
Aura merah darah kembali meluap setelah Sabrang mencabut pedangnya.
"Dia sudah berkembang sejauh ini". Lingga menggelengkan kepalanya.
"Mundur!". Mentari berteriak pada Lingga Maheswara sambil melompat mundur menjauhi Sabrang.
Lingga mengernyitkan dahinya melihat Mentari melompat mundur namun beberapa saat kemudian dia mengerti kenapa Mentari mengajaknya menjauh.
Aura merah darah berkobar semakin besar di tubuh Sabrang membuat Lingga menelan ludahnya. Tubuhnya kaku dan susah digerakkan, dia segera mengalirkan tenaga dalamnya di tubuhnya untuk melepaskan tekanan aura Sabrang.
Sabrang melompat keatas saat Waranggana bergerak menyerangnya. Mata birunya bersinar terang saat dia merapal sebuah jurus.
"Kalian akan merasakan betapa mengerikannya jurus Lembah siluman". Waranggana bersiap mengeluarkan jurus andalannya namun tiba tiba tubuhnya terjatuh dengan posisi berlutut. Aura Sabrang benar benar membuat tubuhnya tidak dapat bergerak.
"Apakah mungkin manusia mempunyai kekuatan seperti ini?". Waranggana masih berusaha melepaskan dirinya dari tekanan aura yang menekannya.
"Badai Api Neraka". Aura merah darah berbentuk Naga keluar dari pedang yang diayunnya.
Aura itu melesat cepat kearah Waranggana dan pendekar Lembah tengkorak lainnya.
"Duarrr". Ledakan besar tercipta saat Aura itu membentur tanah.
Lingga melesat cepat kearah Mentari dan menangkap tubuh Mentari kemudian mendorong tubuhnya kebelakang.
"Berdiri dibelakangku". Lingga merapal sebuah jurus dengan cepat. Terlihat aura hitam kembali menyelimuti tubuhnya.
"Semoga sempat". Terlihat kobaran api menyebar kesegala arah akibat efek menghantam tanah dan membakar semua yang dilewatinya.
Saat kobaran api hampir mengenai Lingga perisai tenaga dalam tercipta didepan Lingga dan menahan kobaran api itu.
"Kekuatannya sangat mengerikan". Lingga menggeleng pelan.
__ADS_1
Lingga melihat semua pendekar Lembah tengkorak telah berubah menjadi abu. Untuk beberapa saat tubuhnya bergidik melihat pemandangan mengerikan dihadapannya.
Untuk pendekar sekelas Lingga sangat jarang dia merasa takut pada kekuatan lawannya namun kali ini dia mengakui jika kekuatan Sabrang sempat membuatnya menelan ludah.
"Menjadi sebuah ironi saat ini melihatnya berkembang, dengan kekuatan yang dimilikinya saat ini dia akan sangat membantu kami menghadapi Lembah siluman namun kekuatannya juga bisa menjadi ancaman Iblis hitam kelak". Lingga Maheswara berkata dalam hati.
***
"Ketua". Ciha menatap Andaru yang terlihat memejamkan matanya. Raut wajahnya muram seperti sedang memikirkan sesuatu.
Andaru mengangguk pelan "Aku juga merasakannya, segel udara kembali bereaksi beberapa saat lalu. Sebenarnya yang kutakutkan bukan Naga api namun Daniswara". Andaru menghela nafasnya.
"Jadi benar dia mengincar Naga api?". Ciha bertanya pelan.
"Sejak dulu aku tidak pernah setuju Lintang Wukanjar ikut bergabung dengan Bintang Langit, ambisi Daniswara terlalu besar untuk memiliki ilmu kanuragan.
Saat tiga kelompok besar sepakat membentuk sekte Bintang langit kami sepakat untuk melarang penggunaan ilmu kanuragan kecuali ilmu meringankan tubuh di sekte Bintang langit dan semua menyepakati namun sepertinya itu tidak meredam sedikitpun ambisi Daniswara".
"Tiga kelompok besar ini memiliki ilmu segel terbaik, bahkan dua segel milik bintang langit digunakan untuk melindungi Dieng. Ada kekhawatiran jika salah satu diantara tiga kelompok besar ini terobsesi dengan ilmu kanuragan akan diam diam masuk Dieng dan mempelajari ilmu terlarang disana.
Kekuatan segel jika digabungkan dengan ilmu kanuragan yang ada di Dieng akan menciptakan iblis yang sangat menakutkan, maka kami sepakat untuk menjaga kedamaian di dunia persilatan dengan cara melarang penggunaan ilmu kanuragan di sini.
