Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Pendekar Wanita Celebes


__ADS_3

Kobaran api ditubuh Sabrang perlahan menghilang saat dia berjalan mendekati Wardhana yang masih mengatur nafasnya. Pertempuran kali ini cukup menguras tenaga Wardhana.


"Anda baik baik saja Yang mulia?". Tanya Wardhana khawatir.


Sabrang mengangguk pelan "terima kasih paman, aku selalu bisa mengandalkan paman disaat sulit seperti ini".


"Mohon anda jangan bicara seperti itu Yang mulia, sudah tugas hamba membantu anda sekuat tenaga hamba". Wardhana menundukan kepalanya.


"Mari kuperkenalkan dengan guruku". Ajak Arung pada Sabrang dan yang lainnya.


Arung lalu memperkenalkan mereka pada Malewa, gurunya sekaligus ketua Sekte Naga langit.


"Terima kasih atas bantuan anda tuan Pendekar, sekte Naga langit berhutang budi pada anda". Ucap Malewa pada Sabrang.


"Tak perlu sungkan paman". Sabrang menjawab sambil tersenyum hangat.


"Mari ku antar keruang istirahat, silahkan beristirahat sejenak". Malewa mengantar mereka ke penginapan tamu milik Naga langit.


***


Kabar hancurnya sekte Manca api tersebar cepat di dunia persilatan Celebes. Yang paling terkejut dengan kabar ini tentu saja Sekte Lereng merah darah. Mereka jelas sangat mengerti kekuatan Sakka dengan pedang Laborombonganya.


Beberapa kali Lamakarate, ketua sekte Lereng merah darah bertarung dengan Sakka dan hasilnya berimbang. Yang membuat Lamakarate semakin terkejut adalah Manca api dihancurkan hanya dalam waktu satu hari oleh sekte Naga langit.


Dunia persilatan Celebes semakin bergejolak karena kini hanya ada dua sekte kuat mewakili masing masing aliran. Naga langit dengan aliansi putihnya dan Lereng merah darah dengan aliran hitamnya.


Lamakarate bingung apakah harus senang atau takut setelah mendengar kabar ini. Di satu sisi dia cukup senang karena musuh utamanya hancur namun dia menjadi sangat waspada pada kemampuan sekte Naga langit karena mampu menghancurkan Manca api.


Lamunan Lamakarate buyar setelah salah satu wakil ketua sektenya mengetuk ruangannya. Dia menarik nafas panjang sebelum mempersilahkan Lotutu yang merupakan orang kepercayaannya masuk.


"Ketua...". Lotutu terlihat ragu menyampaikan kabar yang dibawanya setelah melihat wajah ketuanya murung.


"Apa wajahku terlihat sangat khawatir?". Lamakarate tersenyum kecil.


"Apa ini berhubungan dengan kabar hancurnya Manca api ketua?". Tanya Lotutu hati hati.


Lamakarate mengangguk pelan "Apa kau percaya jika si tua itu hancur oleh Malewa?".


"Aku juga hampir tidak percaya ketua namun Sakka meregang nyawa di atas gunung Lompobattang saat menyerang sekte Naga langit". Jawab Lotutu pelan.


"Apakah Naga langit selama ini diam diam mempelajari jurus rahasia? ataukah jurus itu dia dapatkan dari telaga khayangan api?. Bukan hal mudah melawan Laborombongan yang merupakan iblis terkuat pemakan api".


"Mengenai itu hamba kurang yakin ketua, Jika mereka sudah menemukan telaga khayangan api itu artinya mereka sudah lebih dulu menemukan kota emas Wentira dan aku cukup yakin sampai saat ini hanya kita yang semakin dekat dengan kota itu".


Mendengar jawaban Lotutu membuat Lamakarate semakin bingung, bagaimana Naga langit mampu menghancurkan Manca api.


"Lalu apa yang ingin kau sampaikan padaku?".


"Ini mengenai Wentira ketua". Jawab Lolutu.


Raut wajah Lamakarate kembali bersemangat setelah mendengar nama kota emas itu. "Kalian menemukannya?".


