Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Rencana Besar Wardhana Terungkap


__ADS_3

Bajradaka dan empat pengawalnya terus berjalan membelah hutan rimba yang berada di perbatasan kadipaten Rogo Geni, mereka memutuskan mengambil jalan memutari hutan menuju bukit api yang berada di pinggiran wilayah Malwageni yang berbatasan langsung dengan Saung galah.


Mereka sengaja memilih jalur hutan karena ingin menghindari pasukan Malwageni yang terus mengejar mereka.


Langkah Bajradaka semakin sulit karena juga dikejar oleh Hibata, organisasi misterius yang terkenal tanpa ampun membunuh lawannya.


"Semoga ketua bisa meyakinkan tuan Jaladara," gumam Bajradaka dalam hati.


"Tuan, apa tidak sebaiknya kita istirahat sebentar? hari sudah mulai gelap, akan sangat berbahaya jika berjalan didalam hutan saat malam hari," ucap salah satu pengawalnya.


Bajradaka menggeleng pelan, "Tidak, kita harus secepatnya sampai di bukit api dan mundur kedalam hutan, tidak ada yang tau kapan Hibata muncul," balas Bajradaka.


"Apa yang dikatakannya benar, sebaiknya kalian tidak terburu buru keluar dari hutan ini," sebuah suara menghentikan langkah mereka.


"Wanita?" Bajradaka menatap sekelilingnya, dia berusaha mencari asal suara itu.


"Bajradaka, salah satu orang kepercayaan Bayu aji yang merupakan pemimpin tertinggi kelompok pemberontak," Emmy melompat dari atas pohon.


"Apa kita memiliki masalah nona sehingga kau menghalangi jalan kami? mohon jangan mempersulit situasi," ucap Bajradaka pelan.


"Aku tak akan mempersulit jika kalian bersedia menyerahkan kepala kalian secara sukarela tanpa perlawanan," balas Emmy dingin.


"Kepala kami? jadi kalian kaki tangan Malwageni ya, aku tidak tau berapa mereka membayar kalian namun aku melakukan ini untuk rakyat Malwageni.


Kepemimpinan Yang mulia bisa membuat Malwageni hancur, dia bahkan tidak memberikan hukuman apapun pada selir kesayangannya yang bersalah. Hukum keraton adalah mutlak, harusnya semua yang bersalah dihukum!" jawab Bajradaka.


"Lalu apa seharusnya selir yang memberontak dihukum mati?" sindir Emmy.


Wajah Bajradaka berubah seketika, dia tau kemana arah pembicaraan Emmy.


"Ini tak ada hubungannya dengan nyonya Anjani dan Pangeran Pancaka, bukankah kalian telah menahan pangeran? kami bergerak atas desakan rakyat Malwageni yang menginginkan Yang mulia turun tahta," jawab Bajradaka.


"Kau pikir aku tidak tau jika Bayu aji masih memiliki hubungan kerabat dengan selir Yang mulia Arya Dwipa? kalian terlalu pandai bersilat lidah.


Pilihan yang kuberikan sudah jelas, serahkan kepala kalian baik baik atau pedang ini yang akan mengambil paksa," Emmy mencabut pedangnya dan siap menyerang.


"Berapa mereka membayar kalian? aku akan memberi dua kali lipat dari yang mereka berikan," Bajradaka mencoba merayu Emmy.


"Apa yang bisa kalian berikan? uang? bagaimana jika kubalik, berikan kepala Bayu aji padaku maka kalian akan kuampuni," balas Emmy mengejek.


Bajradaka menggeleng pelan, dia sadar pertarungan tak akan bisa dihindari dan satu satunya jalan adalah melawan.


"Bunuh dia," perintah Bajradaka.


"Kalian memilih pilihan yang salah," Emmy bergerak maju.


"Jurus api abadi tingkat II : Tarian api abadi," Emmy mengayunkan pedang ketika dua pendekar menyerangnya, dia bergerak cepat dan menebas salah satu pendekar hingga terbakar menjadi abu.