Untuk melindungi serangan dari luar kami memasang Segel udara untuk mendeteksi kekuatan yang menuju kemari dan Segel kabut untuk menyembunyikan letak sekte bintang langit. Kami juga membuat perjanjian dengan Naga api untuk menjaga tempat ini jika segel kami hilang dengan bayarannya mengantarkan Naga api ke Dieng jika dia telah menemukan tuannya".
"Lalu tuan Daniswara melanggar perjanjian itu?".
"Aku tidak tau namun aku sempat melihatnya keluar dari sekte beberapa kali dan kembali dua hari kemudian, itu selalu dilakukan hampir setiap tahun. Aku takut dia diam diam mempelajari ilmu kanuragan dan mengincar Naga api untuk membuat perjanjian dengannya".
"Apa ketua akan diam saja?" Ciha bertanya pelan.
Andaru menggeleng pelan "Sekte bintang langit dibentuk untuk membantu tuan Panca menyembunyikan Dieng dari dunia persilatan setelah salah satu murid kesayangannya mengkhianati tuan Panca dan membentuk Lembah siluman. Kudengar saat itu muridnya berhasil menguasai ilmu panca geni dan meminum air kehidupan, Tuan Panca takut muridnya tidak benar benar mati saat dia mengalahkannya.
__ADS_1
Tuan Panca kemudian meminta Sekte Bintang langit untuk membantu membuatkan segel untuk menyembunyikan Dieng. Muridnya yang haus dengan ambisi dan kekuasaan tidak pernah sadar jika Dieng akan membuatnya menjadi Iblis.
Beberapa ratus tahun kemudian Sekte Bintang langit bersama seorang pendekar pilih tanding saat itu bernama Bratajaya Dwipa telah sepakat untuk menyembunyikan Dieng, sayang Bratajaya menolak meminum air kehidupan karena dia merasa itu bertentangan dengan takdir.
Dia kemudian memilih Moksa saat banyak pendekar mengincarnya karena dia mengetahui letak gerbang dieng. Dia memutuskan membawa rahasia Dieng bersamanya".
"Apakah saat ini keturunan Bratajaya dwipa masih ada didunia ini?".
"Aku tidak tau namun kabar yang kudengar salah satu keturunannya tewas saat pasukan Majasari menyerang mereka. Harapan untuk tetap menyembunyikan Dieng saat ini ada dipundak Bintang langit dan aku akan memastikan itu tetap kita lakukan.
Beberapa hari ini sudah beberapa kali Segel udara bereaksi artinya Naga api makin mendekat kesini. Aku ingin kau melakukan sesuatu untuk berjaga jaga". Andaru telihat membisikan sesuatu pada Ciha.
"Tapu ketua......" Wajah Ciha berubah setelah mendengar perkataan Andaru.
"Kita harus mengantisipasi setiap kemungkinan gerakan Daniswara, aku tidak ingin dia melanggar perjanjian kita ratusan tahun lalu. Lakukan yang kuperintahkan diam diam, aku akan mencoba berbicara pada Ketua mengenai masalah ini".
"Baik ketua". Ciha menjawab dengan ragu.
***
"Apakah Langgeng sudah bergerak ke Cetho?". Mahendra menatap Maruta tajam.
Maruta menganggukan kepalanya "Beberapa hari yang lalu kudengar dia sudah berada di Kadipaten Wareng etan, seharunya dengan ilmu meringankan tubuhnya dalam dua hari dia akan sampai ketua".
"Pastikan anak pengguna Naga api itu tidak mencapai Dieng, akan sangat merepotkan jika dia berhasil membuat perjanjian dengan Naga api. Walaupun kekuatan Suling raja setan merupakan pusaka terkuat diantara pusaka lainnya namun Naga api memiliki sesuatu yang tidak dimiliki pusaka lainnya.
Jika dia telah memilih tuannya dan melakukan perjanjian di gua kabut maka dia dapat memanggil Iblis api merah. Saat itu akupun ragu bisa mengalahkannya walau kakiku pulih seperti semua".
"Iblis api merah? bukankah itu hanya legenda ketua?". Maruta mengernyitkan dahinya.
"Apa kau pikir Dieng bukan sebuah legenda sebelum Ken Panca menemukannya?. Semua yang dianggap legenda itu tersimpan di Dieng. Itulah kenapa Ken panca sekuat tenaga menyembunyikan kembali tanah bertuah itu".
__ADS_1