Lolutu menggeleng pelan, membuat raut wajah Lamakarate kembali berubah. "Kota itu benar benar disembunyikan dengan sangat baik ketua namun anda tidak perlu khawatir, beberapa saat lalu salah satu pendekar kita menemukan beberapa tembikar dipusat hutan kabut awan dan aku yakin itu milik kota emas. Kita sudah semakin dekat ketua, aku sudah memerintahkan untuk menyisir seluruh area hutan kabut awan".

__ADS_1


"Cari sampai ketemu, hanya itu satu satunya cara menandingi sekte naga langit saat ini". Perintah Lamakarate.


"Baik ketua, secepatnya aku akan memberi kabar baik untuk anda".


***


"Mereka mencari Wentira? kota dongeng itu?". Malewa tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya setelah mendengar laporan Arung.


"Berar ketua". Arung lalu menceritakan semua informasi yang didapatkannya di tanah Jawata termasuk meyakinkan gurunya bahwa Sabrang dan kawan kawannya adalah pendekar yang bisa dipercaya.


Arung merasa perlu meyakinkan gurunya karena merasa gurunya masih belum sepenuhnya percaya pada Sabrang.


"Semuanya menjadi jelas saat ini". Gumam Malewa.


"Maksud guru?". Arung mengernyitkan dahinya.


"Kota Wentira konon tersembunyi di hutan kabut awan dan sudah beberapa hari aku mendengar kabar jika Lereng merah darah mengirim ratusan pendekarnya kesana. Sepertinya mereka telah menemukan petunjuk kota itu. Kita harus cepat menghentikannya".


"Baik guru, besok pagi pagi sekali aku akan mengajak mereka pergi kehutan Hutan kabut awan".


"Aku akan ikut dengan kalian, jika benar kota itu ada berarti 9 Pendekar penjaga Wentira juga ada. 9 Pendekar terkuat Nuswantoro konon menjaga kota emas sebagai kota terakhir yang tersisa dari peradaban Kumari Kandam".


Arung menelan ludahnya sesaat, dia sudah sangat mengenal legenda 9 pendekar penjaga Kumari Kandam. Sebagai peradaban kuno mereka tentu memerlukan penjagaan yang kuat agar tidak diserang suku lain.


Kumari kandam merekrut 9 pendekar terkuat dari 5 Daratan untuk menjaga tempat mereka. Para pendekar itu konon adalah pendekar tanpa tanding dari masing masing daratan.


"Sepertinya akan sangat sulit memasuki kota itu jika benar dijaga oleh 9 pendekar penjaga". Arung menggeleng pelan.


"Maksud guru Sabrang?".


"Dia memang pendekar terkuat yang sepertinya mampu mengimbangi 9 pendekar penjaga namun aku lebih tertarik dengan orang yang kau sebut Wardhana. Kemampuanya mungkin jauh dibawah pengguna naga api itu tapi kemampuannya membaca kekuatan Manca api dengan cepat benar benar membuatku kagum. Dua orang itu menggambarkan gabungan kekuatan ilmu kanuragan dan ilmu pengetahuan. Aku sangat yakin jika mereka berdua semakin padu dunia persilatan bukan hal sulit mereka taklukan. Aku hanya berharap mereka bukan orang jahat". Malewa menarik nafas panjang.


Pembicaraan mereka terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruangan.


"Masuklah". Malewa mempersilahkan masuk.


Wardhana muncul dari balik pintu dengan senyum hangat.


"Maaf tetua, ada yang ingin aku bicarakan". Wardhana menundukan kepalanya.


"Silahkan tuan Adipati, jika ada yang bisa kubantu aku akan berusaha sekuat tenaga membantu anda".


Wardhana duduk dihadapan Malewa sambil mengeluarkan catatan gulungannya.


"Ini mengenai kota emas Wentira". Wardhana mulai berfikir sejenak untuk merangkum kata katanya.


