Pedang Naga Api

Pedang Naga Api
Kitab Sabdo Loji


__ADS_3

Runtuhnya bangunan Nagari Siang Padang oleh Sabrang seolah mengubur semua rahasia mengenai Latimojong yang masih menjadi misteri besar, bagaimana trah terakhir Masalembo ini masih bisa selamat saat Lakeswara sendiri yang membantai mereka tanpa sisa.


Selain hilangnya rahasia Latimojong, hancurnya bangunan terbesar di dunia itu juga ternyata menyisakan masalah lain bagi Wardhana dan yang lainnya.


Setelah mendengar kabar dari Rubah Putih jika Sabrang terkubur bersama gunung padang, Mentari tiba tiba lepas kontrol, dia memaksa kembali ke gunung itu dan mengancam Ciha untuk membuka segel kabut miliknya.


Rubah Putih sudah mencoba mengatakan jika kemungkinan Sabrang hidup masih ada walau sangat kecil, dia meminta Mentari untuk kembali terlebih dahulu ke Malwageni karena saat ini semua sedang terluka parah.


Rubah Putih juga berjanji akan kembali esok pagi untuk memeriksa seluruh area gunung padang demi mencari kemungkinan Sabrang selamat.


Namun Mentari tidak lagi mendengarkan apapun yang dikatakan mereka, dia terus memaksa Ciha untuk membuka segel kabut.


Pertarungan tak dapat dihindari saat Mentari mulai menggunakan tenaga dalam untuk mengancam Ciha, butuh waktu cukup lama bagi Rubah Putih dan Candrakurama untuk menghentikannya.


Situasi menjadi sangat kacau saat itu, Tungga Dewi dan Emmy yang biasa menjadi penengah hanya duduk tak jauh dari area pertarungan dengan tatapan kosong, mereka masih tidak percaya jika Sabrang ikut terkubur.


Lingga masih belum sadarkan diri karena luka tusuk ditubuhnya sangat parah sedangkan Wardhana yang biasanya tenang dan memiliki jalan keluar terlihat masih syok, dia hanya diam melihat pertarungan Rubah Putih dan Mentari. Bayangan kematian Arya Dwipa kembali melintas di pikirannya, dia merasa sangat bersalah karena saat ini posisinya adalah maha patih Malwageni.


Siren bukan diam saja, dia terus mencoba berkomunikasi dengan Naga Api seperti sebelumnya namun tak ada hasil, sekuat apapun dia berusaha tak ada tanda tanda energi Naga Api yang dia rasakan.


"Tuan, kurangi tenaga dalam mu, dia sedang mengandung," teriak Sekar Pitaloka saat Rubah Putih berhasil melumpuhkan Mentari.


Mentari yang sudah terdesak tak bisa berbuat apa apa saat pukulan Rubah Putih menghantam lehernya.


"Yang mulia, anda sudah berjanji padaku akan kembali. Tuan tolong buka segel itu, aku akan menjemput Yang mulia," ucap Mentari sesaat sebelum tak sadarkan diri.


Candrakurama langsung menyambar tubuh Mentari dan meletakkannya di tanah perlahan.


Semua terdiam, tak ada yang mampu bicara sepatah katapun, mereka hanya memandang tubuh Mentari yang tergeletak di tanah.


"Aku tau kita semua khawatir padanya namun saat ini kita semua sedang terluka parah dan sangat berbahaya jika memaksa naik. Semua harus kembali ke keraton, aku akan meminta Lembu sora dan Arung memeriksa sekitar gunung ini setelah sampai di keraton," ucap Sekar Pitaloka tegas.


Semua mengangguk setelah mendengar perintah Sekar Pitaloka, mereka terlihat berkemas sebelum melangkah pergi.


"Nak, ibu tau kau masih selamat, berjuanglah sampai bantuan datang," ucap Sekar dalam hati sambil menatap hamparan rumput hijau dihadapannya.


