Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kekuatan Mustika Merah Delima


__ADS_3

Setelah mendapat laporan dari para telik sandi yang berada di ibukota Saung Galah bahwa utusan Arkantara sudah menemui Pancaka secara diam diam, Wardhana mulai melepaskan jebakan jebakan berikutnya.


Wardhana yang sudah bisa membaca gerakan lawannya, mengirim utusan rahasia untuk menemui putri Andini dan meminta bertemu di sebuah hutan dekat keraton Saung Galah.


Lembu Sora sempat bingung dengan langkah yang diambil Wardhana ini, dia tidak yakin Putri mahkota akan sudi menemui Wardhana karena bagaimanapun hancurnya Saung galah akibat strategi perangnya.


"Maaf tuan, apakah anda tidak terlalu percaya diri dengan meminta bertemu putri Andini, terlebih di luar keraton karena bagaimanapun kitalah penyebab hancurnya Saung Galah dan aku yakin dendamnya masih besar," ucap Lembu Sora saat Wardhana memintanya menemani ke Saung Galah.


"Seorang pemimpin tak akan pernah bisa menjadi besar jika kaku dan terbawa perasaan. Dengar Sora, dalam politik kerajaan tidak pernah ada kawan atau lawan abadi, semua hanya tentang kepentingan.


"Malwageni pernah bersahabat dekat dengan Saung Galah dan bekerja sama menghancurkan Majasari tetapi kemarin kita berperang habis habisan dengan Saung Galah. Semua demi sebuah kepentingan dan aku yakin putri Andini akan melakukan hal yang sama padaku saat ini," jawab Wardhana yakin sambil tersenyum.


"Anda, jangan jangan..." Sora tampak terkejut melihat ketenangan yang ditunjukkan


"Situasi Putri Andini sedang terjepit akibat tekanan Adiwangsa dan dia membutuhkan dukungan dariku untuk mengamankan posisinya, saat ini adalah waktu yang paling tepat memanfaatkan dia," jawab Wardhana.


Dan apa yang diperkirakan Wardhana benar, Andini dan dua pengawalnya muncul di hutan yang sudah ditentukan Wardhana.


"Tuan Putri, maaf aku meminta bertemu di hutan seperti ini, ada yang harus aku bicarakan," ucap Wardhana sambil memberi hormat.


"Tak perlu sungkan tuan, apa yang tidak bisa anda lakukan pada Saung Galah yang kini berada di bawah kekuasaan Malwageni," balas Andini sinis, masih terlihat kebencian di wajahnya.


Mendapat sambutan seperti itu, Wardhana hanya tersenyum kecil, dia kemudian mengajak Andini duduk di bawah pohon rindang.


"Aku tidak memiliki banyak waktu tuan, kuharap kita langsung bicara intinya saja," potong Andini saat Wardhana sedikit berbasa-basi.


"Sepertinya kebencian anda padaku sangat besar, aku mencoba mengerti tapi saat ini kuharap anda melupakan semuanya sebentar demi Saung Galah," jawab Wardhana pelan.


"Demi Saung Galah?" tanya Andini bingung.


"Apa anda tau jika beberapa hari lalu utusan Arkantara menemui pangeran Pancaka diam diam?"


"Utusan Arkantara?" Andini menoleh kearah dua pengawalnya yang dibalas gelengan kepala.


"Sepertinya kalian memang dipermainkan oleh pangeran Pancaka," ucap Wardhana sambil terkekeh.


"Lalu apa bedanya dengan anda yang juga mempermainkan kami? aku pikir apapun yang aku pilih hasilnya akan sama," jawab Andini tegas.


"Jika anda berfikir demikian maka aku akan pergi, tapi ada satu hal yang akan aku katakan pada kalian. Arkantara adalah kerajaan yang berambisi menguasai Nuswantoro, mereka akan melakukan apapun termasuk hal kejam yang tidak ingin kalian bayangkan demi ambisi mereka.


Aku sudah bisa sedikit membaca gerakan mereka yang ingin melemahkan Malwageni dari dalam dan Saung Galah adalah jalan masuknya. Mungkin hasilnya akan sedikit berbeda dengan saat ini, apa anda pikir mereka akan melepaskan kalian seperti yang kulakukan?


Berada di bawah kekuasaan seseorang mungkin tidak akan pernah menyenangkan tapi itu yang harus di terima Saung Galah saat ini. Anda hanya mempunya dua pilihan saat ini, dihancurkan oleh Arkantara dan terusir bahkan mati dari tanah kelahiran atau bersama Malwageni yang masih memberikan kehormatan pada kalian, hanya itu. Tapi satu hal yang harus kalian tau, Malwageni akan bertempur habis habisan tanpa kalian sekalipun dan memenangkannya. Saat itu terjadi, kalian yang akan ku habisi lebih dulu," Wardhana bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.


Wajah Andini pucat seketika, dia sangat paham siapa orang yang sedang bicara padanya. Wardhana sudah melakukan banyak hal mustahil termasuk meruntuhkan Majasarj yang saat itu bahkan ditakuti oleh Saung Galah.