Menyadari lawannya memiliki kekuatan yang jauh lebih besar, tiga pendekar lainnya mencoba menjaga jarak namun gerakan Emmy yang semakin cepat membuat mereka tak berkutik.


Satu persatu Emmy mencabut nyawa lawannya dan membakar sampai habis.


Bajradaka yang berdiri didekat kejadian kini menahan nafas saat semua pendekar penjaganya sudah berubah menjadi abu.


"Aku akan mengatakan semuanya termasuk persembunyian tuan Bayu Aji tapi tolong jangan bunuh aku," ucap Bajradaka terbata bata.


"Apa kau tidak mendengar ucapanku? pilihanmu hanya dua, serahkan kepalamu baik baik atau pedang ini yang akan mengambilnya," Emmy kembali bergerak cepat, dia mencengkram tubuh Bajradaka dan menarik pedang yang sudah berada dilehernya.


"Tak ada ampun bagi orang yang mengkhianati Yang mulia," Emmy membuang kepala yang sudah terpisah dari tubuh Bajradaka dan menyarungkan pedangnya.


***


"Titah Yang mulia sudah keluar," Arung tiba tiba masuk kedalam ruangan Wardhana. Lembu Sora yang berada di dalam ruangan tampak terkejut dengan kedatangan tiba tiba Arung.


"Titah Yang Mulia?" tanya Lembu Sora.

__ADS_1


Arung mengeluarkan gulungan kecil dan menyerahkannya pada Lembu Sora.


"Yang mulia ingin menyerang Saung Galah," jawab Arung pelan.


"Perang? saat tuan Patih tak ada?" tanya Lembu Sora bingung.


"Yang mulia menunjuk Paksi untuk menggantikan tuan Patih sementara waktu," jawab Arung pelan.


"Paksi? apa yang sebenarnya di pikirkan Yang mulia, bukankah saat ini yang terpenting adalah mengirim pasukan ke desa Trowulan untuk mencari keberadaan tuan Wardhana?"


"Titah sudah turun dan bukan hak kita untuk mempertanyakan keputusan Yang mulia, yang harus kita lakukan saat ini adalah mempersiapkan pasukan untuk bergerak, malam ini Yang mulia memerintahkan aku memimpin pasukan menuju kadipaten Rogo Geni sebagai persiapan awal," jawab Arung.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah itu? apa kau merasa tidak ada yang aneh dengan semua ini? kita diminta berperang tanpa persiapan apa apa, bahkan Paksi tak ada disini," balas Lembu Sora.


"Apa bedanya dengan peperangan melawan Majasari kemarin? bukankah kita juga tanpa persiapan? Paksi adalah guru dari tuan Wardhana, aku percaya dia telah memikirkan semuanya.


Saat ini Gusti ratu sendirian di keraton, aku ingin kau menjaga beliau selama kami pergi," ucap Arung sebelum melangkah pergi dari ruangan.


Lembu Sora terlihat menatap Arung sambil menundukkan kepalanya.


***


Suasana keraton Malwageni malam itu terlihat lengang, hampir separuh pasukan angin selatan telah pergi bersama Arung sore tadi. Hanya beberapa prajurit yang terlihat berjaga disekitar gerbang utama, hal yang sangat jarang terjadi untuk keraton Malwageni yang terkenal kuat penjagaannya.


Malwageni seolah membuka celahnya lebar lebar pada musuh untuk menyerangnya.


"Apa kau tidak merasa ada yang aneh? tuan Sora seperti melonggarkan penjagaan saat separuh lebih pasukan sedang tidak ada ditempat?" tanya salah satu prajurit pada temannya.


"Aku tidak tau, tugas kita hanya mematuhi perintahnya, bukankah Yang mulia telah menunjuk tuan Sora untuk memimpin pasukan mengamankan keraton?" balas temannya.


"Aku tau namun aku hanya merasa ada yang aneh, semoga tidak terjadi apa apa malam ini," tutup prajurit itu.


Apa yang ditakutkan prajurit itu sepertinya menjadi kenyataan saat sesosok tubuh melesat cepat kearah paviliun ratu. Mengenakan pakaian serba hitam dan penutup wajah membuatnya tersamarkan dalam kegelapan malam.


