendak alam, kau hanya menutupi rasa takutmu. Dengar ucapanku, aku akan datang bersama anak itu dan membangkitkan Dewa api walau kau melarang. Jika memang kami harus hancur karena tidak bisa mengendalikan Dewa api maka itu sudah menjadi kehendak alam, tapi setidaknya kami tidak bersembunyi seperti seorang pengecut," ucap Guntoro geram sebelum melangkah pergi.
"Aki sudah memperingatkan mu, jika kau kembali lagi maka aku tak segan membunuh kalian semua," jawab Ken Panca tegas.
"Aku menantikannya," jawab Guntoro.
Ken Panca menggeleng pelan, dia menatap kepergian Guntoro dengan wajah datar.
"Kalian benar benar melakukan kesalahan besar," ucapnya dalam hati.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
1 Chapter lagi akan terbit malam hari sekitar jam 9 malam....