"Tuan ada yang harus kita bicarakan nanti, tolong temui aku di ruangan Sabrang saat semua sudah mulai pulih," bisik Sekar Pitaloka pada Rubah Putih.


Rubah Putih mengangguk pelan, "Aku tidak akan kembali ke keraton, ada seseorang yang harus kutemui lebih dulu. Tolong jaga mereka, dua hari lagi aku akan menemui anda," ucap Rubah Putih sambil menundukkan kepalanya sebelum melesat pergi.


Sekar Pitaloka menatap kepergian Rubah Putih sambil menghela nafas panjang, kehilangan Sabrang akan menjadi pukulan telak bagi Malwageni dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memulihkan keadaan seperti semula.


Suara ayam berkokok sayup sayup mulai terdengar di kejauhan menandakan pagi sudah tiba. Sekar Pitaloka memimpin perjalanan pulang ke keraton tanpa bicara sepatah katapun, dia larut dalam pikirannya sendiri.


***


"Mahesa apa yang kau lakukan?!" teriak Mpu Sedayu saat murid kesayangannya itu tiba tiba menghujamkan pedang ke tubuhnya.


"Maaf guru aku harus melakukan ini, tinggal di bukit Menoreh tidak akan membuatku menjadi pendekar terkuat dunia persilatan sampai kapanpun, aku harus berani membunuh orang yang paling ku sayang untuk menguasai ajian itu," balas Mahesa pelan, dia terlihat menahan air matanya keluar sekuat tenaga.


"Ajian itu? jangan jangan kau mencuri kitab Jala Sutra milikku?" tanya Mpu Sedayu tak percaya.


Mahesa tersenyum kecil sambil merapal ajian yang disebut gurunya itu.


"Kitab Sabdo Loji jelas mengatakan jika ilmu kanuragan tertinggi adalah ajian Jala Sutra tapi guru lebih memilih kitab itu terkubur di bukit sialan ini.


Aku sangat berterima kasih pada guru karena telah merawatku dari kecil tapi aku harus terus menjadi kuat agar suatu saat menjadi penyelamat sesuai ramalan Sabdo Loji, kuharap guru mengerti," jawab Mahesa lirih.


"Kau telah terpengaruh oleh kitab terkutuk itu nak, Sabdo Loji adalah kitab iblis yang akan merubah perangai siapapun yang mempelajarinya. Saat ini kau masih belum terlambat, berikan kitab itu pada guru dan buang pedangmu," ucap Mpu Sedayu.


Mahesa menggeleng pelan, "Guru bicara seperti itu karena ingin menguasai kitab ini sendiri, maaf aku tidak bisa memberikannya," Mahesa mengalirkan tenaga dalam ke tangan kirinya sebelum memegang kepala Mpu Sedayu sambil memejamkan matanya.


"Tapak Jala Sutra peremuk tulang," Aura hitam yang menyelimuti tangan kiri Mahesa menghancurkan kepala Mpu Sedayu seketika.

__ADS_1


"Mahesa," Mpu Sedayu terbangun dari tidurnya dengan seluruh tubuh mengeluarkan keringat dingin.


"Guru memanggilku?" seorang anak berumur lima tahun terbangun dari tidurnya dengan wajah polos.


Mpu Sedayu menatap tajam Mahesa sambil mengatur nafasnya yang tergenggal.


"Aku bermimpi?" ucapnya dalam hati.


Melihat gurunya menatap tajam, Mahesa menjadi takut, dia mendekati gurunya perlahan dan langsung memijat kaki Mpu Sedayu.


"Guru jangan marah, apa aku melakukan kesalahan?" ucap Mahesa sambil menundukkan kepalanya.


Timbul rasa bersalah di hati Sedayu, dia menggeleng pelan sambil mengelus kepala Mahesa lembut.


"Maafkan guru nak, kau tidak melalukan kesalahan apa apa, guru hanya bermimpi buruk," balas Sedayu.