"Dalam catatan tuan Panca, Wentira digambarkan sebagai kota emas yang tersembunyi di belantara hutan. Dia menyebutkan jika Air dan angin akan menuntun kita menuju Wentira. Pohon bambu akan menjadi titik awal kota itu. Apakah ada hutan yang memiliki sungai besar yang didalamnya ada tanaman sejenis bambu?". Tanya Wardhana.


Malewa mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Wardhana. "Anda mengenal tuan Panca?".


"Secara langsung tidak namun Rajaku adalah keturunan langsung tuan Panca". Jawab Wardhana.


"Raja anda?". Tanya Malewa heran.

__ADS_1


"Sabrang adalah pangeran dari kerajaan Malwageni, sebuah kerajaan di tanah Jawata". Arung ikut menjelaskan.


Malewa mengangguk mengerti " Pantas saja aku sekilas melihat cara bertarungnya seperti tuan Panca bahkan mungkin lebih hebat. Tak kusangka akan bertemu dengan keturunan tuan Panca kembali". Malewa menghentikan ucapannya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Wardhana.


"Hutan yang anda maksud sepertinya hutan kabut awan namun seperinya tak akan mudah bagi kita untuk pergi kesana karena sekte Lereng merah darah sudah lebih dulu menjaga tempat itu".


"Lereng merah darah?". Tanya Wardhana pelan.


"Sekte terbesar aliran hitam di Celebes yang juga merupakan sekte terkuat saat ini".


Wardhana terlihat berfikir sejenak "Apa anda bisa menggambarkan seperti apa suasana disana? mungkin aku bisa sedikit membantu menghadapi mereka. Akan sangat berbahya jika kita menyerang tanpa tau keadaan hutan itu.


"Ada seorang gadis yang bisa membantu anda tuan, dia pernah masuk kehutan itu untuk berlatih ilmu pedangnya. Arung tolong panggilkan Retna Emmy kemari". Perintahnya pada Arung.


"Baik guru". Arung berjalan keluar ruangan.


***


Sabrang terlihat berjalan pelan mengelilingi area Sekte, dia ingin melihat lihat suasana sekte Naga langit yang terkenal indah itu.


Pandangannya berhenti pada seorang pendekar wanita seumurannya yang sedang berlatih ilmu pedang. Wajah cantik khas Wanita Celebes benar benar membiusnya.


"Siapa kau? apa kau mencuri lihat ilmuku?". Gadis itu terlihat tidak suka dengan kehadiran Sabrang.


Mendapat teguran tiba tiba membuat Sabrang kelabakan dan tak mampu menjawab.


Gadis itu menjadi curiga dan langsung menyerang Sabrang. Sebenernya apa yang dilakukan gadis itu cukup beralasan karena sektenya baru saja diserang Manca api.


Sabrang melompat menghindari serangan itu.


"Jurus pedangnya mirip Arung?". Sabrang memutar lengannya dan sedikit mendorong tubuh gadis itu.


Gadis itu kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh membentur batu besar yang ada didekatnya.


Sabrang melesat menyambar tubuh gadis itu, membuat mereka berdua terjatuh dengan posisi gadis itu diatas tubuh Sabrang. Kedua bola mata mereka bertemu sesaat sebelum gadis itu menarik pedangnya dan mengarahkan ketubuh Sabrang namun tiba tiba dia tidak bisa menggerakan tangannya karena telah diselimuti es.


"Pengguna jurus es?". Gumam gadis itu dalam hati.


"Pedangmu sangat berbahaya nona". Ucap Sabrang pelan.


"Emmy hentikan!". Teriakan Arung mengagetkan gadis itu.


"Kakak?". Emmy terkejut mendengar teriakan Arung.


"Apa yang kau lakukan pada tamu Guru?".


"Tamu guru?". Emmy menatap Sabrang.


"Bisakah kau singkirkan pedang itu? sepertinya sangat tajam". Sabrang tersenyum canggung.


"Sebelum itu bisakah kau singkirkan tanganmu dari situ?". Emmy bersingut kesal.


"Ah maaf". Wajah Sabrang memerah setelah menarik tangannya dari tubuh Emmy.

__ADS_1


__ADS_2