Saat dua prajurit paviliun ratu menyadari kehadirannya, pendekar itu melepaskan aura dari tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya.


Dalam hitungan detik dua prajurit angin selatan tewas seketika.


"Kalian benar benar merepotkan," pendekar misterius itu melesat masuk, dan langsung menuju kamar utama Tungga Dewi.


Dia berhenti sejenak di depan sebuah pintu yang terlihat paling mewah, setelah memastikan semua aman, dia membuka perlahan pintu yang tidak pernah terkunci itu.


Bagi seorang ratu, sudah menjadi kebiasaan tidak mengunci pintu kamarnya karena tak semua boleh masuk paviliun ratu, hanya Sabrang yang boleh memasuki paviliun itu dimalam hari.


Pendekar itu melangkah pelan mendekati sesosok tubuh yang sedang tertidur sambil menarik pedangnya.


Saat pendekar misterius itu hendak menotok tubuh Tungga Dewi, dia tersentak kaget ketika Tungga Dewi mengeluarkan pedangnya dan menyerang pendekar itu.


"Bagaimana mungkin?" Pendekar itu mencoba menghindar, namun karena tubuhnya tidak siap dengan serangan tiba tiba, ditambah gerakan Tungga Dewi yang sangat cepat, dia hanya bisa pasrah saat pedang Tungga Dewi mengenai tubuhnya.


Tungga Dewi bangkit dari tidurnya dan menatap sinis orang dihadapannya.


"Apa kau terkejut paman Lembu sora? ah tidak, apa harus ku panggil pendekar Masalembo?" ucap Tungga Dewi sinis.


"Bagaimana kau?" pendekar itu masih tampak bingung dengan situasi yang dihadapinya.


"Benar kata tuan Paksi, kau bukan Lembu sora," Arung muncul dari dalam ruangan dengan pedang terhunus.


"Kau? bukankah kau sedang memimpin pasukan angin selatan menuju Rogo geni?" pendekar itu tambah bingung.


"Ceritanya sangat panjang, namun saat ini yang terpenting adalah memastikan mu mati untuk menjalankan rencana berikutnya," Arung bergerak menyerang dan meminta Tungga Dewi menjauh.


***


"Lembu Sora akan menjadi kunci dalam rencana Wardhana, jika dia sudah sadar, akan membuka sedikit apa yang sebenarnya terjadi dengannya, namun yang pasti mereka sudah lama merencanakan ini dan yang mereka incar pertama kali adalah Wardhana. Itulah kenapa Sora yang diincarnya, karena dia adalah orang kepercayaan Wardhana.

__ADS_1


Mereka tidak bisa langsung menyerang Wardhana karena dia selalu berada di dekat Yang mulia, untuk itulah mereka menyamar menjadi Sora untuk mencari kelemahan Wardhana, namun yang aku bingung bagaimana mereka bisa berubah menjadi Lembu Sora?" ucap Paksi bingung.


"Ajian Malih rupa," ucap Rubah Putih tiba tiba.


"Ajian Malih rupa?" Paksi mengernyitkan dahinya.


"Ajian Malih rupa diciptakan oleh trah Ampleng, dengan ajian itu kita bisa meniru wajah siapapun, hanya itu yang bisa menjelaskan bagaimana Lembu sora palsu bisa ada di istana sedangkan dia terbaring di sini," jawab Rubah Putih.


"Jadi begitu ya, Wardhana sepertinya menyadari jika yang berada di sisinya bukan Lembu sora, dia kemudian membuat rencana untuk menjebak Masalembo dengan berpura pura menjelaskan rencana palsunya pada Sora.


Wardhana sepertinya memang digiring menuju Trowulan dan dia tau itu.


Wardhana mencoba mengikuti permainan mereka untuk memasang perangkap. Mengikuti rencana Masalembo memang sangat beresiko namun sepertinya hanya ini cara untuk melawan mereka dan Wardhana mengambil resiko itu," ucap Paksi kemudian.