Sedayu bangkit dari tidurnya dan melangkah keluar.


"Pergilah mencari air, guru akan berkeliling sebentar," ucap Sedayu pelan.


Mahesa hanya mengangguk pelan, dia masih belum bisa melupakan tatapan membunuh gurunya itu.


Sedayu melangkah keluar dengan gontai, dia masih teringat mimpi mengerikan yang baru saja dialaminya.


Kabut tebal langsung menyambutnya ketika Sedayu membuka gubuk yang sudah ditempatinya selama puluhan tahun.


Sedayu duduk di atas sebuah batu yang berada tak jauh dari gubuknya. Pemandangan bukit Menoreh memang terkenal paling indah, selain jalurnya yang cukup mudah dilewati, bukit ini berbeda dari gunung lainnya.


Bukit menoreh jauh dari kesan angker dan misterius, tak ada keanehan seperti gunung lainnnya, itulah yang membuat ini tak pernah didatangi para pendekar dunia persilatan.


Sedayu menarik nafasnya panjang dan mulai memejamkan matanya, dia ingin membuat pikirannya kembali tenang.


"Tak kusangka Bukit menoreh begitu indah, pantas saja anda mengasingkan di tempat ini," suara seorang pria yang sangat dikenal mengejutkannya.


"Rubah Putih? apa kau datang untuk menemani guru menjalani hari tua di tempat ini?" balas Sedayu pelan.


"Guru selalu merenung di bawah sinar matahari pagi saat ada masalah, apa terjadi sesuatu?" tanya Rubah Putih.


Sedayu terdiam sejenak sebelum menggeleng pelan, "Aku hanya ingin menikmati sinar matahari pagi, tak ada yang lain," jawab Sedayu cepat.


Rubah Putih melangkah mendekat dan duduk disebelah Sedayu, dia sempat menatap wajah gurunya itu sebelum menggeleng pelan.


"Kau tau, Matahari adalah gambaran pendekar sejati, dia memiliki kekuatan yang tidak terbatas dan bisa membakar semua yang ada di dunia ini namun tidak dilakukannya. Matahari justru melindungi dan memberi kehidupan dengan sinarnya.


Andai para pendekar terkuat dunia persilatan memiliki sifat seperti Matahari, dunia ini akan damai tanpa ada pertumpahan darah. Aku sangat tertarik dengan raja Malwageni itu, dia adalah pendekar yang saat ini mendekati sifat Matahari itu, sangat disayangkan...," Sedayu tiba tiba menghentikan ucapannya saat menyadari kesalahannya.


"Sangat disayangkan? jangan jangan guru tau dia terkubur di Nagari Siang Padang? tanya Rubah Putih terkejut.


"Tanda tanda itu mulai terlihat saat Ken Panca mengajakku ke Trowulan, aku melihat Wahyu Keprabon pergi dari keraton Malwageni namun tak kusangka kejadiannya akan seperti ini," jawab jawab Sedayu pelan.


"Bagaimana guru bisa tau dia terkubur di gunung padang?" tanya Rubah Putih penasaran.


"Ingat pesanku saat kau pergi? jangan banyak bertanya atau kau akan terbunuh. Kau tak perlu tau dari mana aku mengetahuinya, ada hal yang lebih penting dari pada itu," balas Sedayu.


"Hal yang lebih penting?" Rubah Putih mengernyitkan dahinya.


"Energi Naga Api tak mungkin bisa disembunyikan karena kekuatannya yang sangat besar dan bagi pemilik ajian Suket Kalanjana sepertiku akan sangat mudah mendeteksi energi Iblis api itu.


Namun sampai detik ini aku tidak bisa merasakan sedikitpun energi Naga Api, seharusnya walaupun pemiliknya telah mati, ruh Naga Api akan terlepas dari tubuhnya. apa yang sebenarnya terjadi di gunung itu?," balas Sedayu bingung.


