
Sabrang menatap Mentari yang masih belum sadarkan diri. Wajah cantiknya sedikit pucat karena efek racun kekelawar hijau.
"Nona, sudah ku katakan jika kau akan selalu dalam bahaya jika bersamaku, aku tak akan pernah memaafkan diriku jika sesuatu terjadi padamu" Sabrang menggeleng pelan.
Beberapa saat kemudian seseorang mengetuk pintu ruang perawatan.
"Tuan ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda, dia mengatakan utusan Malwageni".
Sabrang mengernyitkan dahinya "Malwageni?".
"Baik aku akan segera menemuinya, terima kasih paman" Sabrang menatap Mentari sesaat sebelum melangkah keluar.
***
"Hormat pada pangeran" Wardhana yang telah menunggunya berlutut memberi hormat.
Sabrang mengangguk dan mempersilahkan Wardhana duduk.
"Ada apa paman?".
"Ada sesuatu yang harus hamba sampaikan tuan, namun sebelum itu hamba dengar teman seperjalanan anda terluka?".
"Ah iya paman, nona Mentari terkena racun Kelelawar hijau namun paman Bahadur sedang mengobatinya".
"Kelelawar hijau?" Wardhana mengernyitkan dahinya.
"Ceritanya panjang paman, namun paman tidak usah khawatir semua sudah selesai" Sabrang tersenyum kecil.
"Syukurlah kalo begitu" Wardhana mengangguk pelan.
Wardhana terlihat menoleh sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Beberapa hari ini ada sedikit keanehan dengan pergerakan Majasari. Separuh pasukan di Kadipaten Rogo geni kabarnya akan di tarik kembali ke Keraton, bukankah itu aneh?".
Sabrang masih mencoba mencerna pembicaraan Wardhana, karena untuk beberapa wilayah Malwageni dia belum terlalu mengetahui.
"Rogo geni?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Ah maaf Pangeran, Rogo geni adalah salah satu wilayah Malwageni dulu sebelum ditaklukan Majasari. Kadipaten Rogo geni menjadi pusat perdagangan beberapa kerajaan sehingga menjadi Kadipaten paling penting untuk Malwageni.
Hal ini berlaku juga buat Majasari, itulah sebabnya mereka menempatkan pasukan dalam jumlah besar di Rogo geni. namun beberapa hari ini mereka akan menarik sebagian besar pasukan dari sana".
"Apakah ini berhubungan dengan perayaan hari lahir Putri mahkota Saung galah?" Sabrang mengernyitkan dahinya.
"Hamba belum mengetahuinya, namun ini bukan kebiasaan Majasari selama ini".
"Lalu apa rencana paman?".
__ADS_1
"Perayaan hari lahir Putri Kenanga akan dilaksanakan satu purnama lagi, aku sedikit ragu untuk menjalankan rencana kita. Kita masih belum bisa membaca pergerakan mereka, hal ini benar benar di luar kebiasaan Majasari.
Rogo geni berbatasan langsung dengan Saung galah sekaligus menjadi pusat perdagangan selama ini, bagaimana mereka bisa menarik sebagian prajurit di saat akan banyak pasukan kerajaan lain akan datang menghadiri perayaan itu. Bukankah itu akan mengundang kerajaan lain untuk menyerang salah satu Kadipaten terpenting mereka. Atau memang mereka sengaja memancing kita untuk menyerang?"
Wardhana memejamkan matanya sesaat, kali ini dia benar benar belum bisa membaca gerakan Majasari.
"Hamba ingin meminta sesuatu pada Pangeran jika berkenan" Wardhana menundukan kepalanya.
"Katakan Paman".
"Hamba harus mencari informasi apa yang terjadi di Rogo geni sebelum perayaan itu dan hanya satu orang yang dapat membantu kita saat ini. Tuan Mada adalah Mantan Adipati Rogo geni saat masa kekuasaan Yang mulia raja, ku dengar dia diasingkan di pulau tengkorak.
Hamba akan mencoba mencarinya namun ada satu masalah Pangeran...." Wardhana berhenti sesaat.
"Masalah apa paman?" Sabrang menatap Wardhana.
"Hubungan hamba dengannya kurang baik selain itu tuan Mada hanya akan mendengarkan perintah Yang mulia Raja, hamba takut dia akan mengacuhkan permintaan hamba" Wardhana menunduk tak berani menatap Sabrang.
Sabrang mengangguk pelan, dia mengerti permintaan Wardhana.
"Aku akan ikut denganmuke pulau tengkorak, semoga dia mau mendengarkan permintaanku".
"Hamba mohon maaf Pangeran" Wardhana berlutut dihadapan Sabrang.
"Bangunlah paman, aku sudah bilang akan membantu semampuku untuk merebut kembali Malwageni namun aku ingin paman mengirim beberapa orang untuk menjaga nona Mentari di sini selama kita pergi".
"Lalu kapan kita akan berangkat?".