"Jadi menurutmu Wardhana?" tanya Wulan penasaran.


"Entah dimana dia berada saat ini namun aku yakin Wardhana sedang memasang jaring perangkap untuk menjebak Masalembo," balas Paksi pelan.


"Kau yakin dia selamat? bagaimana jika mata bulan Sabrang tidak bekerja tepat waktu?"


"Aku yakin telah melindunginya," jawab Sabrang yang muncul bersama Mentari.


"Saat dia bertarung di Trowulan, aku berada di sana sesuai permintaannya, kami sudah berlatih bersama sebelum penyusup itu datang. Butuh ketepatan waktu bagi mataku untuk melindunginya dengan jurus ruang dan waktu tepat sebelum tubuhnya tertusuk.


Namun aku juga harus memastikan aura tubuhku tidak terdeteksi oleh mereka, dan aku yakin jika kami berhasil.


Yang aku khawatirkan saat ini adalah kondisinya setelah masuk kedalam dimensi ruang waktu milik mereka, ku harap tubuh paman Wardhana bisa beradaptasi dengan dimensi itu," jawab Sabrang pelan.


Paksi mengangguk pelan, apa yang di khawatirkan oleh Sabrang sama dengan yang dipikirkannya. Resiko berada di dimensi ruang dan waktu adalah resiko terbesar dari rencana yang dibuat Wardhana.


"Apa paman sudah bisa membaca semua rencana paman Wardhana?" tanya Sabrang pelan.


"Sedikit banyak Hamba sudah paham Yang mulia, namun hamba masih perlu waktu sehari lagi untuk memastikannya.


Jika perkiraan hamba benar, Wardhana ingin menyegel mereka semua dalam dimensi milik mereka sendiri. Namun semua rencana ini tak akan berhasil jika Wardhana tidak muncul.


Hamba ingin bicara kemungkinan terburuk pada anda Yang mulia, sepertinya kita akan melakukan pertarungan hidup dan mati jika Wardhana tidak pernah muncul," ucap Paksi pelan.


"Begitu ya, aku bahkan belum berlatih di sisi gelap alam semesta," jawab Sabrang pelan sambil menoleh kearah Rubah Putih.


"Apa yang direncanakan Wardhana dengan membahayakan nyawanya harus terus dilanjutkan, jika semua rencana ini gagal maka semua sudah menjadi kehendak alam dan aku percaya suatu saat akan ada Rubah Putih dan Sabrang lainnya.


Jangan pernah ragu dengan kemampuan kalian, itulah yang diajarkan Wardhana pada kita semua saat ini. Pertarungan kali ini aku tak menjamin kita akan selamat karena yang akan dihadapi adalah para pemimpin Masalembo, namun satu yang aku bisa janjikan, kekuatan Rubah Putih akan meledak kali ini," ucap Rubah Putih.


"Aku tak mungkin meninggalkan paman Wardhana yang sedang mempertaruhkan semuanya untuk menghentikan Masalembo. Aku ikut," jawab Sabrang.


"Kalian semua memang gila," Wulan ikut berdiri sebagai tanda jika dia juga akan ikut dalam pertarungan.


Candrakurama dan Lingga tampak mengikuti apa yang dilakukan Wulan, sedangkan Mentari menggenggam lengan Sabrang sambil meminta persetujuan.


"Aku akan membantumu menyempurnakan ilmu api abadi yang dapat memaksimalkan kekuatan Naga Api," dua orang tiba tiba muncul dan langsung masuk ruang latihan Wulan.


Sabrang tampak mengernyitkan dahinya saat melihat dua orang itu muncul, dia mengenali salah satunya sebagai Guntoro namun tidak yang satunya.


"Dia adalah leluhurmu yang juga pencipta pusaka Pedang Naga Api," ucap Guntoro.


"Leluhurku?" Sabrang mengernyitkan dahinya.


"Ken Panca, aku yang mengundang mereka semua, kita butuh banyak bantuan untuk menghadapi Masalembo," balas Rubah Putih.


"Ken Panca?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


...……Vote.......

__ADS_1


__ADS_2