Rubah Putih tampak mengangguk, dia juga melihat sendiri bagaimana Siren terus berusaha mendeteksi Naga Api dengan energinya namun tidak berhasil.


"Apa menurut guru dia masih hidup?"

__ADS_1


"Aku tidak tau, sangat sulit membayangkan pendekar sehebat apapun bisa hidup jika terkubur bangunan sebesar itu, tapi sepertinya jawabannya berhubungan dengan hilangnya Energi Naga Api," jawab Sedayu sambil menghela nafas panjang kembali.


"Lalu apa yang membawamu mengunjungi ku? kau bukan tipe orang yang suka dengan basa basi hubungan jadi tidak mungkin kau datang hanya untuk menanyakan kabarku."


"Aku ingin bertanya mengenai Pedang Bilah Gelombang, apa guru pernah mendengar nama itu?" tanya Rubah Putih tiba tiba.


"Bilah Gelombang? dari mana kau mengetahui nama itu?" Wajah Sedayu tiba tiba berubah.


"Apa guru tau tentang pedang itu?"


"Jawab dulu pertanyaanku, dari mana kau tau nama itu?" bentak Sedayu.


Rubah Putih tampak terkejut dengan reaksi tidak biasa gurunya.


"Saat sedang bertarung dengan pendekar Guntur Api, Sabrang tiba tiba kerasukan Dewa Api dan selalu menyebut nama Bilah Gelombang," jawab Rubah Putih.


"Jadi itu arti dari mimpiku tadi, ada yang sedang mencoba membangkitkan Bilah Gelombang," ucap Sedayu.


"Mimpi? membangkitkan Bilah Gelombang? apa guru bisa menceritakannya padaku apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Rubah Putih.


"Semua berawal dari kemunculan kitab kuno bernama Sabdo Loji di Nuswantoro jauh sebelum Masalembo dibentuk Lakeswara. Guruku pernah bercerita jika dulu daratan Nuswantoro adalah sebuah tempat yang indah dan damai, tak ada yang mengenal ilmu kanuragan.


Kau bisa bayangkan hidup tanpa Ilmu kanuragan? tak ada perang dan pertumpahan darah, semua hidup berdampingan dengan alam. Semua tampak berjalan sesuai dengan kehendak alam hingga suatu hari tersiar kabar jika ada seorang pemuda bernama Mandala Rakyan memiliki kitab aneh yang membuatnya bisa mengendalikan roh kuat yang ada di Nuswantoro.


Sejak saat itu Mandala Rakyan menjadi incaran semua orang, daratan yang tadinya damai mulai berguncang. Pertumpahan darah terjadi di mana mana hanya demi ambisi menguasai kitab yang konon bisa membuat penggunanya menguasai dunia.


Saat Mandala Rakyan terbunuh dengan cara diracuni oleh orang terdekatnya, dia sedang membuat sebuah pedang yang diberi nama Bilah Gelombang. Dengan bantuan kitab itu dia memasukkan ruh terkuat bernama Rabing sang Iblis Air kedalam pusaka nya.


Pusaka haus darah itu membunuh semua orang yang sedang memperebutkan kitab Sabdo Loji di sebuah gunung yang sangat indah. Setelah semua orang terbunuh, kitab dan pusaka itu menghilang secara misterius dibawa oleh seorang pemuda yang tidak diketahui namanya.


Setahun setelah pusaka dan kitab itu menghilang, mulai bermunculan kitab kitab ilmu kanuragan, tidak ada yang tau siapa yang menyebarkannya," ucap Sedayu.


"Jadi sumber permasalahan dunia persilatan adalah kitab Sabdo Loji?" tanya Rubah Putih.