"Pulau tengkorak adalah salah satu pulau yang paling terisolasi di kerajaan Majasari. Kapal yang menuju ke pulau tersebut hanya satu kali sehari untuk mengantar bahan makanan para tahanan, itupun dengan pemeriksaan ketat dan berlapis.
Dua hari lagi akan ada penarikan pasukan dalam jumlah besar dari Rogo geni dan akan melewati pelabuhan itu. Kita akan memanfaatkan situasi tersebut untuk menyusup ke dalam kapal".
Sabrang mengangguk pelan "Lalu di mana Paman Gundala saat ini?".
"Tuan Gundala ada di Keraton Saung galah untuk membicarakan rencana yang telah kita susun, ku harap kali ini berjalan lancar".
Wardhana menatap keatas sesaat, firasatnya mengatakan kali ini tidak akan mudah. Entah kenapa gerakan tidak biasa Majasari membuat Wardhana khawatir.
***
Seorang pria tua menatap langit malam dengan nafas yang tak beraturan. Wajahnya penuh dengan luka pukulan.
"Anda mencoba melarikan diri lagi?". Seorang pemuda menggelengkan kepalanya melihat pria itu babak belur.
Pria tua itu tak menjawab pertanyaan pemuda dihadapannya, dia masih mencoba menekan rasa sakit di tubuhnya.
"Pulau ini dijaga oleh beberapa pendekar tingkat tinggi dari Iblis hitam, selain itu hanya ada satu akses jalan untuk menuju ke Dermaga. Anda tidak akan bisa melewati penjagaan pendekar tersebut.
__ADS_1
"Malwageni sudah hancur tuan, anda tak harus melakukan ini sudah saatnya anda istirahat menikmati masa tua".
"Aku yakin suatu saat kami akan bangkit dan merebut kembali Malwageni dan aku harus mempersiapkan semuanya". Pria itu berbicara tanpa menoleh kearah pemuda tersebut.
"Anda masih menunggu Pangeran? Bahkan usianya baru 9 bulan saat dia menghilang ditengah serbuan pasukan Majasari, kita tidak tau dia selamat atau tidak".
Raut Wajah pria tua tersebut berubah, dia mencengkram leher pemuda tersebut.
"Sekali lagi kau bicara buruk tentang Pangeran, aku bersumpah akan membunuhmu".
"Ma... Maaf tuan".
Pria itu melepaskan cengkramannya dan kembali duduk.
"Aku tidak mau mati di pulau terkutuk ini sebagai pengecut, aku akan berjuang keluar dari sini sekecil apapun peluangnya".
Pemuda itu menatap kagum pria tua dihadapannya, kesetiaannya pada Malwageni tidak berkurang sedikitpun walau siksaan yang diterimanya selama ini.
"Anda benar benar seorang prajurit sejati tuan Mada".
"Aku masih tidak mengerti bagaimana seorang pengecut sepertimu bisa bertahan berada di pulau ini" Mada menatap pemuda tersebut.
Pemuda itu terlihat tersenyum kecil "Semua karena kebodohanku".
"Kau tidak bodoh, apa yang kau lakukan sudah benar".
Pemuda itu tersenyum kecut "Ayahku mengabdikan seumur hidupnya untuk Malwageni namun apa yang dia dapat? Hukuman mati".
"Yang mulia Raja tidak melakukan itu, beberapa pejabat Malwageni saat itu telah berkhianat dan memfitnah ayahmu untuk menggulingkannya dari Kadipaten Joyo Geni".
"Tapi orang yang anda panggil yang mulia raja harusnya bisa mencegah itu terjadi, bukankah dia adalah Raja Malwageni!" Suara pemuda itu meninggi, ada kebencian tersirat di wajahnya.
"Kau belum memahami tentang sistem pemerintahan nak, ada banyak kepentingan di sana dan berusaha menekan Yang mulia raja. terlepas dari kesalahannya selama ini dia adalah Raja yang baik".
"Raja yang baik? dia hanya berusaha melenggangkan kekuasaannya dengan menghukum mati ayahku".
Terlihat air mata keluar dari mata pemuda itu, sorot matanya kosong memandang kedepan.
"Ronggo, di saat terakhir sebelum kematian ayahmu, dia tersenyum tanpa ada rasa penyesalan. Apa yang dilakukannya semua untuk Tanah kelahirannya Malwageni.
"Dia mengatakan Jika aku bisa hidup kembali aku akan tetap membela Malwageni walau harus mati berkali kali" Mada berusaha meyakinkan Ronggo jika ayahnya mati dengan bangga membela tanah kelahirannya.
"Dan kini seluruh keturunannya akan berada di Pulau terkutuk ini sampai akhir hidupnya karena dia membela apa yang dianggapnya benar" Ronggo tertawa sinis kemudian melangkah pergi meninggalkan Mada sendirian.
"Kau mirip sekali dengan ayahmu nak, ku harap suatu saat kau sadar bahwa pengorbanan ayahmu adalah hal mulia" Mada menatap kepergian Rogo sambil menggelengkan kepalanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Vote dan Like Novel Pedang Naga Api jika menurut teman teman novel ini menarik untuk dibaca