"Tunggu! jika anda memberikan tahta Saung Galah padaku maka aku akan membantu kalian dan aku pastikan tak akan melakukan hal seperti Pancaka," ucap Andini tiba tiba.


"Aku sedang menawarkan bantuan bukan bernegosiasi tuan Putri, tapi aku yakin Gusti Ratu akan mempertimbangkannya karena jika benar pangeran Pancaka berkhianat maka harus ada penggantinya," Wardhana kembali melangkah mendekati Andini.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Andini menyerah, dia lebih memilih untuk tidak berhadapan dengan orang menakutkan yang ada dihadapannya itu.


Wardhana tersenyum sambil duduk dihadapan Andini.


"Jika perkiraanku tepat, saat ini pangeran sedang berusaha menghimpun kekuatan termasuk menyingkirkan anda dan Adiwangsa sebagai langkah awal dengan bantuan Arkantara.

__ADS_1


Patahkan semua kebijakan pangeran dalam setiap pertemuan kerajaan, aku yakin kau mampu melakukannya karena kalian memiliki banyak menteri di pemerintahan, aku akan meminta Adiwangsa untuk memastikan pasukan Saung Galah setia pada Malwageni. Bantu aku melemahkan dia di pemerintahan dan aku akan menekan Adiwangsa untuk mengurangi tekanan pada anda, sisanya biar aku yang menyelesaikan semuanya," jawab Wardhana.


"Anda ingin mengorbankan pangeran Pancaka yang merupakan adik dari Yang mulia?" tanya Andini bingung.


"Itulah bentuk kesetiaanku pada Yang mulia, orang yang telah memberiku tujuan hidup dan menyelamatkanku dari kehancuran. Aku masih bisa memaafkan orang yang berusaha menyerangku tapi jika itu berhubungan dengan Yang mulia, siapapun orangnya termasuk pangeran Pancaka maka akan kuhancurkan!" Wardhana bangkit dari duduknya dan melangkah pergi bersama Lembu Sora.


"Tuan Putri, apa yang akan anda lakukan?" ucap salah satu pengawal ketika Wardhana sudah pergi.


"Kita harus ikut dengannya, aku tidak ingin hancur begitu saja. Apa kalian menyadari betapa menakutkannya dia saat bicara tentang kesetiaan pada rajanya?"


***


Agam tampak memasuki gua khusus latihannya didampingi dua orang pendekar berbadan tegap dengan membawa sebuah batu yang memancarkan sinar merah darah di tangan kanannya.


"Pastikan tidak ada yang masuk selama aku tapa brata di dalam," ucap Agam pelan.


"Baik ketua," balas para pendekar penjaga bersamaan.


Agam kemudian membuka ruangan es tempat tubuh Naraya berada dan meminta pada salah tau pendekar untuk meletakkan tujuh pusaka mustika Merah delima di tujuh buah batu yang ada di sudut sudut ruangan.


"Taruh tujuh mustika itu di tempatnya dan tinggalkan aku sendiri," ucap Agam dingin.


"Baik ketua, ucap pendekar itu cepat, dia meletakkan mustika merah delima hati hati sebelum melangkah keluar.


"Ayah, kini semua mustika merah delima sudah terkumpul, bersabarlah sedikit lagi, aku akan mulai membangkitkan ayah," Agam memejamkan matanya dan mulai menggunakan segel keabadian untuk memanggil ruh Mandala yang tersegel.


Agam memang berhasil mengumpulkan tujuh mustika Merah delima setelah pendekar kuil suci utara kembali dari Jawata dan membawa kepingan terakhir Mustika kehidupan itu.


Aura hitam mulai meluap dari tubuh Agam bersamaan dengan munculnya energi putih yang didalamnya tersegel jiwa Mandala Rakyan.


Tujuh Mustika yang berada di atas batu besar tiba tiba melayang di udara dan melepaskan energi merah darah yang menghancurkan seluruh dinding es di ruangan itu.


Tubuh Naraya yang diselimuti bongkahan es selama ini roboh seketika sebelum melayang terkena efek energi kehidupan Mustika merah delima.


Getaran hebat terjadi di dalam gua sesaat sebelum energi putih yang selama ini menyegel ruh Mandala masuk kedalam tubuh Naraya Dwipa.


Agam tampak mengatur nafasnya perlahan sambil terus melepaskan tenaga dalamnya. Darah mulai mengalir dari hidung dan telinganya menandakan tubuhnya mulai terluka menahan tekanan energi merah delima.


Tujuh batu merah delima yang melayang di udara mulai berputar dan membentuk dinding energi merah di sekitar tubuh Naraya sebelum masuk kedalam itu perlahan.


Ledakan energi merah terjadi di dalam tubuh Naraya yang efeknya membuat dinding gua retak namun anehnya, tubuh Naraya baik baik saja.


Setelah energi berwarna merah itu hilang seluruhnya karena masuk kedalam tubuh Naraya, matanya terbuka perlahan.