"Bisa dikatakan seperti itu, Sabdo Loji adalah pusat dari ilmu kanuragan dan pusaka yang saat ini banyak ditemukan di dunia persilatan. Bangkitnya Banaspati, Dewa Api dan masih banyak ruh pusaka lainnya adalah imbas dari munculnya kitab itu. Menurut cerita, Kitab dan pusaka itu terakhir terlihat saat pendekar penjaga arah mata angin mengalahkan Dewa Api.


Jika yang kau katakan benar mengenai Dewa Api yang merasuki Sabrang dan berteriak tentang Bilah Gelombang itu artinya pusaka itu akan bangkit kembali dan aku yakin kitab Sabdo Loji sudah muncul di suatu tempat."


"Apa mungkin hilangnya energi Naga Api berhubungan dengan Sabdo Loji dan Bilah Gelombang?"


"Aku masih belum tau tapi yang pasti ada yang mencoba mempersiapkan kebangkitan pusaka itu. Bilah Gelombang bukan pusaka yang bisa dibangkitkan dengan cepat, menurut cerita yang kudengar butuh waktu ribuan tahun untuk membangkitkan semua kekuatannya.


Selain dibutuhkan kekuatan yang besar, tubuh penggunanya pun harus memiliki ciri khusus seperti Mandala Rakyan dan pendekar penjaga arah mata angin, jadi sepertinya pusaka itu tidak akan bangkit dalam waktu dekat. Kita masih ada waktu untuk menemukan Sabrang karena hanya Dewa Api yang mampu mengimbangi Iblis Air jika bangkit," balas Sedayu.


"Guru, aku sudah mempersiapkan makanan," suara Mahesa mengagetkan mereka berdua.


Sedayu menatap Mahesa sambil mengangguk pelan, dia kembali teringat mimpinya tadi pagi.


"Apakah merawat anak keturunan trah Latimojong ini adalah sebuah kesalahan?" ucapnya dalam hati sambil mengajak Rubah Putih untuk masuk kedalam gubuknya.


"Kau tau gunung mana yang dulu menjadi tempat pertama kali pertumpahan darah terbesar di dunia persilatan? Bukit Menoreh, tempat inilah saksi hidup betapa haus darahnya Bilah Gelombang," ucap Sedayu sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bukit Menoreh....


Bukit Menoreh adalah daerah perbukitan yang membentang di sebelah utara Kabupaten Kulonprogo sebagai batas wilayahnya antara Kabupaten Purworejo di sebelah Barat dan Kabupaten Magelang di Utara.


Kawasan ini tidak hanya indah di mata. Di balik kabut pagi yang dramatis yang menusuk pepohonan, kawasan ini juga menyimpan cerita dan bagian sejarah Indonesia. Di sinilah tempat pembinaan Pangeran Diponegoro dengan pengikutnya dalam perang melawan Belanda.


Seperti yang saya katakan kemarin, Kitab Sabdo Loji memegang peranan paling penting dari semua cerita Naga Api. Itulah sebabnya di buku terakhir dari rencana Trilogi Naga Api saya beri judul Kitab Sabdo Loji.


Sebenernya ada satu kitab lagi yang tak kalah kuat namanya kitab Menjaga jodoh orang namun kitab ini sangat sulit ditaklukkan karena dijaga ribuan pendekar Jomblo tanpa tanding. Gw Rasa tiga cahaya putih pun tak akan mampu menghadapi serangan mematikan para pendekar Jomblo dengan jurus jurus andalannya seperti Jurus Pedang kita temenan aja, Tapak kamu terlalu baik buat aku atau Jurus pedang minta hujan di malam minggu. Beberapa jurus tanpa tanding itu sudah sangat dikuasai oleh para pendekar Jomblo dari Sekte Tuna Asmara dan sekte Sakit tapi tidak berdarah...

__ADS_1


Terakhir selamat malam minggu wahai para hati yang selalu disakiti.. ingat pesan gua...


Jika ada orang yang menyebut lo Jomblo karena jelek, Janganlah berputus asa, belum tentu orang tersebut berkata bohong.


__ADS_2