"Aku hidup lagi?" suara berat yang mengandung tenaga dalam mengejutkan Agam, dia membuka matanya dan berjalan mendekati tubuh itu.


"Tekanan tenaga dalam dari tubuhnya benar benar besar," ucap Agam dalam hati.


"Ayah?" ucap Agam sedikit takut.


"Agam? kau yang membangkitkan aku?" Mandala berusaha menggerakkan tubuhnya namun tak berhasil.


Agam mengangguk pelan, wajahnya tampak lega karena Mandala masih mengenalinya.


"Kenapa tubuhku tak bisa digerakkan?" tanya Mandala cepat.

__ADS_1


"Maaf ayah, energi Mustika merah delima sangat besar, ayah sepertinya membutuhkan waktu beberapa purnama untuk menyesuaikan dengan tubuh dan kekuatan baru itu sebelum bisa bergerak seperti biasa," jawab Agam pelan.


"Begitu ya, jadi aku harus menunggu beberapa purnama untuk bisa menggerakkan tubuh ini. Lalu tubuh siapa yang kau gunakan ini?"


"Naraya Dwipa, salah satu pendekar paling berbakat trah Dwipa," balas Agam.


"Trah Dwipa?" Mandala mengernyitkan dahinya.


"Trah Dwipa adalah kelompok yang merupakan keturunan langsung murid kesayangan ayah yang berkhianat," ucap Agam.


"Keturunan Jendra? orang yang membunuhku dulu?" suara Mandala tiba tiba meninggi setelah mendengar ucapan anaknya.


Masih sangat jelas dalam ingatannya bagaimana Jendra, murid yang palung disayanginya tega membunuh saat dia tertidur.


Mandala bahkan sudah merencanakan untuk menurunkan semua ilmu kanuragan yang ada di kitab Sabdo Loji pada Jendra dan Agam tapi Jendra justru membunuhnya.


Agam mengangguk cepat, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin karena terus menerus mendapat tekanan aura mustika merah delima dari tubuh baru Mandala.


"Keturunan Jendra ya? bahkan alam pun membantuku untuk membalas dendam lama ini. Agam, persiapkan semua pendekar yang kau miliki, setelah tubuhku bisa digerakkan kita akan mulai penghancuran dunia yang penuh kebencian ini," ucap Mandala sambil tertawa keras.


"Baik ayah."


"Pergilah dari ruangan ini, aku akan bermeditasi untuk mencoba menguasai energi mustika Merah delima. Kerahkan pasukanmu dan cari dimana pusaka bilah gelombang milikku terkubur," ucap Mandala sambil memejamkan matanya.


"Baik ayah, aku akan mengerahkan pasukan kuil suci untuk mencari pusaka terkuat itu," Agam menatap tubuh Mandala yang tergeletak sebelum melangkah pergi.


***


Darin sedang berkemas saat Arsenio menghadap, dia terlihat bingung melihat gurunya itu membungkus beberapa pakaian dalam kain.


"Tetua, anda akan pergi?" tanya Arsenio bingung, seingatnya Darin tidak pernah ingin meninggalkan gunung yang sudah sangat lama ditinggali itu.


"Dia sudah bangkit, aku dapat merasakannya, bahkan kini sepertinya kekuatan dia jauh lebih besar," balas Darin dengan wajah panik.


"Dia?" tanya darin pelan.


"Mandala Rakyan, orang yang pertama kali menguasai ilmu kanuragan. Aku harus pergi menemui anak itu," balas Darin bergegas.


"Tuan Damar? bukankah anda mengatakan jika dia sangat berbahaya jika menguasai kitab Sabdo Palon?"


"Itu tidak penting lagi, saat ini Iblis masa lalu telah bangkit dan mungkin satu satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan Iblis juga," jawab Darin sambil melangkah keluar gubuk.


"Aku akan menemani anda tetua," ucap Arsenio tiba tiba.


"Tidak, pergilah sejauh mungkin dari sini karena kalian bukan lawannya, jika perkiraanku tepat, tempat pertama yang akan didatangi Mandala adalah gunung Sinabung ini," Darin menarik nafasnya panjang, dia tidak menyangka hari ini, untuk pertama kalinya pertapa aneh itu meninggalkan gunung Sinabung.


"Apa guru mengetahui di mana tuan Damar berada?"


Darin menggeleng pelan, "Kesalahan terbesarku adalah menolaknya menjadi muridku, dan aku ingin memperbaiki kesalahanku. Jika alam memaafkan kesalahan ini, aku yakin akan bertemu dengannya di Jawata," ucap Darin sebelum melesat pergi.


"Aku tidak akan membiarkan anda berjuang sendirian tetua. Kami, ksatria pisau tumbuk lada akan setia pada anda," ucap Arsenio sambil menatap kepergian Darin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari minggu malam rank akan kembali di reset jadi kalau ingin mendukung PNA sekaranglah saatnya... terima kasih Mblo....

__ADS_1


__ADS_2